
Perlahan mata Kinan terbuka, Bang Ranjha tidur bersandar di ranjang sambil memegang tangannya. Kinan memalingkan wajahnya.
Peka seperti ada yang terbangun, Bang Ranjha pun ikut terbangun.
"Kamu sudah sadar dek?" Tanya Bang Ranjha.
"Kinan mau pulang..!!"
...
plaaakk..
"Siapa yang memberimu ijin menceritakan hal itu pada putri saya???" Ayah Rojaz sangat murka pada Bang Ranjha.
Terlihat saat itu Mama Rhena histeris saat Kinan membereskan semua pakaiannya ke dalam koper dan membawanya keluar.
Kemudian untuk sejenak Mama Rhena berhenti dan memegang perutnya sampai merosot ke lantai.
Ayah Rojaz kelabakan dan langsung menghampiri Mama Rhena sedangkan Kinan terus berjalan pergi namun Bang Ranjha segera menghadangnya.
"Orang tuamu sedang tidak baik-baik saja. Jangan pergi..!!" Cegah Bang Ranjha.
"Apa masih pantas Kinan ada disini. Ayah yang selama ini Kinan sayang ternyata bukan Ayah kandung Kinan. Itukah sebabnya wajah Kinan tidak mirip Ayah??"
Ayah Rojaz diam tanpa kata, hanya wajahnya terlihat begitu sedih dan terpukul. Mama Rhena semakin menangis meraung mendengar ucap putrinya.
"Kau ini apa-apaan. Ayo keluar..!! Biar orang tuamu tenang dulu..!!" Ajak Bang Ranjha menyeret tangan Kinan keluar dari rumah.
~
"Kinan benci Ayah, Ayah bohong sama Kinan Om."
"Kinan, tidak baik bicara begitu..!! Ayahmu sangat menyayangimu melebihi apapun. Bersikaplah sedikit dewasa Kinan, tidak begitu caranya kita menyikapi dunia ini." Tegur Bang Ranjha.
"Kinan memang anak-anak dan Kinan tidak suka di bohongi..!!! Kinan anak siapa?????" Kinan mengambil sesuatu dari kantong pakaiannya dan langsung menelannya.
"Astagfirullah Kinaaaaann..!!!!!!" Bang Ranjha syok melihat putri komandannya menenggak racun di hadapannya.
Saat ini tak mungkin bagi Bang Ranjha untuk mengganggu Pak Rojaz yang tengah menenangkan istrinya yang sedang hamil dan Ibu Rojaz akan sangat syok jika mendengar putrinya melakukan aksi percobaan bunuh diri.
Secepatnya Bang Ranjha membawa Kinan dan menghubungi Pak Renash.
...
Bang Ranjha lemas menemani Kinan di dalam ruang tindakan hingga wajahnya pucat. Disana Pak Renash di temani Bang Gumarang datang ke rumah sakit tepat di UGD.
Pak Renash mengusap bahu Bang Ranjha. Saat tangan itu mengusapnya, air mata Bang Ranjha meleleh.
"Tolong maafkan saya Pak. Saya tidak sengaja, sungguh saya tidak tau kalau ucapan saya menimbulkan prahara seperti ini. Andai saja saya tau semua akan berakhir seperti ini, saya tidak akan buang suara." Jawab Bang Ranjha penuh sesal.
Pak Renash duduk di samping Bang Ranjha lalu menatap wajahnya.
__ADS_1
"Dulu.. adalah masa sulit orang tua Kinan. Berkali-kali Mamanya ingin bunuh diri karena meninggalnya Kapten Arma. Mamanya sampai tidak berani menggendong Kinan karena selalu teringat dengan almarhum suaminya, saat itu Kinan sudah sering sesak nafas dan Pak Rojaz lah yang selalu menyelamatkan Kinan. Alhamdulillah saat itu Katon menjadi anak baik yang tidak rewel dengan keadaan hingga Pak Rojaz fokus merawat Kinan. Di suatu hari, Mamanya tidak tahan mendengar tangis Kinan dan Mamanya histeris, tidak menginginkan bayi dari Kapten Armayudha hingga Pak Rojaz terpaksa mengatakan bahwa itu adalah anaknya, hingga perlahan mental mamanya pulih perlahan. Usai masa Iddah, Pak Rojaz langsung menikahi mamanya Kinan."
Bang Ranjha perlahan mengerti duduk permasalahannya.
"Sebab menjaga mental istrinya, ia membiarkan hal tersebut hingga akhirnya hal itu mendarah daging dalam diri Pak Rojaz, tak ingin batasan ayah dan anak. Beliau tulis menyayangi Kinan. Bahkan Pak Rojaz adalah sosok yang paling marah jika sesuatu terjadi pada Kinan. Saking sayangnya.. perlakuannya pun sangat istimewa, Kinan bagai putri raja.. tak pernah susah dan selalu dalam pengawalan dan pengawasan Ayahnya."
'Jadi kamu adalah putri raja. Ayahmu pasti sangat sedih. Maafkan saya yang sudah datang dan merusak hubunganmu dengan ayahmu.'
"Jangan terlalu cemas." Kata Pak Renash lagi. "Cepat atau lambat, suatu saat semua pasti juga akan terbongkar juga dan hanya menunggu waktu. Mungkin saat ini sudah waktunya. Kelak, Kinan akan menikah dan pastinya Pak Rojaz harus mengakui keadaan yang sebenarnya."
"Mohon ijin Panglima. Apa boleh.. jika saya berniat mengenal Kinan lebih dekat?" Tanya Bang Ranjha.
"Silakan, di lamar juga boleh." Jawab Papa Renash.
Di waktu yang sama, Pak Musa datang bersama beberapa orang. Tentu berurusan dengan keluarga Panglima bukanlah hal yang mengenakan. Beliau merasa bertanggung jawab dengan ulah keponakannya.
"Latihan akad juga boleh. Siapa tau kalian berjodoh..!!" Kata litting Ayah Rojaz.
Entah apa yang terjadi pada Bang Ranjha. Dirinya pun menyetujui ajakan tersebut.
~
"Siap.. dengan sadar.. saya Riasat Ranjha Harmapala dari lubuk hati yang terdalam, bersungguh-sungguh akan menikahi Wening Kinantan Nilakantri putri almarhum Bapak Lanang Armayudha......."
~
"Sah.."
Pak Renash melepas genggaman tangan Bang Ranjha.
Bang Gumarang menunduk lesu menahan tangisnya. Ia hanya menyentuh kening Kinan dengan sayang.
Sesaat kemudian Bang Ranjha menyadari ada sesuatu yang berbeda. "Bukankah tidak ada latihan akad nikah??" Tanya Bang Ranjha.
Seisi ruangan tersenyum menjawabnya.
Bang Ranjha sejenak tertegun.
"Perjodohan selamanya tidak buruk Ranjha." Kata Papa Renash.
...
Bang Ranjha usai melaksanakan sholat ashar. Saat itu Kinan sudah terbangun dan menatapnya.
"Mau sholat dek?" Tanya Bang Ranjha lebih lembut.
Kinan menggeleng kemudian mengalihkan pandangannya.
"Sholat itu wajib, sholat adalah tiang agama." Kata Bang Ranjha mengingatkan Kinan. "Ayo saya antar ambil wudhu..!!"
"Kinan tau."
__ADS_1
"Ya makanya ayo..!!" Ajak Bang Ranjha.
"Lagi dapat." Jawab Kinan.
"Oohh.. maaf..!!"
"Tolong belikan..!!" Pinta Kinan.
"Apa?? I_tu???" Tanya Bang Ranjha memastikan.
"Iya, ini sudah penuh Om."
Bang Ranjha menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena dirinya sudah memutuskan untuk lebih dekat dengan Kinan, mau tidak mau ia pun menyanggupinnya.
"Ya sudah, sebentar ya..!!"
...
Memakai jaket tebal hitam, celana hitam, kacamata hitam, dan helm serbu hitam berpenutup wajah bermotif ular cobra, Bang Ranjha masuk ke dalam sebuah minimarket.
Banyak orang berteriak ketakutan tapi dirinya tidak menyadari bahwa teriakan ketakutan itu adalah karena dirinya.
"Aaaaaa.." teriak seorang SPG wanita saking takutnya.
Bang Ranjha tak peduli, ia memasukan banyak pembalut wanita ke dalam keranjangnya lalu segera menuju kasir. Di keluarkannya sebuah kartu ATM bermotif loreng.
Kasir yang melayaninya gugup tapi tetap melayani.
"Cepat mbaaak..!!!!!!!!!!!"
"Ii_ya Pak..!!"
Tak lama seluruh benda wanita tersebut beralih pada kantong belanja berukuran besar. Setelah menerima kembali kartu ATM nya, Bang Ranjha secepatnya berlari cepat masuk ke dalam mobil dinas.
"Tentara ya??" Tanya seorang kasir.
"Coba lihat siapa nama pemilik kartu ATM nya..!!" Pinta seorang kasir yang lain.
"Riasat Ranjha."
Kedua kasir itu saling pandang.
"Beli pembalut saja sampai drama." Keduanya pun menggeleng kepala. Apalagi satu baris tempat pembalut habis tak bersisa karena telah di borong pria tersebut.
.
.
.
.
__ADS_1