
Aku adalah tipe orang yang tak bisa menyembunyikan apa yang kurasakan. Kalau marah ya marah. Kalau aku nggak suka sama sesuatu ya aku akan bilang aku nggak suka.
Seperti pagi ini. Semangatku untuk menyiapkan segala kebutuhan keluarga kecilku seperti sedang membara dan berkobar. Gala melihatku dengan wajahnya yang terheran-heran sambil bilang ….
“Mama hari ini kok bahagia banget?”
“Ah masa sih?” tanyaku sambil membolak-balik ikan yang tengah kugoreng. Mendengar pertanyaannya, akupun tanpa sadar menyunggingkan senyum seperti joker.
“Iya. Mama senyum-senyum terus.”
“Ah kak Mel kan emang suka senyum.”
“Tapi kali ini beda.”
Aku selesai menggoreng ikan lalu lanjut kurangi minyak makan untuk digunakan menumis sambal yang sudah kuulek sebelumnya.
“Bedanya bikin Gala suka atau enggak?” tanyaku sambil mengaduk-aduk sambal. Tak lama Gala – putra sambungku ini mengangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias.
“Suka dong,” pujinya yang membuatku semakin gemas sendiri.
Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday
Saturday, Sunday (a week)
Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday
Seven days a week
Every hour, every minute, every second
You know night after night
I'll be fu*kin' you right, seven days a week
“Sunday monday –“
“Kamu nyanyi apa barusan?” tanya Aiman yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangku.
Bulu kudukku langsung meremang begitu ia berbisik di celah leherku yang terbuka.
“Apaan sih! Bikin kaget aja!”
Aiman malah cengengesan tanpa dosa.
“Gitu aja kaget. Aku nanyak, barusan kamu nyanyi apaan?”
“Oh lagu my bias judulnya –“
“Coba nyanyiin,” tegurnya sambil mengerutkan kening.
Aku yang bingung melihatnya yang tiba-tiba penasaran begitu, jadi ikut memicingkan mata. Memangnya ada yang aneh sama lagunya?
“Cuma nyebutin nama hari. Sunday monday tuesday –“
“Di kalimat terakhir. Kayaknya nggak enak buat didenger anak kecil.”
Aiman memutar badannya sambil melipat kedua tangannya ke atas perut. Aku mengulangi part lagu tadi dengan perlahan, lalu tutup mulut sendiri karena tak menyadari.
__ADS_1
“I’ll be fu*kin –“
“You want? 7 day a week?”
“Huh?”
“Seven day a week?” tanya Aiman dengan tatapan horornya.
Iya! Tatapan horror di sini adalah tatapan om-om kurang belaian.
HIH!
“Eits! Apaan tuh?” tanyaku spontan ketika merasakan ada benda tumpul yang tengah bersinggungan dengan bokongku yang tak semok ini.
Aku menoleh ke belakang dan langsung mengarahkan pandanganku ke bagian vital om-om sompret ini. Langsung saja aku berkeringat dingin sambil memperhatikan seberapa panjang itu.
“Mungkin saya ngantongin remote TV, ah bukan. Itu terlalu kecil. Lebih pas kayaknya botol sirup, nah baru pas. Besar kan?” ucapnya sambil tersenyum jahil.
“Astaghfirullah –“ batinku.
“Sana gih mandi! Nggak malu apa didengar bocah!” usirku dengan spatula berisi sambal ke wajahnya.
Melihat tingkahku dengan papanya, Gala malah tertawa dengan sepotong roti di mulutnya. Sedangkan Aiman tak berhenti gelak sampai ke kamar melihatku mengancamnya menggunakan spatula di tangan.
Gara-gara semalam, kayaknya Aiman semakin cabul. Duh! bener-bener gawat nih!
**
“Nanti dimakan bekalnya yah.”
Gala yang baru saja selesai mengenakan sepatu dan kaus kakinya itupun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar padaku. Selesai mengurus anaknya, akupun segera bergegas untuk mengurus keperluan Aiman. Tapi langkahku terhenti ketika kudengar suara grasak-grusuk Aiman dari dalam kamar yang kemudia ia pun keluar dengan ponselnya yang sudah menempel di telinga.
“Eh nanti –“
Aku belum selesai ngomong, Aiman menaikkan tangannya ke depan wajahku untuk membuat isyarat. Ia sepertinya tengah sibuk sampai tak sempat menyampaikan salam pada buah hatinya sendiri.
“Terserahlah. Nanti kuingatkan lagi aja.”
Aku masuk ke kamar lalu mengganti baju untuk mengantar Gala ke sekolah. Setelah selesai, akupun bergegas menghampiri bocah lima tahun itu dan membawanya menggunakan motor yang baru Aiman beli itu.
“Siap?”
“Siap mama!”
“Pakai helmnya yang bener. Oh iya nanti papa yang jemput yah. Mama ada tugas lapangan hari ini.”
“Oke ma,” jawab Gala sambil menunjukkan kedua jempolnya yang mungil.
Selesai mengantarkan Gala, akupun kembali ke rumah untuk bersiap pergi ke kampus. Di tengah-tengah keriwehan inipun aku menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan pada Aiman bahwa ia harus menepati janjinya untuk menjemput Gala nanti.
Namun sampai siang hari dan aku sedang penelitian, Aiman sama sekali belum membalas pesanku yang beruntun.
{ Udah jemput Gala kan? }
Karena terus tak mendapatkan balasan, hatiku mulai gelisah. Apa ada sesuatu yang buruk terjadi? Apa penjahat itu kembali beraksi?
Bagaimana dengan Gala? Siapa yang jemput?
__ADS_1
“Mel. Nanti kasih aku notulennya yah.”
“Kak. Apa masih ada serangan terror?” tanyaku pada kak Rendi yang seketika langsung bengong mendengarku yang memotong ucapannya.
“Uhmm belakangan ini sih polisi emang lagi kerja keras buat nangkepin sindikat yang tertangkap kemarin.”
Aku menganggukkan kepala sambil membayangkan perilaku Aiman yang terlihat terburu-buru pagi tadi. Tapi entah bagaimana aku merasa bahwa Aiman tidak sedang melanjutkan tugas kemarin karena panggilan teleponnya itu.
“Kenapa Mel? Daritadi kayaknya kamu nggak fokus,” tanya kak Rendi yang membuatku terkejut.
“Ah enggak ada apa-apa kak –“
Ting!
Satu pesan masuk dari ponselku. Datangnya dari sekolah Gala. Aku segera membacanya dan langsung terkejut mendapatkan pesan seperti itu.
Kuambil tas dan kunci motor. Kesedihanku bertambah karena ini sudah tengah hari. Itu berarti Aiman tak membaca pesanku dan Gala sudah menunggu sekitar dua jam di sekolah.
“Mau kemana Mel?”
“Maaf kak ada hal penting. Maaf ya kak!”
Aku mengatakan itu dengan perasaan yang campur aduk. Rasa bersalah semakin menghantuiku karena aku mematikan ponselku ketika penelitian dilakukan dua jam yang lalu. Mungkin guru di sana sudah mencoba menghubungiku berulang kali. Tapi aku tak bisa dihubungi sehingga pesan baru masuk tadi.
Dan Aiman? Kemana dia? Kenapa tak membaca pesan dan mengingat janjinya untuk menjemput Gala?
“Maaf ya buk. Saya kira papanya udah datang jempu,” ucapku pada buk guru yang sudah menamani Gala sejak tadi.
“Iya bunda. Nggak apa-apa,” balas buk guru yang aku tahu dia pasti sudah lelah menjaga.
Kuperhatikan wajah jutek Gala yang belum pernah kulihat. Tentu saja dia marah hanya saja tak berani mengungkapkannya. Kudekati Gala yang sudah siap sedia menungguku mengendarai motor.
“Gala…marah ya sama kak Mel?”
“Enggak kok.”
“Kalau nggak marah kenapa buang muka sama kakak?” tanyaku pada Gala yang sudah mulai menahan tangis.
Tanpa basa-basi aku langsung memeluknya. Di depan buk guru yang ternyata belum beranjak dari tempatnya. Dari tangisan anak ini, aku bisa rasakan kekecewaannya dan kemarahannya. Namun karena ia dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua yang lengkap, Gala pun hanya berani menahan semua luapan emosinya sendirian.
“Maafin kak Mel yah. Kakak janji nggak akan telat jempur dan anter Gala.”
“Papa kenapa nggak dateng? Papa kemana?”
Aku tertunduk sambil menghela napas panjang mendengar pertanyaan Gala tersebut.
“Mungkin papa sibuk. Ya udah kita pulang yuk. Gala belum makan kan? Mau makan di rumah atau di luar?” tanyaku sambil mengusap air mata bocah laki-laki berusia lima tahun itu.
“Di rumah aja,” balasnya lirih.
Kurapikan rambutnya yang sudah lepek lalu merapikan seragamnya. Setelah itu kubawa Gala pulang sambil mengajaknya bercanda agar ia melupakan kejadian buruk hari ini. Tengah berbelok menuju minimarket, aku tak sengaja berpapasan dengan mobil putih yang tak asing buatku. Apalagi setelah melihat siapa yang ada di dalamnya bersama dengan seorang wanita yang baru saja keluar dari minimarket yang sama.
Kudekati mobil tersebut dengan kecepatan sedang. Sampai di samping mobil, aku langsung turun dari motor lalu mengetuk kaca mobil yang hendak bergerak pergi tersebut. Jendela mobil terbuka diikuti dengan tatapan terkejut Aiman bersama Raline – gadis yang pernah kutemui di acara pelantikan waktu itu.
Kemarahanku semakin membuncah hingga aku melupakan Gala yang masih berada di atas motor.
“Oh….jadi ini tugas pentingnya sampai lupa buat jemput anak?”
__ADS_1
Sorry yah lama updatenya 😅