
Kim Lee Park memasuki bangunan sekolah setelah selesai mengajar mata pelajaran olahraga.
Jam mengajar telah usai dan saatnya dia beristirahat.
Kim Lee Park melangkah panjang seraya mengusap-usap rambut hitamnya yang lebat dengan handuk yang ada di lehernya.
Diliriknya jam di tangannya sebentar memastikan waktu sekarang sembari terus berjalan.
Chun Cha berdiri menyambut Kim Lee Park ketika dia menuju ruang kantor yang terletak di area sudut jalan lantai bawah bangunan sekolah.
Tidak ada tegur sapa diantara keduanya sedangkan Kim Lee Park hanya memandang sesaat ke arah Chun Cha tanpa berkata-kata.
Kim Lee Park sempat menghentikan langkah kakinya saat berhadapan dengan Chun Cha tetapi dia hanya diam.
Melewati Chun Cha begitu saja tanpa menyapanya.
Chun Cha memandangi Kim Lee Park dengan termenung saat Kim Lee Park berjalan tanpa menyapa dirinya.
''Apa kamu marah ?'', tanya Chun Cha.
Kim Lee Park menghentikan langkahn kakinya lalu berdiri terdiam membelakangi gadis berhanbok hitam itu tanpa menolehnya sama sekali.
''Ada apa denganmu ?'', ucap Chun Cha.
Hening...
Chun Cha menarik nafas dalam-dalam saat Kim Lee Park tidak meresponnya.
''Kenapa kamu mengacuhkanku ?'', tanya Chun Cha.
Kim Lee Park tetap diam tanpa bicara.
''Bicaralah padaku !'', kata Chun Cha.
Kim Lee Park tetap tidak menjawab kemudian melanjutkan kembali langkah kakinya.
''Hai ! Bicaralah !'', ucap Chun Cha setengah berteriak.
Chun Cha menatap punggung Kim Lee Park yang berlalu pergi tanpa mengucap sepatah katapun padanya.
''DAEBAK !!!'', panggil Chun Cha kesal.
Namun, Kim Lee Park mengacuhkannya serta berjalan jauh meninggalkan Chun Cha yang berdiri sendirian menatap Kim Lee Park dengan termenung.
''DAEBAK !!!'', teriak Chun Cha ulang.
Chun Cha berdiri dengan terus berteriak keras memanggil Kim Lee Park dengan sebutan lain.
''DAEBAK !!! DAEBAK !!!''
Panggil Chun Cha berulangkali dengan wajah cemberut.
''Astaga...'', gumam gadis cantik itu terpana.
__ADS_1
Tidak disangkanya jika Kim Lee Park akan mengacuhkannya begitu saja sehingga dia merasa serba salah.
''Apa salahku padanya ?'', ucap Chun Cha.
Tidak terlihat lagi sosok Kim Lee Park dari hadapannya, dia menghilang setelah melewati beberapa ruangan yang ada di lantai dasar gedung sekolah.
Chun Cha tidak mengerti dengan perubahan sikap Kim Lee Park sejak kejadian kemarin di rumah setelah dirinya selesai mandi.
Entah, apa yang mendasari sikap Kim Lee Park yang berubah dingin serta acuh padanya, sama seperti saat mereka pertama kali bertemu.
''Ada apa dengannya ?'', ucap Chun Cha bergumam pelan.
Memandangi jalan menuju ruang kantor guru yang ada dihadapannya yang tampak sepi.
Chun Cha mengikuti Kim Lee Park yang telah masuk terlebih dahulu ke ruangan kantor khusus guru.
Setengah berlari, Chun Cha menyusul suaminya itu dengan langkah kaki yang cukup sulit karena kain panjang dari hanboknya, membuat langkahnya melangkah tidak leluasa.
Chun Cha masuk ke ruangan guru sembari mengetuk pintu.
TOK... TOK... TOK...
Semua guru yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Chun Cha yang masuk ke dalam ruangan sembari menganggukkan kepalanya kepada semuanya.
''Bu guru Chun Cha sudah kembali, darimana ?'', tanya seorang guru perempuan yang duduk menghadap meja kerja.
''Iya, saya baru selesai berkeliling sekolah untuk menghafal ruang-ruang yang ada di sekolah Alfred-Almond Junior-Senior High School ini'', sahut Chun Cha.
''Berkeliling ? Untuk apa bu Chun Cha ? Nanti juga akan hafal sediri ruang-ruang yang ada di sekolah ini, tidak perlu seperti itu !'', kata seorang guru pria.
Chun Cha menjawabnya sambil tersenyum menutupi rasa bingungnya untuk mencari jawaban atas pertanyaan mereka.
Dia sengaja memberi jawaban sekenanya karena dia sendiri tidak ingin guru-guru lainnya bertanya panjang lebar lagi.
''Jika itu keinginan guru Chun Cha tidak masalah, boleh-boleh saja daripada dia tersesat di sekolah'', kata guru perempuan berkacamata tebal.
''Tapi bu Caterina, nanti kalau sudah terbiasa di sekolah Alfred-Almond Junior-Senior High School ini pasti tidak akan tersesat lagi'', sahut guru pria itu.
''Ya, sudah ! Kalau memang demikian alasannya, biarkan saja !'', hela nafas Caterina.
''Ya memang harus dibiarkan tetapi menurut saya itu tidak perlu dilakukan oleh bu Chun Cha, kasihan dia harus muter-muter gedung sekolah seluas ini !'', sahut guru pria itu.
''Kasihan ya kasihan..., tapi bu Chun Cha merasa itu tidak keberatan untuk dia lakukan jadi tidak masalah, bukan pak Abraham ?'', ucap Caterina.
''Baik, baik ! Terserah saja ! Saya hanya merasa kasihan dan memberikan pendapat saja pada bu guru Chun Cha'', sahut Abraham.
''Benar bukan pak Kim Lee Park ?'', tanya Caterina tiba-tiba.
Beberapa guru menoleh ke arah Kim Lee Park yang hanya duduk diam saja menatap meja kerjanya yang kosong.
Kim Lee Park duduk bersandar sembari melipat kedua tangannya didepan dadanya tanpa melihat ke arah Chun Cha yang masih diam berdiri.
''Pak guru Kim Lee Park !'', panggil Abraham.
__ADS_1
Kim Lee Park kemudian menolehkan kepalanya dengan malas.
''Bagaimana menurut anda, pak Kim Lee Park ?'', tanya seorang guru bernama Abraham.
''Maaf, saya tidak memiliki jawaban yang tepat'', sahut Kim Lee Park acuh.
''Yah ! Jawab saja kalau itu tidak perlu dilakukan oleh bu guru Chun Cha, akan membuang-buang waktu, bukan ?'', kata Abraham.
''Pak Abraham, tidak perlu se-ngotot itu untuk mempertahankan pendapat anda sedangkan bu guru Chun Cha sendiri tidak mempermasalahkannya'', sahut seorang guru pria berbadan tambun.
''Tidak seperti itu, pak guru Jhon ! Saya merasa benar-benar kasihan pada bu guru Chun Cha karena harus berkeliling sekolah, itu saja !'', kata Abraham gigih.
''Anggap saja itu acara jalan-jalan buat bu guru Chun Cha selagi dia memiliki waktu kosong di sekolah'', sahut Caterina. ''Benar, bukan bu guru Chun Cha ?'', sambungnya.
Caterina menoleh ke arah Chun Cha yang sejak tadi diam berdiri.
''Ah, iya..., tidak apa-apa ! Saya senang melakukannya !'', sahut Chun Cha.
''Kalau anda menyukainya maka itu tidak masalah, silahkan bu guru Chun Cha berjalan-jalan keliling sekolah sebagai kegiatan mengisi waktu kosong'', kata Abraham.
''Nah ! Begitu itu lebih terdengar ramah, tidak memperbolehkannya seperti itu larangan, pak Abraham !'', kata Caterina.
''Oh !? Benarkah !?'', jawab Abraham tersentak kaget.
''Iya ! Seperti semacam aturan yang harus dipatuhi oleh kita, tidak enak saja kedengarannya...'', sambung Caterina.
''Ya Ampun ! Saya baru menyadarinya, bu Caterina !?'', sahut Abraham.
''Sebaiknya itu bukan masalah, kita tidak enak melarang orang baru karena seperti kita yang senior merasa harus dituruti, rasanya canggung saja'', kata Caterina.
''Tidak terpikir, bukan !?'', jawab Jhon.
''Ya, saya rasa juga demikian'', kata Abraham.
''Sepertinya kegiatan itu juga kita masukkan dalam agenda kita ke depaannya, bagaimana ?'', ucap Caterina.
''Bukan idea yang buruk, menurutku itu hal wajar dan sepertinya sangat menyenangkan'', jawab Jhon.
''Maaf, bu guru Chun Cha kalau kami menggnggu, anda tidak duduk'', kata Caterina.
''Oh, iya, bu guru Chun Cha..., saya mohon maaf...'', ucap Abraham.
''Tidak apa-apa'', jawab Chun Cha.
Chun Cha menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
Ketiga guru senior itu terlihat berdiskusi membahas tentang kegiatan Chun Cha hari itu yang beralasan bahwa dia sedang berkeliling sekolah.
Chun Cha berjalan pelan ke meja kerjanya yang berada di dekat Kim Lee Park.
Dia sengaja mengaturnya demikian agar dirinya dapat selalu berdekatan dengan Kim Lee Park selama berada di sekolah tempat mereka mengajar saat ini.
Baik itu satu ruangan kerja ataupun hari yang selalu sama dengan Kim Lee Park ketika mereka berdua mengajar di sekolah Alfred-Almond Junior-Senior High School.
__ADS_1
Kim Lee Park hanya melirik sekilas Chun Cha yang duduk didekatnya tanpa menyapanya.
Chun Cha sendiri duduk dengan menatap meja kerjanya yang tertata rapi sembari termenung diam.