
Sejak Anna resmi bercerai dengan Arya, ia seperti terbebas dari jeratan mengingat ia sering kali disakiti oleh suaminya. Betapa tidak ? suami yang selalu ia hormati bukan hanya menyiksa batin tetapi juga raganya dan sekarang ia pun masih harus membayar hutang yang telah dibebankan padanya yang jumlahnya sangat lah besar.
" Kemana saya harus mencari uang sebanyak itu ? uang tabungan saya hanya ada sekitar 50 Jt, ya Allah kuatkan hamba " ucap anna dalam hati, ia memejamkan matanya dan berkali - kali mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
" apa ada masalah dok ? dokter terlihat sangat khawatir ? " Suster Dwi asistennya membuyarkan lamunannya.
" hanya sedikit lelah saja suster Dwi " jawab Anna disertai senyuman.
" Oia.. apa masih ada pasien lagi ? " tanya Anna.
" sudah habis dok, sekarang masuk jam istirahat dokter "
" baiklah sus, silahkan istirahat dulu, pergi lah makan dan ini untukmu " kata Anna sambil menyodorkan uang 100 ribu, selama sebulan bekerja di rumah sakit, ini yang ketiga kalinya ia membagikan sedikit rejeki kepada asistennya itu.
Suster Dwi mengambil uang itu karena ia tahu pasti dokter Anna akan memaksanya untuk menerimanya.
" terima kasih banyak dokter, semoga semakin lancar rejeki dokter dan dilancarkan segala urusannya "
" Aamiin ya Allah, terima kasih "
" sama - sama dokter " jawab suster Dwi sambil berjalan meninggalkan ruangan dokter Anna.
Anna menghentikan gerakan mengetiknya di laptop, lalu memutar badannya ke kanan dan ke kiri kemudian ia meraih kotak bekal yang ia selalu bawa saat bekerja dan mulai menyantap makan siangnya, tiba - tiba ponselnya berdering panggilan telpon dari Bagas. Tak terasa sudah sebulan berlalu mereka menjalin asmara long distance, tiada hari yang mereka lalui tanpa komunikasi meski hanya sebentar saja berbincang melepas rindu.
" Assalamu 'alaikum mas "
" Wa'alaikum salam dek, makan yang banyak ya sayang "
" kok mas tau saya lagi makan ? "
" apa pun yang sedang kau lakukan dek pasti mas tau "
" mas lagi bikin apa ?
" ini lagi mikirin kamu dek "
__ADS_1
" sudah dong menggodanya nanti saya matikan telponnya mas "
" baik lah sayang, ini lagi istirahat dek, ya udah dilanjut kembali ya makannya, Assalamu 'alaikum calon istriku sayang "
" Wa'alaikum salam mas '' jawab Anna kemudian meletakkan kembali ponselnya di meja dan menyelesaikan makan siangnya.
*****
Di tempat lain, di sebuah kantor yang mungkin cocok disebut ruang kerja, Arya terdiam tidak melanjutkan pekerjaan seperti biasanya. Sejak kejadian malam itu, ia sering merasa sedih sendiri, ia sering marah dan mencaci maki dirinya sendiri, sekuat mungkin ia coba melupakan dan hingga berkali - kali bayangan wajah itu selalu muncul, air mata jatuh di pipinya.
Sudah ia coba melupakan Anna namun kini setelah berpisah baru rasa itu mulai tumbuh, ia mulai mencintai Anna. Anna adalah gadis yang baik, cantik, sholehah dan taat pada suami, meski tak diperlakukan baik namun Anna selalu melayani kebutuhannya dengan sempurna kecuali melakukan hubungan suami istri. Ia tak menyangka karena perbuatan laknatnya semua berakhir dengan perceraian. Semula ia mengira semuanya masih bisa diperbaiki karena ia tidak sengaja melakukan penganiayaan itu. Malam itu dirinya dalam keadaan mabuk berat, ia frustasi karena diputuskan oleh Amanda kekasihnya dan melampiaskan semuanya pada Anna. Ia berharap Anna mau memaafkannya namun dugaannya itu salah besar, mertuanya tidak bisa terima dan berakhir dengan perceraian. Sekarang, ia menilai dirinya itu tak jauh dari seorang ******** yang tidak bisa menghormati seorang wanita.
Jarum jam telah menunjukkan jam 13.00,
Arya mengusap wajahnya dan menyeka air matanya sambil mengucapkan istighfar, lalu memasukkan kembali foto lama pernikahannya dengan Anna ke dalam laci yang masih ia simpan. Laptopnya kembali dibuka dan mencoba untuk melanjutkan pekerjaannya kembali, tapi moodnya benar - benar hilang karena Fikirannya yang tak menentu. Akhirnya ia hanya bisa mengingat kembali seseorang yang pernah menjadi sebagian dari hidupnya.
Arya tertegun membayangkan wajah Anna, ia kini begitu mencintai mantan istrinya itu, mungkin ia egois jika ingin kembali rujuk dengan isterinya. Masih ada cara untuk mendapatkan Anna kembali yaitu melalui hutang itu, jika Anna tak mampu melunasinya maka ia akan meminta Anna untuk kembali ke sisinya lagi. Ia berjanji akan memperbaiki semuanya, Ia akan mencintai Anna dengan sepenuh hatinya, ini adalah penyesalan Arya.
Tok.. tok.. tok.. seseorang mengetuk pintu ruangannya.
" masuk.. " teriaknya
" Permisi.. bapak telah melewatkan makan siang dan sejam lagi akan ada jadwal rapat "
Gita mengingatkan.
" Saya belum lapar, Oia.. Gita.. tolong cari tau apa dan gimana kabar Anna sekarang ? selidiki dia dan segera laporkan ke saya " kata Arya
" Baik pak, akan saya laksanakan " jawab Gita dengan wajah bingung sambil berlalu meninggalkan ruangan Arya. Ia masih terus berpikir kenapa tiba - tiba bosnya ingin mencari tau tentang mantan istrinya itu karena seingatnya tuan Arya sangat membenci mantan istrinya.
Arya kini berdiri di depan jendela ruangannya, menatap keluar dengan tatapan yang hampa, hati dan fikirannya dipenuhi dengan rasa penyesalan. Ia mencoba ikhlas dari suatu kehilangan dan tersenyum dari suatu kesakitan.
Menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan dan penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima.
Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Ingat, kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tidak menghargai apa yang telah dimiliki.
__ADS_1
******
Di rumah sakit, Anna telah selesai dengan pekerjaannya dan saatnya dia pulang ke rumah. Pak Hasan telah menunggunya di luar, sebenarnya Anna tak ingin menyusahkan pak Hasan tiap hari tapi apa daya dia belum bisa mengemudikan mobil dan ia tidak diperbolehkan oleh bagas berangkat kerja naik motor atau naik taksi.
" Pak Hasan, minta tolong singgah di supermarket depan ya " ucap Anna saat mobil hendak melintas di depan supermarket.
" Baik non " pak Hasan berbelok masuk ke halaman supermarket dan memarkirkan mobilnya di sana.
" Tunggu sebentar ya pak, saya akan berbelanja dulu " Anna turun dari mobil dan berjalan masuk, mengambil sebuah troli dan mulai memasukkan barang yang akan dibelinya.
""Bug.. prang..."""
Barang - barang berjatuhan di lantai, Anna tak melihat ternyata ada orang di belakangnya saat ia mengambil barang di rak.
" Maaf mbak.. saya tidak lihat mbak berdiri di belakang saya " kata Anna
" saya yang minta maaf mbak karena saya yang berjalan terburu - buru ". Wanita itu berjongkok memunguti barang - barang yang jatuh dan memasukkan ke dalam troli belanjaan Anna.
" Terima kasih mbak " ucap Anna
" Saa ma - sama " jawab wanita itu terbata - bata saat menatap wajah Anna, wanita itu tak lain adalah Gita sekretaris Arya, Gita mengamati Anna dari atas hingga ke bawah dan ia yakin sekali kalau yang sekarang berdiri di hadapannya adalah Anna mantan isteri atasannya. Pucuk dicinta Wulan pun tiba, tak perlu repot-repot karena yang dicari sudah ada di depan mata gumamnya dalam hati.
" mbak.. mbak.. mbak kok melamun " Anna menyapa Gita yang terdiam.
" oh... saya tidak apa - apa mbak, kenalkan saya Gita " Gita memberikan tangannya
" Saya Anna mbak " Anna menjabat tangan Gita.
" Saya jalan duluan ya mbak Gita " ucap Anna lagi hendak melangkah pergi.
" Tunggu mbak Anna, boleh saya minta nomor HPnya, biar kita bisa berteman " Gita menyodorkan ponselnya, Anna tak mengambil ponsel Gita melainkan menyodorkan sebuah kartu nama yang ia ambil dari tasnya.
" ini kartu nama saya mbak, saya duluan ya, Assalamu 'alaikum "
"Terima kasih mbak Anna,Wa'alaikum salam''
__ADS_1
Gita meraih ponsel dengan senyuman di bibirnya.
" Sama - sama mbak Gita, sampai jumpa " Anna berlalu menuju kasir dan membayar total belanjaannya. Pak Hasan yang melihat dari jauh segera menghampiri Anna dan membawa barang-barang belanjaan ke mobil, mereka pun kembali pulang ke rumah.