
Kim Lee Park menyelesaikan laporannya untuk hari ini.
Menutup map berisi lembaran-lembaran laporan yang nantinya akan diserahkan kepada bagian tata usaha sekolah yang biasanya bertugas mengurus laporan para guru maupun seluruh kegiatan yang ada di sekolah.
BRAK !
Kim Lee Park membanting map ke atas meja kerjanya sembari mendesah pelan.
''Fuih !''
Diliriknya Chun Cha yang duduk disebelahnya dengan menatap ke arah meja yang terdapat kertas-kertas laporan.
''Menyalin laporan lama... Bagaimana kedepannya ? Apa masih bisa bertahan ?'', gumam Kim Lee Park.
Chun Cha tertegun ketika Kim Lee Park berbicara dengan cepat ditengoknya Kim Lee Park yang masih duduk di depan meja kerjanya.
''Kau berbicara padaku ? Kau bicara lagi ?'', tanya Chun Cha.
''Apa !?'', sahut Kim Lee Park.
''Kau ! Apa kamu bicara denganku ?'', kata Chun Cha.
''Tidak ! Aku tidak bicara apa-apa padamu'', sahut Kim Lee Park.
''Tapi tadi kau sepertinya berbicara padaku !? Apa aku salah dengar ?'', tanya Chun Cha.
''Tidak !'', sahut Kim Lee Park datar.
''Emm..., baiklah, mungkin aku salah dengar'', kata Chun Cha.
Kim Lee Park beranjak dari kursi lalu berjalan melewati tempat duduk Chun Cha menuju ke arah luar.
''Mau pergi, pak Kim Lee Park ?'', tanya seorang guru pria.
''Iya, pak Jhon. Ada yang mesti saya serahkan ke bagian tata usaha sekalian mencari informasi mengenai pertandingan nanti'', sahut Kim Lee Park.
''Apa masih memikirkannya ?'', tanya pria bernama Jhon.
''Iya, pak Jhon'', sahut Kim Lee Park.
''Ada yang mengganggu anda ?'', tanya Jhon.
Pria yang dipanggil dengan nama Jhon lalu menurunkan kacamatanya seraya melirik ke arah Kim Lee Park.
''Oh, tidak ! Hanya saja murid-murid merasa keberatan dengan peraturan kepala sekolah yang menghruskan mereka mengikuti semua cabang olahraga pada pertandingan nanti'', sahut Kim Lee Park.
''Kenapa tidak langsung membahasnya dengan kepala sekolah saja ?'', kata Jhon.
''Mungkin nanti, saya akan membahasnya dengan kepala sekolah tapi masih perlu prosedur agar lebih mudah'', sahut Kim Lee Park.
__ADS_1
''Prosedur ijin atau prosedur proposal ?'', tanya Jhon.
''Saya masih memikirkannya'', jawab Kim Lee Park.
''Langsung saja utarakan pada kepala sekolah tanpa prosedur khusus karena ini juga berkaitan dengan para siswa nanti dan wali murid yang mungkin saja merasa keberatan'', kata Jhon.
''Tetapi tidak mudah tanpa sebuah prosedur karena takutnya kepala sekolah akan menolak pendapat para siswa yang tidak setuju pada peraturan pertandingan'', sahut Kim Lee Park.
Kim Lee Park masih berdiri didepan pintu ruangan kantor sambil memegang map ditangannya.
''Pakai saja prosedur jajak pendapat atau vote suara mungkin juga bisa memakai prosedur silang pendapat akan mudah mengajukan penolakan'', kata Jhon.
''Saya rasa itu benar tetapi saya masih ingin bertanya pada bagian tata usaha sekolah mengenai peraturan yang wajib di patuhi oleh para siswa mungkin saja saya bisa memikirkan jalan keluarnya lebih mudah'', sahut Kim Lee Park.
''Pakai saja suara terbanyak dengan membubuhi tanda tangan pada spanduk yang akan diberikan kepada kepala sekolah sebagai ajang penolakan'', sambung Catarina.
''Itu demo namanya !'', sahut Kim Lee Park.
Kim Lee Park meringis saat mendengar jawaban setiap guru yang ada di ruang guru, memberikan masing-masing pendapatnya mengenai peraturan pertandingan yang akan diadakan pertengahan musim nanti.
''Bukan demo, pak Kim Lee Park ! Ralat ! Ini hanya pendapat saja, dan saya yakin kepala sekolah akan mendengarkannya'', sahut Catarina.
''Ya... Iya... Iya... !?'', jawab Kim Lee Park sambil menganggukkan kepalanya.
''Pasti kepala sekolah akan mengubah peraturan yang saya juga pikir itu sangat memberatkan semua siswa'', kata Catarina.
''Takutnya mereka yang tidak mampu akan gagal lulus dan itu resikonya tinggi buat pihak sekolah yang pastinya para wali murid akan marah'', lanjut Catarina.
''Pasti demo besar-besaran akan terjadi di sekolah dan itu akan menambah reputasi sekolah buruk dimata masyarakat'', timpal Jhon.
''Hanya karena menuruti keinginan besar promotor untuk mendapatkan keuntungan dari turnamen yang mengharuskan setiap sekolah di Kota New York ini mengadakan pertandingan karena peraturan promotor'', kata Catarina.
Guru perempuan itu menatap Kim Lee Park yang berdiri mematung dan hanya mendengarkan perkataan guru Catarina.
''Itu sangat riskan ! Pada saat murid yang tidak sanggup ikut pertandingan olahraga nanti, dia tidak akan diluluskan karena hal tersebut. Lantas bagaimana orangtua mereka ?'', lanjut Catarina serius.
''Pasti kacau sekolah ini !'', sambung Jhon.
Guru pria itu hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil berdecak.
''Ck !! Ini keputusan yang gegabah oleh kepala sekolah ! Siapa yang menganjurkan peraturan tidak masuk akal ini ?'', kata Jhon.
''Terimakasih atas pendapatnya tetapi saya harus pergi sekarang, permisi !'', ucap Kim Lee Park.
''Baik, baiklah, pak Kim Lee Park ! Silahkan ! Nanti keburu tutup bagian tata usaha, cepatlah ! Ini sudah jam mau pulang !'', jawab Catarina.
''Iya, ya ! Permisi !'', pamit Kim Lee Park.
Kim Lee Park cepat-cepat membuka pintu ruang guru seraya berlalu pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Sejak tadi Chun Cha hanya sebagai pendengar pembicaraan guru-guru serta Kim Lee Park yang membahas pertandingan untuk acara turnamen pertengahan musim panas nanti.
Chun Cha sendiri yang membuat peraturan itu agar dipatuhi semua sekolah.
Dia juga yang telah merancang rencana turnamen olahraga berskala nasional sebagai ajang kembalinya Kim Lee Park dalam tingkat pertandingan meski itu masih awal dari rencana-rencananya selanjutnya.
Memang Chun Cha yang menekankan peraturan seberat itu pada setiap sekolah karena itu akan memacu lawan-lawan baru yang akan mengajak sekolah Kim Lee Park untuk bertanding lebih berat.
Pada saat itulah andil Kim Lee Park memerankan calon bintang masa depan akan besar peluangnya untuk meraih prestasi gemilang.
Chun Cha lalu menjentikkan jari jemarinya dengan sekali gerakan. Dan tidak butuh waktu lama dia telah pergi dari tempat duduknya.
Keberadaan gadis cantik itu langsung menghilang dari ruangan guru dengan sekejap mata, disertai cahaya kecil yang mengitari dirinya.
''Ehk !?'', gumam Catarina.
Guru perempuan itu menoleh ke arah meja kerja Chun Cha dengan maksud berbicara padanya tapi dia tidak melihat keberadaannya disana.
''Bukankah tadi guru Chun Cha masih duduk disini ? Kemana dia sekarang ?'', tanya Catarina keheranan.
''Ada apa, bu Catarina ?'', sahut guru bernama Jhon sambil menurunkan kacamatanya.
''Apa saya salah lihat tadi ? Bukankah bu guru Chun Cha masih duduk dimeja kerjanya ? Kemana dia sekarang ???'', kata Catarina.
''Mungkin dia keluar tadi tanpa kita menyadarinya karena sibuk berbicara dengan pak guru Kim Lee Park'', jawab guru Jhon.
''Benarkah itu ???'', ucap guru Catarina sedikit bingung.
''Tidak usah memikirkannya... Biarkan saja mereka masih guru-guru muda disini ! Masih banyak yang tidak kita kenal tabiat dari mereka'', sahut guru Jhon.
''Ha... Ha... Ha...'', tawa guru Catarina.
Dikejauhan, terlihat Chun Cha sedang mengejar Kim Lee Park yang telah berjalan jauh menuju ke sebuah gedung lain yang berada terpisah dari gedung utama sekolah.
Namun, Chun Cha hanya mengikuti Kim Lee Park dari arah belakang tanpa bermaksud memberitahukan kehadirannya pada Kim Lee Park.
"Aku akan mengikutinya dari kejauhan agar dia tidak merasakan kehadiranku bersamanya..."
Chun Cha bergumam pelan sambil melayang pelan mengikuti Kim Lee Park.
Tubuh Chun Cha terlihat transparan dengan sinar cahaya pelangi yang memancar terang dari tubuhnya.
Dia mengikuti Kim Lee Park yang telah berada di gedung lain yang ada di sekolah.
Masuk menuju ke salah satu ruangan tertutup, Kim Lee Park kemudian membuka pintu ruangan itu seraya menyapa orang-orang yang ada di ruangan itu.
Chun Cha sendiri masih berdiri melayang diluar ruangan sambil memandangi pintu masuk yang terbuka sedikit.
Berdiri mematung tanpa bersuara sedangkan tubuhnya terus memancarkan cahaya pelangi yang berkelap-kelip indah.
__ADS_1