
Setelah beberapa saat Kinan tenang, darah sudah berhenti dari hidungnya.. Bang Ranjha kembali bergabung dengan Ayah dan Papa yang masih menunggu di ruang tamu.
"Kamu mulai berani memaksa ya..!!" Tegur Ayah Rojaz.
"Kalau saya nggak memaksa, berarti saya nggak normal." Kata Bang Ranjha.
"Apapun alasanmu Ran, Ayah ngeri..!! Bulan depan saja Kinan baru delapan belas tahun. Ayah takut Kinan sakit. Kinan paling tidak tahan sakit."
Bang Ranjha paham kekhawatiran seorang Ayah, ia pun duduk di samping Ayah Rojaz.
"Saya minta maaf sudah mengecewakan Ayah. Semua terjadi begitu cepat dan saya akui saat itu saya tidak bisa mengendalikan diri, saya emosi dan cemburu melihat Kinan berpelukan dengan Wibi." Ucap jujur Bang Ranjha.
"Astagfirullah Ran.. jadi kamu nggak tau kalau Wibi itu Abangnya Kinan juga??" Tanya Papa Renash.
Bang Ranjha menggeleng lemah, wajahnya sudah sarat akan penyesalan.
"Saya pun tidak menyangka si kecil akan segera hadir di tengah kami. Jujur saya memang sudah pengen punya anak, tapi kejadian hamilnya Kinan juga saya tidak sengaja." Jawab Bang Ranjha.
"Jadinya memang tidak sengaja, tapi buatnya pasti kamu sengaja.. biar nggak ada laki lain yang mendahului." Gerutu Ayah Rojaz karena pikiran Bang Ranjha sudah terbaca jelas olehnya.
"Jangan jujur begitu donk Yah." Bang Ranjha semakin merasa terpojok.
"Heeehh.. kamu itu pemain baru, nggak bisa di samakan dengan pemain profesional. Dari sebelum kamu menikah dengan Kinan, sifat mesum mu itu sudah terbaca jelas." Ayah Rojaz menyindir kelakuan menantunya, padahal ia sendiri paham kualitas Bang Ranjha.
Papa Renash hanya terkikik melihat kedua pria saling berdebat, yang jelas.. apapun yang sudah terjadi.. salah satu alasan dirinya berani menikahkan Letnan Ranjha dengan Kinan adalah kualitas diri seorang Riasat Ranjha. Tampilan luar mungkin rusak, tapi tidak untuk bagian dalamnya.
"Kami kembali dulu ke mess transit. Nanti mama-mama jadi ngomel karena lama di tinggalkan." Pamit Papa Renash.
***
__ADS_1
"Hhhkk.."
Baru saja Bang Ranjha menutup pintu rumah dan akan berangkat kerja tapi telinganya harus kembali mendengar Kinan yang muntah lagi. Bang Ranjha pun kembali masuk dan melihat keadaan Kinan.
"Kinaan..!!" Bang Ranjha berlari saat Kinan tiba-tiba terhuyung dan ambruk, untung saja dirinya masih bisa mendekap Kinan hingga istrinya itu tidak sampai terjatuh ke lantai. "Ya Allah, bagaimana kalau Mas tinggal sendiri. Bikin hati cemas aja kamu dek." Bang Ranjha segera membawa Kinan masuk ke dalam kamar.
Saat membawa Kinan ke dalam kamar, dari hidung Kinan mengeluarkan darah dan mengenai baju PDH Bang Ranjha.
"Kamu kenapa sayang? Mas benar-benar cemas melihatmu seperti ini?" Perlahan Bang Ranjha merebahkan Kinan di tempat tidur. Ia pun segera menghubungi Dokter Baraq.
...
Dokter Baraq membuang nafas panjang dan hati Bang Ranjha terasa tidak nyaman. Berkali-kali dokter Baraq memastikan kondisi Kinan.
"Apa ada masalah?"
"Katakan saja yang sebenarnya, apakah ini berbahaya??" Tanya Bang Ranjha.
Dokter Baraq menepuk bahu sahabatnya. "Cari tau, apa yang sedang di konsumsi Kinan. Selamatkan ibu dan bayinya Ran. Kalau tidak.. salah satunya, atau mungkin keduanya akan terancam nyawanya."
Seketika Bang Ranjha terduduk lemas, baru saja dirinya merasa bahagia, melambungkan angannya setinggi langit namun harus terhempas keras jatuh ke bumi.
"Tapi.. bisakah di pertahankan?"
"Bisa saja, tapi kondisi Kinan yaaaa.... seperti ini lah yang kamu lihat." Kata dokter Baraq. "Boleh nengok anak, tapi jangan terlalu sering, juga tidak boleh di 'guyur' ya.. bapaknya ngalah."
Bang Ranjha mengangguk, tak tau harus berkata apa dan bersikap bagaimana. Ia hanya tau hatinya begitu hancur, remuk dan sakit saat melihat keadaan Kinan dan juga mencemaskan calon anaknya yang masih ada di dalam kandungan.
\=\=\=
__ADS_1
Hati Bang Ranjha terasa beku. Di setiap harinya harus menghadapi kondisi Kinan yang begitu lemah. Tak cukup dengan itu saja, Kinan dan pingsan sampai berlumuran darah. Hal itu membuatnya sangat frustasi dan stress.
"Kinan, kalau memang kamu nggak kuat menjalani kehamilanmu.. Mas nggak akan memaksa. Mas tau kamu sakit, mas juga nggak kuat kalau lihat kamu terus begini." Bang Ranjha bersimpuh lemas di samping ranjang. Saat ini tidak ada yang lebih menekan mental dan batinnya selain kehamilan Kinan.
"Kinan mau hamil aja. Kinan pengen di sayang..!!"
"Apapun yang terjadi, Mas akan tetap selalu sayang. Kamu belahan jiwa Mas Ris, apapun hasilnya.. Mas akan tetap menerima yang penting Mas mengusahakan dulu yang terbaik untuk kamu dan anak kita. Hari ini kita ke rumah sakit kota ya..!!" Ajak Bang Ranjha.
"Kinan hanya pengen rumah ini tidak dingin, Kinan tidak tahan dingin." Kata Kinan.
"Benarkah itu saja??" Tanya Bang Ranjha.
"Juga jangan beri Kinan obat sesak lagi."
"Kamu nggak bisa tanpa obat itu dek."
"Lalu bagaimana anak kita Mas, biarkan dia sehat..!!" Pinta Kinan.
Hati Bang Ranjha benar-benar diserang dilema. Apapun keputusan yang akan di ambilnya akan selalu salah. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya terasa begitu sakit.
"Nanti Mas coba bicara sama Baraq, tidak boleh sembarangan. Semua obat sangat penting dan semuanya sangat membutuhkan..!!" Kata Bang Ranjha mencoba menenangkan Kinan meskipun hatinya sendiri tidak merasa tenang.
.
.
.
.
__ADS_1