ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
8. Gengsi.


__ADS_3

Kinan tidur bersandar di bahu Bang Ranjha usai kekenyangan makan malam. Dirinya yang tadinya tidak suka daging ular akhirnya bisa menikmatinya juga.


"Ijin Dan, kalau begitu kami pamit undur diri. Terima kasih banyak atas makan malamnya. Lagipula sepertinya ibu juga sudah sangat lelah." Pamit Prada Ariel mewakili rekan di barak karena nantinya dirinya yang akan menjadi ajudan Letnan Ranjha.


"Sama-sama, saya juga terima kasih atas bantuannya, menyiapkan makan malam untuk saya dan...... Istri." Kata Bang Ranjha.


"Siap Dan, mudah-mudahan Danton dan keluarga segera mendapatkan momongan." Do'a seorang anggota. Mereka tidak mau banyak tau tentang kehidupan komandannya, tapi surat keterangan yang terlampir dari file data, ada data dalam tanda merah bahwa Lettu Ranjha sudah menikah.


"Aamiin..!!" Bang Ranjha tetap mensyukuri segala do'a yang baik bagi kehidupannya.


Usia Bang Ranjha yang sudah dua puluh tujuh tahun memang sudah sangat menginginkan hadirnya sang buah hati.


:


Setelah para anggota kembali pulang, Bang Ranjha mengangkat Kinan untuk masuk ke dalam kamar. Sebelum berangkat kemarin memang Bang Ranjha sengaja meminta isi satu kamar saja padahal Batalyon sudah menyiapkan fasilitas untuk dua kamar.


Perlahan Bang Ranjha merebahkan tubuh Kinan. Senyumnya tersungging saat melihat Kinan yang sedang memakai kemejanya yang jadi kebesaran di tubuh Kinan.


"Tidurlah yang nyenyak..!! Esok hari masih menantimu..!!"


***


Pagi sekali Bang Ranjha sudah meninggalkan Kinan yang masih tidur pulas. Bang Ranjha sudah berada di Batalyon untuk lapor datang karena kemarin Danyon pun sedang tidak ada di tempat.


Usai lapor datang, Bang Ranjha segera meminta surat untuk pengajuan nikah tapi Letnan Wibisana yang biasa menangani masalah pengajuan nikah juga sedang berada di luar kota untuk mengawasi TMMD.


"Kapan Wibi datang?" Tanya Bang Ranjha pada Bang Tyo juniornya.


"Ijin, masih satu Minggu lagi Bang."


Bang Ranjha menepuk dahinya, ia ragu apakah posisinya saat ini bersama Kinan sudah benar atau belum, sebab ia cemas bahwa 'latihan' kemarin benar-benar hanya sebuah candaan semata.

__ADS_1


Sungguh ia takut tidak bisa mengontrol diri saat berdua dengan Kinan apalagi dirinya sendiri yang meminta hanya di sediakan satu kamar saja sebelum Batalyon mengisi lagi inventaris rumahnya.


'Kalau begini caranya ya tinggal tunggu saja goal nya. Aku nggak mau gila sendiri gara-gara mikir nyeri bawah lambung.'


"Ya sudah lah, saya tunggu saja."


...


Sekitar pukul sepuluh siang Bang Ranjha baru pulang dari tempat kerjanya dan melihat Kinan hanya duduk di sofa, masih dengan rambut acak-acakan, belum mandi dan senantiasa memainkan ponselnya.


"Assalamu'alaikum..!!"


"Wa'alaikumsalam."


"Kenapa belum mandi juga?"


"Airnya dingin, Kinan nggak mau mandi di sungai." Jawab Kinan.


"Sudah selesai pagi ini tapi Kinan nggak berani mandi di sungai. Kalau ada yang ngintip bagaimana? Bambunya ada yang rusak." Kata Kinan.


Dalam hati, Bang Ranjha membenarkan ucapan Kinan. Bambu penyekat untuk ruang kamar mandi memang sedikit rusak dan lagi banyak anggota yang patroli.


"Ya sudah, cepat mandi..!! Saya temani..!!"


~


Sambil merokok, Bang Ranjha menemani Kinan yang sedang mandi. Sedikit banyak matanya melirik ke arah tubuh Kinan dan itu membuat batinnya terusik tak tenang.


"Om, tolong shampo..!! Kinan lupa bawa."


Bang Ranjha menyerahkan shampo tanpa melihat ke arah Kinan. Saat ini dirinya sedang berusaha keras untuk stabil dan mewaraskan pikiran tapi tangan Kinan malah menyentuh lengannya.. dingin, basah, tubuhnya bagai tersengat aliran listrik jutaan volt.

__ADS_1


"Om nggak mandi?" Tanya Kinan.


"Kamu meledek saya? Subuh tadi saya sudah mandi." Jawab Bang Ranjha.


Kinan mengangguk dengan bibir mencebik meledek. "Sok rajin..!!"


Bang Ranjha tak mau mengambil pusing ledekan Kinan. Memang sudah menjadi kebiasaan bahwa gadisnya itu suka mencari perkara.


"Persiapkan dirimu.. kita mau persiapan pengajuan nikah." Kata Bang Ranjha.


Kinan yang sedang memakai shampo menoleh melihat Bang Ranjha. "Kinan nikah sama Om?"


"Lha teroos.. mau nikah sama siapa??" Jawab Bang Ranjha yang terbawa kesal dengan pertanyaan Kinan.


"Pokoknya nggak sama Om donk. Tuaa..!!"


"Tua kamu bilang?? Belum tau rasanya om-om saja sudah berani nolak, lihat saja kamu nanti.. sekali tau rasanya Om Ranjha, bakal gelisah satu kali dua puluh empat jam gara-gara ketagihan." Kata Bang Ranjha.


"Nggak salah tuh?? Bukannya Om yang bakalan kejang dua kali dua puluh empat jam kalau jauh dari Kinan." Balas Kinan mantap.


Bang Ranjha yang sudah kehilangan kata langsung meninggalkan Kinan begitu saja. Entah kenapa meskipun dirinya kesal mendengarnya tapi benar saja, beberapa waktu ini Kinan sudah membuatnya lupa daratan.


"Huuuhh.. dasar Letnan songong." Gumam Kinan.


"Dasar perempuan, ada saja jawaban. Gengsi gue." Gerutu Bang Ranjha.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2