
Kim Lee Park duduk di dalam ruangan tata usaha sekolah dengan menghadap ke meja setelah menyapa seorang petugas disana.
''Ada keperluan apa anda datang kemari, pak Kim Lee Park ?'', tanya petugas laki-laki.
''Maaf, merepotkan anda, pak Mario, saya kemari bertujuan untuk menanyakan perihal pertandingan nanti'', sahut Kim Lee Park.
''Apa yang ingin anda tanyakan tentang pertandingan itu ?'', tanya petugas bernama Mario.
''Begini..., agak sulit sebenarnya tapi saya harus menyampaikannya sendiri dan mungkin saja ada jalan pemecahannya'', jawab Kim Lee Park.
''Pemecahan ? Apa maksudnya, saya tidak paham ?'', kata Mario mengernyitkan keningnya.
''Ini bukan masalah besar tetapi saya tidak ingin timbul pergolakan di pihak para siswa mengenai pertandingan nanti'', lanjut Kim Lee Park.
''Apa ada yang mempermasalahkan soal pertandingan itu ?'', kata Mario.
''Benar...'', sahut Kim Lee Park.
Kim Lee Park menghela nafasnya kemudian melanjutkan kembali ucapannya.
''Sangat sulit tapi saya harus menyampaikan aspirasi siswa ini'', kata Kim Lee Park.
''Silahkan ! Sampaikan saja hal tersebut !'', ucap Mario.
''Mereka ada yang merasa keberatan dengan peraturan pertandingan yang mengharuskan seluruh siswa untuk mengikuti pertandingan itu'', lanjut Kim Lee Park.
''Begitu ya...'', ucap Mario.
''Benar, maka dari itu saya bilang ini masalah yang rumit sekali karena bersangkutan dengan para murid di sekolah ini'', kata Kim Lee Park.
''Hmmm..., saya mengerti sekarang..., kenapa tidak anda rundingkan dengan kepala sekolah saja perihal ini ? Akan mudah mendapatkan jalan keluarnya daripada mengikuti saran saya'', ucap Mario.
''Bukan, bukan demikian maksud saya karena saya hanya ingin bertanya apakah ada cara lain untuk masalah ini ?'', kata Kim Lee Park.
''Cara lain ? Mengubah peraturan pertandingan ?'', ucap Mario.
''Benar, mungkin dengan kita diskusi akan ada pemecahannya atau barangkali pertandingan tidak lagi memiliki peraturan yang sulit'', kata Kim Lee Park.
''Saya rasa itu tidaklah mungkin terjadi, pak Kim Lee Park karena itu sudah menjadi keputusan sekolah yang telah ditetapkan bahkan telah dikirim surat resminya ke pusat pendidikan'', sahut Mario.
''Ya, ampun... ! Ini bertambah rumit dan tidak ada lagi jalan keluar dari masalah ini !'', desah Kim Lee Park kecewa.
''Yah... Bagaimana lagi !? Bukankah sudah menjadi keputusan bersama ? Dan kenapa tidak ada siswa saat pengumuman ini diresmikan memberikan argumennya pada kepala sekolah !?'', kata Mario.
''Saya sendiri tidak memahaminya, kenapa baru sekarang para siswa mulai menjadikannya suatu masalah besar'', sahut Kim Lee Park.
''Pasti ada siswa yang ingin mengacau pertandingan nanti dengan mulai mencari-cari masalah kepada pihak sekolah'', kata Mario.
''Saya berharap tidak, dan jangan sampai mereka melakukannya ataupun nekat bertindak sejauh itu'', ucap Kim Lee Park kaget.
''Mudah-mudahan, tapi memang ini memberikan mereka pelajaran berharga agar para siswa memiliki keberanian serta spirit bertanding sebelum menjalani ujian kelulusan yang sulit nanti'', kata Mario.
__ADS_1
''Sebenarnya dalam kasus ini dapat diambil kesimpulan pasti yaitu kepala sekolah hendak membantu siswa supaya mudah lulus dengan menambahkan persyaratan pertandingan untuk diikuti mereka'', lanjut Kim Lee Park.
''Saya juga berpikir sama seperti itu, ini sebenarnya gagasan bagus bagi seluruh siswa sekolah untuk mengikuti pertandingan agar mereka nantinya bersemangat menghadapi ujian kelulusan nanti'', kata Mario.
''Tidak bisa diubah kalau begitu'', jawab Kim Lee Park.
''Saya rasa tidak, pak Kim Lee Park ! Tidak ada alasan lainnya yang mampu mengubah keputusan sekolah meski bagaimanapun kerasnya siswa menolak hal ini'', kata Mario.
''Saya mengerti, jadi saya bisa menjelaskan kepada siswa jika mereka menanyakannya lagi hal ini'', ucap Kim Lee Park.
''Mudah-mudahan dengan alasan membantu nilai kelulusan para siswa akan menerimanya dan lebih bersemangat untuk ikut serta pertandingan nanti'', sahut Mario.
''Baiklah, saya pamit dahulu karena sudah jam waktunya pulang sekolah sekarang'', kata Kim Lee Park.
''Saya harap anda tidak terlalu memikirkannya atau memusingkannya, pak Kim Lee Park'', ucap Mario.
''Tidak, pak Mario...'', sahut Kim Lee Park.
Kim Lee Park lalu tersenyum simpul seraya beranjak dari tempat duduknya untuk pergi.
Keduanya saling berjabat tangan sebelum Kim Lee Park meninggalkan ruangan tata usaha.
''Saya permisi dahulu, pak Mario !'', ucap Kim Lee Park.
''Semoga hari anda baik, pak Kim Lee Park'', sahut Mario sambil tersenyum ramah.
Kim Lee Park berjalan keluar dari ruangan tata usaha sekolah Alfred-Almond Junior-Senior High School.
''Apa ada jalan pemecahannya ?'', tanya Chun Cha.
Kim Lee Park tersentak kaget ketika dia melihat Chun Cha telah berdiri dihadapannya.
''Kau ? Apa yang kau lakukan disini ?'', tanya Kim Lee Park.
''Aku hanya mengikuti mu'', sahut Chun Cha.
''Mengikuti ku ? Kamu bermaksud membuntuti ku atau mencoba memata-matai ku ??'', kata Kim Lee Park.
''Bukan seperti itu, aku hanya ingin membantu mu agar kamu tidak merasa sendirian menghadapi masalah ini'', ucap Chun Cha.
''Oh, tidak ! Aku tidak merasa sendirian selama ini, terimakasih atas perhatian yang kamu berikan tapi benar aku sangat baik-baik saja saat ini !'', kata Kim Lee Park.
''Apa kamu masih merasa ketakutan padaku karena hal kemarin ?'', tanya Chun Cha.
Chun Cha mencoba berhati-hati saat mengutarakan perasaannya pada Kim Lee Park agar pria berwajah melankolis itu tidak malu.
''Takut ? Takut apa ? Takut padamu ?'' sahut Kim Lee Park.
Wajah Kim Lee Park langsung berubah merah padam saat Chun Cha kembali mengingatkan kejadian kemarin.
''Kenapa kamu berubah karena kejadian kemarin ? Apa ada yang mengganggu pikiran mu, Kim ?'', tanya Chun Cha.
__ADS_1
''Pikiranku !? Tidak ! Tidak ! Aku baik-baik saja ! Benar, itu bukanlah masalah besar bagi ku...'', sahut Kim Lee Park.
''Tapi sikapmu sangat aneh sampai kamu jatuh pingsan hanya karena melihat ku sehabis mandi'', kata Chun Cha.
''Aneh !? Sikapku biasa saja, tidak ada yang aneh !'', sahut Kim Lee Park gugup.
''Kenapa kamu pingsan saat itu ?'', ucap Chun Cha.
Chun Cha melangkah mendekat ke arah Kim Lee Park yang berdiri di hadapannya.
''Berhenti ! Dan jangan melangkah lagi ! Diam saja disana ! Mengerti !'', kata Kim Lee Park.
Terlihat tangan Kim Lee Park bergetar saat memerintahkan kepada Chun Cha untuk tidak melanjutkan lagi langkah kakinya mendekati dirinya.
''Berhenti !'', ucap ulang Kim Lee Park.
''Kenapa ?'', tanya Chun Cha sembari memiringkan kepalanya.
Gadis berhanbok hitam itu lantas menghentikan langkah kakinya seraya keheranan dengan sikap Kim Lee Park yang tidak ingin didekati oleh-nya.
Seakan-akan dia memberikan rambu larangan keras untuk Chun Cha agar tidak mendekati dirinya.
''Tidak usah banyak tanya ! Diam saja disana ! Mengerti !'', sahut Kim Lee Park.
''Baiklah, aku akan mencoba menuruti mu...'', kata Chun Cha.
''Mulai dari sekarang kita tidak perlu berdekatan lagi ataupun bersentuhan satu dengan lainnya, paham !'', lanjut Kim Lee Park.
''Aku ?'', jawab Chun Cha.
''Iya, kamu ! Siapa lagi ?'', kata Kim Lee Park. ''Siapa lagi yang berbicara padaku selain kamu ? Hah ?'', sambungnya.
''Tapi rasanya tidak enak seperti kita ini bukan suami istri lagi !? Menjauh dan tidak ada kontak fisik seperti masakan tanpa garam, kurang lengkap !'', sahut Chun Cha.
''Masakan tanpa garam ? Apa maksud mu ?'', kata Kim Lee Park.
''Yah, coba kamu pikirkan saja jika masakan tanpa ada garam atau penyedap rasanya, akan terasa hambar sekali'', ucap Chun Cha.
''Hah !? Apa !? Apa yang sedang kamu katakan itu ?'', sahut Kim Lee Park.
''Tidak ada, tidak ada !'', ucap Chun Cha.
''Kamu pikir aku ini masakan tanpa garam ?'', kata Kim Lee Park sadar.
''Tidak, aku tidak mengumpamakan dirimu sebagai masakan lezat atau hidangan penutup'', sahut Chun Cha terkejut.
''Masakan lezat ? Hidangan penutup ?'', ucap Kim Lee Park semakin cemberut. ''Apa maksud perkataanmu itu ?'', sambungnya.
''Ha... Ha... Ha... !?'', sahut Chun Cha.
Gadis berambut perak yang tertata rapi dengan hiasan kepala Jokduri itu melangkah mundur sambil tersenyum meringis.
__ADS_1
Ketika melihat perubahan dari ekspresi wajah Kim Lee Park saat melihatnya.