ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
BAB 44


__ADS_3


"Orang menangis bukan karena mereka lemah. Tapi, mereka menangis karena telah berusaha kuat dalam waktu yang lama.


Proses pendewasaan adalah melalui ujian-ujian yang terjadi dalam hidup "


Rasa sakit itu mengajarimu agar bisa lebih dewasa, lebih hati-hati dan jadi lebih baik lagi. Menangislah jika ingin menangis, bukan karena lemah, tapi menangis karena sudah berusaha kuat untuk mengarungi cobaan yang ia sendiri tak ingin kalah.


Dengan langkah lemahnya Rara berusaha kuat untuk menenangkan orang yang ia cinta. Perlahan gadis itu duduk di sebelah suaminya. Belum sempat ia meraih jemari om suami.


Tangan besar itu bergerak-gerak mencari keberadaan istrinya. Karna Gandi dapat merasakan kehadiran istrinya dari indra penciumannya.


"Sayang. Kamu di sini"


Dengan lembut Rara meraih jemari hangat milik om suami.


"Iya, Rara di sini om. Tenanglah"


"Gelap sayang, mas gak bisa lihat kamu"


Ucap Gandi sembari meraba-raba wajah ayu istrinya. Saat tangan besar itu mulai meraba wajahnya, Rara sekuat tenaga mengontrol hatinya, agar cairan bening itu tak tumpah membasahi jemari suaminya.


Rara tak ingin membuat suaminya makin hawatir dan sedih. Ia tarik napasnya perlahan agar lebih rileks. Setelahnya barulah gadis itu mengeluarkan suara yang sedikit bergetar.


"Om, ini hanya sementara. Om jangan hawatir, karna dengan kesabaran dan keikhlasan insysa Allah akan lebih mudah menjalani ini semua."


"Jadi maksud kamu, mas buta? begitu Ra? "


Gandi mulai terpancinh emosinya, mentalnya mulai memberontak.



"Iya om. Tapi om tenang. Ini hanya sementara hingga saraf mata om yang rusak pulih kembali. Om jangan hawatir, ada Rara yang akan selalu bersama om dalam waktu dua puluh empat jam. Kita jalani hari-hari kita bersama"


Dengan lembut nan penuh cinta Rara berucap sembari mengecup sayang jemari dan kening suaminya. Perlahan genggaman itu Gandi lepaskan.


"Berapa lama? "


"Kata dokter, tiga sampai empat bulan"


Gandi membuang mukanya jauh. Pria itu sepertinya belum bisa menerima kenyataan.


"Oom"


Panggil Rara lembut. Gadis itu mencoba meraih tangan Gandi, namun pria itu kembali melepaskannya.



"Saya buta, Ra. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan dengan mata saya yang tak bisa melihat"


"Jangan bicara seperti itu om, ada Rara yang selalu menemani om"

__ADS_1


"Karna itu saya semakin terlihat tak berguna, di mata orang lain"


Gandi mulai tak terima dengan keadaannya.


"Lantas apa yang harus Rara lakukan?"


"Pergilah, cari kehidupanmu yang baru, kamu masih cukup muda. Jangan hancurkan hidupmu hanya untuk mengurusi orang buta seperti saya"


"Kenapa om berucap seperti itu, buta atau tidak, Rara akan terus ada di sisi om. Waktu tiga atau empat bulan bagi Rara itu tak berarti apa-apa, jika harus hidup tanpa om"


"Saya buta, Ra"


"Kamu mau, hidup berdampinhan dengan kondisiku sekarang, pria buta yang merepotkan"


Seketika bibir Gandi yang tengah berucap, terbungkan. Oleh sesuatu yang terasa basah dan lembut. Gadis itu dengan beraninya meraup bibir yang terlihat pucat, ia bentuk gerakan selembut mungkin agar tak menyakiti suaminya. Gandi terdiam ia gamang, dengan perasaannya. Namun perlahah, pria itu tampak mulai jinak. Rara melepaskan tautannya. Ia kecup sekali lagi bibir suaminya.


"Jika om, masih berucap yang tidak-tidak. Rara akan lakukan lebih dari itu, Agar bibir om gak ada kesempatan untuk berbicara"


Acam Rara geram.


Seketika tangan kekar itu meraba wajah ayu gadisnya. Bibir yang barusan gadis itu bungkam, kini mebentuk lengkungan, menampakkan senyuman manis milik Argandi Argam. Pria itu kemudian berbisik tepat di wajah ayu istrinya.


"Sudah mulai nakal sekarang"


Bisik Handi lembut. Seketika pipi putih itu merona, untung saja suaminya tak bisa melihat rona merah itu.


"Ya, Rara akan terus nakal untuk om"


Bisik Rara tak kala manja dan menggoda. Gandi gemas ia bawa tubub sintal istrinya kedalam dada bidang miliknya.



Gandi berucap sembari mengecupi puncak kepala istrinya.


"Tidak om, jangan minta maaf. Om taukan, saat ini hidup Rara itu ada pada jiwa om. Jangan pinta Rara untuk pergi, karna itu tidak akan pernah Rara lakukan"


"Terima kasih sayang, mas beruntung memiliki istri sepertimu"


"Rara, yang beruntung memiliki suami seperti om. Dari itu om harus semangat, menjalani terapi mata. Agar om bisa lihat senyuman dan wajah istri kecil om lagi"


Gandi semakin mengetatkan pelukannya, air matanya merembas membasahi kelopak mata.


"Mas, akan berusaha untukmu Sayang"


"Terima kasih, om!"


Rara dengan sayang mengecup bibir Gandi.


Setelah dua minggu perawatan, akhirnya Gandi sudah diizinkan pulang. Dengan sabar Rara memapah tubuh besar suaminya. Setelah sampai di kamar ia baringkan tubuh suaminya pelan-pelan.


Sungguh semuanya terasa berbeda. Dulu Rara yang selalu dimanjan oleh tangan besar suaminya itu. Kini semua berganti, namun meskipun begitu kasih sayang mereka tak pernah berubah, meski dengan sejuta kekurangan yang terdapat pada diri suaminya, Rara tetap mencintai Gandi dengan utuh.

__ADS_1


"Om, makan dulu ya!"


Dengan telaten gadis delapan belas tahun itu menyuapi suaminya. Namun terkadan pria dewasa itu keras ke pala. Ia ingin berusaha melakukan semua aktivitas sendiri tanpa bantuan.


"Biar mas makan sendiri. Mas bisa Ra. Jangan buat mas semakin terlihat tak berguna"


Ucap Gandi getir.


"Om, Rara gak mau dengar om berucap seperti itu lagi, jika Om mau melakukannya sendiri, gak masalah. Rara akan bimbing om!"


"Maaf sayang"


Akhirnya Gandi dengan gigih mencoba menyendok nasi meski nasi yang ia sendok bercecer ke mana-mana. Rara tak kuasa menahan tangisnya, air matanya tumpah, ia bekam mulitnya agar Gandi tak mendengar isakan Rara.


"Udah om,"


Gandi mengangguk. Rara ambil piring dari tangan suaminya. Dengan sayang gadis itu mengelap bibir suami yang belepotan.


"Ini minumnya"


"Taruh aja di situ. Biar mas ambil sendiri"


Rara menuruti kemauan suaminya, agar suaminya itu tak merasa tersinggung. Tak tega sebenarnya gadis itu melihat om suami.


Gandi mulai bangkit dari rebahannya, pria itu mulai meraba nakas yang berada di sebelah ranjangnya.


"Om perlu apa?"


Gandi tak menjawab, pria itu terus meraba nakas, setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Gandi mencoba untuk meraih gelas yang berisi air putih. Namun belum sempat gelas itu terangkat, benda itu jatuh ke lantai hingga menimbulkan suara dentigan yang sangat keras. Hingga menyisakan kaca yang berderai.


"Maaf, maafkan mas, sayang. Mas akan bersihkan"


"Om. Cukup"



Rara menubruk tubuh suaminya seketika, gadis itu menangis sejadi-jadinya.


"Jangan seperti ini om, Jika om terus seperti ini Rara sedih, om"


Gandi ikut menangis sembari memeluk istrinya.



"Mas merepotkanmu, sayang"


"Gak, Rara gak merasa di repotkan. Omkan suami Rara, ini sudah menjadi kewajiban Rara, Om"


Gandi mengangguk, akhirnya pria itu menuruti apa yang istrinya mau.


Gandi harus berani bertarung dan keluar dari zona nyaman untuk mendapatkan pengalaman yang baru.

__ADS_1


Bagi seorang pria sejati, terluka fisik lebih baik daripada harus melukai egonya sendiri.


Masalah cinta bagi seorang Gandi adalah masalah yang pelik. Saat ini ia memiliki caranya tersendiri untuk mencintai gadianya, dalam kondisinya yang baru.


__ADS_2