
Walau kita sadar tak ada yang kekal dan abadi, tetapi cinta Anna dan Bagas tak pernah surut, tak luruh oleh waktu, tetap mekar meski ujian beberapa kali datang menghadang. Cinta mereka adalah bukti adanya keajaiban cinta. Mereka mampu meredam segelintir luka, amarah, kecewa dan rasa sakit hati dengan cinta, ketulusan dan kesabaran, hingga akhirnya mereka bersatu kembali.
Mendengar kabar bahwa Bagas telah kembali sontak membuat kerabat serta sahabat Bagas juga rekan kerja Anna penasaran. Hari itu sedang digelar acara syukuran untuk Bagas di kediaman Ibu Rani, sungguh ramai dihadiri tamu. Semua keluarga, teman, rekan kerja Bagas dan Anna datang berkunjung.
Tidak cukup hanya melihat, mereka pun mendengar kembali cerita memilukan saat Bagas betugas dan bagaimana ia mampu bertahan hingga selamat dari maut. Semua yang hidup pasti akan mengalami kematian, namun selamat dari maut adalah sebuah kesempatan besar yang telah Allah berikan.
" Siapa pun itu, pasti pernah mengalami sebuah ujian hidup. Namun jangan pernah berhenti untuk berjuang, bertahan dan bersabar karena dibalik semua itu akan ada sesuatu yang sangat bermakna, terima kasih untuk doanya semua, berkat doa dan dukungan kalian, saya akhirnya bisa kembali dengan selamat ". Bagas mengakhiri sambutannya.
Anna tersenyum menatap suaminya, Bagas lalu memeluk Istrinya.
" Terima kasih sayang, untuk semua cinta yang telah engkau berikan, kamu adalah istri dan ibu yang hebat. Kekuatan, ketulusan, kesabaran dan kesetiaanmu sungguh luar biasa. Terima kasih atas setiap dukungannya ibu persitku ".
" Sama-sama mas, terima kasih karena telah kembali, I Love U suamiku "
" I Love U to Istriku ". Bagas mendaratkan kecupan di kening istrinya.
Semua orang bertepuk tangan, Karina yang juga hadir di sana ikut bahagia melihat kebahagiaan Bagas. Begitu juga dokter Rahadian yang menaruh hati pada Anna terlihat tersenyum menyaksikan apa yang terjadi di hadapannya. Baik Karina maupun dokter Rahadian sama-sama sadar bahwa cinta itu tidak selamanya harus saling memiliki, dengan melihat orang yang kita cintai bahagia maka kita pun akan merasa bahagia.
" Maaf.. apa saya boleh duduk di sini ? ". Dokter Rahadian menghampiri Karina yang terlihat menyendiri.
Karina hanya mengangguk.
" Maaf.. apa ada masalah ? kenapa kamu memilih duduk sendiri di sini ? ". Tanya dokter Rahadian lagi.
" Oh... Saya hanya sedang mencari angin di luar, kamu sendiri kenapa keluar ? "
" Sama... saya juga sedang mencari angin, di dalam terasa panas sekali, oia.. saya Rahadian ". Dokter Rahadian mengulurkan tangannya.
__ADS_1
" Saya Karina ". Karina menjabat tangan dokter Rahadian.
Mereka lalu mengobrol satu sama lain.
****************
Sementara di dalam rumah, semua orang terlihat menikmati makan malam yang telah disediakan sambil sesekali bercengkrama, bercanda tawa. Pratu Imron yang juga hadir bersama istri masih saja terus mewawancarai Bagas layaknya seorang reporter yang telah menemukan berita eksklusif.
" Ijin Danki.. kami masih mau mendengarkan cerita saat Danki masih belum sadarkan diri, kami penasaran, ayolah.. Danki tolong ceritakan lagi ". Rengek Pratu Imron sambil memegang tangan Bagas layaknya seorang anak yang meminta dibelikan sesuatu.
" Sudahlah Imron, itu sungguh mengerikan, apa kamu sanggup mendengarnya ? Nanti saya akan buatkan filmnya atau saya tulis menjadi sebuah novel agar kau bisa membacanya berulang-ulang, kau ini masih saja seperti ini, sekarang ceritakan tentang dirimu, sudah berapa anak anakmu dan apa pangkatmu sekarang ? ". Bagas kembali bertanya.
" Ijin siap, anak kami baru satu dan pangkat kami sekarang sudah naik setingkat lebih tinggi. Sekarang sudah pangkat Praka (Prajurit Kepala) "
" Luar biasa.. Bagus Imron, pertahankan terus keahlianmu, nanti kita akan satgas di Libanon lagi ". Kata Bagas dengan tegas sambil menepuk pundak Pratu Imron.
" Ijin, siap Danki ".
" Ijin, Siap danki ". Pratu Imron menjawab dengan suara lantang disertai dengan hormat.
Anna dan Suster Dwi tersenyum melihat tingkah Pratu Imron.
" Om Imron dari dulu masih saja seperti itu, dia sangat dekat dengan Bagas, semoga mereka berdua selalu diberi umur yang panjang dan kelancaran dalam bertugas, suster Dwi juga semoga sehat-sehat terus ya dan selalu setia mendampingi suami dalam menjalankan tugas ". Ucap Anna.
" Aaminn.. Ijin.. terima kasih dokter, dokter juga ya, semoga dokter beserta keluarga selalu bahagia dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT ". Suster Dwi memeluk Anna.
" Aamiin.. terima kasih ya sus.. "
__ADS_1
" Sama-sama dok "
Anna tersenyum menatap satu persatu orang yang ada di sekelilingnya. Betapa berharganya mereka bagi dirinya. Betapa bahagianya Anna telah memiliki Bagas. Kasih sayang Bagas beserta keluarganya begitu besar dan hangat padannya. Memutuskan untuk menerima Bagas menjadi suaminya adalah pilihan yang tepat, dia tidak pernah ragu atau pun berniat untuk mundur. Menjadi istri seorang prajurit memberinya banyak pengalaman dan pelajaran yang sungguh berharga. Ibu Persit adalah wanita pilihan, wanita yang hebat dan luar biasa. Wanita yang berhati mulia, yang tulus dan memiliki kesabaran yang tinggi, mereka paham bahwa suaminya terikat Sapta Marga TNI dalam menjalankan tugas sehari-harinya. Mereka selalu mendorong suaminya ke medan juang dan siap menerima kemungkinan buruk yang akan terjadi. Siapa pun kalian yang telah menikah atau pun yang baru akan menjadi Ibu Persit, berbangga hati lah karena kalian adalah wanita yang luar biasa, wanita yang hebat dan tangguh. Kalian adalah wanita yang lain dari pada yang lain. Kalian adalah yang terbaik.
...TAMAT...
..
* Visual Dokter Rahadian 👇
* Visual Dokter Salman 👇
..
..
Para pembaca yang budiman.
Author mengucapkan,
Terima kasih karena telah mengikuti cerita "Istri Seorang Prajurit", hingga selesai.
Nantikan karya kami selanjutnya.
__ADS_1
Salam cinta selalu dari author.
🙏🙏🙏😘😘😘😘😘