
Chun Cha menatap dingin arah di depannya sedangkan kedua tangannya melepaskan rantai perak dari tubuh pria tampan dengan simbol Mugunghwa di dahinya.
Pria itu bergerak pelan mendekati Chun Cha yang masih berdiri tertegun.
''Kau tidak seharusnya terlalu memikirkan pria yang merupakan suami dari masa lalu mu itu, Chun Cha'', ucap pria tampan dengan simbol Mugunghwa di dahi.
Chun Cha masih termenung sambil menatap dingin ke arah pria tampan yang berjalan menghampiri dirinya.
Terdiam tanpa bergeming dari tempatnya berdiri kemudian memutar tubuhnya ke arah Kim Lee Park yang duduk dengan acuhnya.
''Apa dia dapat melihat sosok dirimu nyata ?'', kata Chun Cha.
''Entahlah, karena hanya orang yang dianugerahi kekuatan khusus sajalah yang dapat melihat sosok ku yang seperti ini, Chun Cha'', sahut pria tampan.
''Seandainya dia dapat melihatmu... Apa yang akan dia lakukan ? Apa reaksi yang akan dia tunjukkan kepadaku, Haneul'', ucap Chun Cha sendu.
''Jika kamu menanyakan tentang perasaan pria itu maka aku akan menjawabnya bahwa dia tidak akan memikirkan keadaanmu karena dia tidak benar-benar menaruh hati kepada mu, Chun Cha !'', sahut Haneul.
''Haneul !?'', ucap Chun Cha dengan nada tinggi.
Pria tampan dengan simbol Mugunghwa di dahinya hanya menatap Chun Cha dengan kedua alis terangkat ke atas.
''Pada kenyataannya yang aku lihat dengan mata batinku bahwa pria bernama Kim Lee Park tidak pernah jatuh cinta kepadamu Chun Cha'', sahut Haneul.
''Tolong ! Jangan ucapkan kata-kata itu lagi, Haneul !'', ucap Chun Cha.
''Oh, Chun Cha... Mengapa kamu tidak pernah sedikitpun mempercayai ucapanku yang tidak pernah sedikitpun aku berkata bohong padamu...'', kata Haneul.
Chun Cha bergetar hebat saat Haneul mencoba menjelaskan ucapannya tentang perasaan yang sebenarnya dirasakan oleh Kim Lee Park pada gadis cantik itu.
''Apakah aku yang terlalu memaksakannya, Haneul ?'', ucap Chun Cha.
''Bukan kamu yang memaksakannya tetapi takdir langit yang membuat kalian harus seperti ini, bertemu lalu berpisah dalam ribuan tahun'', sahut Haneul.
''Takdir langit mungkinkah dapat kuubah, Haneul ?'', kata Chun Cha.
''Entahlah, Chun Cha... Aku hanya mengerti satu hal bahwa cinta tidak dapat dipaksakan meski kita berusaha untuk mencintainya...'', sahut Haneul.
''Apakah dia akan berubah mencintaiku suatu saat nanti ?'', tanya Chun Cha.
''Chun Cha... Aku bukan pemilik langit maupun dunia ini melainkan hanyalah arwah penasaran...dan aku tidak tahu jalan yang sebaiknya kita pilih...'', sahut Haneul.
Haneul menghela nafas panjangnya seraya berkata pada Chun Cha.
''Kipas tidak bertuan tapi setidaknya dia digemari karena keelokannya yang halus'', ucap Haneul.
''Aku tahu itu...'', sahut Chun Cha.
''Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang ?'', kata Haneul.
''Mungkin, aku akan tetap menjalani masa reinkarnasiku sampai selesai'', sahut Chun Cha.
__ADS_1
''Tapi tujuan dari kamu menjalani reinkarnasi ini adalah kamu harus membuatnya jatuh cinta, bukan !?", kata Haneul.
"Benar, aku harus membuatnya mencintaiku bagaimanapun caranya agar jiwa yang aku miliki tidak menghilang", sahut Chun Cha.
"Dan seandainya jiwamu terpaksa lenyap ? Tindakan apa yang akan kamu ambil setelah itu sedangkan jiwamu telah hilang, Chun Cha ?", kata Haneul.
"Jika itu takdirku maka aku harus siap menerimanya", sahut Chun Cha.
"Ibarat nelayan mencari ikan di tengah laut tetapi ombak menghempaskannya hingga dia tenggelam", kata Haneul.
Chun Cha terdiam menatap lembut ke arah Kim Lee Park yang duduk di sofa panjang rumah barunya.
Tidak mengetahui keberadaan Chun Cha ataupun Haneul yang sedang bersamanya di satu ruangan.
"Apa rencanamu selanjutnya ?", tanya Haneul.
"Maksudmu !?", tanya balik Chun Cha.
"Apakah kamu akan membawaku ke langit atau ke pengadilan neraka ?", tanya Haneul.
Chun Cha tersenyum kecil sembari menoleh ke arah pria tampan dengan simbol Mugunghwa di dahinya.
"Tidakkah kamu berpikir jika aku membawamu ke pengadilan neraka akan semakin menyulitkanmu", sahut Haneul.
"Kau tidak jadi membawaku ke pengadilan neraka atau karena aku berpihak padamu ?", kata Haneul.
"Tidak, bukan karena alasan itu, aku urung membawamu ke pengadilan neraka", sahut Chun Cha.
"Ini !", jawab Chun Cha.
Chun Cha menyerahkan sebuah gelang kecil dengan hiasan lonceng kepada Haneul.
Pria tampan dengan simbol Mugunghwa di dahinya langsung terkejut kaget melihat gelang kecil yang disodorkan oleh Chun Cha kepadanya.
"Gelang dari lembah keabadian ?", kata Haneul.
"Benar, ini adalah gelang keabadian dari lembah keabadian tapi aku tidak tahu cara untuk mengembalikannya karena benda ini ada padaku setelah aku bertapa", sahut Chun Cha.
"Gelang yang kabarnya memiliki petuah hebat dan hanya orang-orang dari kalangan lembah keabadian saja yang dapat memiliki gelang suci ini", kata Haneul.
"Anehnya aku bukan berasal dari lembah keabadian melainkan sosok manusia yang tengah menjalani masa reinkarnasiku", sahut Chun Cha.
"Kamu mendapatkan gelang ini dari hasil bertapa ? Dimana ?", tanya Haneul.
"Di kuil sembilan naga dekat lembah keabadian", sahut Chun Cha.
"Pantas saja kamu mendapatkan gelang keabadian ini karena kamu bertapa di sana, Chun Cha", kata Haneul.
"Bagaimana caranya untuk mengembalikannya ?", kata Chun Cha.
"Untuk apa kamu mengembalikannya !? Bukankah kamu mendapatkannya dari hasil bertapamu di kuil sembilan naga !?", ucap Haneul.
__ADS_1
"Rencananya aku ingin mengembalikannya tapi aku bertemu denganmu lalu aku berubah pikiran", kata Chun Cha.
"Berubah pikiran !? Kenapa !?", sahut Haneul.
"Bukankah kamu adalah arwah penasaran, Haneul ?", ucap Chun Cha.
"Iya, benar ! Lalu apa hubungannya dengan aku ?", tanya Haneul.
"Tolong kamu cari tahu siapa yang memberikan gelang ini kepadaku ! Dan apa tujuannya", sahut Chun Cha.
"Aku !?", kata Haneul kaget. "Kenapa harus aku yang melakukannya ?", sambungnya.
"Karena hanya arwah saja yang mampu menembus lembah keabadian dan kamu adalah arwah penasaran, Haneul. Karena itu kamu dapat melakukannya !", sahut Chun Cha.
"Kenapa harus mencari tahu keberadaan siapa yang memberikannya kepadamu, Chun Cha ?", tanya Haneul.
Chun Cha terdiam memandang Kim Lee Park yang duduk di sofa dengan posisi berbaring lurus.
"Aku ingin mencari tahu manfaat dari gelang keabadian ini dan mungkinkah gelang ini dapat aku gunakan untuk membuatnya jatuh cinta padaku", ucap Chun Cha.
"Apa !? Kau berniat membuat pria itu jatuh cinta padamu !?", kata Haneul.
Haneul lalu menatap ke arah Kim Lee Park yang tengah berbaring di sofa seraya meletakkan es batu yang dibungkus kain ke atas kepalanya.
Pria tampan dengan simbol Mugunghwa di dahinya kembali menoleh ke arah Chun Cha yang ada didekatnya kemudian dia memahami maksud gadis cantik itu.
"Kamu memahami arti dari gelang keabadian karena itu kamu berniat menggunakannya untuk membuat Kim Lee Park jatuh cinta padamu", kata Haneul.
"Aku terpaksa melakukannya karena aku tidak ingin jiwaku lenyap karena aku masih harus menguak misteri kematian Kim Lee Park dan aku di masa 600 tahun yang lalu", sahut Chun Cha.
"Kasus kematianmu di masa 600 tahun yang silam bukankah karena suamimu itu mati ketakutan lalu kamu menyusulnya sebab terlalu bersedih yang mendalam", kata Haneul.
"Apa maksudmu ?", ucap Chun Cha.
"Bukankah cerita itu benar !? Jika kamu dan suami mu itu meninggal di malam pernikahan dan kamu menyusul tiada setelah pemakamannya ?", kata Haneul.
"Kematian Kim Lee Park agak ganjal waktu itu bukan karena dia mati ketakutan tapi ada sesuatu yang aneh setelah aku menemukan secarik kertas bertuliskan pesan misteri", sahut Chun Cha.
"Pesan misteri !?", kata Haneul.
Pria tampan dengan simbol Mugunghwa di dahinya itu hanya mendongakkan kepalanya sembari berpikir.
"Kau tidak sedang bercanda bukan ? Apa ini kasus pembunuhan terencana !?", kata Haneul.
"Itu yang aku pikirkan selama 600 tahun hingga sekarang ini, Haneul !", sahut Chun Cha.
Keduanya saling berpandangan serius mulai ada titik terang dari kasus misteri kematian Kim Lee Park di malam pernikahannya dengan Chun Cha.
Haneul menatap tajam Chun Cha yang memandang ke arahnya dengan ekspresi wajah tegang.
Mereka lalu sama-sama terdiam memandangi gelang keabadian yang ada di telapak tangan pria tampan dengan simbol Mugunghwa di dahinya itu, telihat bersinar-sinar terang memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang.
__ADS_1