ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
15. Beranjak sehat.


__ADS_3

"Jadi istrimu ada riwayat sakit asma ya Ran?"


Bang Ranjha mengangguk tanpa kata, kepalanya terasa buntu tidak bisa berpikir jernih.


"Salah satu obat bisa mengganggu kehamilan karena obat milik Kinan tergolong obat keras. Sekarang setidaknya kamu harus mencari akal untuk mengobati Kinan di tempat seperti ini. Saya dokter, tapi saya juga tidak melarang jika kamu berusaha mencari pengobatan tradisional yang tepat untuk Kinan." Kata dokter Baraq yang paham betul bagaimana usaha keras sahabatnya itu.


"Iya Bar, saya akan coba segala cara." Jawab Bang Ranjha. Jelas dirinya menginginkan yang terbaik untuk istri tercinta.


...


Bang Ranjha menatap wajah Kinan. Jelas ada hati tidak tega melihat Kinan setiap melihat Kinan terbaring lemas tanpa daya.


"Adeek.. dengar Papa ya. Adek anak baik, jangan buat Mama sakit ya nak..!! Kalau saja sakit Mama bisa pindah, pindahkan semua rasa sakit dan kesalnya adek ke Papa. Papa ikhlas menanggung semua, tolong jangan sakiti Mama..!!" Pinta Bang Ranjha sudah pasrah tak sanggup lagi memikirkan keadaan Kinan.


'Jika saja dosaku tak terhitung serupa debu, dosa yang selama ini menutup kebahagiaan Kinan, do'aku adalah.. tolong leburkan saat ini dan jangan menimpakan pada Kinan. Aku menikahinya bukan ingin memberinya penderitaan.'


\=\=\=


Kinan menggenggam kuat tepi wastafel saat merasakan mual. Seperti biasa, ia akan muntah hebat kemudian mimisan dan kemudian pingsan.


Siang itu Bang Ranjha sengaja mencari Kinan di ruang pengurus cabang. Konsentrasinya sampai pecah memikirkan Kinan.


"Mau kemana Bang?" Tegur Mbak Riri melihat Bang Ranjha terburu-buru masuk ke ruang pengurus cabang.


"Mau lihat Kinan." Jawab Bang Ranjha tak menatap wajah Mbak Riri.


"Kinan sakit lagi? Belum sehat juga? Sudah enam bulan khan Bang?" Tanya Mbak Riri.


"Kehamilannya memang sedikit bermasalah, tapi selebihnya Kinan baik-baik saja." Bang Ranjha tak ingin lebih banyak berurusan dengan istri seniornya meskipun dulu dirinya sempat menjalin kasih dengan Mbak Riri.


Mbak Riri pun tak banyak bertanya lagi pada Bang Ranjha, ia menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Sosok Ranjha memang tidak berubah. Jika saja sang ibu mengijinkan dirinya menjalin kasih dengan Bang Ranjha.. mungkin kini mereka telah memiliki momongan.


Ranjha memang pria yang dingin namun juga seorang pria yang gagah, gentleman dan penuh kasih.


:

__ADS_1


"Maaf, Kinan selalu merepotkan." Ada rasa tidak enak terbersit dalam hati Kinan. Di setiap harinya Bang Ranjha hanya membersihkan kotorannya saja.


"Merepotkan apa? Tidak ada istri yang merepotkan." Jawab Bang Ranjha sambil mengusap bibir Kinan dengan tangannya dan langsung membersihkan muntah Kinan di lantai.


"Mas nggak jijik??" Tanya Kinan.


"Kenapa harus jijik? Istri adalah bagian dari diri, apa kita jijik dengan diri kita sendiri?" Bang Ranjha balik bertanya. "Seharusnya Mas yang minta maaf, inginnya Mas menjadi seorang ayah sampai membuatmu harus merasa payah dan sakit seperti ini. Jika saja sakit ini bisa Mas tanggung, tidak apa-apa Mas yang merasakannya."


Kinan menangis terisak-isak, tak banyak kata terucap dari bibirnya.


***


Sabtu pagi yang cerah. Bang Ranjha sengaja mengajak Kinan berjalan pagi sejak siang kemarin mual dan muntah Kinan sudah sedikit berkurang dan itu sangat membuat Bang Ranjha bahagia, bahagia yang tidak bisa di ungkapkan. Bang Ranjha ingin Kinan menikmati udara pagi sekalian melatih nafas Kinan dan berharap persalinannya lancar dan tanpa hambatan suatu apapun.


Sesekali Kinan memercing dan mengatur nafasnya, mungkin rasanya sedikit berat baginya karena sudah lama sekali Kinan tidak berolahraga perkara mabuknya yang begitu mengganggu.


Saat masih konsentrasi melihat batu kerikil di hadapannya, ia melihat Bang Ranjha melompat lompat dengan satu kaki. Sesaat kemudian Kinan melihat Bang Ranjha menirukan gayanya berjalan dan memegang punggung belakang.


"Mas meledek Kinan?" Tanya Kinan menjadi sedikit naik darah melihat kelakuan Bang Ranjha.


Kinan masih diam karena mungkin alasan Bang Ranjha memang benar. Kinan pun melanjutkan langkahnya di sekitar kali kecil di sepanjang rumahnya.


Disana Bang Ranjha juga terus mengawasi langkah Kinan.


"Mas, Kinan pengen cari udang." Pinta Kinan tiba-tiba.


"Di sungai??" Tanya Bang Ranjha. Lama sekali Bang Ranjha tidak mendengar suara manja Kinan yang minta sesuatu karena mabuknya.


"Iya Mas. Boleh nggak?"


"Boleh.. ayo kita cari. Mas hubungi Ariel dulu biar cari alatnya. Kamu duduk dulu di atas batu. Jangan turun atau jalan kesana kemari tanpa sepengetahuan Mas." Kata Bang Ranjha.


"Okee Mas."


...

__ADS_1


Prada Ariel turut membantu Pak Danki dan ibu Danki mencari udang di sekitar aliran sungai. Baru kali ini wajah Danki terlihat lebih ceria dari biasanya, mungkin karena kesehatan istrinya yang mulai membaik jadi membuat Pak Danki pun ikut semangat di pagi hari ini.


"Satu lagi dek.. mau habis nih nasi kuningnya."


"Kenyang Mas." Tolak Kinan.


"Satu lagi..!! Mubadzir buang makanan..!!" Bujuk Bang Ranjha dan akhirnya Kinan mau membuka mulut dan menghabiskan sarapan paginya. "Alhamdulillah..!!" Ucap syukur Bang Ranjha.


"Ijin Dan, mau sarapan sekarang?" Tanya Prada Ariel.


"Ya sudah, mana nasi kuningnya. Kamu sudah selesai sarapan Riel?"


"Siap.. sudah Dan..!!" Jawab Prada Ariel sembari menyerahkan bungkusan nasi kuning milik Bang Ranjha.


:


Usai sarapan pagi, Bang Ranjha merokok sambil mengikuti langkah Kinan yang sedang mencari udang. Memang di sekitar aliran sungai tersebut banyak sekali udang bertebaran.


"Jangan terlalu lama dek. Nanti masuk angin. Mas lupa nggak bawa obatmu."


"Iyaaa.. Kinan nggak apa-apa Mas." Jawab Kinan kemudian berbalik badan dan berdiri berhadapan dengan Bang Ranjha. "Maas.. ini udang apa?" Kinan menunjukan apa yang di pegangnya di hadapan Bang Ranjha.


"Astagfirullah hal adzim.." Secepatnya Bang Ranjha menepak tangan Kinan tapi karena Kinan memegangnya erat, ia pun merebutnya lalu membanting dan menghantamnya dengan batu.


"Maaass.. kenapa di bunuh?? Kinan suka udang yang itu." Protes Kinan.


"Udang apanya?? Itu kalajengking." Jawab Bang Ranjha syok dan masih mengatur nafasnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2