
Hanya dua hari waktu bagi Anna dan ibu-ibu kompi untuk mempersiapkan acara Pertemuan Gabungan Persit Kartika Chandra Kirana bersama bapak-bapak Anggota TNI_AD dan acara pun berlangsung dengan lancar. Senyum bahagia terpancar di wajah anggun milik Anna saat keseluruhan pelaksanaan acara dipuji oleh Ibu Ketua dan Bapak Pembina.
" Terima kasih buat Ibu Ketua Ranting 6 "Ibu Bagas Saputra" atas persiapan acaranya yang sangat bagus dan keterampilan anggotanya layak diacungi jempol, baru datang dua hari yang lalu tapi bimbingan dan kerjasama dengan anggotanya sangat bagus sekali, cuman satu saja bu danki.. kehadiran anggota masih kurang, masih banyak yang ijin, tolong nanti dilaporkan ke saya apa saja kendalanya ya " Kata Ibu Ketua Persit (Ibu Komandan) diakhir sambutannya.
" Ijin, siap ibu, terima kasih, nanti kami perbaiki kembali " jawab Anna dengan kepala dan badan sedikit membungkuk pertanda sikap hormatnya.
Semua ibu-ibu serta bapak-bapak memberikan tepuk tangan yang meriah. Acara pun ditutup dengan pembagian doorprice. Bapak Pembina beserta Ibu Ketua meninggalkan Aula dan disusul oleh bapak-bapak serta ibu-ibu yang lain. Sementara Anna serta ibu-ibu ranting 6 yang lain masih berada di sana untuk membersihkan, Anna tidak lupa berterima kasih kepada ibu-ibu anggotanya.
" Terima kasih atas kerja samanya ibu-ibuku tersayang, berkat ibu-ibu semua, acara berjalan dengan baik dan lancar, hasil kerajinan tangannya sangat dipuji ibu ketua, tapi hal lain yang ditegur yaitu kehadiran anggota masih kurang, selebihnya sudah bagus semua, saya minta tolong untuk seksi organisasi sampaikan kepada beberapa ibu-ibu yang ijin tidak hadir untuk hubungi saya nanti dan setelah membersihkan ibu-ibu boleh pulang ya "
" Ijin, siap ibu, sama-sama " jawab ibu-ibu anggota bersamaan. Mereka lalu melakukan korve (pembersihan) dan mengembalikan semua barang-barang pada tempatnya.
Foto keterampilan ibu-ibu anggota kompi bantuan.
Setelah kurang lebih selama setengah jam menemani ibu-ibu melakukan kurve, Anna pamit pulang ke rumah karena Bagas telah datang menjemputnya.
" Ibu-ibu... saya pamit pulang duluan ya, Assalamu 'alaikum " kata Anna.
" Ijin, Iya ibu, wa'alaikum salam " ibu-ibu menjawab dengan serempak dengan mata yang masih memandang ke arah Anna dan Bagas yang berlalu meninggalkan Aula. Ibu-ibu anggota masih takjub dengan kecantikan Anna, mereka tersenyum puas dan sesekali memuji keramahan dan kebaikan ibu danki mereka.
********
Sebulan telah berlalu, Anna menjalani hari-hari yang berbeda dari biasanya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Jika sebelumnya dia disibukkan dengan pekerjaannya sebagai dokter yaitu menangani pasien, kali ini dia disibukkan dengan pekerjaan rumah tangga yaitu fokus merawat bayi besarnya (Bagas) dan sesekali mengurus kegiatan dalam Organisasi Persit. Ia merasa senang melakukannya, dekat bersama suami membuatnya selalu merasa bahagia.
Kebahagiaannya bertambah lagi karena Bagas selalu perhatian padanya, selalu memperlakukannya dengan baik dan tulus. Itu adalah ciri khas dari suaminya. Entah sudah berapa lama Anna tersenyum sendiri menatap ke arah Bagas, Bagas yang melihatnya berjalan mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.
" Ada apa sayang ? kenapa dari tadi senyum sendiri ? " tanya Bagas sambil meresapi leher istrinya.
" Ah.. geli mas.. " Anna mendesah pelan.
" mas ada sesuatu untukmu sayang " Bagas mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku celananya lalu diberikan kepada istrinya. Anna membuka amplop itu, dan tiket dilihatnya.
" What....??? Dua tiket trip ke Raja Ampat ??? mas serius kita akan ke sana ? "
Anna membulatkan mata dan menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Dia tahu betul Raja Ampat terkenal sebagai destinasi wisata yang indah. Kepulauan yang sering disebut sebagai Maldives-nya Indonesia ini, seperti ditulis dalam laman resmi Lonely Planet, menjadi salah satu gugusan pulau terindah di Asia Tenggara dan tempat ini dijuluki sebagai surga kecil di tanah papua.
" Iya sayang, kita akan menikmati honeymoon tertunda kita di sana " jawab Bagas semakin mengeratkan pelukannya.
" Terima kasih sayang " Anna berbalik lalu menciumi bibir suaminya.
Bagas membalas ciuman istrinya lebih dalam hingga sampai ke leher Anna dan memberikan tanda kiss di sana.
" Siapkan barang-barang kita sayang, kita akan berangkat besok pagi " kata Bagas mengakhiri ciumannya.
" Baiklah mas " jawab Anna lalu berjalan menuju kamar, mengemas pakaian dan barang-barang lain yang akan dibawanya.
Bagas terus menatap wajah ayu istrinya, kecantikan istrinya mampu membuat malu rembulan malam yang terlihat bersembunyi dibalik awan.
" SubhanAllah..!! cantiknya dirimu sayang " gumam hati Bagas. Ia menghampiri istrinya.
" Apa semuanya sudah siap sayang ? " tanyanya.
" Sudah sayang " Anna menjawab disertai anggukan kepala.
" Kalau gitu, mari kita sholat Isya dulu lalu tidur lebih awal sayang " Bagas menuju kamar mandi untuk berwudhu dan Anna mengikutinya dari belakang.
*********
Pukul 09.00 pagi, Anna dan Bagas telah sampai di bandara.
Mereka akan ikut penerbangan pertama dari maskapai Wings air. Penerbangan dari Bandara Domine Eduard Osok, Sorong, menuju Bandara Marinda Raja Ampat akan menempuh perjalanan selama 30 menit. Ini adalah pengalaman pertama bagi Anna naik pesawat yang lebih kecil dari biasanya. Dia merasa sedikit gugup dan wajahnya terlihat pucat. Bagas jadi khawatir dibuatnya.
" Wajahmu pucat banget, apa kamu baik-baik saja sayang ?? tanya Bagas sambil menggenggam tangan istrinya erat.
" Sedikit takut mas " Anna balas memegang erat tangan suaminya.
Bagas membawa istrinya ke dalam pelukannya.
" Tidak lama kok sayang, kita baca doa dulu, kemudian pejamkan mata dan bersandar lah di sini "
Bagas menepuk lengannya. Anna mengikuti arahan suaminya. Hingga setengah jam berlalu mereka telah sampai di tempat tujuan. Bagas tersenyum menatap istrinya yang masih dengan posisi mata terpejam memeluk lengannya.
__ADS_1
" Sayang... kita sudah sampai "
Bagas mengelus pipi istrinya. Anna pelan-pelan membuka matanya lalu tersenyum menatap ke arah Bagas.
" Alhamdulillah mas "
Anna mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Mereka lalu turun dan mencari penginapan yang dekat dari destinasi wisata. Hari itu mereka memilih untuk istirahat dulu agar kondisi fisik mereka lebih sehat dan fit agar bisa lebih menikmati liburan mereka.
********
Keesokan harinya mereka akan berpetualang atau hopping island menggunakan kapal. Bagas mengumpulkan orang yang memiliki tujuan yang sama dengannya agar biaya sewa kapalnya bisa didapat lebih murah.
" Permisi.. bapak mau hopping ke pulau sana juga k ? kalau mau, bagaimana kalau kita bareng saja karena saya cuma berdua dengan istri saya, nanti tarif kapalnya kita bisa bagi dua " tanya Bagas kepada salah seorang wisatawan yang hendak menyewa kapal bersama keluarganya.
" Boleh bapak, mari silahkan, kita bicara dulu sama pemilik kapalnya "
" Siap bapak " jawab Bagas lagi. Mereka pun bernegosiasi dengan pemilik kapal.
Sesaat kemudian, mereka telah berada di atas kapal. Empat pulau utama yang berada dikawasan Raja Ampat, menjadi tujuan mereka. Empat pulau tersebut adalah Batanta, Misool, Salawati dan Waigeo. Bagas dan Anna terpaku melihat keindahan pulau tersebut. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri.
" MasyaAllah cantiknya, SubhanAllah... Pemandangan ini begitu menakjubkan mas " decak kagum keluar dari bibir Anna, matanya berbinar-binar menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Bagas tersenyum-senyum menatap istrinya.
" Nikmatilah sayang, semoga kamu bahagia " Bagas memeluk isterinya.
" Terima kasih mas "
" Sama-sama sayang " jawab Bagas semakin mengeratkan pelukannya.
Hingga sore hari Anna dan Bagas baru kembali ke hotel tempat mereka menginap. Mereka tidak lupa menjajal aneka kuliner khas Raja Ampat. Bagas begitu menikmati makanannya namun berbeda dengan Anna yang terlihat tidak bersemangat melihat makanan yang tersaji di atas meja.
'' Kok tidak dimakan sayang ? " tanya Bagas saat melihat Anna hanya mengaduk makanan yang ada di hadapannya.
" Saya tidak berselera mas, mau kembali ke kamar saja " jawab Anna dengan wajah yang sudah teramat pucat dan lemas.
" Makanlah sedikit saja sayang, seharian kamu hanya makan roti dan camilan saja, nanti malah tidak bertenaga "
" Saya kenyang mas, saya sungguh tidak mau makan " Anna menggelengkan kepalanya.
" Baiklah kalau gitu, ayo kita kembali ke kamar sayang, mas khawatir kamu kenapa-kenapa "
" Mas sudah kenyang sayang, ayo kita ke kamar "
Bagas berdiri dan memapah istrinya, mereka lalu kembali kamar. Bagas membaringkan Anna di kasur lalu menyelimutinya.
" Tidurlah sayang, besok pagi kita akan kembali ke Sorong "
Bagas mengelus kepala istrinya yang terlihat pucat.
" Apa kamu baik-baik saja sayang ? apa ada yang sakit ? " tanya Bagas kembali.
" Saya baik-baik saja mas, cuma sedikit pusing, tidurlah di sini mas " jawab Anna seraya menepuk sisi kasur di sebelahnya.
Bagas menuruti keinginan istrinya. Dia ikut berbaring di atas kasur. Anna lalu memeluk Bagas, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya dan tertidur di sana.
Foto Indahnya pemandangan serta kuliner yang ada di Raja Ampat 👇
*********
Azan subuh telah berkumandang, Bagas bangun dan bergegas ke kamar mandi. Dia mandi di sana lalu berwudhu kemudian melaksanakan sholat subuh. Dia enggan membangunkan Anna yang masih terlelap karena melihat istrinya sedang kurang sehat. Usai sholat Bagas mengaji sebentar lalu ikut berbaring kembali di kasur. Dia menatap wajah Anna dan sesekali mengelus rambut istrinya.
Sesaat kemudian, Anna membuka mata karena merasa ada sesuatu yang bermain di area-area sensitifnya.
" Geli mas.... " Dia mendesah.
" Selamat pagi sayang " ucap Bagas menghentikan aktivitasnya dan sebuah ciuman mendarat di bibir istrinya.
__ADS_1
" Selamat pagi mas, kenapa mas tidak tidak bangunin untuk sholat ? " Anna menatap dalam manik mata suaminya.
" Kamu terlihat kurang sehat sayang, yuk bangun mandi terus kita sarapan "
Bagas lalu mengangkat tubuh istrinya masuk ke kamar mandi. Dia menyiapkan air hangat kemudian memandikan istrinya. Anna hanya mengikuti saja dan menikmati setiap perlakuan lembut Bagas padanya.
Setelah bersiap, mereka keluar untuk sarapan sebelum check out dari hotel. Anna masih belum bisa makan dan keadaannya semakin tidak baik-baik saja. Dia terlihat pucat sekali. Hanya bisa minum saja karena merasa perutnya tidak enak.
'' Makanlah sayang, sedikit saja karena dari kemarin kamu belum makan apa-apa " bujuk Bagas seraya mengarahkan makanan ke mulut istrinya.
" Perasaanku tidak enak mas, sepertinya masuk angin, saya tidak selera makan nasi, mau makan roti saja ya "
Anna meraih roti yang ada di atas meja lalu memaksakan diri untuk memakannya karena ia tidak mau Bagas khawatir padanya.
" Baiklah sayang... ini minumlah teh hangat ini sampai habis "
Bagas menyodorkan secangkir teh dan Anna pun meraihnya.
" Terima kasih mas "
" Sama-sama sayang " jawab Bagas dengan mata yang terus menatap istrinya.
Usai sarapan, mereka meninggalkan hotel menuju bandara. Sekitar sejam perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di Asrama Batalyon. Tiba di rumah, Anna tidak bisa menahan lagi rasa mual dan berlari ke kamar mandi. Bagas mengikutinya dari belakang.
" Hoek.. Hoek.. Hoek "
Anna terus memuntahkan semua isi perutnya hingga dia nampak sudah sangat lemas. Bagas terus memijit tengkuk dan menyeka keringat istrinya.
" Kita ke dokter ya sayang " Bagas terlihat sangat khawatir.
" Saya tidak apa-apa mas, ini cuma masuk angin saja "
Anna tersenyum menguatkan diri. Dia kemudian berdiri dan hendak berjalan ke kamar namun kepalanya terasa pusing sekali lalu dia terkulai tidak sadarkan diri. Beruntung Bagas masih di sana dan dengan sigap menangkap tubuh istrinya.
" Sayang.... bangun sayang... "
Bagas menepuk pipi Anna namun tidak ada respon. Dia lalu membawa istrinya ke KSA (Kamar Sehat Anggota / tempat Pelayanan Kesehatan di dalam Asrama Batalyon) dibantu oleh Pratu Imron.
" Gimana keadaan istri saya dokter ? " tanya Bagas setelah dokter memeriksa Anna.
Dokter terdiam sejenak, kemudian tersenyum menatap ke arah Bagas.
" Ijin.. Istri danki tidak apa-apa, hanya kelelahan saja, saran saya nanti setelah ibu bangun silahkan melakukan tes urine menggunakan tes pack, sepertinya ibu sedang hamil. Untuk lebih jelasnya lagi nanti segera menemui dokter kandungan saja " Jelas dokter Chandra yang juga adalah seorang TNI_AD namun menjabat sebagai dokter.
" Benarkah istri saya hamil dok ? " Bagas tidak sadar langsung memeluk dokter Chandra.
" Ini menurut hasil pemeriksaan saya danki tapi nanti langsung bawa ibu ke dokter kandungan saja dan tolong lepaskan pelukan danki dari tubuh saya "
" Oh iya.. maaf, maaf dokter " Bagas lalu melepaskan pelukannya dengan senyuman malu.
" Hahahaha hahaha " Gelak tawa mereka terdengar sampai keluar ruangan.
" Terima kasih dok " kata Bagas kemudian sebelum dia keluar dari ruangan dokter.
" Ijin, sama-sama Danki " jawab dokter Chandra disertai anggukan kepala.
Bagas menuju ruangan perawatan Anna, saat muncul di depan pintu ia melihat istrinya hendak turun dari ranjang pasien.
" Mau kemana sayang ? " Bagas berjalan cepat mendekati Anna.
" Mau ke kamar mandi mas, mau buang air kecil, kenapa saya bisa ada di sini mas ? ''
" Kamu tadi pingsan sayang jadi mas bawa ke sini karena khawatir "
" Kita pulang yuk... Saya tidak mau di sini mas "
Anna terlihat kesal dan mencoba untuk melepas cairan infus yang terpasang di tangannya.
" Sayang... tolong jangan dilepas, biarkan cairannya habis dulu baru kita pulang, mari mas bawa ke kamar mandi dulu "
" Saya mau buang air kecil di rumah saja, saya bilang saya mau pulang, saya tidak suka dirawat seperti ini, tolong minta perawat untuk lepaskan ini atau saya yang akan lepaskan sendiri " ucap Anna sedikit membentak.
Bagas menarik nafas dalam-dalam lalu menhembuskannya kasar, dia mencoba menahan emosi yang membuncah di dadanya, dia ingin marah karena kelakuan istrinya yang seperti anak kecil namun dia berusaha menahannya, dia tahu istrinya sedang hamil dan mungkin sifat istrinya sekarang adalah bawaan dari kehamilannya.
__ADS_1
Bagas kemudian menuruti semua keinginan Anna, dia meminta mantri untuk melepaskan cairan infusnya. Keinginan untuk memberitahukan kabar bahagia tentang kehamilan istrinya itu dia urungkan dan memilih membawa istrinya pulang ke rumah dalam diam. Hingga sampai di kamar, mereka tidak saling bicara sepatah kata pun.