ISTRI REINKARNASIKU 600

ISTRI REINKARNASIKU 600
Bab 24 Taburan Dandelion


__ADS_3

Chun Cha bergerak mundur saat Kim Lee Park memandanginya tajam tampak kemarahan terpacar dari wajah Kim Lee Park saat itu.


Tampaknya Kim Lee Park masih kesal dengan kejadian kemarin yang membuatnya sampai kehilangan kesadarannya hingga jatuh pingsan.


''Apa tidak cukup telah membuatku jatuh tak sadarkan diri kemarin ? Dan sekarang kamu mau berulah lagi ?'', tanya Kim Lee Park.


''Ah, tidak ! Tidak ! Tidak ! Tidak seperti itu maksudku !'', sahut Chun Cha.


''Lalu ?'', kata Kim Lee Park.


Kim Simon menaikkan kedua alisnya ke atas sambil menatap ke arah Chun Cha.


''Maksudku..., adalah bahwa kita ini pasangan suami istri bukan ?'', kata Chun Cha.


''Iya, kenapa ?'', sahut Kim Lee Park.


''Seharusnya kita saling berdekatan dan membangun chemistry kita sebagai suami istri tanpa harus saling menjauh'', kata Chun Cha.


''Lantas ?'', ucap Kim Lee Park.


''Sebaiknya aku harus terus bersama denganmu setiap hari bahkan setiap saat dimanapun kita berada'', kata Chun Cha.


''Apa maumu ?'', tanya Kim Lee Park.


''Mauku !? Apa mauku !? E... !?'', sahut Chun Cha yang berganti kebingungan.


''Sudahlah ! Bicara denganmu hanya buang-buang waktu saja, aku mau pulang sekarang", kata Kim Lee Park.


"Aku ikut, Kim !", ucap Chun Cha.


"Ikut ? Ikut kemana ? Pulang ?", kata Kim Lee Park.


"Iya, terus ikut kemana ? Tamasya ?", sahut Chun Cha.


"Baru kali ini kita bisa bicara dan saling menyambung, biasanya kamu gagap jika bicara denganku", kata Kim Lee Park.


"Aku tidak gagap tapi selama ini kamu yang selalu ketakutan jika aku mendekatimu", sahut Chun Cha.


Chun Cha menatap Kim Lee Park penuh tanya serta rasa penasaran.


Kim Lee Park diam tanpa menjawabnya dan mencoba mengalihkan pandangannya serta pikirannya dari Chun Cha.


"Hmmm... !?", gumam Kim Lee Park.


Kim Lee Park melangkah cepat melewati Chun Cha yang berdiri didepannya.


Dia berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan tas parasut dipundaknya tanpa banyak bicara lagi.


"Kim Lee Park ! Tunggu Kim Lee Park !", panggil Chun Cha.


Kim Lee Park mengacuhkannya dan terus melangkah cepat tanpa menoleh ke arah Chun Cha sedangkan gadis itu berjalan mengikutinya dengan melayang pelan.


"Kim Lee Park ! Kim Lee Park !", panggil Chun Cha.


Dia mempercepat laju gerakannya saat melayang menyusul Kim Lee Park.


Kim Lee Park terus melenggang pergi keluar bangunan yang merupakan bagian dari gedung sekolah.


Dia berjalan melewati halaman luas yang menghubungkan bangunan tata usaha dengan gedung sekolah tempat para siswa mengeyam ilmu.

__ADS_1


Chun Cha mengikuti Kim Lee Park dari arah belakang, melayang perlahan-lahan dengan pandangan mengikuti langkah kaki Kim Lee Park.


"Kim Lee Park !", panggil Chun Cha.


"Apa ?", jawabnya singkat.


"Kenapa kamu tidak menjawabnya ?", tanya Chun Cha.


"Apa ?", sahut Kim Lee Park datar dan terus berjalan.


"Kenapa kamu selalu ketakutan jika aku mendekatimu, Kim Lee Park ?", kata Chun Cha.


"Tidak apa-apa...", sahut Kim Lee Park.


"Tapi itu sangat aneh karena aku berpikir hal itu merupakan suatu penyakit yang tidak biasa", kata Chun Cha.


Kim Lee Park diam tanpa menghentikan langkah kakinya.


Berbelok melewati koridor sekolah yang panjang menuju ke pintu keluar sekolah.


DAK... DAK... DAK...


Suara langkah kaki terdengar menggema sepanjang koridor yang tampak sepi dan gelap.


Ketika keduanya melangkah melewati jalan koridor sekolah.


''Apa kamu tidak menginginkan kesembuhan penyakitmu ? Aku rasa kamu perlu pergi ke psikiater untuk berobat, Kim'', kata Chun Cha.


Kim Lee Park masih diam dan tidak menjawabnya seraya terus berjalan cepat.


Diraihnya gagang pintu masuk sekolah lalu membukanya.


Kim Lee Park keluar dari gedung sekolah disusul oleh Chun Cha yang melayang cepat melewati pintu yang terbuka sebelum pintu itu tertutup kembali.


''Kim Lee Park ! Tunggu aku !'', panggil Chun Cha.


Tiba-tiba Kim Lee Park menghentikan langkah kakinya lalu berbalik arah menghadap Chun Cha.


Berdiri mematung di tengah-tengah halaman sekolah seraya menatap lurus ke arah Chun Cha yang tengah berjalan melayang.


Chun Cha langsung berhenti saat Kim Lee Park berdiri melihatnya.


Mereka berdua sama-sama berdiri saling berhadap-hadapan satu sama lainnya. Dan saling beradu pandang.


''Ada apa ? Kenapa tiba-tiba kamu berhenti ?'', tanya Chun Cha keheranan.


''Bisakah waktu kembali ke masa lalu ? Dimana awal kita berjumpa ?'', tanya Kim Lee Park.


''Apa !?'', sahut Chun Cha setengah bergumam.


Keduanya berdiri saling berhadapan di tengah-tengah halaman sekolah.


''Aku tidak pernah mengerti dengan yang terjadi pada perasaanku sebenarnya tapi yang aku tahu bahwa hati ku selalu berdetak cepat jika melihatmu'', kata Kim Lee Park.


''Kim Lee Park...'', bisik Chun Cha.


''Dan aku tidak tahu alasan yang telah membuatku merasa ketakutan jika berdekatan atau menyentuhmu'', kata Kim Lee Park.


''Kim Lee Park...'', gumam Chun Cha.

__ADS_1


''Seharusnya kamu tahu itu dan menjelaskannya semuanya padaku tentang detak jantungku yang selalu berdetak kencang setiap berdekatan atau melihatmu...'', kata Kim Lee Park.


Chun Cha terharu tetapi dia sendiri tidak mengerti hal yang terjadi pada Kim Lee Park yang selalu ketakutan acapkali mereka berdekatan ataupun bersentuhan.


Terutama saat Chun Cha terlihat seksi dan menawan dihadapan Kim Lee Park.


''Bisakah algoritma atau aljabar menjelaskannya..., atau ilmu alam menjabarkan suasana hati ini...'', kata Kim Lee Park.


Tatapan Kim Lee Park berubah teduh saat mengucapkannya.


''Terkadang aku ingin melawannya dengan berusaha keras agar aku bisa menerimamu dalam hidupku sekarang tapi aku tidak mampu'', kata Kim Lee Park.


Kim Lee Park menghela nafasnya seraya menatap Chun Cha yang berdiri melayang tak jauh dari hadapannya.


''Seandainya waktu kembali ke masa lalu dan membantuku menemukan semua alasan itu, aku pasti akan melakukannya untuk kita'', kata Kim Lee Park.


''Kim...'', gumam Chun Cha haru.


''Maafkan aku karena kelemahanku ini dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk kita atau memperbaikinya agar kita bisa bersama, Chun Cha'', kata Kim Lee Park.


Chun Cha semakin terharu mendengar ungkapan hati Kim Lee Park.


Kedua mata Chun Cha berubah berkaca-kaca dan bersamaan itupula taburan Dandelion bermunculan disekitar mereka.


Dandelion turun menyirami Chun Cha dan Kim Lee Park yang berdiri saling berhadap-hadapan.


Taburan Dandelion mengelilingi tubuh mereka saat keduanya sama-sama berdiri di tengah-tengah halaman luar sekolah.


Filosofi dari bunga Dandelion itu sendiri yaitu pengharapan, cinta, kebahagiaan, keceriaan, serta kesetiaan.


''Tahukah kamu makna Dandelion ini, Chun Cha...'', kata Kim Lee Park.


''Tidak..., aku tidak tahu akan maknanya...'', sahut Chun Cha.


Kim Lee Park lalu mendongakkan kepalanya ke atas sambil memandangi taburan Dandelion warna merah muda dari atas langit.


''Dandelion memiliki makna bahwa dalam hidup orang harus mengikuti alurnya dan tetap kuat meskipun sudah terseok-seok..., seperti hubungan ini yang penuh lika-liku yang terjal tanpa arah tapi kita berusaha untuk memperbaikinya...'', kata Kim Lee Park.


Chun Cha terdiam menatap Kim Lee Park. sedangkan taburan hujan Dandelion terus berhamburan di sekitar mereka tanpa hentinya.


Taburan Dandelion bagaikan hujan yang terus turun menyirami mereka.


''Dan jangan tanyakan hal itu lagi padaku alasan aku selalu ketakutan padamu karena aku sendiri tidak mengerti akan hal itu'', lanjut Kim Lee Park.


''Maafkan aku...'', sahut Chun Cha.


''Tapi aku akan terus berusaha mencari tahu alasan itu agar kita bisa bersama seperti pasangan suami istri di masa 600 tahun yang lalu'', kata Kim Lee Park.


''Kim Lee Park, aku akan menunggunya selalu waktu untuk kita bersama itu tiba..., dan aku berharap kita dapat melewatinya bersama-sama tanpa ada rasa takut diantara kita...'', sahut Chun Cha.


''Aku tahu itu'', jawab Kim Lee Park.


Senyum mengembang di wajah Kim Lee Park dengan pandangan yang terus mengarah kepada Chun Cha.


Chun Cha menurunkan kedua kakinya hingga berpijak ke atas tanah.


Berjalan cepat ke arah Kim Lee Park lalu memeluknya erat-erat.


Taburan Dandelion menjadi saksi kisah cinta keduanya yang mengharukan, bertemu kembali tetapi tidak dapat bersama-sama.

__ADS_1


Seperti arti dari filosofi Dandelion yaitu sebuah pengharapan dan cinta.


__ADS_2