
Hari berlalu begitu cepat besok Bagas akan kembali ke tempat tugasnya, malam ini Bagas dan Anna janjian untuk makan malam di luar, tepat pukul 07.00 mereka telah bersiap dan sebelum berangkat mereka berpamitan kepada ibu Rani.
Mereka terlihat canggung karena ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua, di meja makan sebuah restoran mereka hanya diam dan sesekali saling bertukar pandang, mereka menghabiskan makanan yang telah mereka pesan, selesai makan bagas mengeluarkan sesuatu dari saku celananya sebuah kotak yang berisi sebuah cincin bertabur berlian, diambil cincin itu dan diraih tangan Anna.
" Malam ini, saya ingin mengatakan dengan segenap kerinduanku. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Jadilah pendamping hidupku. Saya sudah menunggu saat ini dalam waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, saya butuh banyak waktu mencari keberadaan dirimu, terus bermunajat pada Tuhan agar dipertemukan dengan wanita yang akan menjadi jodohku. Berkali-kali saya bertemu dengan banyak wanita dan berkali-kali pula tak ada getaran di hatiku hingga akhirnya saya menemukanmu dan memilihmu, maukah kau menikah denganku dek Anna ?? '' Bagas menatap wajah Anna.
Begitu lama Bagas menanti dan satu kalimat yang keluar dari mulut Anna.
" Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang saya menerima lamaran mas Bagas''
Bagas tersenyum bahagia dan disematkan cincin itu di jari manis milik Anna. Moment ini membuat Anna terharu, ia tak kuasa menahan air matanya.
" cantik, Terima kasih mas, sebenarnya mas tidak perlu seperti ini "
" apa kau menyukainya ? ini sama sekali tak merepotkan dek "
" Oia dek Anna.. besok saya akan berangkat kembali ke tempat tugas mungkin sebulan lagi baru saya akan datang menjemputmu untuk menghadap nikah dinas bersama" sambung Bagas lagi.
" baik mas, Insya Allah saya akan persiapkan diri saya "
'' kalau gitu, mari kita pulang dek " Bagas bangkit dari duduk dan meraih tangan Anna. Mereka berjalan beriringan keluar dari restoran.
******
__ADS_1
Selama dalam perjalanan, mereka hanya diam hingga akhirnya sampai lah mereka di rumah.
Anna melepaskan sabuk pengaman dan hendak membuka pintu mobil untuk keluar namun tangannya ditarik oleh Bagas, tanpa aba - aba dan komando Bagas mendaratkan ciuman di bibir Anna, Bagas ********** dan terus ******* bibir Anna yang terasa manis sekali, Anna berusaha memberontak namun bagas terus menekan tengkuk Anna, hingga sesaat kemudian Anna mendorong dada bagas karena ia hampir kehabisan nafas.
" maaf '' hanya itu yang bisa Bagas ucapkan.
Anna segera turun dari mobil dan berjalan tergesa masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamar dan menutup pintunya, ia kaget bukan main, serasa jantungnya berdegup kencang, badannya gemetar, nafasnya memburu seperti habis berlari karena melihat hantu, ia terus memegangi bibirnya.
" apa - apaan ini ? kenapa mas Bagas melakukannya ? apa ia tidak bisa bersabar menunggu sampai halal dulu ? " gerutu Anna dengan kesal, ia melempar tasnya ke meja rias.
tok.. tok.. tok, suara pintu diketuk.
" dek.. tolong buka pintunya, mas mau bicara sebentar " terdengar suara Bagas dari luar namun tak dihiraukan oleh Anna, dalam hatinya ia masih merasa jengkel dengan kelakuan Bagas.
" Astagfirullah... " itulah yang terus diucapkan Bagas yang sedang frustasi karena tidak bisa bicara dengan Anna.
Di kamarnya ia mengusap wajahnya kasar, berkali - kali ia menghantam dinding dengan kepalan tangannya, ia merutuki kelakuannya karena tak bisa bersabar sedikit saja, ia menyesal & kecewa pada dirinya sendiri. Ia takut Anna akan marah padanya dan berpikir buruk tentang dirinya, padahal ciuman itu juga adalah pengalaman pertama baginya.
Entah berapa lama Bagas berdiri di depan cermin, terus memandangi wajahnya hingga akhirnya ia memutuskan naik ke kasur untuk tidur karena besok ia akan melakukan perjalanan kembali ke tempat tugasnya.
****
Pagi - pagi seperti biasa, sarapan sudah tersaji di meja makan. Anna sudah terbiasa bangun pagi dan melakukan segala pekerjaan rumah, ia sudah terbiasa hidup mandiri dan kemandiriannya itu memberikan nilai plus dalam kehidupannya selama ia kuliah dan meniti karirnya. ia sadar kalau ia bukan orang yang berada jadi ia tak boleh menjadi gadis yang manja.
__ADS_1
Pagi itu, ia menyajikan menu baru ikan gurami goreng tepung dengan saos asam manis dan sambel goreng kentang dengan tambahan udang cincang, hingga siapa saja yang melihatnya akan menelan liur sendiri saking wanginya.
Anna tersenyum puas, baru saja ia hendak kembali ke kamar tiba - tiba saja Bagas sudah berdiri rapi di hadapannya, niat hendak menghindari Bagas diurungkannya karena berhubung hari ini Bagas akan berangkat.
Anna menunduk di hadapan Bagas, ia tidak berani menatap wajah calon suaminya, ia masih merasa malu dengan kejadian semalam.
'' selamat pagi dek.. maaf atas kejadian semalam, mas khilaf, mas janji tidak akan mengulanginya sampai kita telah sah menjadi suami istri " kata Bagas sambil duduk di kursi meja makan, Anna hanya menjawab dengan anggukan kepala.
" wah.. masakan nak Anna wangi sekali, tercium sampai ke kamar ibu, ibu sudah tidak sabar untuk mencicipinya" ibu Rani berjalan menuju meja makan dan duduk di sebelah anna, tak lama kemudian Rista pun ikut bergabung. mereka sangat menikmati sarapan pagi ini.
Usai sarapan Bagas menuju kamar mengambil barang - barangnya dan meminta pak Hasan untuk membawanya ke mobil, hanya pak Hasan yang akan mengantarnya ke bandara, ia berpamitan kepada ibunya juga adiknya, mencium adiknya yang menggelayut manja dalam pelukannya kemudian beralih memeluk ibu rani, mencium punggung tangan ibunya dan terakhir berpamitan kepada Anna.
" mas bagas berangkat ya dek, sampai jumpa bulan depan " Bagas menatap dan mengusap pucuk kepala anna.
" iya mas, selamat sampai tujuan ''
" Insya Allah.. Aamiin, Assalamu 'alaikum " bagas berjalan masuk ke mobil.
" Wa'alaikum salam " jawab Anna, ibu Rani dan Rista bersamaan.
Belum juga sampai tujuan, Bagas dan Anna sudah merasakan kesedihan dalam hatinya, mereka merasa ada yang hilang dalam hidupnya, terus saling mengingat wajah, ingin selalu terus bersama, jika ini yang dinamakan rindu ternyata memang betul rindu itu berat.
mereka tak yakin kapan itu dimulai, yang mereka tau pasti adalah bahwa di sini dan saat ini mereka saling ingin bertemu, mereka saling merasakan getaran di dalam hati mereka dan mungkin inilah yang dikatakan cinta.
__ADS_1
Jatuh cinta tak pernah ada dalam rencana mereka sampai pada hari ini mereka menyadari bahwa mereka telah saling jatuh cinta.