ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
13. Awal hamil.


__ADS_3

"Saya minta maaf, saya sungguh minta maaf Pak..!!" Ucap sesal Bang Ranjha sembari memeluk Kinan.


"Heeh b*****n, kau bisa memanggil pria itu Papa tapi kau menyepelekan saya, saya Ayahmu juga. Kau memang pantas di cambuk..!!!!!!" Bentak Ayah Rojaz.


"Siap salah..!!!" Tak ada kata lagi dari mulut Bang Ranjha.


"Bisa-bisanya kau menghamili putriku yang baru beranjak dewasa. Umurnya baru mau delapan belas tahun Ranjha. Dimana pikiranmu???? Kenapa tidak sanggup menahan hasratmu???" Tegur Ayah Rojaz tak bisa menghilangkan rasa sedihnya. "Jika keterangan pada surat administrasi pengajuan nikahmu terbongkar, kamu akan kena pasal karena menikahi gadis di bawah umur meskipun Papa Renash mu menjamin segalanya..!!!"


Bang Ranjha mengangguk mengakui salahnya. "Saya salah. Saya mohon maaf..!!"


"Maaaass.. Kinan nggak mau hamil, sakiiit." Rengek Kinan.


Pikiran Bang Ranjha kembali terfokus pada Kinan. Kinan menggelinjang, entah apa yang di rasakannya saat ini.


Ayah Rojaz melihat Bang Ranjha sedikit kebingungan. Beliau yang sudah pengalaman dan paham rasanya menjadi seorang suami pun menegur Bang Ranjha.


"Di peluk, di usap punggungnya..!!" Katanya mengarahkan Bang Ranjha.


Tak menunggu waktu lama Bang Ranjha segera mengusap punggung Kinan tapi Kinan masih menggelinjang.


"Buka bajumu lalu peluk Kinan lagi..!!" Arahan Ayah Rojaz.


Bang Ranjha membuka pakaian atasnya lalu memeluk Kinan. Lama kelamaan memang Kinan sedikit lebih tenang meskipun sikapnya masih sedikit gelisah.


"Coba di kamar Ran..!! Sepertinya anakmu ini manja sama Papanya. Kalau nggak di sayang ngambek." Kata Papa Renash.


Secepatnya Bang Ranjha membawa Kinan ke dalam kamar. Tak perlu menunggu waktu lama Bang Ranjha melucuti pakaiannya dan menyisakan celana pendek melekat di tubuhnya.


Benar saja, Kinan langsung menyambar tubuhnya seakan tak ingin jauh dan berpisah dari Letnan Riasat Ranjha.


"Ya Allah, begini amat punya istri hamil. Pantas Ayah Rojaz sama sekali tidak berkutik. Ternyata istri manja saat hamil sungguh memacu adrenalin dan tentunya sangat menyenangkan." Gumamnya kemudian membelai pipi halus dan lembut milik Kinan.

__ADS_1


...


Ayah Rojaz sudah lumayan tenang dan bisa menikmati kopi panasnya. Papa Renash pun masih setia menunggu menantunya keluar dari dalam kamar.


Tak lama Bang Ranjha keluar dari dalam kamar dan menghadap pada Ayah dan Papa mertua. Rupanya acak-acakan dan masih setengah berpeluh.


"Kinan sudah tidur?" Tanya Ayah Rojaz.


"Sudah yah, daritadi nangis mengeluh perutnya sakit. Sekarang sudah aman."


"Ya begitulah rasanya punya istri hamil. Harus super sabar. Salah omong saja bisa jadi perkara tujuh turunan, tujuh tanjakan sampai tujuh pengkolan." Kata Papa Renash yang juga sudah pasti paham asam garam kehidupan.


"Saya paham Pa."


"Kinan mabuk nggak?" Tanya Ayah Rojaz lagi.


"Nggak, hanya pusing saja tapi sampai pingsan." Jawab Bang Ranjha.


"Iya... Yah."


"Tumben, kamu sudah sadar kalau saya ayahnya???" Sindir Ayah Rojaz masih menyimpan kesal.


"Ayah nggak takut si kecil mirip sama saya?" Tanya Bang Ranjha memancing rasa kesal Ayah Rojaz semakin menjadi.


"Amit-amit jabang bayi. Masa anak saya ngikut kamu yang hitam dekil begitu???" Bentak Ayah Rojaz.


"Makanya, Ayah jangan terlalu kesal sama saya..!! Bisa-bisa ada dua bayi mirip saya..!!" Ledek Bang Ranjha.


"Astagfirullah.. Ya Allah." Ayah Rojaz mengusap wajahnya dengan cemas sedangkan Papa Renash sudah terbahak-bahak mendengarnya.


"Maaass.. Maas Riis..!!"

__ADS_1


Baru saja Bang Ranjha sedikit tenang namun Kinan sudah terbangun dan memanggilnya lagi.


"Dhalem.. Mas kesana..!!"


Bang Ranjha masuk ke dalam kamar dan melihat hidung Kinan sudah mengeluarkan banyak darah.


"Lhooo.. piye iki. Kamu kenapa??" Bang Ranjha terperanjat panik dan segera mengambil beberapa lembar tissue untuk menyumpal lubang hidung Kinan. "Ya Allah, kenapa to ndhuk??"


Kinan terus melihat wajah cemas Bang Ranjha yang begitu panik melihatnya mimisan.


"Kinan nggak apa-apa Mas." Jawab Kinan terpana melihat raut wajah Bang Ranjha tapi saat itu darah semakin deras mengucur dari hidung Kinan.


"Astagfirullah.. Ayo ke rumah sakit saja dek..!!" Bang Ranjha bersiap mengangkat tubuh Kinan tapi Kinan menolaknya. "Jangan banyak bicara..!!!! Kamu butuh di periksa..!!!"


"Kinan cuma pengen di sayang Mas Ris..!!" Pinta Kinan.


Bang Ranjha memijat pelipisnya, tapi kemudian ia mencoba untuk tenang. "Mau di sayang macam bagaimana lagi? Apa sayangnya Mas masih kurang?"


"Memangnya Mas Ris sayang sama Kinan?" Satu pertanyaan Kinan cukup membuat Bang Ranjha tercengang.


"Apa rasa sayang harus di publikasikan??? Apa selama ini kamu tidak merasakan apa yang Mas rasakan?????" Kata Bang Ranjha.


"Merasakan.. Kinan rasa Mas suka marah, suka pulang telat, belakangan ini malah suka paksa Kinan buat........"


"Aiisshh.. jangan begitu ngomongnya. Ada Ayah sama Papa. Mas malu lah dek..!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2