ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
Aku Hanya Ibu Sementara


__ADS_3

Aiman keluar dari mobil setelah memutarinya.


“Gala –“


“Oh….jadi ini tugas pentingnya sampai lupa buat jemput anak?”


Mendengar ocehanku, Aiman menepuk keningnya sambil berlutut di depan anaknya untuk meminta maaf.


“Maafin papa yah. Papa lupa dan hp papa lowbet lupa di cas.”


“Hp mama juga lowbet, tapi mama inget Gala,” balas Gala yang membuatku cukup tercengang. Aku pikir Gala bukan anak yang suka membalas ucapan papanya. Ternyata dia cukup cerdas untuk menjawab.


Bagus Gala! Marahin aja papa kamu itu!


“Gala – maafin papa yah.”


Gala memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangannya di dada. Selama Aiman tengah membujuk putra semata wayangnya, aku tengah awasi betina bernama Raline yang pernah meremehkanku karena tak pantas menjadi istri Aiman. Di dalam mobil ia terus berdiam diri sambil memperhatikan ayah dan anak tersebut. Sesekali pandangan kami bertemu namun dengan cepat dia memalingkan wajahnya.


Dih! ****** tepos aja sok banget! Omelku dalam hati.


“Makannya inget anak sama istri di rumah dong. Jangan malah urusin cewek.”


Kutatap matanya dengan tajam. Sanking tajamnya, kurasa tatapanku bisa menyilet tubuh Aiman yang sepertinya masih belum berhasil membujuk putranya itu.


“Kamu kok diem aja? bantuin saya kek –“


“Nggak mau. Siapa suruh ngurusin hal yang nggak penting sama cewek kamu itu!”


Owalah Mel, ucapanmu barusan kayaknya sudah membuat suasana jadi semakin panas. Seperti menyiramkan bensin di atas api kecil. Aiman tampak tak terima dengan ucapanku barusan dan itu ternyata di dengar oleh si cewek ganjen yang sejak tadi berada di mobil tersebut.


“Tahu darimana urusan saya nggak penting?”


Aku terdiam. Aiman memiringkan kepalanya sebagai isyarat bahwa ia tak ingin mengulang pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya. Aku tidak menjawab dan malah meraih tubuh Gala sambil melirik ke arah Raline.


“Ya itu feeling aku aja. Kalian berdua keliatan haha hihi. Santai keluar dari minimarket kayak lagi ngedate.”


“Eh mbak, jangan ngomong sembarangan yah,” kilah Raline akhirnya.


Mendengarnya menjawab ucapanku, membuatku kesal bercampur emosi dengannya.


“Mel. Kamu jangan sok tahu.”


“Kalau emang aku sotoy ya jelasin dong!”


“Kamu tahu? Kamu itu nyebelin tapi juga kadang-kadang lucu. Namun kali ini ucapan kamu kelewatan, Mel,” geramnya.


“Oya?” tantangku. “Lebih kelewatan mana, aku atau seorang papa yang batalin janjinya dengan anaknya sendiri demi urusan kamu sama perempuan itu!” tunjukku pada Raline. Aku sudah tersulut emosi hingga tak memperhatikan Gala yang sedang memperhatikan kami bertengkar.


Apalagi posisi kami di pinggir jalan! Oh ya ampun!

__ADS_1


“Kita obrolin ini di rumah,” tukas Aiman sambil menarik tanganku turun dari motor.


Dengan cepat aku menangkis tangannya.


“Pergi aja sama dia!”


“Kamu itu salah paham Mel. Kamu nggak tahu apa-apa.” Aiman masih saja membela Raline.


“Kamu yang nggak tahu perasaan Gala,” balasku tak kalah sengit.


Alis Aiman kian berkerut. Aku tahu dia marah. Sama marahnya denganku saat ini. “Jangan ngomong kayak selama ini aku nggak becus urusin Gala. Selama ini, aku yang urusin dia. Sementara kamu ….status kamu tuh –“


Ucapannya terputus, tapi itu tak membuatku mengalah. Aku tetap menatapnya tajam sebagai tantangan bahwa aku ingin mendengar keseluruhan ucapannya tersebut.


“—nggak lebih dari sekedar ibu sementara.”


Deg!


Ternyata keputusanku untuk mendengar utuh ucapannya adalah pilihan yang salah. Rasanya sakit banget seperti teriris sembilu tajam. Tanpa basa-basi aku langsung menyalakan motor matic hitam ini sambil membawa Gala pulang. Aiman yang melihatku bergerak, sama sekali tak menahanku untuk pergi. Sebaliknya, dia memilih masuk ke dalam mobil dan pergi bersama cewek sompret itu.


**


Sesampainya di rumah, aku langsung melaksanakan janjiku yaitu masak makanan kesukaan Gala karena anak itu belum makan siang sama sekali. Setelah matang, aku terus menyajikannya sambil menemani Gala makan hingga selesai.


Meski aku menemani bocah ini makan sambil sesekali bercanda dengannya, pikiranku tetap tak lepas dari ucapan Aiman yang menyakitkan hati siang ini. Memang benar kalau aku ibu sementara dari bocah ini. Tapi kenapa ucapan itu harus disampaikan di depan Raline yang entah mendengarnya atau tidak.


Kalau cewek itu dengar, tentu dia senang kan?


Harusnya aku nggak boleh baper akan hal itu. Tapi ….kenapa tetap semenyakitkan itu?


Kenapa aku nggak terima dengan ucapannya yang memang fakta?


Ah mbuhlah! mumet ndasku, kalau kata mbak Jennie.


“Ma. Udah siap.”


Aku tersadar dari lamunanku sendiri. Dengan bangga kuacungkan kedua jempolku pada Gala yang sudah pintar makan sendiri tersebut.


“Good! Taruh piringnya di wastafel yah. Abis itu buka baju terus bobok siang.”


“Oke Ma.”


Gala melakukan apa yang kuperintahkan sambil tersenyum senang. Melihatnya demikian, aku asumsikan bahwa Gala sudah melupakan kejadian siang tadi. Namun ternyata tak demikian. Sebelum masuk ke kamarnya, Gala bertanya padaku yang sedang mencuci piring di dapur.


“Ma ….mama sama papa berantem karena Gala yah?”


Aku gelagapan menjawabnya, “Hah? Ehmm berantem boongan kok."


“Jangan berantem lagi ya Ma. Gala sayang sama mama ….sama papa juga.”

__ADS_1


Sambil berderai airmata yang tak kuketahui kapan jatuhnya, aku menghampiri Gala yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Kuhampiri bocah itu lalu kupeluk tubuh mungilnya. Rasanya semua kegelisahan dan kekesalanku terserap olehnya lalu menghilang. Karenanya, aku jadi bisa kembali menegakkan kepalaku untuk menghadapi apapun yang mungkin bakal terjadi ketika Aiman pulang nanti.


“Huum. Kak Mel juga sayang sama Gala. Jadi anak kuat dan pinter yah.”


Gala menganggukkan kepalanya dua kali lalu melepaskan pelukannya. Ia kemudian masuk dan melaksanakan apa yang kuperintahkan.


Lalu, tanpa ada angin dan hujan, aku melihat Aiman sudah berada di depan pintu masuk sambil melihat semuanya. Dia terdiam seperti patung. Akupun memilih tak menganggapnya ada dengan berlalu dari hadapannya. Tapi usahaku gagal untuk menghindarinya karena Aiman mendekatiku sambil menatapku serius.


“Kita mesti bicara Mel.”


“Kalau ini tentang yang tadi, aku nggak mau lanjutin,” jawabku setajam silet.


“Kamu mesti tahu alesan aku telat jemput Gala –“


Woilah! Pikun nih kayaknya om-om satu ini.


Jelas-jelas dia bukan telat jemput, tapi lupa!


“Telat? Lupa kaleeee,” sindirku.


“Ya itu lah –“


“Terserah lah. Aku udah nggak mau tahu. Kamu udah dengar sendiri tadi kan? Gala nggak mau lihat kita berantem. Aku mutusin buat nggak mau ikut campur lagi. Karena aku lupa posisi aku di sini itu apa,” potongku sambil melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda tadi.


Sebenarnya saat mengatakan hal itu, lagi-lagi aku ingin mengeluarkan air mata. Namun karena egoku, aku memilih untuk menaikkan lagi airmataku dengan berpura-pura tegar.


“Tapi …Mel –“


Aku menghindari mata Aiman juga keberadaannya. Kuambil tas, juga ponselku yang berdering kencang sejak tadi lalu kuangkat berbarengan dengan langkah kakiku melewati sosoknya yang hanya bisa mematung di tempatnya.


“Kalau kamu penasaran, aku mau lanjut ke kampus sampai malam karena tugas tadi terpaksa aku tinggalin. Aku juga udah masak. Kalau mau dimakan ya silahkan, kalau enggak ya udah.Buang aja!"


“Kamu nggak perlu repot-repot masak kalau memang lagi sibuk,” ucapnya dengan wajah datar.


Dasar! Bukannya bersyukur aku masakkin malah ngomong kayak gitu.


“Nggak apa-apa. Hitung-hitung pahala buat ibu sementara kayak saya,” sindirku halus sambil menekan kata ibu sementara di hadapannya.


“Kok kamu ngomong gitu?”


“Kan kamu yang nyebut aku kayak gitu,” geramku.


“Itu tadi –“


Aku selesai mengenakan sepatu juga tas ranselku yang cukup berat tadi. Aku membelakanginya sambil membuka pintu untuk keluar.


“Mel itu mau penelitian atau mau minggat? Tas kamu kayaknya berat banget. Aku anter ke kampus yah,” bujuknya yang entah ada setan darimana dia menawarkan diri seperti itu.


Dan tentu saja, dengan tegas aku menolaknya sambil menunjukkan tatapan yang cukup meyakinkan kepadanya.

__ADS_1


“Nggak usah. Lagian aku udah dijemput sama ayang di bawah!” balasku jengkel.


Aiman berwajah datar sambil menunjukkan wajah meremehkannya itu, “Pacar? Siapa pacar kamu?”


__ADS_2