ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
4. Terbongkar.


__ADS_3

Ayah Rojaz dan Papa Renash meminta para petugas medis untuk keluar dari ruang kesehatan.


"Kamu sudah bisa buka mata Letnan Riasat..!! Niat busukmu sudah tercium..!!" Tegur Ayah Rojaz.


Bang Ranjha tak bisa berbuat apa-apa lagi saat kelakuannya sudah tercium pihak yang berwajib.


Bang Ranjha duduk dan memberi hormat pada kedua atasannya. "Selamat pagi Dan." Sapa Bang Ranjha.


"Mana yang tadi kehabisan darah?" Tanya Papa Renash tak bisa menyembunyikan senyumnya. Hanya Ayah Rojaz yang masih nampak berang dengan kelakuan Letnan sangat di hadapannya itu.


"Apa saya bantu bocorkan itu jidat biar benar-benar kehabisan darah??? Saya sudah wanti-wanti jangan ganggu putri saya..!!" Kata Ayah Rojaz.


"Siap salah Dan." Jawab Bang Ranjha.


Papa Renash hanya menggeleng, ia paham betul tingkah anak muda yang sedang kasmaran, tapi disini konteksnya Bang Ranjha adalah pria yang kaku dan dingin tidak mengakui perasaan sedangkan Kinan adalah sosok putri kecil yang sangat di lindungi sang ayah karena kepolosannya.


Tak lama Kinan berlari masuk ke dalam ruang kesehatan, wajahnya panik sembari membawa kantong darah bertanda O+.


"Oomm.. om sudah sadar??" Tanya Kinan.


"Sudah baik-baik saja. Sudah sadar." Kata Papa Renash menengahi bakal perdebatan karena wajah Ayah Rojaz tak lagi bisa di kondisikan.


"Kembalikan lagi darahnya untuk yang lebih membutuhkan..!! Letnan Ranjha tidak butuh darah, butuhnya binsik..!!" Ayah Rojaz melontarkan kekesalannya.


...


Bang Ranjha berguling-guling di lapangan atas perintah Pak Rojaz karena berani mempermainkan putrinya.

__ADS_1


Para anggota baru melihat Letnan Ranjha mendapat hukuman di luar pekerjaannya padahal selama ini Letnan Ranjha anti mendapatkan hukuman dari atasannya.


"Ijin Dan. Tiga puluh roll sudah di laksanakan."


"Ya sudah, kembali ke tempatmu..!!"


Tak lama ponsel Ayah Rojaz berdering, ada panggilan telepon dari Mama Rhena. Ayah Rojaz menepuk dahinya kemudian mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Ayaah, ada dimana?" Tanya Mama Rhena dengan manjanya.


"Assalamu'alaikum.. masih di kantor ini lho. Ada apa?" Jawab Ayah Rojaz dengan lembut.


"Wa'alaikumsalam. Pulang donk Yah, adek minta di elus." Kata Mama Rhena.


Seketika wajah Kinan murung dan mendung. Ia melipat kedua tangan di depan dada lalu memalingkan wajahnya.


Tau putrinya sedang ngambek, Ayah Rojaz mematikan sambungan telponnya dan membujuk Kinan.


"Kalau begitu Kinan juga mau hamil biar di sayang Ayah." Kata Kinan merajuk manja.


"Lhoooo ya nanti to, tapi kalau Kinan sudah menikah.. Kinan hamil, menjaga dan memanjakan Kinan adalah tugas suaminya Kinan nanti." Ayah Rojaz membelai rambut Kinan.


"Tuh khan, Ayah sudah nggak sayang Kinan lagi. Sekarang saja Ayah sudah berniat menyingkirkan Kinan. Kinan putri kandung Ayah khan?" Protes Kinan.


"Ayah pulang dulu ya sayang." Ayah Ojaz mencium pipi putrinya kemudian segera meninggalkan Kinan.


Sudah terbiasa menjadi putri terkecil dalam keluarga membuat Kinan tidak ingin kehilangan sosok Ayah dalam hidupnya.

__ADS_1


Bang Ranjha yang masih berdiri di sana langsung menegur sikap Kinan yang terkesan sangat kekanakan.


"Kenapa sikapmu sangat kekanakan. Ayahmu juga punya tanggung jawab lain karena Mamamu sedang mengandung. Apa sedikit pun kamu tidak punya perasaan? Seharusnya kamu juga paham untuk sedikit menjaga jarakmu. Haruskah terlalu sedekat ini dengan suami Mamamu. Saya saja risih melihatnya."


"Maksud Om apa?? Kenapa bilang suami Mama? Suami Mama juga ayah kandungku."


"Saya sungguh tidak tau dengan jalan pikiranmu. Mana bisa ayah tiri di samakan dengan ayah kandung." Kata Bang Ranjha.


Telinga Kinan rasanya menggema, seketika dunia Kinan runtuh, sungguh di usia tujuh belas tahun kehidupannya yang ia tau bahwa Ayah kandungnya adalah Ayah Rojaz, ayah yang sangat hebat, lembut, sabar, humoris dan penuh kasih.


"Ayah Rojaz bukan ayahku? Lalu.. siapa ayahku?" Tubuh Kinan terasa ringan hingga kemudian ia tidak tau lagi apa yang terjadi.


Berdiri di tempatnya, Bang Ranjha yang setengah mati terkejut melihat Kinan tiba-tiba terhuyung dan ambruk ke arahnya. "Kinan..!! Dek.. sadar Dek..!!" Bang Ranjha segera mengangkat Kinan dan membawanya ke kamar mess nya.


...


Bang Ranjha sungguh tak tau apa yang sedang terjadi saat ini namun melihat tubuh Kinan demam membuatnya cemas juga. Ia mengompres kening Kinan. Gadis itu memucat dan mengigau.


"Aku anak Ayah, aku anak Ayah Rojaz. Wajahku mirip ayah." Gumam Kinan. Jelas sekali gadis itu begitu mengidolakan sang ayah.


Saat ini Bang Ranjha merasa sangat bersalah, mungkin selama ini komandannya menyembunyikan segala sesuatunya dengan suatu alasan. Kini rahasia itu sudah terbongkar dan tanpa sadar dirinya lah yang sudah membuat kekacauan besar ini.


"Jangan sedih dek, cerialah lagi. Kenapa ya hati saya sedih melihatmu bersedih."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2