
Perdebatan diantara keduanya masih berlanjut. Aku dan Gala memilih diam sambil mendengarkan suamiku dan mantan istrinya saling membahas masa lalu.
“Enggak bisa. Kamu nggak bisa ikut.”
“Kenapa nggak boleh sih, Mas? Kalau kalian pergi, terus aku gimana? Aku kan mau main bareng Gala hari ini.”
Yeu…makannya ngasih kabar. Biar situ nggak sia-sia datang ke sini, batinku.
“Makannya kamu ngasih kabar dulu. Jadi kamu nggak sia-sia datang ke sini,” tukas Aiman dengan nada tegas.
Eh eh…..tumben kita kompak?
“Ya….aku kan mau kasih surprise ke anak kita. Lagian kalau aku ikut juga nggak akan ganggu kok. Anggep saja aku nggak ada.” Susan masih bersikeras dengan kemauannya.
Dia sengaja menekan kata ‘anak kita’ sambil menoleh padaku. Tak sengaja pula kuputar bola mataku – jengah padanya setelah mendengar janda pirang satu itu tengah tebar pesona.
Entahlah. Aku menganggapnya seperti itu. Mungkin karena sesama wanita yah jadi aku bisa membaca tingkah lakunya yang tak biasa.
Susan berdandan dengan super mewah sekali. Pakaian yang ia kenakan juga catchy, untuk memperlihatkan bahwa dia emak-emak berkelas. Beda sekali denganku yang selalu pakai kaos metal plus kemeja kotak-kotak dan jilbab segiempat. Beneran persis seperti kata gurunya Gala yang ia pikir aku adalah baby sitternya Gala bukan ibunya.
“Maaf….nggak bisa. Karena ini liburan keluarga kecil kami.”
Astaga! Malunya sampai sekebon!
Terkadang omongan Aiman nyelekit banget, tapi kali ini…aku beneran suka sama omongannya barusan. Headshot sampai ke tulang sumsum!
“Keluarga kecil? Aku juga bagian dari keluarga kecil kamu kan, Mas?” tanya Susan dengan nada membujuk nan merayu.
Mataku langsung memicing melihat tingkah Susan yang semakin mencurigakan. Apalagi… om sompret itu juga diam saja saat tangannya di pegang-pegang. Dasar buaya!
“Kamu jangan kayak gini, Susan –“
Aku semakin tak betah berlama-lama menonton serial drama ikan terbang ini. Kuputuskan untuk beranjak dari sana untuk beralih masuk ke dalam rumah. Aiman sama sekali tak mencegahku. Ia masih tetap sibuk dengan Susan mantan istrinya.
Lalu tak lama, hujan deras mengguyur kota. Akhir dari perdebatan ini adalah batalnya jalan-jalan ke taman Safari.
Aku tak tahu harus senang atau sedih. Yang pasti....Gala lah yang berkeluh kesah karena hujan turun membatalkan liburannya.
**
Apa keadaan membaik?
Tidak. Justru memburuk.
Aiman mengijinkan Susan untuk singgah ke rumah dengan alasan hujan deras disertai petir di luar. Alhasil, aku harus melayani tamu seperti dirinya yang sebenarnya sama sekali tak merasa sebagai tamu. Sejak tadi Susan tak mau duduk diam. Ia terus mengomentari rumah ini tanpa sungkan kepadaku, seolah-olah aku yang notabene istri barunya Aiman tak becus dalam merawat rumah.
__ADS_1
“Mas Aiman kan nggak suka kotor-kotor. Ini kok berdebu sih?”
Seperti itulah contohnya ia berkomentar. Nyebelin, kan?
“Aku dua hari sakit mbak, jadi nggak sempat beres-beres rumah.”
“Tapi debunya tebal gini loh, masa iya cuma dua hari?” tunjuknya sambil melipat tangan di dada.
“Silahkan di minum mbak tehnya. Nanti dingin loh,” sahutku untuk mengalihkan pertanyaannya itu.
“Gitu lah kalau nyari istri asal milih gitu aja. Apalagi masih ABG. Jadinya gitu….pasti nggak becus,” cibir Susan dengan nada pelan. Yang meskipun pelan akupun masih bisa mendengar kritikannya itu.
“Maksud mbak apa yah?” balasku sambil meliriknya tajam.
Semakin lama mulut si janda ini semakin tak bisa difilter. Semakin kelewat batas karena Aiman membiarkannya. Entah dimana om-om sompret itu? Sudah seperti Avatar saja. Di saat dunia membutuhkannya, dia menghilang!
“Kamu nggak becus jadi istrinya Aiman. Aku juga nggak yakin kalau kamu juga becus jagain Gala.”
“Emangnya….mbak pernah becus jadi istrinya? Kalau mbaknya ngerasa paling becus, kenapa kok bisa diceraikan?”
Mata Susan membola. Ia pasti tak menyangka bahwa aku berani melawan ucapannya. Tapi sayangnya, itu tak bertahan lama. Susan kembali memancing emosiku dengan kata-katanya yang menyebalkan.
Sial! Hal ini sama sekali tak bisa kubantah. Karena memang….kami memiliki banyak ketidakcocokan, kan?
Tapi Mel…masa’ kau mau kalah debat sama janda pirang ini? Kemana mental preman-mu? Tenggelam di lautan fakta itu nggak ngaruh. Menang bacot itu yang utama!
“Siapa yang bilang kita nggak cocok? Emangnya mbak Tuhan yang bisa ngeliat masa depan?”
Wajah Susan mengeras. Aku yakin dia sudah menelan umpannya bulat-bulat.
“Iya. Aku bisa bikin kalian nggak cocok. Lihat saja. Aiman bentar lagi juga akan mencampakkan kamu,” balas Susan dengan sungguh-sungguh.
Darahku benar-benar sudah mendidih. Aku sudah tidak tahan mendengar segala cibirannya yang dulu geng ghibah di kampung ku saja tak sampai seperti ini mulutnya.
Kukepalkan tanganku lalu bersiap untuk menghadapinya.
“Mbak mending pulang aja deh.”
Kutarik tangan Susan untuk keluar dari rumah ini. Akan tetapi karena dia meronta, tentu saja seisi rumah mendengar teriakannya memanggil nama Aiman. Aku tak peduli. Aku bersikeras tetap ingin mengusirnya meskipun dia terus berteriak.
“Mas! tolongin aku Mas! Istri muda kamu ini udah gila! Mas!”
__ADS_1
“Mbak emang nggak boleh dikasih panggung! Karena makin lama bisa semakin ngelunjak.”
“Hei! Kamu nggak berhak yah ngusir-usir! Inikan rumahnya mas Aiman!” Susan mempertahankan diri dengan berpegangan pada daun pintu.
“Tapi saya istrinya! Mbak mantannya!”
Susan masih tetap tak terima, “Mas! tolong mas!”
“Mela? Ada apa ini?” tanya Aiman dengan mata yang terbelalak.
Kami akhirnya dilerai oleh Aiman dengan mudah. Melihat Aiman datang, Susan langsung bersembunyi di belakang punggung mantan suaminya itu.
“Istri kamu itu gila, Mas! Dia ngusir aku sambil narik-narik rambutku!”
“Eh eh! Jangan nambah-nambahin cerita ya! Aku nggak narik rambut mbak!” protesku sambil maju ke hadapannya. Tapi lagi-lagi aksiku dicegah oleh Aiman dengan raut wajah kekecewaan.
“Mela…kamu nggak boleh kayak gitu sama orang yang lebih tua –“
“Mau tua mau muda kalau nggak punya sopan santun mesti dikasih pelajaran!” jawabku. Dan hal itu malah semakin membuat Aiman marah.
“Lah kamu sendiri sekarang juga nggak sopan. Kamu mau saya kasih pelajaran juga?”
“Kok jadi aku yang dimarahin sih? Nggak ada asap kalau nggak ada api! Dia duluan yang nyari perkara!”
“Bohong mas. Aku daritadi diam aja kok duduk santai sambil ngobrol sama Mela. Tapi dianya yang malah marah-marah nggak jelas dan ngusir aku kayak tadi,” bantah nek lampir yang semakin membuat kepalaku ingin meledak.
Bisa-bisanya ia mengarang bebas seperti itu. Yang sialnya lagi….Aiman memilih percaya ucapannya daripada ucapanku.
“Dua-duanya minta maaf,” ujar Aiman kemudian.
Aku langsung menolak dengan cara memalingkan wajahku.
“Nggak! Aku nggak mau karena aku nggak salah!”
“Minta maaf nggak mesti karena kita punya salah, Mel. Tapi buat menurunkan ego dan juga emosi kita yang meledak-ledak.”
Susan tiba-tiba keluar dari balik punggung Aiman sambil mengulurkan tangan.
“Kamu benar, Mas. Mel…aku minta maaf kalau ada kata-kataku yang salah tadi.”
Kampret! Semakin menjadi-jadi saja janda pirang satu ini. Ucapan maafnya sama sekali tak bisa kuterima. Dan aku memilih menangkis uluran tangannya itu dengan pergi meninggalkan suami dan juga mantan istri yang super edan itu.
“Aku nggak sudi!”
__ADS_1