
Anna terpaku di tempat duduknya, berkali - kali ia menghubungi nomor Bagas namun tidak bisa tersambung. Kebimbangan Anna semakin menyeruak saja, apalagi mengingat akhir - akhir ini mereka sulit untuk komunikasi. Anna menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar. Ada perasaan sedih & kesal menguasai dirinya. Ia melempar hpnya ke atas meja membuat suster Dwi sedikit kaget, pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, dokter Anna yang dikenalnya sebagai wanita yang tidak pernah marah ternyata hari ini terlihat begitu sangat kesal.
" Ini dokter, apa dokter baik - baik saja " Suster Dwi memberikan sebotol air mineral kepada Anna. Anna menerimanya lalu meminum air itu hingga tersisa setengahnya.
" Terima kasih suster, saya sedikit pusing suster " Anna berusaha tersenyum namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
" Apa sebaiknya dokter pulang saja biar bisa istirahat dulu " saran suster Dwi.
" saya baik - baik saja sus, percayalah "
" baiklah dok, kalau dokter mau cerita sesuatu, saya siap untuk mendengarkannya " kata suster Dwi lagi.
" saya hanya kefikiran suami saya suster, akhir - akhir ini komunikasi kami kurang lancar, apa salah ya suster kalau saya tiba - tiba berfikir dia mulai bosan hidup dengan saya ? "
" Dokter salah kalau berfikir seperti itu, mungkin saja suami dokter sedang sibuk, ada pekerjaan yang mengharuskan dia untuk tidak memegang ponsel atau sedang berada di tempat yang sinyalnya tidak bagus, dokter tidak boleh berfikiran yang tidak - tidak "
" Iya sih sus, tapi saya khawatir, saya juga sering mengabaikan telponnya saat sedang bekerja dan saat saya telpon balik nomornya tidak bisa dihubungi, dia itu tidak pernah marah sama saya sus, dia selalu mengerti keadaan saya, dalam kondisi apapun dia selalu baik dan tulus sama saya, itulah sebabnya saya merasa gelisah, saya takut dia mulai bosan dan sifatnya akan berubah "
Suster Dwi menatap dokter Anna, " apa sekarang suami dokter berubah kepada dokter ?
" tidak sus.... kami saling mencintai sus, hubungan kami langgeng, cuman waktu bersamanya saja yang kurang, saya sangat mencintainya, saya tidak mau menyakitinya, dia adalah suami yang sempurna"
" berarti kekhawatiran dokter yang berlebihan, kecurigaan dokter tidak beralasan, nanti kalau suami dokter sudah bisa dihubungi, dokter minta maaf deh sama beliau karena dokter sudah berprasangka buruk padanya"
" Iya suster, nanti saya minta maaf padanya, terima kasih ya "
" sama - sama dok " jawab suster Dwi sambil tersenyum.
" ngomong - ngomong suster sudah punya kekasih atau belum ? " tanya Anna kemudian.
Suster Dwi menoleh ke arah Anna kembali.
" belum dok, saya belum mau pacaran dulu, saya mau menikah saja dok kalau ada yang lamar saya" sahutnya.
" semoga cepat ketemu dengan jodohnya ya sus "
" Aamiin ya rabbal Aalaamiin, terima kasih dok "
__ADS_1
" sama - sama sus " mereka pun tersenyum. Melihat wajah dokter Anna kembali ceria, suster Dwi pun ikut senang.
*****
Anna mengambil ponselnya kembali, ia mencoba menghubungi Bagas namun masih saja di luar jangkauan. Ia kemudian mengetik pesan WhatsApp.
" Assalamu 'alaikum mas, Apa mas baik - baik saja ?? saya mencoba menelpon kembali tapi nomornya mas tidak aktif. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya menyadari kesalahan saya karena jarang mengangkat telpon, saya benar-benar meminta maaf. Saat mas menelpon, saya masih sibuk. Saya tidak bermaksud mengabaikannya. Tolong maafkan istrimu yang masih penuh dengan kekurangan ini ”.
Pesan dikirim, Anna menatap ponselnya dengan pandangan kosong. Ia mencoba berdamai dengan keadaan, menyibukkan diri dengan rutinitasnya namun raganya di sini tapi fikirannya melayang jauh ke tempat lain, hatinya tetap saja terasa hampa. Ia masih saja terlihat gundah.
Pukul 17.00, waktunya menanggalkan segala urusan pekerjaan dan kembali ke rumah. Anna dan suster Dwi sama - sama berjalan keluar menyusuri koridor rumah sakit menuju parkiran. Mereka melangkah menuju kendaraan masing - masing. Anna yang kini sudah bisa mengemudikan mobil, setiap hari berangkat kerja tanpa diantar supir lagi. Anna masuk ke dalam mobil dan melaju pelan meninggalkan halaman rumah sakit.
30 menit kemudian, Anna sampai di rumah. Mobil diparkirkan di tempat biasanya, kemudian ia turun, ia melihat ibu Rani sedang menyiram tanaman bunga - bunga di halaman. Anna tersenyum, lalu mendekati ibu mertuanya, mengucap salam, menyalami dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan penuh khidmat. Ibu Rani balas tersenyum dan menjawab salam menantunya. Anna meminta ibu Rani untuk duduk dan menggantikan mertuanya menyiram tanaman seraya melanjutkan menyapu dedaunan pohon yang berserakan di halaman. Setelah selesai, ia ikut duduk di kursi samping mertuanya.
" Tumben pulang lebih cepat dari biasanya nak ? " Ibu Rani membuka pembicaraan.
" Iya bu, hari ini pasien tidak terlalu banyak jadi bisa pulang cepat dan jalan juga tidak terlalu macet " jawab Anna.
" Apa ada masalah nak ? " selidik ibu Rani karena melihat menantunya tidak bersemangat seperti biasanya.
Anna tersenyum. " Anna baik - baik saja bu " Anna tak bisa menyembunyikan kesedihannya, ia tertunduk dan mengusap matanya yang mulai berkaca - kaca. Ibu Rani yang melihat langsung memeluk menantunya.
" Maafkan Anna bu karena belum bisa menjadi istri dan menantu yang baik buat ibu, Anna belum bisa membahagiakan kalian" Anna semakin terisak menumpahkan kesedihannya. Ia tak bisa menahannya lagi.
" Kamu bicara apa nak ? apa Bagas mengatakan sesuatu yang tidak baik padamu nak ??" Ibu Rani kembali bertanya.
" Tidak ibu, Anna yang salah karena selama ini terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu sering mengabaikan telepon dari mas Bagas, Anna tidak meluangkan waktu untuk memperbanyak komunikasi dengannya, hari ini Anna mencoba menghubunginya namun sampai sekarang belum bisa tersambung. Anna takut mas bagas marah dan merasa bosan dengan hubungan seperti ini bu "
" Astagfirullah..... Istighfar nak, kamu sedang dikuasai hawa nafsu, kendalikan sayang, buang semua fikiran negatif itu, bagas tidak mungkin melakukan hal seperti itu karena dia begitu menyayangimu sayang, kamu hanya terlalu merindukannya nak, kalau dia tidak bisa dihubungi berarti ada sesuatu yang sedang dia kerjakan, bersabarlah sayang " Ibu Rani terus menenangkan Anna sambil mengusap kepala menantunya dengan lembut.
" Ayo kita masuk sayang " ucap ibu Rani lagi seraya menggandeng tangan Anna masuk ke dalam rumah dan mengantarkan menantunya masuk ke kamarnya.
Azan magrib telah berkumandang, Anna segera mandi membersihkan diri, kemudian berwudhu lalu keluar berganti pakaian dan melaksanakan sholat magrib. Lama sekali ia bermunajat kepada Allah di penghujung sholatnya, ia mencurahkan segala isi hatinya kepada Sang Khalik, meminta keselamatan untuknya dan keluarganya, memohon agar dibukakan jalan terbaik untuk rumah tangganya. Usai sholat ia membaca Al Qur'an agar hatinya semakin damai dan tentram. Baru sebentar ia mengaji, ponselnya berdering, ia mengambil ponselnya dan dilihat telpon dari suaminya, ia langsung mengangkatnya.
" Assalamu 'alaikum mas.. "
" Wa'alaikum salam sayang, mas minta maaf sayang, mas tadi kegiatan di luar dan daya ponsel habis jadi tidak bisa dihubungi, ini mas baru sampai di rumah dan baru aktifkan hp, tolong maafkan mas ya " ucap bagas dengan suara yang terdengar merasa bersalah. Anna hanya diam mendengarkan, tubuhnya bergetar, air matanya terus saja keluar dan tangisnya terdengar sampai di telinga Bagas.
__ADS_1
" Sayang... mas minta maaf, tolong jangan menangis, mas tidak tega mendengarnya" kata Bagas lagi.
" saya yang minta maaf mas, saya yang terlalu sibuk sampai lupa dengan mas, maafkan saya mas belum bisa menjadi istri yang baik buat mas, saya... "
" Sudah sayang, berhenti menyalahkan diri sendiri, kita sama - sama sibuk sayang, mas mengerti kondisimu, sudah ya.. jangan menangis lagi, mas jadi ikut sedih " Bagas memotong ucapan istrinya.
" mas merindukanmu sayang.. sangat merindukanmu, jangan sedih lagi ya, semua hanya persoalan waktu, jika sudah waktunya tiba pasti kita akan berkumpul lagi, kita harus sama - sama bersabar, maafkan mas ya telah membuatmu khawatir, mas mencintaimu istriku sayang" sambung Bagas lagi.
" Iya mas... saya juga sangat merindukanmu mas, saya takut mas marah dan kecewa dan berpaling ke perempuan lain " kata Anna.
" Astagfirullah... jangan berfikiran buruk ya sayang, mas tidak pernah marah apalagi kecewa dan berpaling ke wanita lain itu tidak pernah terjadi sayang, di hati mas sekarang dan selamanya hanya ada dirimu seorang "
" Terima kasih mas, maaf telah berprasangka buruk terhadap mas, I Love U suamiku "
" Iya sama - sama sayang, tidak apa - apa, I Love U to Istriku, peluk cium dari jauh sayang Ummmmuaaachhh " Jawab Bagas.
" Peluk cium dari jauh juga mas.. Ummmmuaaachhh, sudah dulu ya mas, saya mau ke bawah dulu temani ibu dan Rista makan malam "
" Baiklah sayang, salam buat ibu dan dedek ya, Assalamu 'alaikum " ucap bagas.
" Wa'alaikum salam, jawab Anna lalu meletakkan ponselnya kembali. Ia melepaskan mukenah dan menaruh Al Qur'an ke tempatnya kemudian keluar dari kamar menuju meja makan untuk makan malam.
" Selamat malam Ibu, Rista " Anna menarik kursi lalu duduk.
" Selamat malam sayang " jawab ibu Rani
" Selamat malam kak " jawab Rista.
Anna tersenyum, dari lubuk hati yang paling dalam ia merasa bersyukur mendapatkan suami, mertua dan adik ipar yang baik. Semoga mereka berdua akan seperti ini selamanya, semoga mereka selalu diberi kesehatan serta umur yang panjang. Doa'nya dalam hati sambil menatap ibu Rani dan Rista secara bergantian. Ibu Rani dan Rista juga balas tersenyum.
" Apa sudah ada kabar dari Bagas ? " tanya ibu Rani.
" Sudah bu, mas Bagas baru saja menelpon, tadi katanya ada kegiatan di luar dan ponselnya mati, dia baru pulang ke rumah bu jadi baru sempat memberi kabar, dia juga titip salam buat ibu dan dek rista " jawab Anna.
" Syukurlah Alhamdulillah sayang, akhirnya menantu ibu ini baru terlihat tenang " Ibu Rani tersenyum.
" Hampir saja kakak nangis semalaman kalau sampai sampai Abang tak ada kabar " sela Rista.
__ADS_1
" Hahaha, kamu bisa aja dek "
" Ha.. ha.. ha.. ha " Ibu Rani dan Rista ikut tertawa. Mereka pun melanjutkan makan malam tanpa ada yang berbicara lagi.