
Cheonsa memandangi periuk perunggu dihadapannya yang berubah menjadi berukuran raksasa.
Mirip dengan perahu untuk memuat penumpang.
Periuk perunggu ajaib itu tampak melayang di udara, terombang-ambing tertiup angin hingga terdengar deburan suaranya saat bergerak.
Cheonsa kembali menatap ke arah malaikat Lubi yang berdiri tak jauh darinya yang selalu memegangi lonceng yang kerap berbunyi jika dia menggerakkan badannya.
Pandangan keduanya saling bertemu satu sama lainnya.
Seolah-olah hendak menyampaikan pesan yang tersirat dalam hati mereka sebagai malaikat langit.
Mungkinkah ini semua juga adil bagi mereka yang malaikat sedangkan setiap orang akan lupa dengan pertolongan serta kebaikan malaikat.
Cheonsa menatap teduh seraya tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya kepada malaikat Lubi.
"Terimakasih hingga kini telah memberi kami tumpangan yang sangat berharga. Dan semoga kelak kebaikanmu terbalas dengan setimpal", ucap Cheonsa.
"Sama-sama...", sahut malaikat Lubi.
"Bolehkah aku naik ke dalam periuk perunggu pemberianmu ini ?", tanya Cheonsa.
"Tentu saja karena aku memberikannya khusus untuk mu megarungi jalan kehidupan ini demi membantu gadis itu", sahut malaikat Lubi.
"Terimakasih atas kemurahan hatimu serta akan kebaikanmu", ucap malaikat Lubi.
"Pergilah, Cheonsa ! Arungi lah samudera keadilan ini hingga akhir batas waktu yang tercipta ini... Tegakkan kebenaran sampai akhir dunia ini tiba !", kata malaikat Lubi.
"Dan semoga kenikmatan surga senantiasa hadir sepanjang hidupmu", sahut Cheonsa.
"Amien...", ucap malaikat Lubi.
Cheonsa melompat naik dengan gerakan cepat, terlihat gesit serta lincah saat dia memutar tubuhnya untuk turun.
"Bagaimana cara menggerakkan periuk perunggu ini ?", tanya Cheonsa.
"Tepuklah tanganmu sebanyak satu kali untuk membuat periuk perunggu ini mendengarmu, tepuklah sebanyak dua kali untuk memberinya perintah sesuai keinginanmu dan terakhir tepuklah tanganmu sebanyak tiga kali untuk menghentikan periuk perunggu ini !", jawab malaikat Lubi.
"Menarik dan paham...", sahut Cheonsa.
"Jangan lupa tepuklah periuk perunggu sebanyak tiga kali hentakan kaki untuk mengembalikan bentuk dari periuk perunggu pada bentuk asalnya !", ucap malaikat Lubi mengingatkan.
"Ya, aku mengerti...", jawab Cheonsa.
"Ingat pesanku ini !", kata malaikat Lubi.
"Baik, aku akan mengingatnya", sambung Cheonsa.
"Selamat jalan ! Semoga perjalananmu menyenangkan sampai tujuan, Cheonsa !", ucap malaikat Lubi.
__ADS_1
Malaikat penjaga langit kedua melambaikan tangannya ke atas saat periuk perunggu mulai bergerak pelan melalui jalan udara.
Cheonsa membalas lambaian tangan malaikat Lubi saat periuk perunggu yang dia naiki terbang, membawa mereka pergi.
Bersamaan itu pula malaikat Lubi turut menghilang dari pandangan disertai gemerincing lonceng yang berbunyi di sekitar tempat mereka singgah.
Periuk perunggu yang dinaiki oleh Cheonsa terbang melayang di udara serta bergerak ke atas langit.
Terbang tinggi menjauh dari area taman yang luas.
Cheonsa meminta gadis pengantin untuk duduk disebelahnya seraya membaringkan tubuh Chun Cha yang lainnya yang sedang tertidur lelap.
"Duduklah !", ucap Cheonsa.
"Kita akan pergi kemana sekarang ?", tanya gadis pengantin pada Cheonsa.
"Ke suatu tempat dimana tidak seorangpun akan menemuimu disana", sahut Cheonsa.
"Apakah tempat itu jauh dari sini ?", tanya gadis pengantin Chun Cha.
"Jauh, sangat jauh sekali dari tempat ini bahkan tempatnya berada di luar pulau asing", sahut Cheonsa.
"Kenapa kau memilih tempat itu ?", tanya gadis pengantin Chun Cha.
"Hanya tempat itulah yang cocok untuk kamu tinggali, jauh dari kejaran orang-orang yang akan mencarimu", sahut Cheonsa.
"Dan kenapa kau membantuku ? Apa alasan dibalik keinginanmu untuk menolongku melarikan diri dari pernikahan ini ?", kata gadis pengantin Chun Cha.
"Tentu saja, aku menginginkannya tapi bukankah kisah di masa depanku nanti saat aku menjalani kehidupan reinkarnasiku akan berbeda dan aku tidak akan bertemu dengan Kim Lee Park lagi", sahut gadis pengantin Chun Cha.
"Mungkin akan tetap sama karena kau masih akan bertemu dengannya lagi di kehidupan kedua mu nanti ketika kau menjalani kehidupan reinkarnasimu", ucap Cheonsa.
"Tapi jika kisah di masa ini berubah dan aku lari dari pernikahan ku akan menyebabkan situasi berbeda dan kisahku bersama Kim Lee Park seluruhnya berubah total", kata gadis pengantin Chun Cha.
"Tidak berubah kemungkinan besar tetapi jalan cerita dari takdir hidupmu nanti sepenuhnya akan jauh berbeda di kehidupan keduamu nanti", sahut Cheonsa.
"Artinya ?", tanya gadis pengantin Chun Cha.
"Artinya jalan kehidupan di masa reinkarnasimu akan berbeda dari sebelum kamu bertemu dengan Kim Lee Park di masa depan", sahut Cheonsa.
"Apakah artinya kisahku dengan Kim Lee Park akan berubah di masa reinkarnasiku nanti ?", tanya gadis pengantin Chun Cha.
"Mungkin saja setelah pelarian ini, jalan kisahmu akan sepenuhnya berubah, dan jalan reinkarnasimu dapat kau lalui tanpa kau perlu mengorbankan jiwamu agar kau tetap hidup dalam kehidupan barumu lebih baik lagi", sahut Cheonsa.
"Apa hanya itu alasanmu untuk membantuku menjalani masa reinkarnasiku agar aku tidak kehilangan sepenuhnya jiwa ku ini ?", tanya gadis pengantin Chun Cha.
"Alasan yang paling utama adalah aku ingin kau bahagia di kehidupan barumu nanti", kata Cheonsa.
"Bahagia !? Bagaimana aku bisa merasakan kebahagiaan sedangkan aku akan kehilangan seluruh kehidupan baruku bersama Kim Lee Park nanti !?", ucap gadis pengantin Chun Cha.
__ADS_1
"Kebahagiaan tidak harus selalu didapatkan hanya bersama orang yang kau cintai tapi ada kebahagiaan lainnya dalam hidup ini yang bisa kau raih agar mencapai kebahagiaan", kata Cheonsa.
"Apa ? Kebahagiaan apalagi selain hidup bersama dengan orang yang kita cintai yang bisa membuat seluruh hidup ini terasa indah ?", ucap gadis pengantin Chun Cha.
"Ada, akan ada kisah lainnya yang nantinya membuatmu lebih berharga dan lebih bahagia dari kehidupan sebelumnya",lanjut Cheonsa.
"Benarkah keajaiban itu akan datang dalam kehidupanku nanti sedangkan hidupku sendiri telah berbeda dan jauh dari kata baik", ucap gadis pengantin Chun Cha.
"Berpikiran pesimis serta berpandangan buruk akan masa depan itu merupakan larangan dalam suatu keyakinan semua malaikat...", sahut Cheonsa.
"Tapi aku manusia, Cheonsa...", ucap gadis pengantin Chun Cha.
"Yah, kita memang berbeda", kata Cheonsa.
Gadis pengantin Chun Cha memalingkan wajahnya ke arah dirinya yang sedang tertidur lelap di atas lantai periuk perunggu, mendengkur pelan, menandakan dia sangat nyenyak.
"Apakah dia selalu optimis di kehidupannya ?", tanya gadis pengantin Chun Cha.
"Siapa ?", sahut Cheonsa.
"Dia ! Diriku !", ucap gadis pengantin Chun Cha sambil menunjuk ke arah tubuh yang berbaring di sisi Cheonsa.
"Tentu...", sahut Cheonsa sembari tersenyum.
"Apa dia menjalani reinkarnasi dengan sukses ?", tanya gadis pengantin Chun Cha.
"Hmm..., dia selalu penuh semangat menjalani masa reinkarnasinya di masa depan, hanya karena dia ingin sekali mendapatkan kembali cinta Kim Lee Park, suaminya...", sahut Cheonsa.
"Suami !? Bukankah kami urung menikah di malam ini ?", tanya gadis pengantin Chun Cha.
"Tidak, kalian akan tetap menjalani ritual pernikahan yang akan dilalui oleh Kim Lee Park seorang diri tanpa kehadiranmu sesuai adat kerajaan yang ada", kata Cheonsa.
"Mengapa bisa seperti itu ?", sahut gadis pengantin Chun Cha heran.
"Karena Kim Lee Park telah ditetapkan sebagai suamimu meski salah satu diantara kalian pergi", ucap Cheonsa.
"Artinya kami masih terikat tali pernikahan hingga kami dipertemukan kembali di kehidupan baru kami ?", kata gadis pengantin Chun Cha.
"Takdir tetap tidak dapat diubah, hanya jalan nasibnya saja yang berubah dan sekarang kita mencobanya, berjuang untuk itu", ucap Cheonsa.
"Mampukah kita melakukannya ?", kata gadis pengantin Chun Cha.
"Tergantung keyakinan pada hatimu untuk mengubahnya..., Chun Cha...", sahut Cheonsa.
"Beratkah itu, Cheonsa !?", tanya gadis pengantin Chun Cha.
"Tidak...", sahut singkat Cheonsa.
Cheonsa menatap gadis pengantin Chun Cha dengan tatapan teduh serta tersenyum sedangkan gadis itu hanya terdiam memandangi malaikat reinkarnasi yang duduk dengan menekuk salah satu kakinya ke depan.
__ADS_1
Periuk perunggu terus bergerak melayang tinggi ke angkasa melewati ribuan jalan yang berupa awan-awan putih yang berarak beriringan sepanjang perjalanan.
Langit mulai mengisyaratkan hari menjelang malam dan berubah seluruhnya menjadi gelap, hanya ada seberkas cahaya dari atas langit yang menerangi jalan mereka menuju tujuan yang akan mereka capai di depan sana.