
Kinan ternganga melihat dua buah kantong plastik berukuran sangat besar.
"Satu saja cukup Om. Kenapa jadi beli satu toko begini?" Tanya Kinan.
"Saya nggak tau kamu pakai yang mana?" Jawab Bang Ranjha.
"Lalu bagaimana sisanya Om, banyak sekali."
"Di bagikan saja sama yang butuh." Bang Ranjha tak mau pusing perkara benda milik wanita.
"Om bawa saja ke mess."
"Mau di apakan benda ini? Saya nggak pakai." Tolak Bang Ranjha mulai gemas menanggapi Kinan.
"Om.. Kinan mau pergi, Kinan nggak mau kembali ke rumah itu. Tas Kinan dimana?" Tanya Kinan.
Ia tertegun sejenak memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu. Bukankah kini yang terjadi pada Kinan adalah tanggung jawabnya juga. Ia berusaha untuk mendekat pada Kinan dan Papa Renash mengijinkan dirinya melakukan apapun untuk melindungi Kinan.
"Saya akan membawamu jauh dari kota ini, SKEP saya sudah turun. Saya pindah ke daerah timur. Kamu mau ikut?"
"Iya, Kinan mau."
Bukan tanpa pertimbangan Bang Ranjha mengajak Kinan. Setelah sampai disana, ia akan mengajukan surat permohonan nikah jadi apapun itu, dirinya akan benar-benar menjaga Kinan seutuhnya. Hanya satu masalah yang menghambat, dalam kenyataannya Kinan belum cukup umur.
"Kapan Om berangkat?"
"Besok pagi."
***
Bang Gumarang memeluk dan mencium adiknya dengan sayang. Entah benar atau salah keputusannya, yang jelas ia mengetahui kemana Bang Ranjha akan melangkah pergi.
"Saya titip adik kandung saya sama Abang. Tolong jaga dia, lindungi dia saat tangan saya tidak bisa menggapainya. Dia harta berharga saya selain Mama..!!" Pinta Bang Gumarang.
"Pasti.. Kamu bisa pegang janji saya..!!"
Bang Gumarang melangkah mendekati Kinan. Menurut sama Bang Ranjha, jangan semaunya sendiri. Abang akan menyusulmu nanti. Jarak kita tidak begitu jauh." Kata Bang Gumarang menasihati adiknya lalu memeluknya dengan erat.
"Iya Bang, Kinan juga ngerti. Kalau Kinan nggak menurut Om Ranjha pasti Kinan di suruh ngepel lantai."
Bang Gumarang tersenyum kecut karena memang adiknya itu tidak pandai mengepel lantai.
"Saya nggak akan minta kamu mengepel lantai. Tapi mencuci pakaian loreng saya..!!" Kata Bang Ranjha membuat wajah Kinan menjadi masam.
__ADS_1
...
"Apaaaa??? Abang mengijinkan Kinan pergi sama Ranjha ke seberang????"
Ayah Rojaz tidak bisa menerima kenyataan bahwa Letnan Ranjha membawa pergi putri kecilnya. Baginya Letnan Ranjha adalah sosok berandalan yang harus di musnahkan.
"Rojaz, percayalah.. Ranjha bisa dipercaya. Putrimu juga butuh suasana baru agar hidupnya tidak jalan di tempat. Biarlah putrimu menghadapi kerasnya dunia luar." Kata Papa Renash.
"Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan putriku Bang. Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu dengan putriku..!!"
Tak banyak kata yang terlontar dari mulut Ayah Rojaz, ia pun sangat sadar posisinya sebagai ayah tiri tidak akan mengubah apapun dan memang kewenangan tertinggi atas diri Kinan masih terletak pada Papa Rhenas.
"Tanpa mengurangi rasa hormatku padamu Rojaz. Ku agungkan kamu sebagai ayahnya Kinan, tapi tolong percayakan putrimu pada Ranjha. Aku turut bertanggung jawab..!!" Bujuk Papa Renash.
Di saat inilah titik hati seorang Ayah teruji. Ingin mengatakan apapun juga tak ada gunanya lagi. Memang didikannya pada Kinan membuat putrinya itu menjadi kurang mandiri. Namun demi kebaikan Kinan, ia mencoba berbesar hati.
...
Kinan menatap ke arah sekitar, disana hanya ada rumah panggung sederhana. Jauh dari kota dan minim fasilitas.
"Rumahnya sekecil ini ya Om?" Tanya Kinan bergidik ngeri.
"Awaaas..!!!"
Keduanya bertemu mata. "Kamu nggak apa-apa?"
Kinan menggeleng melihat tatapan mata Bang Ranjha yang terasa cool menghampiri.
"Ayo masuk..!! Lihat apalagi??" Tegur Bang Ranjha.
Kinan tersadar dan melanjutkan langkahnya.
Kreeeekk..
"Ooomm.. bagaimana kalau rumah ini roboh???" Kinan kembali terpekik ketakutan.
"Ya nyemplung ke sungai, di bawah kita ini khan sungai kecil." Kata Bang Ranjha sambil berjalan dan kemudian Kinan membuntuti Bang Ranjha sambil memegangi ujung seragamnya.
Mata Kinan menyipit melihat sudut rumah, "Itu apa ya om?" Tunjuk Kinan.
Dengan tenang Bang Ranjha mendekat lalu memegang sesuatu yang ternyata adalah seekor ular yang ukurannya lumayan besar.
"Ooooomm.. buang..!!! Kinan takuuut..!!" Kinan berlompatan saking gelinya melihat ular.
__ADS_1
Tak banyak membuang waktu Bang Ranjha mengambil sangkurnya lalu menebas ular tersebut.
"Aaaaaaaa..!!!" Kinan berjongkok dan menunduk ketakutan.
Bang Ranjha mengambil air bersih yang sudah tersedia untuk mencuci tangan yang berlumuran darah.
"Nggak apa-apa. Itu jenis python. Nggak akan menyembur atau menggigitmu. Dia hanya bisa membelit dan menelanmu kalau ukurannya sudah sebesar telapak tangan. Dia masih anak-anak, jadi aman." Bang Ranjha menjelaskan pada Kinan dengan sabar agar wanitanya itu lebih cepat belajar dan beradaptasi. Perlahan Bang Ranjha membantu Kinan untuk berdiri. "Malam nanti, kita sudah punya makan malam." Ia memonyongkan bibirnya menunjuk ular python yang baru saja di eksekusinya.
"Kinan nggak mau makan ular." Belum apa-apa wajah Kinan sudah memucat membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Bener nih?? Enak lho, lebih enak lagi ularnya Om Riasat." Bisik Bang Ranjha di telinga Kinan.
Lirikan Kinan menjadi pertanda bahwa gadis itu begitu kesal.
Kinan berjalan lagi menyusuri setiap bagian rumah. "Kamar mandinya dimana Om?"
Bang Ranjha tersenyum. "Tidak ada kamar mandi. Kalau mau mandi ya di bawah rumah dinas ini, sungainya mengalir."
"Apaaaa???"
~
Kinan menolak keras untuk mandi di sungai. Dirinya memang tidak terbiasa dengan hal yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti itu.
"Kamu mau mandi dimana? Tidak ada tempat lain..!!"
"Tadi saja sudah ada ular. Bagaimana kalau nanti ada buaya? Atau jangan-jangan Om mau ngintip Kinan mandi ya???" Tuduh Kinan mengarah telak pada Bang Ranjha.
Bang Ranjha berdehem melegakan tenggorokannya. "Saya khan sudah bilang, punyamu yang hanya setipis tatakan gelas itu tidak akan membuat saya tergoda dan kamu jangan macam-macam..!! Ada ular berbisa yang sedang mengintaimu dan kapan saja bisa menyemburmu tanpa ampun."
Kinan lumayan bergidik ngeri, tapi dirinya harus bersikap 'profesional' seperti kata sang Ayah. 'Wanita harus bersikap pintar agar tidak di perdaya.'
"Memangnya Kinan takut??"
"Okeeyy.. lihat kau nanti ya dek..!!" Ancam Bang Ranjha.
.
.
.
.
__ADS_1