ISTRI MUDA

ISTRI MUDA
BAB 41


__ADS_3


Ada kalanya kita sampai ke titik jenuh, merasa lelah, mengarungi kehidupan, merasa tak berdaya disaat kita berharap, namun harapan itu tak seindah yang kita impikan.


Satuhal yang harus kita ingat, waktu terus berjalan, meski kita tak berniat untuk mencari perubahan. Bisa jadi kemarin gelap, mungkin hari ini mendung, tetapi di balik semua itu matahari tidak pernah berhenti untuk bersinar.


Hidup terus berjalan. Sama seperti sinar matahari yang selalu datang setiap pagi. Menyiratkan kegembiraan dan harapan baru, pada setiap insan. Begitulah Rara, ia harus buang jau rasa jenuh itu, untuk menata kehidupan yang baru.


Pagi ini Rara mulai bersiap, ia harus menata hatinya seperti mentari pagi.Keceriaanya sangat berarti untuk sang suami, seperti sang surya, cahayanya selalu dinanti oleh setiap penduduk bumi, Begitupun dengan gadis cantik itu, keceriaannya selalu diharapkan oleh Gandi, sebagai penghangat biduk rumah tangganya.


Usai menyelesaikan adminitrasi pria bertubuh tegap itu berjalan menyuduri lorong agar sampai pada sumber kebahagiaannya.


Matanya berbinar, dikala pria itu melihat sosok cantik tengah duduk manis di atas kursi roda,



Seorang petugas rumah sakit dengan setia mendorong kursi roda yang di tumpangi Rata.


Setelah jaraknya cukup dekat, om suami mengambil alih kursi roda istrinya.


"Kita pulang, sayang!, mas bahagia kamu sudah sehat" Rara bahagia mendengar ucapan om suami, ia belai lembut tangan suaminya yang tengah menggenggam pegangan kursi roda. Bibir gadis itu sembari bergerak mengucapkan sesuatu.


"Rara bahagia, memiliki suami seperti om"


Ucap Rara tulus. Gandi berhenti sejenak dari aktivitasnya.


"Heey, kamu terdengar manis saat kamu memanggil mas dengan sebutan, om. Mas berasa pengantin baru. mas mau kamu memanggil mas seperti itu, jika kita hanya berdua. Dulu mas gerah dengan sapaan itu, tapi ternyata, panggilan om, mengisahkan kerimduan tersendiri, jika kamu yang mengucapkannya!"


Mereka tertawa bersama sembari berjalan mengingat kisanh mereka yang cukup pelik, saat di awal pernikahan, namum penuh dengan ke romantisan pada akhirnya.


Gandi kembali membantu istrinya turun dari kursi roda, untuk masuk kedalam mobil mereka. Setelah memastikan posisi istrinya aman, barulah pria itu duduk di sebelah ratu hatinya.


Rara merebahkan tubuhnya untuk bersandar, ia ingin menatap wajah suaminya, gadis itu rindu ingin sekedar bermanja dengan pria dewasa di sebelahnya itu.



"Oom." Rengeknya manja. Gandi menoleh kearah sumbersuara.


"Ada apa. Heem?" Sahut Gandi tak kalah manjannya. Gadis itu menatap lekat wajah Gandi.


"Rara kangen. Sama om!"


"Kengen? bukankah kita setiap hari bertemu?


Ucap om suami heran.


"Iya. Tapikan beda suasananya. Rara kangen masak bareng, berenang bareng semuanya kangen. Hampir satu bulan kita berkutat di sekitar rumah sakit terus. Maafin Rara ya, om !"


"Huus. udah jangan ingat-ingat itu lagi. Oya Katanya kamu kangen berenag bareng mas, nati kita berenang ya. Eeeh, tapi tunggu dulu. Lukamukan belum kering dengan sempurna, sayang. Jadi gak boleh berenang dulu"


"Ya udah, kalau gitu Rara lihat mas berenang aja. gimana"

__ADS_1


Tawar Rara semangat.


"Eeem. Gimana ya. Tapi mas pengennya mandi bareng kamu."


Ucap om suami gemes.


"Gak ah, Rara belum boleh mandi bareng om, bahaya soalnya. Masa nifas Rarakan belum siap, kalau om kepengen gimana?"


Tanya Rara polos


Seketika tangan besar itu membekap mulut istrinya.


"Jangan kuat-kuat ngomongnya, malu kedengaran pak Tejo"


Bisik Gandi lembut.


Rara tersenyum malu sembari melirik sopir suaminya itu.


"Tapikan sebentar lagi juga selesai nifasnya, tengang aja untuk kesehatan dan kesembuhan istri mas, mas selalu siap nunggunya sampsi lukamu benar-benar sembuh. Kamu lupa, waktu awal kita nikah juga mas gak langsung dapat. hadiah itu kan, tapi mas tahan. berapa bulan ya itu, kamu gantungin mas?"


Gandi berucap sembari mengingat.


"Enam bulan lebih, kalau gak salah"


jawab Rara sambari meringis malu, mengingat kejadian itu!


"Kejam kamu ya dek, mas kamu anggurin selama itu. Tiap hari mas puasa, nelan ludah kalau lihat pakaianmu kelewat seksi, tapi herannya kamu itu kokya gak takut, mas terkam kalau pas kamu lagi tidur."


"Itu tandanya, suami Rara. Suami yang baik"


Ucapnya bangga.


"Masaksih gitu, perasaan dulu kamu itu bencinya setengah mati sama mas, sekarang kok bisa nempel kayak lem ya, sayang, perasaan mas gak kasih kamu pelet deh"


"Iiih apaan sih, Rara malu tau"


Gandi tertawa sembari mengelus puncak kepala istrinya. Mobil berhenti tepat di depan halaman rumah mereka.


Rahmat sudah menunggu tepat di depan pintu. Rara menatap sedih ke arah papanya.


"Sayang, kamu baik-baik aja kan. Kenapa kalian tidak memberi tahu papa, kalau terjadi sesuatu dengankamu dan kandunganmu?"


Rahmat menatap putrinya iba.


"Maaf pa, Rara sengaja melarang, om Gandi intuk tida memberi tahu papa, Rara gak mau buat papa kepikiran. Rara takut terjadi sesuatu pada papa! Rata takut penuakit janjung papa kumat"


Rara dengan lemah lembut memberi pengertian pada papanya.



Seketika Rahmat memeluk putrinya yang tengah duduk di atas kursi roda.

__ADS_1


"Gandi, kamu hutang penjelasan pada papa!"


Ucap Rahmat sembari menatap menantunya dingin tak bersahabat.


"Baik pa" ucap Gandi sopan. Gandi hendak mendorong kursi roda istrinya, namun keburu dicegah oleh pria paruh baya itu.


"Biar saya yang membawa putriku"


Seketika Gandi melepaskan pegangannya.


Mereka berjalan memasuki hunian mewah itu. Sampai di dalam Rahmat segera mendorong putrinua keruamg leluarga.


"Kamu ikut papa sekarang, ada hal yang harus papa bicarakan denhanmu, Ga"


Pinta mertuannya tegas.


"Sayang, mas tinggal sebentar ya! Jangan jawatir sumua akan baik-baik aja"


Dengan sayang pria itu menenangkan istrinya.


Saat ini Gandi tengah duduk berhadapan dengan ayah mertuanya. Yang terkenal keras dan tegas.


"Saya kecewa pada mu, Ga! Saya percayakan putriku satu-satunya padamu, kenapa kamu bisa secerobah itu, membiarkan anak dan cucuku celaka? suami macam apa kamu? Jika kamu tak bisa menjagannya, Hari ini juga Rara akan saya bawa pulang."


"Tapi, pa. Itu semua di luar kendaliku"


"Apa kamu bilang, diluar kendalimu, kalau begitu apa kejadian Rara jatuh dari tangga itu, juga di luar kendalimu, hem? Kamu lalai Ga. Lalai menjaga ahliwarisku satu-satinya"


"Maaf, pa. Saya bisa jelasin"


"Kamu gak perlu jelasin apapun kesaya, sakarang juga. Rara ikut saya pulang"


Rahmat pergi meninggalkan menantunya yang tengah mematung.


"Sayang, mulai sekarang kamu tinggal di rumah papa," Ucap Rahmat tanpa basa basi."


"Loh kenapa pa? kok tiba-tiba Rara tinggal di rumah papa?"


Tanya Rara heran.


"Iya sayang, karna papa ingin merawatmu, papa akan merawatmu sampai kamu sembuh" Titah Rahmat tak terbantah.


Gandi yang mendengar hal itu, seketika menyahut, ucapan mertuanya.


"Pa, tolonglah jangan seperti ini. Rara istriku dia tanggung jawabku. Papa gak bisa bawa pergi Rara dari rumah Gandi" Ucap Gandi mulai terpancing emosi.


"Ada apa ini pa, kenapa kalian malah jadi berantem?"


Rara mendekat pada papanya.


"Pa, papa jangan hawatir. Papa gak salah memilih manantu untuk Rara. Suami Rara orang yang baik, penuh tanggung jawab perhatian, sekalipun. Mas gak pernah buat celaka Rara, pa Ini murni kelalaian Rara sendiri pa!"

__ADS_1


Rara berucap lembut sembari menggenggam tangan ayahnya. Namun pria paruh baya itu, tak bergeming. Matanya tajam menatap menantunya. Gandi yang di tatap hanya menundukkan kepala, ia tak mau menjadi menantu durhaka.


__ADS_2