ISTRI SEORANG PRAJURIT

ISTRI SEORANG PRAJURIT
BERTEMU KEMBALI


__ADS_3

Para pembaca semua,


terima kasih ya yang masih tetap setia mengikuti kisah "Istri Seorang Prajurit".


episode kali ini adalah pertemuan kembali Anna dengan Bagas suami tercinta.


kira-kira seperti apa ya ? tetap diikuti ya ceritanya,


jangan lupa like dan vote nya, serta saran dan kritik untuk perbaikan karya author.


sekali lagi terima kasih 🙏🙏🙏😘😘😘


..


..


..


..


" Kak Anna.. aku minta maaf ya atas kejadian semalam, aku sangat menyesal telah mengucapkan perkataan yang telah menyakiti hati kakak. Tolong maafkan aku ya kak, kak Anna bisa pulang sekarang tidak, ada sesuatu yang terjadi di rumah. Arsya meminta kakak untuk pulang cepat ". Terdengar suara Rista dibalik telpon.


" Iya dek, tidak apa-apa. apa yang terjadi di rumah ? apa semua baik-baik saja ? ". Anna terlihat khawatir.


" Semua baik-baik saja kak, tapi Arsya meminta kakak untuk pulang cepat, kita tunggu sekarang ya, nyetirnya pelan-pelan kak, Assalamu 'alaikum "


" Wa'alaikum salam ". Secepat kilat Anna meraih tas di meja lalu minta ijin untuk pulang ke rumah.


Dengan kecepatan tinggi, Anna melajukan mobilnya menuju rumah. Setelah sampai, ia segera berlari masuk ke dalam sambil berteriak memanggil nama anaknya.


" Arsya... Arsya... Arsya.. ". teriak Anna.


Mendengar suara ibunya memanggil, Arsya segera menghampiri ibunya yang sudah berdiri di hadapan pintu.


" Ibu... ". Arsya memeluk ibunya.


" kakak baik-baik saja ? ". Anna memeriksa seluruh tubuh putranya.


" Arsya baik-baik saja bu, Arsya meminta ibu cepat pulang karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan ibu "


" Seseorang ?? Siapa sayang ?? apa ada tamu yang datang ?? "

__ADS_1


" Iya bu, ada tamu istimewa, ayo ikut Arsya masuk ke dalam tapi mata ibu ditutup ya, jangan dibuka sebelum Arsya minta ".


" Baiklah sayang ". Anna lalu memejamkan mata, kemudian Arsya menarik tangan ibunya ke arah Bagas.


" Sekarang, ibu boleh buka mata ". Pinta Arsya.


Anna membuka mata perlahan. Dilihatnya wajah Bagas, suami yang begitu dirindukannya. Ia merasa tidak percaya bisa bertemu kembali dengan suaminya. Seperti bom atom yang tiba-tiba meledak di dalam dadanya. Meluluh lantakkan kerinduan yang telah membeku di dalam hatinya. Dadanya mendadak terasa sesak seiring air mata yang mengalir deras. Anna tidak bisa berkata apa-apa, mulutnya terasa kaku untuk berucap. Ia melangkahkan kaki lebih dekat ke arah Bagas. Dengan tangan gemetar, dipegangnya wajah suaminya. Lalu perlahan badannya lemas seketika ia pun terkulai tidak berdaya.


" Sayang... Bangun sayang, sayang ". Bagas terlihat panik.


" Ibu.. Ibu.. ayah, ibu kenapa ?? ". Arsya histeris.


" Sini sama aunty sayang, ibu tidak apa-apa, kita sama om Arya keluar beli es cream ya ". Rista lalu membawa Arsya keluar agar lebih tenang.


" Tidak apa-apa bro, dia hanya terkejut saja, sama seperti ibu tadi, sebentar lagi dia akan sadarkan diri ". Salman menepuk pundak Bagas.


" Bawa istrimu ke kamar nak, dia butuh istirahat ". Perintah Ibu Rani.


" Baik bu... Kalo gitu, saya akan bawa Anna ke kamar, mengobrol lah bersama ibu di sini ".


" Siap ".


Salman kembali duduk di samping Ibu Rani, sedangkan Bagas membawa Anna ke kamar mereka. Ia membaringkan istrinya di atas kasur, lalu terus menggosok telapak tangannya. Air matanya terus berjatuhan.


" Mas.. apa saya tidak sedang bermimpi ?? ". Suara Anna terdengar begitu lemas.


" Sayang.... kamu sudah bangun ?, kamu tidak bermimpi sayang. Ini beneran mas, mas telah kembali, mas menepati janji mas untuk kembali dengan selamat ".


" Kenapa mas melakukan ini ? Kenapa mas begitu tega ?? Saya seperti mayat hidup mas, sedetik waktu bagaikan seabad menjalaninya. Semangat untuk hidup seakan ikut gugur di hari berita kematian mas diumumkan. Seperti Bunga yang telah layu dan hampir mati perasaanku. Hatiku hancur mas.. Hiks... Hiks ". Tangis Anna pecah.


" Sayang... Tolong maafkan mas, mas sangat mengerti perasaanmu, mas juga begitu merindukanmu, namun sesuatu telah terjadi dengan tiba-tiba. Beruntung mas masih bisa selamat dari maut dan bahkan mas tidak menyangka bisa hidup kem...."


" Cukup mas.. Saya tidak sanggup mendengarnya lagi, penantian saya tidak seberapa dibanding penderitaan yang telah mas lewati, terima kasih karna mas tetap berjuang untuk hidup, terima kasih suamiku, terima kasih... ''. Anna memeluk erat suaminya. Begitu juga dengan Bagas, ia memeluk istrinya lebih erat.


Mereka menangis bersama menumpahkan segala kesedihan. Bagas menatap lekat istrinya.


" Kamu terlihat kurusan sayang, apa orang rumah tidak memberimu makan ?? ". Tanya Bagas.


" Apa ?? Tentu saja saya makan tiap hari mas, malah mas yang terlihat kurus "


" Saya kurus karena sudah lama tidak pernah makan masakan istri, makanan di sana tidak ada yang enak "

__ADS_1


" Benarkah ?? kalo gitu sekarang saya akan masak makanan spesial untuk mas ". Anna bangkit dari tempat tidur.


" Apa kamu baik-baik saja sayang, istirahat lah dulu ". Bagas menarik tangan Anna dan membawanya ke dalam pelukannya.


" Saya baik-baik saja mas, ayo kita keluar, semua orang menunggu kita di luar "


" Tunggu sebentar sayang, mas begitu merindukanmu ". Bagas semakin mengeratkan pelukannya. Sebuah ciuman dilayangkan di bibir tipis istrinya, semakin dalam dan semakin dalam Bagas melakukannya.


" Sudah mas, nanti kita bisa lanjutkan lagi, yuk kita keluar ". Anna menghentikan aktivitasnya karena jika semakin lama membiarkannya, Bagas pasti tidak bisa menahan hasratnya.


" Baiklah sayang. Bagas sabar... sabar.... ". Bagas mengelus dadanya.


" Ha..ha..ha.. Yuk mas...". Anna tertawa, dengan cepat ia menarik tangan suaminya untuk keluar dari kamar.


Bagas dan Anna ikut duduk di sofa ruang tamu.


" Oia.. Sayang, perkenalkan.. ini Salman. Dia yang menyelamatkan hidup mas. Dia juga adalah seorang dokter "


Salman mengulurkan tangan, Anna pun menyambutnya.


" Salman "


" Anna "


Mereka saling berjabat tangan, lalu duduk kembali.


" Terima kasih dok karena telah menyelamatkan suami saya, kami berhutang budi pada dokter ". Ucap Anna kemudian.


" Saya juga sangat berterima kasih, berkat Bagas akhirnya saya bisa keluar dari sana dan bisa kembali lagi ke Indonesia ". Kata Salman, kemudian ia menceritakan kembali awal pertemuannya dengan Bagas hingga mereka tiba di Indonesia.


" Hari itu, saya keluar untuk membeli bahan makanan. Saat perjalanan pulang, saya melihat seseorang tergeletak di tepi sungai. Dia adalah Bagas, sepertinya Bagas jatuh dari jurang dan terseret arus sungai yang deras. Keadaannya sangat memperihatinkan. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Ada luka tembakan juga luka benturan saat ia terjatuh. Saat memeriksanya ternyata dia masih hidup. Saya lalu membawa Bagas ke tempat saya, kemudian berusaha mengobati lukanya. Setahun lamanya ia tidak sadarkan diri, karena pengobatan sederhana juga peralatan yang seadanya yang jadi alasannya. Saya juga tidak bisa membawanya ke rumah sakit dikarenakan saya sedang dalam pencarian. Saya adalah seorang dokter yang cukup terkenal di Kongo, tapi ijin praktek saya dicabut dan rumah sakit mengeluarkan saya atas tuduhan malapraktik. Saya difitnah lalu dituduh telah memberikan ijin operasi pada salah seorang dokter residen, padahal ada seseorang yang memalsukan tanda tangan saya. Tidak ada yang bisa menyelamatkan saya karena bukti-bukti semua mengarah ke saya. Akhirnya saya memilih untuk bersembunyi sambil mencari fakta bahwa saya tidak bersalah. Tuhan begitu baik karena telah mempertemukan saya dengan Bagas, setelah Bagas sadar dari koma dan sudah pulih, dia menghadap Kedubes Indonesia di Kongo. Bagas berserta instansi terkait membantu saya mengumpulkan bukti kemudian membebaskan saya dari tuduhan dan membawa saya kembali ke negara kita, seperti itulah kami bertemu. Bagas adalah orang yang kuat, dia mampu bertahan dalam kondisi yang sangat kritis, tiap hari dia terus memanggil namamu dalam ketidak sadarannya. Kalian memiliki cinta yang begitu kuat dan itu yang membuat Bagas bisa melewati masa-masa sulitnya ". Jelas Salman.


Setitik air menetes di ujung mata Anna. Begitu Besarnya pengorbanan sang suami untuknya. Setahun lamanya Bagas tidak sadarkan diri, membayangkannya saja Anna merasa sangat terluka. Ia menggenggam erat tangan suaminya.


" Terima kasih mas, terima kasih banyak "


" Sama-sama sayang, terima kasih juga karena tetap setia menunggu mas kembali "


..


..

__ADS_1


Teruslah saling mencintai hingga kalian lupa betapa sakitnya perpisahan itu. Cinta yang sejati adalah cinta yang tetap ada meski salah satunya telah pergi namun cinta itu masih tetap bergetar hebat dan tertanam begitu kuat di dalam hati. (Mariana_adi)


__ADS_2