ISTRI REINKARNASIKU 600

ISTRI REINKARNASIKU 600
Bab 65 Takdir Itu


__ADS_3

Malaikat Lubi menatap tajam ke arah malaikat reinkarnasi Cheonsa yang berdiri menggandeng gadis pengantin Chun Cha sedangkan tangannya yang lain menggendong tubuh Chun Cha yang tertidur lelap.


Pandangan keduanya saling beradu serius saat saling berhadapan.


"Maafkan aku, Cheonsa", ucap malaikat Lubi.


Cheonsa menghela nafas panjangnya tanpa berniat melepaskan pegangan tangannya dari gadis pengantin Chun Cha.


Namun, terlihat sekali pandangan matanya menampakkan kesedihan yang dalam.


"Haruskah aku melawanmu ?", ucap Cheonsa.


"Dalam masalah inipun aku tidak pernah berani melawanmu tetapi aku tidak bisa melanggar peraturan serta ketentuan langit yang telah menakdirkan hidup seseorang meski itu berat bagi kita", sahut malaikat Lubi.


"Tapi aku juga tidak bisa menyerahkan tanggung jawab ini padamu karena tugasku adalah sebagai penolong", ucap Cheonsa.


"Aku tahu itu, Cheonsa...", ucap malaikat Lubi dengan menundukkan setengah wajahnya.


"Dan maafkan aku...", lanjut Cheonsa.


Suasana menjadi hening seketika saat keduanya selesai berbicara, hanya terdengar suara desir angin berhembus diantara mereka saat saling bertemu.


Malam yang semakin larut terasa dingin menusuk tulang, membuat tubuh membeku.


Cheonsa terdiam termenung hanya berdiri tegang di hadapan malaikat penjaga langit kedua.


Dia tidak ingin melawan malaikat Lubi tetapi dia terpaksa mempertahankan gadis pengantin Chun Cha agar reinkarnasi yang dijalani oleh Chun Cha di masa depan berjalan lancar tanpa harus mengorbankan jiwanya jika seandainya cinta tidak datang dalam kehidupan kedua diantara Chun Cha dan Kim Lee Park.


"Maafkan aku, malaikat Lubi...", ucap Cheonsa.


Hwarot hitam yang dikenakan oleh Cheonsa terlihat melambai-lambai tertiup angin, mempertegas kegagahan dari penampilan malaikat reinkarnasi berwajah tampan itu.


"Iya..., Cheonsa... Apa maksud dari ucapanmu ?", tanya malaikat Lubi.


Ekspresi wajah Cheonsa terlihat sangat dingin tatkala harus bertentangan dengan sang malaikat penjaga langit kedua.


Kedua tangannya semakin bergetar hebat saat harus mempertahankan kedua gadis bernama Chun Cha.


"Aku tidak dapat menerima permintaanmu untuk melepaskan Chun Cha karena aku adalah malaikat reinkarnasi untuknya yang berkewajiban mendampinginya hingga masa reinkarnasi yang dia jalani berjalan hingga akhir", ucap Cheonsa.


"Tampaknya perdebatan ini semakin runcing dan tidak memiliki jalan keluar dari permasalahan yang ada", kata malaikat Lubi.


"Mungkin saja demikian...", sahut Cheonsa.


"Sayangnya diantara kita tidak menghasilkan kata kesepakatan, dan memaksa kita harus saling bersitegang hanya untuk permasalahan ini", lanjut malaikat Lubi.


"Apa yang harus aku lakukan, katakanlah ?", sahut Cheonsa.


"Aku hanya meminta satu permintaan saja darimu tapi kau tidak meluluskannya dan memaksaku harus berurusan denganmu", ucap malaikat Lubi.


"Aku juga tidak berkeinginan memiliki masalah rumit denganmu, hanya saja aku enggan menerima permintaanmu yang bertentangan dengan hati nuraniku", sambung Cheonsa.


"Kenapa kau ingin tetap membawanya padahal kau tahu jika itu adalah sebuah larangan, Cheonsa ?", ucap malaikat Lubi.


"Takdir !", sahut Cheonsa.

__ADS_1


Malaikat penjaga langit kedua terhenyak kaget hingga terdiam.


Bergeming tanpa berbicara tetapi pandangan matanya redup, merasakan keharuan yang dalam akan perjuangan Cheonsa sebagai malaikat reinkarnasi sekaligus malaikat pendamping bagi Chun Cha.


CRING... ! CRING... ! CRING... !


Terdengar suara lonceng berbunyi nyaring saat malaikat Lubi bergerak pelan.


Salah satu tangan malaikat penjaga langit kedua terulur ke depan serta bercahaya kemilauan lalu muncul sebuah periuk perunggu dari telapak tangannya, bergerak perlahan-lahan ke arah Cheonsa.


"Aku tahu tugas yang kau emban sangatlah berat dimana kau harus mengesampingkan antara hati dengan tugas yang harus berjalan sesuai peraturan langit", ucap malaikat Lubi.


"Ya...", sahut Cheonsa lirih.


"Aku tidak dapat membantumu di luar kemampuanku yang mengharuskanku melanggar semua larangan langit sebab aku tidak mungkin melakukannya sebagai malaikat penjaga langit", ucap malaikat Lubi.


"Setidaknya kau mulai memahami tugasku...", sahut Cheonsa.


"Dan aku juga tidak ingin melawanmu, Cheonsa", sambung malaikat Lubi.


"Aku juga tidak menginginkannya", sahut Cheonsa.


"Ambillah periuk perunggu ini !", ucap malaikat Lubi.


"Untuk apa kau memberikan periuk perunggu langit ini ? Bukankah ini pusaka milikmu yang berharga bagimu sebagai malaikat langit !?", kata Cheonsa.


Periuk perunggu yang bersinar-sinar terang memancarkan cahaya berkilauan bergerak semakin dekat ke arah Cheonsa.


"Periuk perunggu ini akan berguna bagimu saat kau membantu gadis pengantin Chun Cha ketika dia melarikan diri di hari pernikahannya", ucap malaikat Lubi.


Cheonsa terhenyak kaget, mendengar jawaban dari pertanyaan yang dia ucapkan kepada malaikat penjaga langit kedua.


"Entahlah, aku sendiri tidak memahami arti dari tindakanku ini karena setahuku yang aku lakukan adalah kekacauan dari jalan pikiranku", ucap malaikat Lubi.


Cheonsa tersenyum seraya memandangi periuk perunggu yang melayang-layang dihadapannya.


Periuk perunggu itu berubah semakin membesar hingga menyerupai ukuran perahu yang mampu memuat penumpang.


"Kau benar-benar akan menolongku atau kau ingin aku menyerah hingga bersimpati padamu, katakanlah pilihan mana yang mewakili dirimu malaikat Lubi ?", ucap Cheonsa.


"Kau sangat pintar bersilat lidah, Cheonsa", sahut malaikat Lubi disertai tawanya yang berderai-derai.


"Lelucon, bukan ?", kata Cheonsa.


"Tidak, ini semua bukanlah sebuah lelucon atau sandiwara karena aku sungguh-sungguh berniat membantumu, Cheonsa", sahut malaikat Lubi.


"Aku rasa kau yang pandai bermain kata sekarang", ucap Cheonsa.


"Apa kau mencurigai ku ?", tanya malaikat Lubi.


"Sejujurnya aku katakan, iya !", sahut Cheonsa.


Tawa kembali terdengar dari arah malaikat penjaga langit kedua hingga lonceng yang dia bawa berbunyi nyaring saat tubuh malaikat itu berguncang pelan.


CRING... ! CRING... ! CRING... !

__ADS_1


Suara gema lonceng terdengar keras hingga mencapai langit di keheningan malam di sebuah tempat luas mirip taman.


Periuk perunggu terayun-ayun pelan melayang di udara saat angin berhembus disekitarnya.


"Naiklah, Cheonsa !", ucap malaikat Lubi.


Cheonsa yang berdiri dengan kedua tangan yang masing-masing memegang Chun Cha memalingkan pandangannya ke arah periuk perunggu yang berubah berukuran besar seperti sebuah perahu penumpang.


"Kemana akhir dari perjalanan periuk perunggu ini ?", tanya Cheonsa.


"Ke sebuah tempat yang kau inginkan, Cheonsa...", sahut malaikat Lubi.


"Kau sungguh-sungguh mengatakannya atau kau ingin aku berteka-teki denganmu ?", jawab Cheonsa.


"Tidak kedua-duanya karena hal yang paling aku inginkan adalah membantumu membawa gadis itu ke jalan keadilan", lanjut malaikat Lubi.


"Sekarang kau mendukungku... Apa yang mengubah jalan pikiranmu hingga kau memutuskan menolongku untuk membantu Chun Cha ?", ucap Cheonsa.


"Dalam hidup, kamu bisa berubah pikiran, tapi kamu tidak bisa mengubah pilihan hatimu", sahut malaikat Lubi.


"Kau pandai berkata bijak sekarang", kata Cheonsa.


"Ada seseorang yang pernah mengatakannya padaku dan aku mulai memahaminya sekarang ini, sebelumnya aku tidak mengerti dari kata-kata itu", ucap malaikat Lubi.


"Hmm... !?", gumam Cheonsa.


"Apa kau masih ragu-ragu untuk naik periuk perunggu ini ?", tanya malaikat Lubi.


"Entahlah..., satu hal yang aku pelajari dari rencana takdir bahwa janganlah pernah sesekali untuk mempercayai siapapun yang kamu temui meski dia sangatlah dekat denganmu...", sahut Cheonsa.


"Karena pikiran dapat berubah tapi pilihan hati tidak mungkin dapat berubah karena saat kau memilih mempertahankan seseorang yang kau inginkan maka kau tidak akan pernah melepaskannya", ucap malaikat Lubi.


"Membuang yang lain yang sekiranya akan mengganggu pilihan hati", kata Cheonsa.


"Pastinya...", sahut malaikat Lubi.


"Lantas apa pilihan hatimu saat ini ?", tanya Cheonsa.


"Aku !? Kau bertanya mengenai pilihan hatiku !?", sahut malaikat Lubi.


"Ya, pilihan hatimu lalu siapa yang aku tanyakan lagi selain dirimu disini ?", ucap Cheonsa.


"Pilihan hati untuk mempertahankan mu sebagai malaikat pendamping bagi Chun Cha karena hanya kau satu-satunya yang dapat menolong gadis malang itu", sahut malaikat Lubi.


"Terimakasih...", ucap Cheonsa.


Cheonsa menatap ke arah malaikat penjaga langit kedua dengan tatapan teduh tetapi senyumnnya terlihat samar.


"Lalu bagaimana nasib calon pengantin pria dari gadis itu ?", tanya malaikat Lubi.


"Takdir mungkin tidak bisa diubah, Namun, nasib dapat diubah sesuai niat seseorang untuk mengubahnya menjadi lebih baik atau lebih buruk", sahut Cheonsa.


"Artinya tragedi akan kematian pria itu di malam pernikahan nanti tidak akan terjadi", kata malaikat Lubi.


"Kemungkinan besar seperti itu tapi kita akan melihatnya setelah perjalanan ini, hal apa yang akan terjadi pada pria bernama Kim Lee Park di malam pernikahannya nanti", sahut Cheonsa.

__ADS_1


Malaikat Lubi terdiam dan hanya memandangi Cheonsa yang berdiri dengan memegangi kedua gadis bernama Chun Cha.


Mencoba memahami tujuan dari rencana Cheonsa yang berusaha keras untuk mengubah nasib gadis pengantin Chun Cha di akhir masa reinkarnasi yang di jalani oleh gadis itu setelah perjuangannya melewati seratus kali jalan reinkarnasi.


__ADS_2