ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
16. Tugas.


__ADS_3

Bang Ranjha duduk di atas batu dan mengusap dadanya. Sungguh seluruh organ aktif di tubuhnya terasa nyeri. Bagaimana tidak, istri mudanya itu nyaris membuatnya ikut meregang nyawa saking kagetnya.


"Oohh itu kalajengking?" Kata Kinan tanpa ada rasa takut dengan wajah polosnya.


"Kamu tau nggak kalau hewan itu juga sangat berbahaya?? Bisanya juga mematikan." Bang Ranjha sudah terbawa geram karena cemas.


"Tau. Tapi Kinan khan tidak tersengat, jadi untuk apa Mas takut dan panik?" Tanya Kinan.


Bang Ranjha memijat pelipisnya, pening seketika berputar di seluruh kepala, tapi ia harus sepenuhnya sadar bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan bumil cantiknya. "Alhamdulilah.." jawabnya cukup singkat padat dan jelas.


"Jadi Mas nggak cemas? Nggak panik lagi?"


Seketika tubuh Bang Ranjha panas dingin. Kini ia pahami mengapa Ayah dan Papa mertuanya mengutamakan perasaan para istri terutama bumil, karena memang pada kenyataannya hidup pria akan lebih tenang jika tidak ada sedikitpun prahara di tengah rumah tangga.


"Panik donk dek. Masa Mas nggak panik. Mas bilang Alhamdulillah karena bahagia istri Mas sehat dan Mas berharap akan selalu begitu sampai kapanpun." Jawab jujur Bang Ranjha.


Kinan melenggang pergi setelah membuat Bang Ranjha nyaris terkena gejala serangan jantung.


"Aseeemmm.. bajinduuuuulll, ngeriii cuy. Ya Allah.. lebih horor dari aura pelatih." Bang Ranjha mengusap dadanya dan bergumam penuh kegelisahan.


"Tuh khan, Mas nggak kejar Kinan.." protes Kinan sembari menghentakkan kakinya.


"Iyaa.. ini lho Mas kejar. Nggak mungkin lah Mas biarkan istri cantik jalan sendiri." Kata Bang Ranjha secepatnya melebarkan langkah.


Tangan kekar itu kemudian menggandeng tangan Kinan. Benar saja, tak menunggu waktu lama senyum Kinan pun tersungging cantik.


Baru beberapa langkah berjalan, Kinan berhenti karena melihat seekor ayam jago yang sedang berjalan tak jauh darinya.


"Ada apa dek?" Tanya Bang Ranjha.


"Kinan pengen adu ayam." Jawab Kinan.


"Opoooo??? Nggak.. oraaaa.. jangan yo cah ayu..!! Nggak baik dek. Masa anak kita di ajari maksiat sejak dalam kandungan." Protes Bang Ranjha.


"Tapi gimana nih Bang? Kinan juga pengen tau rasanya adu ayam."

__ADS_1


"Ya di lawan kalau pengennya yang begitu. Masa minta kejahatannya harus dituruti???" Tegur keras Bang Ranjha.


Seketika raut wajah Kinan berubah. Ia duduk di tepi sungai membawa tubuh lemas dan wajah mendung.


'Astaga, apa ini tanda ngambek kalau nggak keturutan??'


Akhirnya Bang Ranjha ikut duduk di samping Kinan, ia menarik nafas panjang dan melembutkan suaranya. "Kalau adu ayam nggak boleh, cari yang lain ya..!! Kita harus bisa mengajari anak kita hal yang baik. Semua inginmu pasti Mas turuti, asal jangan tindak kejahatan." Ucap tegas Bang Ranjha.


"Itu nggak jahat Mas." Kata Kinan dengan ngeyelnya.


Langkah Bang Ranjha terhenti karena ada nada dering dari ponselnya. "Selamat siang, Ijin arahan Bang?" Tanya Bang Ranjha.


"Kamu harus berangkat dinas luar Ran..!!" Kata Bang hakim.


"Apa tidak ada gantinya Bang? Kinan sedang hamil besar." Bang Ranjha tau sebuah perintah memang harus di laksanakan, tapi mengingat riwayat kesehatan Kinan.. hati suami mana yang tega meninggalkan istri tercinta dan itu adalah hal yang sangat wajar.


"Semua istri rata-rata mengalami hal mengidam, mual dan muntah Ran. Tapi saran saya sebaiknya istrimu jangan di biasakan manja. Riri saja dulu juga sering saya tinggal bertugas." Kata Bang Hakim selaku Danyon yang telah menyetujui beberapa orang prajurit yang akan berangkat berdinas.


"Abang, tolong..!! Kinan sangat membutuhkan saya..!! Saya janji setelah persalinan, saya akan berangkat kemanapun dinas akan menunjuk saya..!!" Janji Bang Ranjha.


~


Bang Ranjha masih terdiam, tak tega mengatakan tentang keberangkatan tugasnya yang begitu mendadak. Maklum, posisinya adalah perwira Intel yang tidak dapat di prediksi kapan negara akan membutuhkan perjuangannya.


"Ada apa Mas?" Tanya Kinan.


Bang Ranjha kembali tidak tega menatap wajah Kinan.


"Mas harus berangkat dinas luar dek." Jawab Bang Ranjha akhirnya jujur tanpa harus ada yang ditutupi lagi.


"Kapan berangkat?"


"Wacana perintahnya sudah seminggu yang lalu, tapi tidak menyangka hari ini turun surat perintahnya. Besok Mas harus berangkat." Kata Bang Ranjha.


"Secepat itu Mas? Kenapa tidak bilang dari seminggu yang lalu?????" Protes Kinan.

__ADS_1


"Kondisimu sangat tidak memungkinkan dek. Kamu sangat lemas. Bangun saja tidak bisa, Mas nggak mungkin membebani pikiranmu dengan hal semacam ini." Jawab Bang Ranjha.


"Mas mau selingkuh ya?"


"Mas di hutan dek. Mau selingkuh sama siapa? Ketemu monyet perempuan saja sudah Alhamdulillah." Ucap tegas Bang Ranjha. "Nanti Mas hubungi Ayah ya..!!"


"Mama mau melahirkan. Semalam katanya sudah mulas."


"Atau Mama Geeta?" Tanya Bang Ranjha lagi.


"Ibu panglima sangat sibuk, nggak mungkin ada buat Kinan.


Pikiran Bang Ranjha semakin stress saja. "Kalau begitu Mas nggak berangkat."


"Nggak mungkin Mas nggak berangkat. Itu pelanggaran Mas. Mas bisa di hukum."


"Hukuman itu sudah biasa, anggota juga banyak yang mumpuni disini, kenapa harus Mas? Apa mata Danyon nggak tau berbulan-bulan Mas kelabakan mikir keadaan mu? Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak."


Kinan terhenyak, perasaannya tersentuh mendengar ucap Bang Ranjha. Ia tersenyum dan menekan emosinya. "Oya, ternyata suami Kinan bisa cemas juga?" Ledeknya mencairkan suasana. "Sekarang Kinan sudah nggak apa-apa, sudah baik-baik saja. Pergilah Mas, jangan khawatir, disini banyak tetangga yang baik."


"Nggak dek."


"Masa tentara begitu? Pergilah.. buat si adek bangga sama Papanya..!!" Bujuk Kinan meskipun dalam hatinya merasa berat dan tidak rela.


"Tapi......"


"Ehmm.. berhubung Kinan sudah nggak apa-apa. Mama kasih bekal deh, biar Papa semangat kerjanya." Janji Kinan tak menunjukan gelagat apapun agar Bang Ranjha menjadi tenang. Mungkin saat inilah caranya membalas kesabaran suaminya selama ini.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2