
Suasana duka masih menyelimuti kediaman Ibu Rani. Selama seminggu acara tahlilan dilaksanakan, orang-orang masih berdatangan terus mendoakan kepergian Bagas yang begitu cepat. Kesedihan mendalam masih tergurat jelas di wajah seluruh keluarga. Anna bahkan sudah terlihat sangat kurus karena sudah berhari-hari tidak bisa makan dan tidur dengan benar.
" Mas... kenapa mas melakukan ini ?? kenapa mas pergi meninggalkan kami ?? kenapa mas begitu tega ???.. hu...hu...hu.. Ya Allah... kenapa ini terjadi pada kami ??? ". Teriak Anna seraya meremas bingkai foto Bagas yang ada dalam genggaman tangannya.
Tatapan matanya kosong tiada arti. Seakan hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi. Apalah arti hidup jika semangatnya telah hilang ?. Bagas adalah semangat hidupnya, kebahagiaannya, nafas cintanya. Setelah semua yang terjadi, kini segalanya tiada berarti lagi. Hidupnya benar-benar telah hampa. Yang tersisa hanyalah kesedihan dan air mata yang entah sampai kapan akan berakhir ?. Mata Indahnya yang dulu terlihat begitu cantik, kini sudah sayu dan menghitam. Berbicara pun hanya sesekali saja. Tiap hari ia hanya mengurung diri di dalam kamar.
" Hu...Hu... Mas Bagas, jangan tinggalkan saya mas, jangan tinggalkan anak kita, kembalilah mas, kami merindukanmu mas.. ". Anna terus meracau.
" Bu.. danan nanis bu, Assya takut bu ". Anna menggigit bibir bawahnya berusaha menahan tangisannya, saat melihat putranya terbangun dari tidurnya.
" Tidak apa-apa sayang, ibu sayang kakak, kakak tidur lagi ya ". Anna menepuk kembali punggung putranya.
Ceklek...
Suara pintu dibuka, Anna menoleh memberi isyarat kalau Arsya baru saja tidur. Ibu Maryam mengangguk lalu berjalan pelan mendekati Anna.
" Sayang.. kamu harus makan dulu ". Ibu Maryam meletakkan makanan di atas meja.
" Anna tidak lapar bu "
" Tapi kamu harus makan nak, dari kemarin kamu tidak makan "
" Anna tidak lapar, Anna tidak mau makan bu " Anna masih terus menolak.
" Kenapa kamu keras kepala seperti ini nak, kamu harus makan. Apa kamu fikir Bagas akan senang jika kamu menyiksa diri seperti ini ?, apa cuma kamu yang merasa kehilangan ??. Lihat mertua kamu, lihat adik ipar kamu, semuanya merasakan hal yang sama sepertimu, mereka juga kehilangan orang yang disayanginya. Tapi mereka tetap melanjutkan hidup mereka !!! Apa kamu tidak kasihan dengan anak kamu, lihat dia begitu ketakutan saat semua orang menangis. Jika kamu sakit, siapa yang akan merawat dia ???. Ikhlaskan semuanya nak.... Ikhlaskan !!! Kamu harus makan agar kamu bisa kuat menjalani semua yang ditakdirkan Allah untukmu ". Suara Ibu Maryam meninggi.
Anna terus menangis. Mendengar perkataan ibunya, ia semakin merasakan sakit dihatinya.
__ADS_1
" Ibu... Kenapa ini semua terjadi padaku ?? Apa salah Anna bu ?? Kenapa Allah terus memberi Anna ujian hidup yang begitu berat ?? ". Anna merintih.
Ibu Maryam memeluk putrinya.
" Istighfar nak... kamu harus ikhlas, kamu harus sabar. Kuatkan hatimu nak, jangan lemah seperti ini ".
Pelukan Ibu Maryam semakin erat. Ia juga merasakan pedih di dalam hatinya melihat ketidakberdayaan Anna. Ia terus menahan agar air matanya tidak tumpah. Ia terus mengelus punggung putrinya.
Setelah merasakan Anna sudah sedikit tenang. Ibu Maryam kembali menyodorkan makanan.
" Makanlah nak !!! ".
Anna meraihnya lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya perlahan. Ia berusaha menelannya hingga makanan di piring habis tak bersisa.
" Terima kasih bu ". Ucap Anna saat Ibu Maryam meraih piring bekas makannya.
" Gimana jeng... apa nak Anna sudah mau makan ? ". Tanya Ibu Rani.
" Sudah mbak "
" Alhamdulillah... syukurlah jeng, saya khawatir melihat keadaannya, baru saja ia merasakan kebahagiaan namun sekarang ia harus mengalami hal seperti ini "
" Iya mbak, Kita harus selalu saling menguatkan. Saya yakin nak Anna pasti bisa melewati semua ini. Mbak juga yang sabar ya, semoga nak Bagas tenang di sisi Allah SWT ''.
" Aamiin.. Terima kasih jeng "
Mereka lalu saling berpelukan.
__ADS_1
*******************
Tiada sesuatu yang terjadi tanpa takdir termasuk manusia. Kita boleh saja merubah nasib tapi tidak dengan takdir. Meski hati menjerit, meratap dan terus mengutuk betapa tidak adilnya Allah namun takdir tetaplah akan terjadi. Semua yang telah terjadi, itu sudah menjadi kehendak Allah.
Jika Allah mampu mematikan maka tidak mustahil bagi_NYA untuk menghidupkan kembali. Jika Allah mampu menimpakan musibah hingga seseorang menjadi sekarat namun Allah juga mampu memulihkan orang yang sekarat itu agar bisa sembuh dan hidup kembali.
Salman tiada hentinya berdecak kagum atas kuasa Allah yang masih memberi kesempatan hidup pada orang yang sudah layak disebut mati. Matanya menatap lurus pada sosok yang terbaring lemah dengan luka yang begitu banyak di tubuhnya. Sudah sebulan sejak ditemukan, orang itu masih belum sadarkan diri. Nampak jelas dari seragam yang dikenakan bahwa orang yang ditolongnya adalah seorang prajurit. Seragam yang sudah tidak sempurna karena telah robek namun masih menyisakan nama Bagas di sana dan logo bendera yang bukan bendera Republik Kongo melainkan bendera negaranya yaitu Republik Indonesia. Orang yang ditolong Salman adalah Bagas. Bagas malang yang telah dianggap mati namun ternyata masih terus berjuang untuk hidup. Nafasnya yang tersengal serta sekujur tubuh yang memucat. Sesekali Salman mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya.
" Bertahanlah... Saya akan berusaha mengobati lukamu. Sekarang semua orang pasti sedang mencari keberadaan dirimu. Tapi saya tidak bisa membawamu keluar dari sini, tetaplah di sini hingga kamu benar-benar pulih. Entah apa rencana Tuhan mempertemukan kita berdua ". Ucap Salman seraya menempelkan ramuan pada luka tembak Bagas. Sebelumnya ia telah mengeluarkan peluru yang bersarang di sana dengan peralatan seadanya. Ia tidak bisa membawa Bagas keluar dari tempatnya karena sebuah alasan.
..
..
..
..
Para pembaca sekalian,
Tetap ikuti cerita selanjutnya ya...
Jangan lupa like dan vote nya.
Author akan berusaha menyelesaikan karyanya.
Ditunggu ya episode selanjutnya.
__ADS_1
Terima kasih 🙏🙏🙏😘😘😘😘