ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
BAB 38


__ADS_3


Tangisan bayi belum sekalipun menyapa indra pendengaran Rara. Gadis itu terus menangis, menatap bayinya yang terbaring lemah di dalam inkubator. Tampak dari pintu kaca dokter tengah memeriksa buah hatinya.


"Mas kenapa dia belum juga menangis? anak kita baik-baik ajakan mas?"


Ucap Rara hawatir.


"Tenanglah sayang, anak kta akan baik-baik aja, mas yakin dia kuat seperti kamu"


Ucap Gandi menenangkan istrinya.


Rara terus menatap bayi mungil itu, yang tubuhnya dipenuhi alat pembantu kehidupan.


Suara mesin terdengar nyaring, mampu memecah gendang telinga, karna bagi Rara, setiap irama mesin-mesin itu bagai malaikat pencabutnya untuknya. Rara kembali ke kamar rawat miliknya. Dengan dibantu duduk di kursi roda.


"Mas" Panggil Rara lirih


"Iya sayang. Ada apa?" tanya Gandi lembut.


"Aku takut, mas?" Ucapnya sembari menghapus aliran bening di wajah pucatnya.


"Huus. Jangan mikir yang tidak-tidak. Teruslah berdoa, untuk kesembuhan anak kita"


Rara mengangguk lemah.


"Mas, udah kabari papa?" Tanya Rara ingin tau.


"Belum sayang, mas takut terjadi apa-apa pada papa, maka dari itu mas belum berani kabari beliau"


Rara mengangguk faham.


"Hati-hati" Pinta Gandi saat membantu menurunkan Rara dari kursi roda.


"Istirahatlah, mas akan kupaskan buah untukmu"


Rara tersenyum, melihat ketulusan suaminya.


Mereka hanya berdua, oma Mahdim dan Maya, telah pulang pulang kerumah, Gandi tak mau omanya itu kelelahan. Karna sudah tiga hari mereka berada di rumah sakit, namun bayi mereka masih belum ada perkembangan.


Hari ini Gandi diminta untuk menemui dokter anak, Dokter Celsilah yang menangani buah hati mereka. Usai menyuapi istri tercinta, pria itu pamit sebentar untuk menemui dokter di ruangannya.


"Sayang, mas tinggal bentar ya!"


Rara tetsenyum sebagai persetujuannya. Gandi mengecup kening Rara sejenak, setelah itu, ia keluar ruang rawat inap menuju ruang dokter.


"Maaf sus, saya ingin bertemu dengan dokter Celsi"


"Silahkan pak, dokter Celsi sudah menunggu anda di dalam"

__ADS_1


"Terima kasih, sus"


Gandi membuka kenop pintu perlahan, tampak disana seorang wanita tengah mengenakan snelli duduk di kursi kerjanya sembari mengamati kertas di hadapannya.


"Permisi dok" Ucapnya Ramah, dokter Celsi tersenyum ramah menyambut Gandi.


"Silahkan duduk pak Gandi!"


Pinta dokter Celsi. Gandi duduk berhadapan dengan sang dokter.



"Bagaimana dok, perkembangan anak saya?"


Dokter Celsi menarik nafasnya perlahan.


"Begini pak, saya harus berkata yang sebenarnya, mengenai perkembangan putri bapak, bawasannya bayi bapak mengalami komplikasi.


"Komplikasi dok? maksudnya..?"


"Begini pak. Bayi prematur memang selalu mengalami komplikasi. Kasus seperti itu memang sering terjadi pada bayi prematur. Hal itu diakibatkan belum sempurnanya organ vital pada bayi."


"Untuk kasus bayi bapak, itu mengalami kesulitan bernapas, karena sistem pernapasannya yang belum matang.


sehingga bayi bapak mengalami gangguan paru-paru yang dikenal sebagai displasia bronkopulmoner.


Tak hanya itu, putri bapak juga mengalami masalash jantung, patent ductus arteriosus yaitu cacat jantung yang disebabkan oleh perkembangan jantung yang tidak sempurna."


"Jadi, apa solusinya untuk menyelamatkan putri saya. Dok?"


"Saya dan tim dokter, spesialis jantung dan paru, sudah memberikan penanganan yang terbaik, pak! kita hanya tinggal menunggu bantuan tangan Tuhan. Saya menyampaikan hal ini, agar nantinya bapak tidak terkejut apabila terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan bayi bapak"


Tubuh kekar itu, lemas tak bersendi. Setelah mendengar penjelasan dokter. Dalam hatinya ia sungguh ketakutan akan kehilangan buah cintanya bersama Rara. Belum lagi pria itu harus menenangkan istrinya setiap hari.


Gandi benar-benar terpukul dengan kejadian ini. Pria itu terduduk di kursi yang berada di koridor rumah sakit. Matanya mulai membayang, air mata pria itu mulai lancang tergenang di mata tegasnya.


Gandi bangkit dari duduknya, kakinya melangkah menuju ruang isolasi bayi, mata elang itu menatap nanar dari pintu kaca, tangannya meraba kaca seolah ia tengah membelai sang buah hati.


"Bertahanlah sayang, kamu pasti kuat, tangan kekar papa tak sabar ingin memelukmu dan menimangmu" Bisiknya seolah putri kecilnya itu paham apa yang tengah ia harapkan dan ia ucapkan.



Tak tahan dengan siksaan batinnya Gandi terduduk di kursi koridor rumah sakit. Pria itu tak sadar Maya yang baru datang, tengah menatapnya iba. Maya mendekat dengan hati-hati wanita itu mengusap bahu kekar yang terlihat rapuh.


"Bangunlah, jangan seperti ini. Rara mencarimu, ia tampak gelisah menunggumu, Gandi berdiri, pria itu dengan cepat menubruk tubuh sepupunya itu.



"Aku takut kehilangan putriku, Maya!, dia buah hati kami yang selalu kami nanti-nanti, harapannya sangat tipis. Untuk ia bertahan hidup" keluh Gandi sembari terisak.

__ADS_1


"Mas, aku tau ini berat untuk kalian, tapi satuhal yang mesti mas ingat, semua takdir ada pada tangan tuhan. Cucilah wajahmu mas, temui Rara. Kasihan dia sendiri"


Gandi mengangguk, pria itu melangkah menuju toilet untuk membenahi penampilannya. Ia rasa sudah rapi, Gandi berjalan menuju kamar rawat istrinya.


"Mas, kenapa lama sekali? apa kata dokter, anak kita baik-baik ajakan, mas?"


Gandi mendekat, ia raih jemari Rara, ia kecup perlahan.



"Berdoalah sayang, untuk anak kita. Kamu taukan anak kita dilahirkan prematur, apapun bisa terjadi padanya, apa lagi kandungamu yang saat itu masih belum cukup tujuh bulan. Berfikirlah yang baik-baik tentang anak kita!"


Rara menatap manik hitam milik suaminya.


"Apa artinya itu mas?"


Gandi kembali mengecup jemari lentik Rara.


"Anak kita mengalami displasia bronkopulmoner dan patent ductus arteriosus."


Seketika Rara membekap mulutnya, air matanya dengan kurangajarnya mulai berlinang.


"Ya Allah, ini semua karna aku yang tak hati-hati, aku ibu terburuk yang tak bisa menjaga buah hatinya sendiri"


Brankar Rara ikut berguncang karna tangis gadis itu. Gandi dengan sayang membawanya dalam dekapannya.


"Jangan berkata seperti itu sayang, Untuk mas kamu selalu menjadi yang terbaik"


Saat mereka tengah berpelukan, dokter Mek masuk ingin visit.


"Maaf mengganggu" Ucap dokter Mek.


"Tidak dok, silahkan masuk"


Dokter Mek, mulai memeriksa tensi Rara dan setelah itu ia melihat luka sayatan bekas oprasi.


"Heeem. Semuanya sudah bagus, jahitan luar dan dalamnya juga gak ada masalah, tapi ibuk Rara harus tetap jaga pola makannya dan jangan banyak gerak dulu, karna luka di bagian dalamnya itu madih basah, banyak-banyak istirahat biar cepat pulih"


Ucap doktet Mek mengingatkan.


"Iya dok, terima kasih"


"Satu lagi, ibu jangan terlalu setres memikirkan bayi ibu, karna itu bisa mempengaruhi tekanan darah ibu nantinya"


"Iya dok, insya Allah" Jawab Rara lembut.


Usai pemeriksaan, Dokter Mek meninggalkan ruangan Rara. Gandi kembali duduk di sebelah branker isyrinya, terlihat wajah lelah Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu. Matanya terlihat cekung, pipinya juga terlihat tirus.


__ADS_1


Gandi dengan setia merelakan waktu istirahatnya hanya untuk menjaga istrinya, agar ia selalu berada di samping Rara, hingga pria itu tertidur dengan kepala bertumpu di atas branker. Rasa cinta yang sangat besarlah yang membuat pria dewasa itu dengan tak kenal lelah merawat dan menunggui istri kecilnya.



__ADS_2