
Waktu seakan berlalu begitu cepat, kini baby Arsya telah berusia 10 bulan.
" ba.. ba.. ma..pa " baby Arsya terus berceloteh membuat Anna dan Bagas tersenyum-senyum saling memandang.
" A...yah.... I....bu.. ayo ikut sayang " ucap Bagas.
" ta... ta... ta... " celoteh baby Arsya lagi.
" Anak pintar... sini sama ayah " Bagas meraih baby Arsya kemudian melambungkannya ke udara, membuat baby Arsya tertawa cekikikan. Bagas terlihat bahagia sekali. Jika hari libur seperti sekarang, ia menghabiskan waktu khusus untuk anak dan istrinya. Sebenarnya ia ingin Anna segera hamil lagi tapi Anna masih menundanya karena baby Arsya masih kecil dan juga karena waktu lahiran ia operasi caesar, jadi harus ada jarak beberapa tahun dulu baru boleh hamil lagi. Anna juga takut kalau hamil terus tiba-tiba suaminya akan berangkat tugas lagi.
Dan dugaan Anna benar, seminggu lagi Bagas akan berangkat satgas dan Anna harus bersiap ditinggal tugas lagi. Bagi seorang istri prajurit, mendukung tugas suami adalah sebuah keharusan. Ibu Persit adalah wanita-wanita pilihan yang tangguh dan juga hebat. Anna termasuk salah satunya, dalam kondisi apapun dia selalu berbesar hati. Meski sedikit khawatir mengingat kejadian penembakan yang dialami Bagas sebelumnya, namun tidak mengurangi dukungan terhadap suaminya. Ia berusaha menepis segala kemungkinan yang bisa terjadi dan memasrahkan semua kepada Allah yang Maha Kuasa.
" Sayang.... Sayang... Hey... apa kamu baik-baik saja ? " Bagas menepuk pundak istrinya yang terlihat sedang melamun.
" I..iya mas, saya tidak apa-apa, mas ngomong apa tadi ? " Anna gelagapan.
" Tidak apa-apa bagaimana ? mas daritadi ngajak bicara tapi malah melamun, lagi mikirin apa sayang ? "
" Saya tidak apa-apa mas, beneran deh " Anna tersenyum sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
" Syukurlah sayang, tadi mas bilang kita jalan ke mall yuk, bawa baby Arsya pergi main, sekalian kita belanja " ajak Bagas.
Anna tersenyum. " Boleh mas, sekarang ?? "
" Iya sekarang sayang "
" Baiklah mas, kalau gitu saya siap-siap dulu ya " Anna bergegas ke kamar untuk ganti baju dan tidak lupa ia juga mengganti pakaian baby Arsya. Tidak lupa Bagas juga menelpon Pratu Imron dan Suster Dwi untuk ikut bersama mereka.
" Imron... kau bisa antar kami ke mall tidak ? sekalian ajak istrimu ". Perintah Bagas lewat telpon.
" Ijin, siap danki.. kami ambil mobil dulu "
" Ok, terima kasih, saya tunggu ya "
" Ijin, siap danki " Pratu Imron menutup teleponnya, ia meminta istrinya untuk bersiap kemudian beranjak ke rumah Bagas.
15 menit kemudian, semuanya telah siap. Ramayana mall adalah tujuan mereka. Yang bilang papua adalah pedalaman, itu salah ya. Papua sekarang sudah ramai, sudah ada mall dll, meski sudah jadi kota namun keindahan alamnya tetap berbeda dengan kota-kota yang lain. Yang masih penasaran dengan Papua, coba deh jalan-jalan ke sana.
Papua adalah mutiara di ujung timur Indonesia, nama indah yang membawa kita ke negeri seribu pesona.
Pesona masyarakat asli yang berpadu dengan kekayaan alam yang melimpah, ada yang mengatakan,
__ADS_1
”Di papua, orang berjalan pun akan terantuk emas”.
Sebuah kiasan yang menggambarkan betapa kayanya alam papua. Mata dunia telah mengetahui betapa eksotiknya pulau papua. Keindahan alamnya berpadu dengan suku-suku asli yang masih hidup menyatu dengan alam setempat.
Usai dari mall, Bagas sekalian meminta Pratu Imron untuk mengarahkan kemudi menuju Pantai Tanjung Kasuari. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, mumpung hari libur dan sebelum berangkat tugas, ia harus membawa istrinya untuk refreshing dulu.
" Kita bersenang-senang dulu ya sebelum kalian berdua ditinggal tugas, betul kan Imron ? ". Ucap Bagas seraya menatap ke arah Anna dan Suster Dwi yang duduk di belakang.
" Ijin, siap betul danki, biar fresh sebelum merasakan beratnya rindu itu ". Sahut Pratu Imron.
" Hahaha, betul sekali itu Imron, kamu siapkan fisik dan mental yang prima ya "
" Ijin, siap, siap, hahaha "
Mereka saling bercanda hingga tidak terasa mereka telah sampai di tujuan.
" Imron.. bawa turun plastik camilan ini ya, saya akan pesan tikar " ucap Bagas kemudian berjalan menuju tempat penyewaan tikar.
" Ijin, siap danki " Pratu Imron menurunkan plastik camilan kemudian meletakkan di atas tikar yang telah disewa Bagas. Mereka lalu duduk menikmati indahnya pemandangan di depan mata. Pantai Tanjung Kasuari yang membentang, dihiasi ombak yang menggulung kecil dan sesekali meninggi lalu merendah terhempas di bibir pantai yang berpasir putih. Sekelompok orang terlihat berenang di sana, ada juga yang cuma berjala-jalan di pinggiran pantai sambil bermain pasir, main kejar-kejaran dan berfoto-foto. Hari itu, pantai cukup ramai didatangi pengunjung.
" Jika kalian ingin turun ke pantai, pergilah.. biar baby Arsya mas yang jaga ". Bagas menatap ke arah Anna.
" Ijin, biar kami yang jaga baby Arsya, Danki turunlah bersama ibu ". Pratu Imron menyahut.
" Ayo mas.. " Bagas lalu ikut bersama Anna. Mereka berjalan menuju pinggiran pantai. Saling menggenggam tangan dan tidak lupa mereka berpose mesra mengabadikan moment romantis mereka.
Suster Dwi tersenyum bahagia melihat keromantisan Anna dan Bagas.
" Mereka sangat serasi ya bang ? ". Ucap Suster Dwi pada suaminya.
" Iya sayang, bukan hanya tampan dan cantiknya yang serasi tapi sifat mereka juga sangat cocok. Mereka sama-sama baik, semoga mereka selalu bahagia "
" Aamiin bang, semoga keluarga kita juga selalu bahagia dan kita juga bisa segera diberi momongan, yuk kita foto sama baby Arsya bang ". Suster Dwi mengambil ponsel kemudian mengambil beberapa foto.
Angin semakin berhembus, membuat ombak bergulung dengan dahsyatnya. Hari semakin sore, namun orang-orang masih terus berdatangan. Puas berjalan-jalan, Anna mengajak suaminya untuk kembali.
" Yuk kita balik mas ". Ajak Anna.
Bagas tersenyum.
" Sudah puas sayang ? "
__ADS_1
" Sangat puas mas, terima kasih ". Jawab Anna disertai senyuman manisnya.
" Sama-sama sayang "
Mereka pun berjalan meninggalkan pesisir pantai menuju tempat duduk mereka.
" Sekarang giliran kalian berdua, pergilah jalan-jalan, kami akan menunggu " kata Anna seraya mengambil baby Arsya kembali dari gendongan Suster Dwi.
" Ijin, kami di sini aja dok, angin semakin kencang dan ombak semakin besar di pesisir pantai "
" Iya ya, udara juga terasa semakin dingin, kalau kalian tidak mau turun ke sana, gimana kalau kita pulang saja ". Kata Anna lagi.
" Iya bu, kita pulang saja, kasian juga baby Arsya jika terlalu kena angin laut ". Sahut Pratu Imron.
" Baiklah, kalo gitu.. ayo kita pulang ". kata Bagas.
Ia lalu berdiri dan disusul yang lainnya menuju mobil dan berlalu pergi meninggalkan pantai.
************
Dan lagi-lagi waktu berjalan dengan begitu cepatnya.
Kini tiba hari di mana air mata harus tertumpah lagi, bukan sehari tapi bahkan berhari-hari hingga berbulan-bulan lamanya harus menguatkan diri, memperbanyak sabar, dan melawan rasa rindu yang bergejolak di dalam dada. Yang pernah ditinggal tugas pasti akan tahu rasanya seperti apa.
Berangkat tugas adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, bergabung dalam pasukan perdamaian PBB adalah hal yang luar biasa karena semua prajurit yang tergabung di sana adalah prajurit pilihan yang telah menjalani tahap seleksi.
Ada 15 prajurit terpilih dari satuan Bagas, termasuk diantaranya dirinya juga Pratu Imron yang tergabung dalam Satgas Kizi TNI Konga XX-Q/Monusco, yang akan ditugaskan dalam misi perdamaian PBB di Kongo.
Anna dan Suster Dwi juga ikut menghadiri upacara pelepasan prajurit yang akan berangkat satgas.
Usai memberikan amanat, terlihat Komandan Satuan menyalami satu per satu personil yang akan berangkat ke Kongo dan merapihkan baret mereka. Setelah upacara selesai, seluruh pasukan yang akan berangkat ke Kongo melakukan yel-yel penyemangat.
" Mas berangkat ya sayang, doakan mas sehat dan kembali dengan selamat, jaga diri baik-baik, jaga anak kita, mas akan selalu merindukanmu ". Pamit Bagas sesaat sebelum berangkat.
" Iya mas, jaga diri baik-baik ya, berjanjilah bahwa mas akan kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, saya takut mas kenapa-kenapa, hiks...hiks ". Anna tak kuasa menahan tangisnya, air matanya tumpah membasahi seragam Bagas.
" Sayang... kok jadi cengeng begini ?? kamu adalah Ibu Persit yang hebat, jangan nangis sayang, mas berjanji akan baik-baik saja, mas akan kembali dengan selamat. Jangan nangis lagi ya. Ibu Danki harus lebih kuat dari ibu anggotanya, lihat anak kita nanti akan ikut nangis juga kalau ibunya nangis seperti ini ". Kata Bagas sambil terus mengelus punggung istrinya, kemudian memberikan kecupan di kening Anna.
Anna menundukkan kepala, ia tak kuasa menatap ke arah Bagas lagi. Ia masih saja terus menangis. Entah mengapa kali ini ia merasa sangat tidak rela suaminya berangkat. Ia merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Suster Dwi yang melihatnya langsung memeluknya. Meski ia juga sedih karena Pratu Imron juga ikut berangkat, tapi ia berusaha menguatkan diri dan menenangkan ibu dankinya yang nampak begitu lemah.
" Ijin, sudah dok, ayo kita pulang, kita doakan semoga bapak Danki dan yang lainnya tiba dengan selamat dan juga kembali dengan selamat pula "
__ADS_1
Suster Dwi meraih baby Arsya, lalu menuntun Anna berjalan meninggalkan lapangan upacara.