
Setelah berbulan-bulan di Jakarta, baru kali ini aku sakit.
Ibu bilang, badanku ini penuh dengan zat besi, kalsium, vitamin dan segala macam karena ketangguhanku yang tak mudah sakit sejak kecil. Di saat anak-anak dulu sakit berjamaah terserang demam, cacar, campak dan segala macam, aku malah sehat walafiat karena imun yang kuat. Mungkin pernah beberapa kali kurang enak badan, namun pada akhirnya aku pasti lekas sembuh sampai tak perlu pergi ke klinik.
Mungkin musim dan udara di Jakarta kurang cocok denganku. Buktinya… aku terserang penyakit yang bernama meriang hampir selama dua hari.
Aku terserang batuk dan juga demam. Alhasil, aku tak bisa melakukan rutinitas seperti biasa termasuk menyiapkan keperluan Gala dan bapaknya.
KLONTANG!
Suara nyaring dari dapur terdengar begitu jelas. Aku yang berada di dalam kamar sambil selimutan pun terpaksa harus bangun karena suara berisik yang sejak tadi terdengar di area dapur.
Itu bapak sama anak lagi eksperimen apa sih di dapur? Ngerakit bom kali yah?
Baru saja hendak keluar dari kamar, gagang pintu bergerak lambat lalu menampakkan sosok Aiman dengan tangan yang tengah membawa nampan berisi semangkok bubur serta teh manis hangat. Pandangan kami saling bertemu. Ia terlihat kaget akupun juga demikian.
Tapi rasa kesalku lebih besar daripada ketersanjunganku atas perhatiannya yang tengah membawa makanan untukku. Jadinya aku memilih berbalik mengabaikannya yang hanya diam mematung setelah aksinya ketahuan olehku.
“Mau makan nggak?”
“Enggak,” jawabku cepat.
Aiman tak menyerah. Ia masuk ke dalam kamar sambil membawa nampannya.
“Kemarin kamu belum makan loh. Panasnya nanti nggak turun.”
Aiman hendak memeriksa kondisiku dengan menyentuh keningku. Dengan cepat aku menangkis tangannya sebagai aksi penolakan.
“Besok juga baikan. Udah buruan anter Gala. Nanti dia telat.”
“Udah dianter Raka barusan.”
“Ya udah kalau gitu berangkat kerja,” usirku dengan nada kesal.
“Masuk shift malam hari ini, jadi saya bisa full rawat kamu.”
“Aku nggak perlu dirawat. Nanti malah nambah beban kamu,” tukasku lagi sambil merebahkan diri ke tempat tidur.
Aku bisa mendengar suara napas Aiman yang tengah ia hela dengan berat. Juga suara nampan yang sejak tadi ia pangku berpindah ke atas nakas yang ada di sampingnya.
“Kamu bukan beban buat saya, Mel.”
“Oh aku ralat. Aku bukan beban tapi babu.”
“Kok ngomong kayak gitu sih?” tanya Aiman mulai kesal.
Baguslah. Semakin dia kesal maka semakin aku punya alasan untuk bisa selesaikan hubungan ini.
“Ya kalau bukan babu lantas apa? Sejak awal kita nikah juga aku cuma bertugas buat ngejaga Gala, iya kan?”
__ADS_1
Aiman mengusap wajahnya – frustrasi. Ia kemudian mulai duduk bersila seperti orang yang siap untuk memberi penjelasan. Aku memilih kembali membalikkan badan karena tak ingin melihat wajahnya itu.
“Aku nggak bermaksud kayak gitu Mel. Iya saya akui awalnya memang manfaatin kamu. Tapi jujur sekarang saya udah lupain semua itu. Kamu juga berhak buat saya bahagiain karena kamu secara sah istri saya.”
Dih! Istri saya katanya? Pujangga sekali wak ini, omelku dalam hati.
“Meskipun sampai sekarang…. kita memang nggak bisa berhubungan layaknya suami istri beneran,” sambungnya.
Aku mengerutkan kening bingung sambil menolehkan kepalaku ke arah belakang.
“Kenapa nggak bisa? Memangnya kamu pikir aku debok pisang? Oh iya. Sampeyan kan tertariknya sama nona Raline. Cantik, seksi, kutilang. Kurus tinggi kayak tiang,” ocehku lagi.
“Siapa yang bilang kalau saya tertarik sama Raline?”
“Nggak perlu dibilang juga kelihatan kok kamu tertarik sama dia!”
Aku bisa melihat wajah Aiman tertarik ke atas karena menahan emosi dan sabar. Tapi ia memilih diam daripada harus membalas ucapanku barusan.
Melihatnya tak bereaksi, akupun kembali memunggunginya. Tapi tiba-tiba hal tak terduga malah terjadi.
Aiman bergerak mendekat dengan melompat naik ke atas tubuhku. Ia lalu menangkap kedua tanganku hingga aku terkunci olehnya. Aku meronta untuk dibebaskan namun berakhir dengan menatapnya diam tanpa kata ketika Aiman mulai menunjukkan wajah seriusnya yang menawan.
Sialan! Jangan tergoda Mel!
Harus fokus! Jangan liatin wajahnya terus!
Aku buang muka ke kanan karena malu, “Terserahlah. Aku nggak akan bahas itu lagi. Sekarang lepasin.”
“Sekarang saya yang tanya. Kamu maunya gimana? Kamu siap kalau saya minta untuk jadi istri beneran dan bukan jadi ibu sementara-nya Gala? Karena perjanjian kita awalnya begitu. Tapi sekarang saya berubah pikiran karena maunya kamu terus jadi istri saya bukan babu atau apapun.”
Deg!
Genderang di dadaku berbunyi begitu kencangnya. Kenapa kamu Mel? Kenapa berdebar begitu?
Baru digertak gitu saja, sudah langsung knock out. Di mana mental premanmu yang selalu kau banggakan? Kenapa sekarang kau tak berontak ketika pria ini mulai semena-mena lagi padamu?
“Memangnya kamu ada perasaan ke aku?” tanyaku dengan spontan.
Cengkraman tangan Aiman yang sejak tadi kuat, perlahan mulai kendor. Aku memanfaatkan hal itu untuk melepaskan diri darinya lalu mencoba mendorongnya agar dia bisa menjauh dariku.
Karena tak fokus, doronganku tadi berhasil membuatnya terjatuh dari atas tempat tidur. Untungnya ia terduduk dengan sempurna tanpa khawatir kepalanya terbentur ke lantai.
“Jangan buat aku bingung. Aku bukan objek yang bisa kamu kendalikan sesuka hati kamu.”
Aiman terdiam. Ia masih berada di tempatnya ketika aku hendak bangkit dari atas kasur. Sambil menekuk lututnya, aku bisa mendengar Aiman mulai buka suara.
“Saya pernah gagal menikah. Cinta yang sudah saya bangun dengan tulus pada Susan malah dikhianati olehnya. Mungkin terdengar lucu kalau saya bilang saya trauma mencintai seseorang. Makannya saya nggak bisa lakuin itu ke kamu karena takut kecewa.”
“Itu namanya egois. Kamu takut kecewa tapi ngecewain orang lain,” balasku yang membuat Aiman kian bungkam.
__ADS_1
Suara bel terdengar nyaring dari luar. Sepertinya ada tamu yang datang dan akupun memilih untuk keluar memeriksa. Aiman masih diam di tempatnya. Mungkin dia sedang memahami ucapanku sampai beliau harus galau seperti itu.
Tuhlah! Siapa suruh jadi playboy?
Emangnya aku sudi hidup seumur hidup dengannya tanpa mau dicintai?
Etdah. Aku bukan wanita bodoh seperti itu.
Kubuka pintu tanpa bertanya lebih lanjut siapa yang datang. Begitu pintu kubuka, aku terkejut karena yang datang adalah kak Raka dengan wajah cemasnya.
Kubuka pintu tralis besi agar bisa menjangkaunya. Tapi siapa sangka bahwa dia datang-datang langsung memelukku seperti bertahun-tahun tak pernah bertemu.
Emang boleh sebebas ini meluk orang?
“A—ada apa kak? Kok ke sini?” tanyaku sambil cepat-cepat melepaskan pelukannya.
Raka menarik napas sambil memeriksa kondisiku.
“Kok kamu nggak ngabarin kalau sakit?”
“Loh? Emang Raka nggak ngabarin?”
Kak Rendi geleng-geleng kepala sambil celingak-celinguk ke dalam rumah.
“Nggak. Ada Ai — eh om Aiman di dalem.”
“Kalian cuma berdua di dalam?” tanya kak Rendi, terdengar was-was.
“Ehm itu —”
Duh! Gimana cara ngejelasinnya yah. Kalau dilihat sama orang lain, emang ganjil sekali om sama keponakan berduaan di dalam rumah.
“Nggak apa-apa kok. Hubungan kami nggak kayak yang kak Rendi bayangin. Aman kok,” jawabku asal.
Kak Rendi seperti masih belum menerima penjelasan dariku. Apa mungkin karena dia cerdas yah makannya curiga.
“Kamu bukan keponakan aslinya kan?”
“Eh?”
“Aku baru Inget kalau mamanya Raka pernah bilang kalau mereka nggak punya saudara jauh. Jadi kamu sama Raka bukan sepupuan apalagi ponakannya om Aiman.”
Glek!
Bang udah bang. Saya tremor nih karena ketahuan. Duh! Gimana jelasinnya ini. Bisa ketahuan kalau kami suami istri.
“Memang bukan. Mela ini memang bukan keponakan om. Tapi istri om yang baru,” jawab Aiman yang tiba-tiba muncul dari belakang punggungku.
Aiihh sompretooss!
__ADS_1