
Malam mulai tiba saat Chun Cha telah terlelap sedangkan Cheonsa masih terjaga disisinya.
Angin bertiup pelan membuat api di atas lilin bergoyang-goyang pelan.
TAP... TAP... TAP...
Terdengar suara langkah kaki berderap masuk ke dalam ruangan lalu suara orang berbicara.
Cheonsa langsung siaga, segera membuat perisai pelindung untuk dirinya dan Chun Cha.
Muncul lima pria berpakaian Hwarot dari luar ke dalam ruangan yang kini Cheonsa dan Chun Cha tempati.
Lima pria yang salah satunya adalah Kim Lee Park terlihat berjalan menuju kamar dimana Cheonsa dan Chun Cha bersembunyi di balik perisai.
Cheonsa tergesa-gesa memindahkan tubuh Chun Cha dari atas tempat tidur ke arah bawah lantai kamar yang berlapis permadani.
Ditariknya tubuh Chun Cha pelan-pelan ke arah Cheonsa dan dia sandarkan kepala gadis itu di atas pangkuannya.
Terlihat lima pria melangkah mendekati tempat tidur.
Lima pria berwajah rupawan bersama-sama duduk di atas tempat tidur sembari bercakap-cakap akrab.
Kim Lee Park menyandarkan badannya ke bahu tempat tidur seraya mengedarkan pandangannya.
"Kapan rencana kita di mulai ?", tanyanya.
"Setelah melewati malam pernikahan mu maka semua rencana akan dilaksanakan", sahut seorang pria.
"Apa rencana kita akan berhasil ?", tanya Kim Lee Park.
"Berhasil tidaknya rencana kita tergantung dirimu jika kau mampu melaksanakannya dengan benar maka aku yakin rencana kita pasti berhasil", sahut pria lainnya.
"Tidakkah Ye Joon telah mengaturnya agar rencana kita berjalan lancar", ucap Kim Lee Park.
"Hai, Ye Joon ! Kau dengar tidak ? Apa kau sudah mempersiapkannya dengan matang ?", ucap pria yang bersandar di tiang tempat tidur.
"Apa Jung Hwa ?", sahut pria bernama Ye Joon.
"Kau tidak dengar ucapan kami !? Apa kau sudah mempersiapkan rencana yang telah kami tugaskan padamu dengan benar, Ye Joon ?", tanya temannya dengan nada serius.
"Aku dengar, Myung Sik ! Tapi berhasil atau tidak, aku juga tidak bisa memastikannya karena semua ada di tangan kuasa Yang Di Atas !", sahut Ye Joon.
"Baiklah, aku paham maksudmu tapi apakah kau sudah mengerjakan tugasmu", kata Myung Sik.
"Rencana A sudah aku persiapkan tinggal rencana B saja yang belum karena akan dilaksanakan tepat pada hari pernikahan Kim Lee Park", sahut Ye Joon.
"Berharap rencana ini berhasil atau tidak untukmu, Kim Lee Park", ucap Myung Sik.
"Kenapa kau menginginkan rencana ini berhasil, Kim Lee Park ?", tanya rekannya yang duduk di dekatnya.
__ADS_1
"Alasanku sudah jelas, Beom Seok ! Aku tidak menginginkan menikahi gadis yang tidak aku sukai, bagaimana mungkin aku bisa hidup bersamanya sampai akhir hidupku ?", ucap Kim Lee Park.
"Tapi dia putri bangsawan dari kerajaan Joseon, mana mungkin kamu tidak menerimanya, Kim Lee Park", sahut Myung Sik heran.
"Aku juga dari kalangan bangsawan tetapi aku tidak setuju jika menikah tanpa cinta, Myung Sik", kata Kim Lee Park.
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi..., aku hanya berharap masalah ini cepat terselesaikan tanpa harus ada permasalahan yang mengecewakan bagi semua pihak", ucap Myung Sik.
"Berat rasanya harus melakukan ini semuanya tanpa kepastian, ditambah kita harus merencanakan hal ini untuk membuat pernikahan itu gagal", kata Ye Joon.
"Kau berusaha lari tapi kau membuat dirimu dalam bahaya besar, Kim Lee Park", sambung Beom Seok.
"Tapi aku terpaksa melakukannya demi masa depanku yang cerah, aku tidak mau membuang hidupku dengan ikatan pernikahan ini", ucap Kim Lee Park.
"Aku harap kau tidak menyesal dikemudian hari, dan semoga kau mengubah jalan pikiranmu", kata Beom Seok.
"Tidak, aku tidak akan mengubah jalan pikiranku lagi karena aku sudah menetapkan hatiku untuk pergi", sahut Kim Lee Park.
"Kenapa kau yang pergi dengan cara yang menyakitkan, Kim Lee Park ?", tanya Myung Sik.
"Rencana ini memang menyakitkan ku tapi aku terpaksa melakukannya daripada lebih menyakiti hati gadis itu", sahut Kim Lee Park.
"Bagaimana jika kau tidak selamat ?", tanya Ye Joon.
"Artinya aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku harus menerima karmanya", sahut Kim Lee Park.
"Bukankah kalian sudah saling mengenal sebelum pernikahan dilaksanakan ?", ucap Ye Joon.
"Apa dia gadis yang buruk rupa ?", kata Beom Seok.
"Tidak..., tidak...", sahut Kim Lee Park. "Dia adalah gadis yang sangat cantik bahkan kecantikannya bagaikan seorang dewi langit", sambungnya.
Kim Lee Park segera menggelengkan kepalanya cepat.
"Kalau begitu kenapa kamu menolaknya ? Bukankah seharusnya kamu merasa bahagia mendapat seorang calon istri yang cantik", kata Ye Joon.
"Benar, bukannya bersyukur mendapat istri yang cantik tapi kau justru hendak menerbangkan dirimu melompati dimensi lain", sahut Myung Sik.
"Mau bagaimana lagi !? Gadis itu tidak menyukaiku karena aku, dia harus dipisahkan dengan kekasihnya", ucap Kim Lee Park.
"Haish !? Masalah mu benar-benar rumit dan kacau !", seru Ye Joon.
"Apa cenayang itu sudah kamu kabari, Ye Joon ?", tanya Beom Seok.
"Cenayang !? Siapa yang jadi cenayangnya ?", sahut Ye Joon.
"Astaga..., Ye Joon ! Kau ini sudah mengabari cenayang itu atau tidak !?", ucap Myung Sik.
"A..., iya, ya... ! Aku hampir melupakannya, sudah, sudah, aku sudah mengabarinya dan malam pernikahan nanti dia akan menunggu kita di bawah pohon pinus", sahut Ye Joon.
__ADS_1
"Tepatnya kita akan menunggu di gunung halla...", lanjut Beom Seok.
"Gunung Halla !? Jauh sekali...", ucap Myung Sik.
"Dae Jung sudah mempersiapkan semuanya keberangkatan kita kesana, coba tanya saja dia !", kata Ye Joon.
"Dae Jung, apa kau sudah mempersiapkannya semuanya sesuai rencana B ?", ucap Beom Seok.
"Aku telah menyiapkan kereta untuk keberangkatan kita ke Gunung Halla, dan tugas Ye Joon yang mengantarkan cenayang ke sana", sahut Dae Jung.
"Kim Lee Park akan menunggu waktu cenayang berdoa di bawah pohon pinus yang ada di gunung Halla pada malam pernikahannya nanti", ucap Ye Joon.
"Semoga langit melindungi kita semuanya... Dan rencana berhasil dengan lancar...", sahut Myung Sik.
"Kim Lee Park, tidakkah kau pernah berpikir jika tindakanmu sangatlah egois, dan tidakkah kau berpikir jika akan melukai perasaan gadis itu", kata Beom Seok.
"Entahlah, Beom Seok..., aku juga tidak tahu apakah semua ini adalah keputusan yang tepat untuk kami berdua...", sahut Kim Lee Park.
"Tidakkah kau berpikir jika gadis itu akan mencarimu", tanya Myung Sik.
"Aku rasa tidak mungkin, karena dia akan bahagia jika aku pergi dari hidupnya", sahut Kim Lee Park.
"Kenapa ?", tanya Myung Sik.
"Mungkin kepergianku akan membuatnya senang dan dia bisa hidup bersama kekasihnya sampai mereka menikah nanti...", sahut Kim Lee Park.
"Jika semuanya justru berbeda dan jauh dari harapanmu lantas apa yang akan kamu lakukan sedangkan dirimu telah melintasi dimensi lainnya tanpa tahu lagi akan nasib gadis itu", lanjut Myung Sik.
"Mungkin di kehidupan kedua kami dapat bertemu kembali dalam keadaan yang berbeda...", sahut Kim Lee Park muram.
"Jika seandainya itu terjadi, Kim Lee Park", ucap Beom Seok.
"Yah, jika takdir langit yang mengijinkannya maka kami akan berjumpa lagi di kehidupan kami yang lainnya", sahut Kim Lee Park.
"Aku tidak dapat membayangkan tragedi itu terjadi pada dirimu, Kim Lee Park", ucap Myung Sik.
"Aku berharap di kehidupan kedua nanti, seandainya kami bertemu kembali, dia telah berubah hatinya, berharap dia dapat mencintaiku sebagai suaminya", kata Kim Lee Park.
Lima pemuda itu lalu sama-sama terdiam seraya merenung.
Memikirkan rencana mereka di malam pernikahan nanti berjalan dengan lancar atau tidak.
Terdengar suara gemuruh kilat di luar sana menggelegar kerasnya seakan menandakan sesuatu akan terjadi.
Cheonsa yang mendengar semua arah pembicaraan diantara kelima pemuda di depannya, memandangi mereka dengan ekspresi wajah dingin.
Malaikat reinkarnasi itu duduk dari kejauhan dengan sorot mata tajam.
Raut wajahnya berubah pias saat mengetahui isi dari pembicaraan diantara kelima pemuda yang duduk tak jauh darinya.
__ADS_1
Cheonsa mendongakkan kepalanya ke arah langit-langit ruangan yang mendadak diselimuti oleh kabut tebal berwarna hitam dan putih.
Membuat Cheonsa langsung tersentak kaget saat mengetahui tanda yang menyertai semua kejadian yang terjadi di ruangan kamar itu.