
Chun Cha menahan rasa nyeri di dadanya akibat belati tajam yang menusuknya, ditahannya rasa sakit di sekujur tubuhnya meski dia tak kuat melakukannya.
Tampak Cheonsa bergerak cepat turun ke dasar tangga yang suram.
Ruang di dalam danau jingga tidak berujung bahkan tak terlihat bagian dasarnya dengan jelas karena semuanya gelap gulita.
Hanya sinar kecil yang menerangi area ruangan berasal dari cahaya perisai pelindung milik Cheonsa saat mereka turun.
Gerakan Cheonsa mulai melambat saat kedua kakinya berpijak ke permukaan ubin di sebuah area luas.
Cheonsa masih membopong tubuh Chun Cha yang terluka.
"Kita telah sampai, Chun Cha...", bisik Cheonsa.
Raut wajahnya muram saat mengedarkan pandangannya ke arah sekitar area luas yang baru dia datangi.
Cheonsa memperhatikan tempat itu, tak terlihat seorangpun berada di sana.
Suasana area luas tampak sepi bahkan masih gelap karena Cheonsa datang pada malam hari.
Cahaya masih menaungi tubuhnya yang membopong tubuh Chun Cha.
Perisai pelindung tampak mengelilingi tubuh keduanya saat mereka tiba di lokasi asing, Cheonsa melangkahkan kakinya setengah melayang pelan.
Chun Cha yang ada di gendongannya terlihat merintih kesakitan dengan wajah memucat pasi.
"Bertahanlah, Chun Cha !", ucap Cheonsa memberi semangat pada gadis malang itu.
Cheonsa terus bergerak cepat melewati area jalan di suatu tempat luas yang dia datangi, entah dimana mereka sekarang kini. Tapi malaikat reinkarnasi itu tahu kalau dirinya telah memasuki masa enam ratus tahun yang silam.
Di masa era Joseon masih berkuasa kuat di negeri ginseng ini.
Cheonsa melihat sebuah bangunan megah yang kokoh tak jauh darinya, bangunan berarsitektur kuno yang penuh ornamen berdiri di tengah-tengah hamparan taman luas dengan sebuah danau yang mengalir tenang disekitarnya.
Hampir mirip bangunan istana tapi tidak terlihat seorang pengawal pun disana yang menjaganya.
Cheonsa melanjutkan langkahnya mendekati bangunan megah itu sedangkan kedua tangannya masih membopong tubuh Chun Cha yang terluka.
Malaikat berhati lembut itu menjejakkan kakinya kuat-kuat saat dia melayangkan tubuhnya di udara.
Tubuhnya dipenuhi oleh sinar terang saat dia melayang pelan menuju ke bangunan megah didekatnya.
WUUUUSSSHHH...
Kakinya menginjakkan lantai beranda yang ada di depan bangunan megah saat dia melompat turun.
Cheonsa mengalihkan pandangannya ke arah sekeliling bangunan megah dengan sorot mata bersinar terang.
"Apakah ini istana ?", gumamnya sambil bersiaga penuh.
Cheonsa tidak ingin terkecoh lagi dengan situasi yang ada di sekitarnya dan tetap berusaha bersikap waspada terhadap segala mara bahaya yang akan tiba-tiba datang menyerang dirinya.
__ADS_1
Melangkahkan kakinya dengan hati-hati mendekat ke arah pintu masuk didepannya, sembari membopong tubuh Chun Cha yang terluka.
Sekali hentakan angin kencang menyibakkan kedua daun pintu hingga terbuka lebar.
Cheonsa bergerak pelan memasuki ruangan, melayang rendah dengan terus melaju lurus maju ke depan, dibelakangnya pintu tertutup rapat dengan sendirinya.
BRAK... !
Hening.
Suasana berubah sesaat menjadi hening ketika Cheonsa masuk membawa Chun Cha yang terluka.
Seiring masuknya malaikat reinkarnasi secara bersamaan lilin-lilin di area dinding ruangan langsung menyala terang tanpa seorang pun yang menghidupkannya.
Ruangan menjadi terang dengan sinar lilin yang menghangatkan, Chun Cha yang tadinya menggigil sekarang tidak lagi.
Gadis cantik itu mulai memejamkan kedua matanya, terlelap.
Cheonsa terus bergerak masuk ke area ruangan luas yang mirip istana, ditangannya sambil menggendong Chun Cha.
"Chun Cha..., bertahanlah sebentar lagi !", gumam Cheonsa.
Diliriknya gadis dalam gendongan tangannya seraya tersenyum.
"Jangan tertidur, tetaplah terjaga Chun Cha !", ucap Cheonsa.
Tubuh Cheonsa melesat cepat ke arah sebuah ruangan yang berada di sudut istana, ruangan dengan pintu besar terbuat dari besi menjulang tinggi di hadapan Cheonsa yang membopong Chun Cha.
Cheonsa berdiri dihadapan pintu dengan membawa Chun Cha.
Dipandanginya pintu dari besi itu dengan sorot tajam, berusaha menembus bagian yang ada dibalik pintu besi berukuran besar dengan mata terawangnya.
Tiba-tiba Cheonsa mengalihkan pandangannya ke arah lain saat kedua matanya mencoba menerobos masuk ke dalam pintu besi.
"Panas sekali !?", gumamnya.
Cheonsa mengedipkan kedua matanya yang perih karena suhu panas yang menerpa wajahnya dari arah pintu.
"Pintu besi ini ternyata terlindungi oleh mantera khusus sehingga tidak ada yang dapat menembusnya meski melalui indera penglihatan", ucap Cheonsa.
Cheonsa merasakan matanya pedih terkena hembusan panas dari pintu besi didepannya.
"Apa tidak ada ruangan lainnya untuk kami ? Karena aku harus segera mencabut belati yang menancap ditubuh Chun Cha", ucapnya seraya menoleh ke arah ruangan sekitarnya.
Ruangan luas yang ada di dalam bangunan megah dimana dirinya dan Chun Cha berada tampak lenggang serta sunyi.
Suara desir angin bertiup pelan di area ruangan luas yang dilapisi oleh sentuhan batu granit alam.
Cheonsa membaringkan tubuh Chun Cha yang terluka di dekat pintu besi sedangkan dirinya duduk bersila didepan pintu.
Kedua tangan Cheonsa saling berhadapan dengan kedua mata tertutup rapat, aliran cahaya keluar dari kedua telapak tangannya yang mulai bergerak pelan membentuk seperti gerakan garis tanda tangan acak hingga memancarkan aura cahaya terang.
__ADS_1
Aliran cahaya merambat pelan menuju ke pintu besi lalu membentuk pola besar berbentuk lingkaran yang bersinar-sinar membayang di area pintu besi.
Perlahan-lahan pola besar mulai meluas ke seluruh pintu besi hingga bagian yang ada di dalam pintu terlihat secara keseluruhan dari arah luar.
Cheonsa membuka matanya saat mengetahui pintu besi dapat dia tembus oleh kekuatannya.
Ruangan di dalam pintu besar tampak jelas kelihatan dari luar setelah terbuka oleh kekuatan besar milik Cheonsa yang memperlihatkan sebuah ruangan luas semacam aula yang dipenuhi oleh lapisan kilauan berlian.
Cheonsa tersentak kaget saat mengetahui rahasia di balik pintu yang ada di hadapannya.
Dia berdiri seraya mendekat ke arah pintu yang telah terbuka lebar oleh pola besar yang tercipta dari kekuatan malaikatnya.
"Ruangan seperti apakah ini ? Kenapa seluruhnya terlapisi oleh berlian !?", ucap sang malaikat termenung.
Diulurkannya tangannya ke arah depan dengan cepat dia membopong kembali tubuh Chun Cha untuk masuk ke dalam ruangan yang ada di balik pintu.
Tubuh mereka langsung menembus masuk melewati pola besar yang terbentuk di permukaan daun pintu besi yang terbuka, memperlihatkan bagian terdalam di dalam ruangan.
Pada saat Cheonsa memasuki ruangan di balik pintu besi, pola yang terbentuk di permukaan pintu mulai tertutup kembali seperti semula.
Tampak Cheonsa melangkah masuk melewati area ruangan yang dilapisi oleh berlian yang berkilauan.
Ruangan di dalam pintu besi sangatlah luas bahkan ukurannya dua kali lipat dari ruangan yang ada di luar bangunan megah yang bentuknya mirip istana.
"Benar-benar tempat yang sangat unik tetapi cukup misterius untuk ukuran sebuah tempat tinggal", ucap Cheonsa yang terus berjalan.
Cheonsa terus melangkahkan kakinya sembari membopong tubuh Chun Cha. Dan dia menghentikan langkahnya tepat di dekat sebuah ruangan yang terbuka lebar.
Didalamnya tersedia sebuah ranjang besar terbuat dari taburan berlian berwarna-warni indah yang berada tepat di tengah-tengah kamar.
Tanpa berpikir panjang lagi Cheonsa langsung melayang cepat karena dia harus segera menyembuhkan Chun Cha yang terkena belati tajam.
Malaikat reinkarnasi itu bergegas masuk ke dalam kamar kemudian meletakkan Chun Cha di atas ranjang yang bertelekan kain sutera yang indah.
"Aku harus mencabut belati itu dari tubuh Chun Cha dan menghentikan aliran darah yang keluar dari tubuhnya", ucap Cheonsa.
Cheonsa menotok titik-titik syaraf di bagian tubuh Chun Cha yang terkena belati tajam agar aliran darah saat belati dicabut tidak mengalir keluar.
Wajah Cheonsa terlihat tegang saat dia mulai mencoba mencabut belati dari badan Chun Cha, berkonsentrasi penuh agar luka tidak bertambah parah saat belati diangkat.
Kedua tangan Cheonsa bergetar hebat tetapi dia tetap bertahan agar usahanya berhasil untuk melepaskan belati yang menancap dalam di badan Chun Cha.
"Argh !?", terdengar erangan kecil dari Chun Cha saat belati mulai dicabut dari badannya.
Cheonsa sempat gamang tetapi dia terus melanjutkan usahanya hingga belati yang menancap di badan Chun Cha dapat segera dicabut seluruhnya.
Kembali terdengar suara erangan dari bibir Chun Cha saat belati dicabut, meski kali ini belati berhasil lepas dari badan gadis berhanbook hitam itu tapi jeritan semakin keras.
KLANG... !!!
Belati terlepas dari tangan Cheonsa dan jatuh ke atas lantai.
__ADS_1
Cheonsa tertegun sesaat tetapi dia dengan cepat mengarahkan kedua tangannya yang bercahaya ke arah luka di badan Chun Cha akibat belati tajam.