
Kisah cinta Bagas dan Anna yang sesungguhnya baru akan dimulai, percintaan jarak jauh tak bisa dihindari. Bagas yang bertugas di Papua harus kembali ke sana karena masa cuti telah selesai, sedangkan Anna yang masih bekerja di Jakarta membuat mereka harus menjalin hubungan jarak jauh (LDR). Setelah bersiap, Bagas memeriksa kembali barang - barang yang akan dibawanya lalu meminta pak Hasan untuk membawanya ke dalam mobil. Setelah semuanya beres, ia berpamitan kepada semua keluarga.
" Bu.. Bagas berangkat ya, ibu jaga kesehatan selalu dan titip Anna ya bu " Bagas meraih tangan ibu Rani dan menciumnya.
" Iya sayang, selamat sampai tujuan ya dan semoga dilancarkan perjalanannya " Ibu Rani memeluk putranya.
Bagas melepas pelukan ibunya kemudian beralih ke Rista, Rista memeluk abangnya erat.
" Abang berangkat dulu ya dek, dedek sekolahnya yang benar, jangan nyusahin orang tua ya " Bagas mengelus pucuk kepala adiknya.
" siap bang.. Abang hati - hati di jalan ya "
" Iya dek, Kalo gitu, kami berangkat ya, Assalamu 'alaikum "
" Wa'alaikum salam " jawab ibu Rani dan Rista bersamaan.
Bagas kemudian masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi belakang bersama Anna dan yang mengemudikan mobil adalah pak Hasan supir mereka. Mobil pun melaju menuju Bandara. Anna terlihat sedih, selama dalam perjalanan Bagas terus memeluknya, mencium kening dan bibirnya bergantian.
" Senyum dong sayang, daritadi wajahnya terlihat sedih " Bagas menatap wajah istrinya. Anna hanya diam saja.
" Ayo dong senyum " Bagas masih menatap wajah sendu istrinya. Anna kemudian tersenyum dan mereka pun saling berpelukan kembali.
Setengah jam kemudian mereka telah sampai di bandara, pak Hasan menurunkan barang - barang Bagas. Anna hanya bisa mengantarkan Bagas sampai di depan pintu masuk saja, ia menyalami dan mencium punggung tangan suaminya. Bagas mencium kening istrinya.
" Mas berangkat dulu sayang, jaga diri baik-baik, mas akan selalu merindukanmu, I Love U more and more istriku "
" Mas hati - hati ya, jaga diri baik - baik, jaga kesehatan, selamat sampai tujuan, I Love U to suamiku "
Bagas mengucapkan salam lalu berjalan masuk ke ruang tunggu. Di luar, Anna tak mau lepas menatap kepergian Bagas, Hatinya terasa sedih dan mendadak merasakan kesepian, secepat itu rindu telah bersarang di hatinya. Setelah Bagas sudah hilang dari pandangannya, ia berbalik dengan langkah yang tak bersemangat. Anna masuk ke dalam mobil dan meminta pak Hasan untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Sesaat kemudian mobil memasuki halaman rumah sakit, Anna masih dalam posisi duduknya seperti orang yang sedang melamun.
" Non... kita sudah sampai, apa non baik - baik saja ? " tegur pak Hasan. Anna tersentak kaget.
" oh, iya... maaf.. sudah sampai ya pak, saya baik - baik saja, saya masuk dulu ya pak " Anna lalu keluar dari mobil dan masuk ke rumah sakit dengan langkah yang tergesa - gesa .
Pak Hasan geleng - geleng kepala melihat tingkah majikannya.
" baru ditinggal beberapa menit sudah begini, bagaimana kalau sudah setahun ? Cinta betul - betul luar biasa dan rindu terlihat begitu berat " gumam hati pak Hasan sambil tersenyum. Ia pun meninggalkan rumah sakit langsung pulang ke rumah.
__ADS_1
*****
Bandar Udara Domain Eduard Ossok Sorong.
Bagas telah sampai, tepat jam 12.00 WIT. Bagas bernafas lega karena perjalanan yang cukup lama dan melelahkan akhirnya berakhir dengan selamat.
" Alhamdulillah " ucap bagas, ia berjalan menuruni tangga pesawat berbaur dengan penumpang yang lain. Ia mengambil bagasi kemudian keluar dari bandara. Di luar sudah ada Pratu Imron salah seorang anggotanya yang telah menunggu untuk menjemputnya.
" Ijin.. selamat datang kembali Danki " Pratu Imron memberi hormat.
" Terima kasih Imron "
" Siap.. sama - sama Danki "
( Danki \= Komandan Kompi )
" Ijin, Danki datang sendiri ? Ibu tidak ikut ? " tanya Pratu Imron karena dilihatnya bagas hanya datang sendiri padahal dia tau kalau komandannya itu baru saja menikah.
" Gawat.... " Pratu Imron menepuk jidatnya.
" Gawat kenapa Imron ??? "
" Ijin.. Bersiaplah Danki menghadapi betapa beratnya rindu itu, lebih berat dari berlari 7 kali putaran mengelilingi lapangan dengan tas ransel dan senjata di badan, hehehe " Jelas Imron
" Hahaha.. benarkah ?? Insya Allah, saya harus kuat '' Bagas tertawa.
Mereka pun berlalu meninggalkan bandara menuju asrama batalyon, dalam perjalanan mereka saling mengobrol mengenai pekerjaan. Setelah sampai di rumah, Bagas makan siang, membersihkan diri kemudian melaksanakan sholat dhuhur dulu barulah kemudian ia menelpon istrinya.
Anna masih dengan segudang kesibukannya, beberapa panggilan dari Bagas ia tidak dengarkan, hari ini rumah sakit ramai didatangi pasien bahkan Anna telah melewatkan jam makan siangnya. Anna melirik jam dinding sudah pukul 14.00, ia meminta suster Dwi untuk istirahat dulu, ia bergegas ke ruang istirahat untuk sholat dhuhur dahulu. Usai melaksanakan sholat, ia meraih ponsel dalam tasnya, dilihat beberapa panggilan tak terjawab dari bagas sekitar sejam yang lalu. Anna tersenyum, ia kemudian menelpon balik suaminya.
" Assalamu 'alaikum istriku sayang " terdengar suara Bagas di seberang sana.
" Wa'alaikum salam, mas sudah sampai ? "
" Iya sayang, mas sudah tiba 2 jam yang lalu, sudah makan siang sayang ? "
__ADS_1
" ini baru mau makan mas, tadi pasien lagi banyak " jawab Anna sambil meraih kotak bekalnya dan mulai menyendok makanannya.
" lain kali jangan seperti ini ya, mas tidak mau kamu sampai sakit sayang, pokoknya saat jam makan harus makan dulu baru setelah itu lanjut kerja kembali " jelas Bagas
" Siap dilaksanakan mas, mas sendiri sudah makan belum ? "
" sudah sayang, ini mas lagi membayangkan dirimu, baru saja sampai mas sudah sangat merindukanmu, I Love U sayangku "
" Iya mas.. saya juga merindukanmu, I Love U to suamiku "
" Baiklah, silahkan dilanjutkan makannya ya, nanti kita lanjutkan lagi, Assalamu 'alaikum " Bagas mengakhiri obrolan.
" Wa'alaikum salam " jawab Anna lalu menyimpan ponsel kemudian melanjutkan makan siangnya.
Selepas magrib, Anna baru tiba di rumah, ia merasa sangat lelah sekali, ia ingin sekali langsung menuju pulau kapuk dan bermimpi indah di sana namun ia masih harus membersihkan diri, sholat dan makan malam bersama keluarga, dengan langkah berat ia bergegas ke kamar mandi. Usai melaksanakan segala rangkaian rutinitasnya, ia pun beranjak ke tempat tidur. Rasa kantuk telah mengalahkannya, ia tidak menghiraukan lagi beberapa kali telepon dari bagas, ia telah tertidur pulas di sana.
********
Pagi - Pagi sekali Anna telah bangun, kali ini ia tidak melewatkan mengobrol dengan suaminya, saling melepas kerinduan meski hanya lewat telpon sebelum mereka berdua kembali pada dunia pekerjaan. Begitulah setiap hari kehidupan mereka, hanya berkirim kabar, bermesraan, berkeluh kesah dan bercanda lewat telpon/sosmed saja. Jarak yang membentang di antara mereka, waktu yang terbatas karena kesibukan masing - masing mengharuskan mereka harus banyak bersabar.
Hingga waktu berjalan begitu cepat, 9 bulan telah berlalu, mereka masih bertahan dengan keadaan dalam balutan kerinduan. Bagas yang kadang susah dihubungi ketika sedang melakukan tinjau medan dan juga Anna yang ketika ditelpon kadang masih sibuk menangani pasiennya membuat komunikasi mereka kadang tidak lancar. Anna yang menjabat sebagai Ibu Danki dalam Organisasi Persit (Persatuan Istri Prajurit) juga hanya fokus seadanya saja dikarenakan waktunya yang tersita oleh pekerjaannya. Anna telah menemukan dunianya di rumah sakit, ia begitu menikmati pekerjaannya namun demikian tetap saja hatinya kadang merasa tidak tentram memikirkan suaminya yang jauh dari dekapannya, kenyataanya ia belum bisa mendampingi dan mendukung sepenuhnya tugas suaminya.
Anna sangat menyadari, Bagas pasti membutuhkannya di sana, Bagas pasti selalu menahan rindu padanya bahkan kadang ia merasa khawatir bagas akan digoda oleh wanita lain, apalagi sekarang lagi musimnya para Pelakor (perebut laki orang) berkeliaran di mana - mana dan ditambah lagi ia belum hamil, ia takut suaminya akan merasa kecewa padanya. Ia ingin sekali ikut ke mana suaminya bertugas seperti istri - istri prajurit yang lain. Entah kapan waktu akan berpihak kepadanya, ia semakin gelisah dan takut akan terjadi hal - hal yang tidak diinginkan dan berdampak buruk pada rumah tangganya. Apa sebaiknya ia mengundurkan diri saja dari pekerjaannya sebelum kekhawatirannya menjadi kenyataan ?, Apakah Bagas bahagia memilihnya atau justru kini Bagas sudah menyesal telah menikah dengannya ?
Pertanyaan terus bermunculan dalam benaknya, Fikirannya terbagi dua antara karir dan tanggung jawab sebagai isteri. Ia takut suaminya mulai jenuh dengan kesibukannya, ia takut kisahnya dengan bagas akan berakhir dengan perpisahan. Ia merasa gagal menjadi istri yang baik karena belum bisa membahagiakan suaminya. Kebimbangan dan kegelisahan benar - benar telah menyelubungi hatinya, tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Ia menyeka air matanya dan beberapa kali mengusap wajahnya sambil mengucapkan istighfar dan membaca doa agar hati dan Fikirannya tetap tenang.
Doa Minta Ketenangan Hati dan Fikiran ๐
ุงูููููููู ูู ุฅููููู ุฃูุณูุฃููููู ููููุณูุง ุจููู ู ูุทูู ูุฆููููุฉูุ ุชูุคูู ููู ุจูููููุงุฆูููุ ููุชูุฑูุถูู ุจูููุถูุงุฆูููุ ููุชูููููุนู ุจูุนูุทูุงุฆููู
ย
Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tuโminu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqnaโu bi โatho-ika.
ย
โYa Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu.
__ADS_1