
"Terima kasih ya..!!"
Bang Ranjha menerima satu kardus berisi pakaian wanita yang ia beli dari toko di kota usai apel pagi tadi. Segarang dan sekesalnya Bang Ranjha jelas dirinya tetap tidak tega melihat Kinan tidak mempunyai pakaian.
~
"Waahh.. bagus juga modelnya." Kata Kinan.
"Pakaian itu hanya boleh di pakai di dalam rumah dan hanya saya yang boleh melihatnya. Ganti pakaian di kantong sebelah kanan kalau keluar dari kawasan rumah, ada pertemuan dan ada teman saya. Paham..!!" Ucap tegas Bang Ranjha.
"Hmm.. dasar kaku, tidak tau fashion." Gumam Kinan mulai malas dengan sikap kaku Bang Ranjha.
Bang Ranjha tak peduli tapi ia masih berdiri di dalam kamar, matanya terus menatap Kinan yang masih berbalut handuk.
"Om mau berdiri di situ terus? Mau lihat Kinan ganti pakaian?" Tegur Kinan.
Seketika Bang Ranjha gelagapan dan mati gaya. Saking terpana nya melihat Kinan dirinya tak sadar jika masih berada di dalam satu kamar bersama Kinan.
"Siapa yang mau lihat, lebih baik melihat kambing pakai bedak." Gerutu Bang Ranjha kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
\=\=\=
Hari ini Bang Ranjha mengajak Kinan untuk pertemuan dengan para perangkat Batalyon yang menangani urusan administrasi berkas pengajuan nikahnya.
"Selamat pagi Abang..!!" Bang Wibi memberi hormat pada seniornya.
"Hari ini saya mau ambil berkas surat nikahnya tapi nanti berikan sama istri saya ya, saya mau ke ruang Danyon sebentar..!! Istri saya masih di toilet..!!" Perintah Bang Ranjha.
"Siap Abang."
:
"Bang Wibi???"
"Lho Kinan, kamu.....!!" Bang Wibi tertegun saat melihat Rhena memakai seragam pengajuan nikah dan ia melihat berkas yang ada di hadapannya. "Bukan main.. kamu istri Bang Ranjha. Pria yang bukan main galak dan kakunya." Kata Bang Ranjha.
"Nasibku memang buruk Bang."
"Hahahaha.. tidak apa-apa. Sebenarnya Bang Ranjha juga baik, hanya suaranya saja yang tajam menggelegar. Jangan tertipu tampilan luarnya." Bang Wibi mencoba melunakan hati Kinan tapi memang sebenarnya Bang Ranjha adalah sosok pria yang sangat baik dan bertanggung jawab.
__ADS_1
"Benarkah??"
"Tentu saja. Sini peluk Abang dulu..!! Selamat atas pernikahanmu dan Lettu Riasat..!!" Bang Wibi pun memeluk Kinan.
Tepat saat itu Bang Ranjha masuk ke ruangan Bang Wibi. Seketika emosi Bang Ranjha tersulut. Wanita yang akan ia naikan statusnya malah berpelukan dengan pria lain di depan mata kepalanya sendiri.
"Apa-apaan ini????? Sadar kamu Kinan..!!!!!!" Bentak Bang Ranjha kemudian menarik tangan Kinan dengan kasar ke belakang punggungnya.
"Tunggu Abang.. sabar..!! Saya ini.........."
"Diam kau be****h..!!!!! Beraninya kau mengincar istri seniormu..!!!" Tak sabar lagi dengan apa yang dilihatnya, Bang Ranjha melayangkan bogem mentah telak ke arah wajah Bang Wibi hingga PaSie personel itu tergeletak tak sadarkan diri.
"Ooomm..!!!!"
"Kelakuanmu benar-benar keterlaluan Kinan..!!!!" Bang Ranjha menarik tangan Kinan dan mengajaknya pulang ke rumah.
:
"Bang Wibi Abangnya Kinan." Kata Kinan.
"Semua yang lebih dewasa kau anggap Abang. Lalu kau anggap apa aku ini Kinan??" Emosi Bang Ranjha meluap-luap. Entah apa yang dirasakannya kini. Yang jelas dirinya merasa tidak rela jika Kinan bersama pria lain.
"Aaaaahh.. alasan saja kamu..!! Sekarang kamu harus rasakan.. milik Ranjha ya milik Ranjha..!! Jangan berani ada yang mencoba mengambilnya..!!" Dengan kasar Bang Ranjha membuka seragamnya kemudian membuka pakaian Kinan. Dengan kasar Bang Ranjha menarik tangan Kinan tapi kemudian Bang Ranjha membaringkan tubuh Kinan perlahan.
Kinan terisak ketakutan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa kamu menguji batinku seperti ini Kinan. Kamu ini bisa di sayang atau tidak????"
Kinan mengangguk takut kemudian Bang Ranjha menurunkan tangannya.
"Buka matamu, jangan takut..!!"
Bang Ranjha mengecup bibir Kinan, perlahan ia mengarahkan koordinat senjata rahasianya untuk membidik lokasi pertahanan lawan. Dengan sedikit tekanan, senjata sniper Bang Ranjha menembus parit hingga ke rawa-rawa.
"Maaaaass..!!" Pekik Kinan di telinga Bang Ranjha.
Mendengar suara Kinan, seketika luluh lantah pertahanan diri Bang Ranjha, awal dirinya hanya berniat menggertak tapi akhirnya dirinya sendiri yang tidak sanggup menahan diri dan akhirnya membabat jalur masuk dari rawa-rawa hingga ke dalam banker musuh.
"Begitu khan lebih manis. Mas Ranjha nggak akan galak kalau Kinan nggak macam-macam. Jangan pernah di ulangi lagi..!!"
__ADS_1
Suara lembut Bang Ranjha juga membuat Kinan terpana, seketika dirinya pun luluh dalam dekapan Bang Ranjha.
"Bolehkah begini, kita tidak menikah khan Om? Kata Ayah tidak boleh dekat dengan laki-laki kecuali saudara sendiri." Kata Kinan.
Bang Ranjha merasa tersentil dalam keraguannya tapi posisinya saat ini juga serba sulit.
"Saya akan tanggung jawab dek, bahkan juga pada orang tuamu." Janji Bang Ranjha yang sudah berhasil menembus benteng pertahanan, itu sama saja dirinya telah mengambil alih kepemilikan atas diri Kinan. Lebih mustahil lagi jika dirinya mundur dimana bendera kemerdekaan sudah setengah jalan nyaris berkibar.
"Sekarang Kinan hamil ya?"
"Belum.. sudahlah dek, please jangan banyak bicara..!!" Pinta Bang Ranjha.
"Eeehh.." Kinan merintih saat Bang Ranjha semakin mengatur ritme permainan yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya.
'Astagaaa.. apa ini? Kenapa sebentar lagi selesai.. malu banget sama kinan.'
Tapi setelah beberapa saat Bang Ranjha benar-benar memuntahkan lahar panas pertamanya.
"Ooomm kenapa diam???" Protes Kinan.
'Duuhh.. mati aku..!! Harus bagaimana nih?'
Tau Kinan mungkin belum selesai dengan rasanya, Bang Ranjha pun tidak tinggal diam dan terus memacu dirinya. Ini pun pengalaman pertama baginya, jadi mungkin karena dirinya terlalu bernaf_su.. alhasil dirinya juga belum begitu lihat. Pelajaran yang bisa ia petik adalah teori tidak sesuai dengan praktek.
Beberapa saat kemudian Kinan menggelinjang sampai mengangkat pinggulnya. Sampai disini Bang Ranjha pun kembali tak kuasa menahan diri.. dan ia pun kembali lemas setelah menyelesaikan perkara.
"Sakiiitt..!!" Rintih Kinan.
Bang Ranjha pusing sendiri menghadapi Kinan. Sesaat dirinya berhenti.. Kinan marah, tapi saat dirinya menambah power.. Kinan merasa kesakitan.
Perlahan Bang Ranjha mengangkat tubuhnya dan melihat ke arah bawah, seketika hatinya trenyuh, matanya berkaca-kaca, ada rasa haru di dalam hatinya. "Terima kasih banyak, kamu telah membuat saya menjadi pria yang sangat sempurna."
"Rasa yang mana yang sempurna? sakiiit" kata Kinan sambil terisak.
.
.
.
__ADS_1
.