
Semua hubungan memiliki satu hukum. Jangan pernah membuat orang yang Anda cintai merasa sendirian, terutama ketika Anda berada di dekatnya.
Penerimaan terhadap takdir yang rumit adalah langkah kecil untuk berdamai dengan diri sendiri. Daripada sibuk mencari penerimaan manusia, lebih baik mengejar penerimaan Allah.
Hidup ini sudah di design Allah dengan sempurna, Maka sempurnakan penerimaan kita, sempurnakan sudut pandang kita agar selaras dengan sudut pandangNYA.
Gandi tengah meresapa hembusan angin yang menerpa wajahnya. Apa yang ada dalam benaknya benar adanya. Hidup ini sudah di design Allah dengan sempurna, lantas apa yang harus ia sangkal, musibah yang terjadi padanya tak perlu lagi ia persalahkan.
Ditengah lamunannya, Rara datang memeluknya dari belakang.
"Heey, sayang. Lagi mikirin apa?"
Bisik Rara manja.
"Lagi mikirin istri mas dong"
Rara tersenyum manis.Gandi menarik istrinya untuk duduk di sebelahnya. Mereka tampak sangat bahagia.
"Kamu makin manja"
Bisik Gandi sembari meraba wajah cantik istrinya.
"Manja sama suami sendirikan gak papa"
Rara tak mau kalah.
"Mas jadi ke kantor?"
Tanya Rara lembut.
"Jadi, ada berkas yang harus saya tandatangani."
"Kenapa, gak suruh Reno aja untuk membawanya ke sini, agar mas gak repot-repot ke kantor"
Usul Rara hati-hati, ia tak ingin melukai perasaan suaminya.
"Gak baik, kerjaan di bawa ke rumah, saya mau dirumah, itu khusus waktu untuk kita berdua, bukan disibukkan dengan pekerjaan."
Rara menatap kagum pada sosok pria dewasa yang menjadi suaminya.
"Kamu suami sempurna, mas"
Ucap Rara lembut sembari memeluk tubuh kekar Gandi. Gandi kembali meraba wajah istrinya, setelah ia fikir pas, pria itu dengan lembut mengecup kening Rara.
"Tetaplah berada di sisi mas. Tanpa kamu, hidup mas gak akan sesempurna ini"
Ucapnya lembut penuh dengan pengharapan.
"Kita saling membutuhkan mas, kita takkan bisa hidut tanpa satu sama yang lain. Hidup mas, itu hidup Rara. Begitu juga sebaliknya"
Begitulah kuatnya cinta mereka.
Setelah jam tujuh, mereka bersiap untuk ke kekantor. Rara akan mengantar suaminya, dan menemani suaminya kerja hingga waktu pulang. Ia tak ingin suaminya itu merasa kesulitan.
Dengan telaten dan penuh rasa cinta, Rara membantu suaminya mengenakan setelan kerjanya, ia kaitkan jemari lentik itu ke leher suaminya untuk memasangkan dasi. Setelah semua rapi Rara menggandeng suaminya menuju mobil, dengan dibantu pak Tejo.
__ADS_1
Saat mobil terparkir rapi mereka turun, Rara terus memapah suaminya menuju ruangan.
Semua staf melihat ibu sekaligus bangga denhan bosnya itu, meski kondisinya saat ini tengah sakit, ia tetap menjalankan tanggung jawabnya.
Gandi duduk di kursi kerjanya. Rara ikut membantu, menunjukkan letak tanda tangan yang harus suaminya bubuhkan. Rara juga membantu membacakan isi dokumen sebelum suaminya tanda tangan.
"Kamu capek ya sayang?"
Tanya Gandi merasa kasihan pada isyrinya.
"Gak, kok mas, Rara senang kok mas bisa nemani mas seperti ini, malah tiap hari Rara bisa deket sama mas"
Dengan jahil gadis itu berucap sembari mengecup sayang pipi dan bibir seksi om suami. Gandi terkejut dengan serangan kecil dari gadisnya.
"Sayang, ini di kantor. Gak enak dilihat staf mas"
Rara tertawa jahil, semakin menggoda om suami.
"Gak ada yang lihat kok mas, gak tau ni tiba-tiba kepengen"
Bisik Rara manja.
"Serius sayang, ini kantor lo"
"Gak papa mas, kita bisa di di ruang, istirahat mas. Kita bisa main cepatkan"
"Gak bisa. Kita pulang sekarang, kita bisa lebih leluasa di rumah"
"Gak mau, Rara maunya di sini. Rara mau sesuatu yang beda mas"
Akhirnya Gandi bangkit dari kursi kebesarannya, Membawa istrinya menuju ruang istirahat miliknya.
Di ruangan kerja Gandi, ada satu ruang khusus untuk istirahat, yang fasilitasnya lengkap seperti kamar tidur. Rara tampak tak sabar, gadis itu dengan cepat mengunci ruang khusus itu. Ruangan yang nyaman dan kedap suara sungguh sempurna.
Gandi memeluk istri kecilnya, Ia kecup lembut setiap inci wajah ayu itu. Hingga tak sedikitpun menyisakan celah untuk gadisnya bernafas. Meski indra penglihatannya belum bisa melihat dengan sempurna, namun pria itu sudah cukup hafal dengan setiap inci lekuk tubuh istrinya.
Ini kali pertamanya mereka memadu kasih di kantor, sungguh pria dewasa itu tak merasa rugi karna sensasi yang ia dapat sungguh luar biasa, rasa takut ketahuan stafnya menjadi satu adrenalin untuk mereka.
"Sayang, bisik Gandi penuh penekanan."
"Iya, mas."
"Terima kasih, permainan hari ini sungguh luar biasa"
Bisik Gandi memuji.
"Mas juga luar biasa, Rara makin sayang deh"
Kembali gandi mengecup puncak kepala istrinya.
"Kita mandi disini aja ya, sayang. Gak enak keluar dalam keadaan kotor"
Ajak Gandi lembut.
Rara membawa suaminya menuju kamar mandi yang ada di ruangan ini. Gadis itu dengan telaten membantu membersihkan tubuh kekar suaminya.
__ADS_1
Setelah selesai bersih-bersih Mereka keluar dari ruang istirahat Gandi.
Saat ia keluar ternyata sudah ada Reno tengah duduk di sofa ruang kerja suaminya.
Mata Reno membulat, menatap atasannya sekaligus sahabat dekatnya itu.
Setelah mengantar sang suami, Rara kembali masuk keruangan istirahat tadi. Setelah Rara tak terlihat, Reno mendekat ke arah sahabatnya.
"Gila lo Ga, pagi-pagi udah bikin leher bini merah-merah. Lo gak mikir, jika kalia keluar ruangan, leher jenjang bini lo bakal jadi tontonan staf lo?"
Gandi seketika menelan ludahnya kasar, sungguh ia tak berpikir sampai sejauh itu tadi.
"Lo bener Ren, gue kelepasan. Lo bisa bantu guekan, tolong beliin syal di butik terdekat, untuk Rara. Gue gak rela bini gue jadi tontonan."
Pinta Gandi memohon.
"Oke, lain kali main aman dong"
"Iya gue khilaf. Udah sana buruan"
"Iya bos"
Jawab Reno santai. Sungguh sahabatnya yang satu itu selalu baik dalam segala hal. Selalu saling mengingatkan jika ada sesuatu yang salah, meski hanya lewat candaan.
Gandi bangkit dari kursinya, pria itu berjalan hendak menyusul sang istri, ia langkahkan kakinya perlahan. Tangannya meraba-raba, akibat penglihatannya yang belum jelas masih tampak remang-remang, karna memang terapinya belum selesai. Gandi baru menjalankan jadwal terapi empat kali.
Gandi terus berjalan, hingga sampai di depan pintu tempat istrinya beristirahat. Saat pintu itu terbuka Rara terkejut.
"Mas kamu.."
"Mas bisakan sayang, berjalan sampai sini tanpa bantuan"
"Ya Allah mas, maafkan Rara. Rara gak tau kalau mas mau nyusul ke sini."
Ucap gadis itu menyesal.
"Gak papa sayang, sengaja mas nyusulin kamu, mas cuma mau kasih tau kamu. Kalau kamu jangan keluar dulu dari ruangan ini"
Pinta Gandi sembari menggenggam jemari istrinya.
"Loh, emang kenapa mas?"
Gandi meraba leher jenjang istrinya.
"Maaf tadi mas kelepasan, jadi mas banyak meninggalkan jejak di sini"
tunjuk Gandi tepat di leher istrinya. Seketika Rara membekap mulutnya.
"Ya Allah, mas! jadi Reno..?"
"Iya, tadi dia yang kasi tau mas, sekarang dia sedang mas suruh beli syal untuk menutupi jejak nakal bibir mas!"
"Ya Allah,Rara malu mas"
"Gak papa, dia faham kok sayang, lagipula kamu itu istri mas. Jadi kenapa kamu harus malu"
Ucap Gandi dengan entengnya.
Seketika gadis itu menutup wajahnya. Apapun kata suaminya Rara tetap merasa malu. Entahlah ia tak mampu berucap, rasanya wajahnya saat ini tebal-setebal tebalnya.
__ADS_1