ISTRI SEORANG PRAJURIT

ISTRI SEORANG PRAJURIT
UJIAN CINTA 2


__ADS_3

Kini usia kandungan Anna memasuki usia 7 bulan, Anna telah mengajukan cuti lahirannya. (Setiap Ibu Persit/Istri Anggota TNI_AD yang akan meninggalkan satuan harus mengajukan ijin atau cuti dahulu pada ibu danki dan ibu ketua sebelum berangkat). Sebenarnya ia ingin mengajukan cuti saat usia kandungannya genap 8 bulan namun ada sedikit masalah pada kehamilannya jadi ia ingin lebih cepat tiba di Jakarta untuk mempersiapkan semuanya.


" Gimana kondisi bayi saya dok ? '' tanya Anna sesaat setelah melakukan USG.


" Bayi ibu sangat sehat, namun kondisi ibu tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal karena panggul ibu yang terlalu kecil (Disproporsi Cephalopelvic (CPD) dan masalah lain lagi yaitu letak plasenta yang menutupi serviks (Plasenta Previa), ibu harus melahirkan melalui Operasi Caesar " jelas dokter Indira.


" Sama sekali tidak bisa normal ya dok ? " tanya Anna kembali.


" Sama sekali tidak bisa bu karena akan sangat berbahaya bagi ibu dan bayi, operasi caesar adalah pilihan terakhir. Semangat terus ya bu, semoga selalu diberi kesehatan hingga lahiran nanti " tambah dokter Indira.


" Baiklah dok, terima kasih banyak, saya permisi dokter, Assalamu 'alaikum "


" Sama-sama bu, Wa'alaikum salam "


Anna masih terus mengingat ucapan dokter, ada sedikit kekhawatiran di dalam hatinya. Ia ingin bercerita kepada suaminya namun sudah sebulan lebih ia menanti kabar dari Bagas namun belum juga mendapatkannya. Semua kecemasan mendadak berkecamuk di dalam fikirannya.


" Astagfirullah.... " berkali-kali Anna mengusap wajahnya sambil mengucapkan istighfar. Air matanya terus saja menetes hingga membasahi bantal yang dipakainya.


" apakah kesabaran saya harus terus diuji seperti ini ? " pekiknya lirih, ia mulai marah dengan keadaan yang dihadapinya, tanpa sadar ia melemparkan ponselnya dan mengenai cermin meja riasnya hingga kaca berhamburan kemana - mana. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya dan berusaha menenangkan dirinya.


Sesaat kemudian, Anna telah membereskan serpihan kaca yang berserakan di lantai. Ia juga telah mengemasi pakaiannya ke dalam koper yang akan dipakainya berangkat. Ia tidak memberitahukan ibu mertua serta orang tuanya sendiri kalau ia akan pulang ke Jakarta namun tidak ke rumah Bagas. Ia tidak ingin orang lain melihat keadaannya. Entah apa yang ada di dalam fikiran Anna saat ini ?. Rasa kesal, marah dan kecewa bercampur jadi satu di dalam hatinya.


*************


Pukul 07.00 pagi, dengan mobil angkutan yang ada di batalyon, Anna menuju bandara diantar oleh Om Rohmat dan ditemani oleh beberapa ibu-ibu anggotanya. Setengah jam melakukan check in, ia kemudian berpamitan kepada para ibu-ibu.


'' Ibu-ibuku tersayang, terima kasih ya karena sudah mengantarkan saya ke bandara, terima kasih juga karena selama ini telah menemani saya selama hamil tanpa bapak di sisi saya, kalian semua adalah keluarga saya, tanpa kalian semua sungguh saya tidak mungkin bisa melewati ini semua, kalian memberi saya kekuatan dan mengajarkan saya bagaimana perjuangan seorang istri prajurit dalam mendampingi suaminya di tempat tugas, saya pamit ya ibu-ibu, doakan saya sehat dan selamat hingga lahiran dan... hiks...hiks.. " Anna tak kuasa menahan air matanya, tangisnya pecah seketika. Ia tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Ibu-ibu memeluknya erat disertai air mata yang juga terus mengalir membasahi pipi mereka.


" Ijin ibu, kami akan selalu mendoakan ibu, kami pasti akan merindukan ibu, jangan lama ya bu di sana, selamat sampai tujuan dan sampai jumpa kembali " kata Bu Rohmat yang mewakili ungkapan hati dari para ibu anggotanya.


Anna mengangguk pelan lalu meraih kunci rumah dari tasnya dan diberikannya kepada Bu Rohmat.


" Saya titip kunci rumah ya bu, tolong nanti diberikan kepada bapak kalau bapak sudah kembali, sekali lagi terima kasih ya bu ''


" Ijin, siap ibu, terima kasih kembali " ibu-ibu menjawab serempak.


" Saya masuk ya, Assalamu 'alaikum " ucap Anna lagi.


" Ijin, Iya ibu.. hati-hati bu, wa'alaikum salam " lagi-lagi mereka menjawab dengan serempak.


Anna berjalan masuk ke ruang tunggu sambil sesekali melambaikan tangan ke arah ibu-ibu anggotanya. Para ibu-ibu juga membalasnya dan masih menatap ibu danki mereka hingga betul-betul telah hilang dari pandangan.


15 menit kemudian, pesawat yang ditumpangi Anna telah lepas landas. Di dalam pesawat, fikirannya terus menerawang pada sosok Bagas, entah apa yang dilakukan suamiku sekarang, bagaimana kabarnya ? apa ia sudah lupa dengan istrinya ? ya Allah... kuatkan hamba. Gumam hati Anna. Ia memejamkan mata berusaha untuk tidur tapi tidak bisa. Hingga hampir 3 jam lamanya akhirnya pesawat mendarat di bandar udara internasional Soekarno-Hatta. Anna merenggangkan tangan dan mengoleskan sedikit minyak angin di perut dan keningnya karena merasa sedikit mual dan pusing. Setelah semua penumpang telah turun barulah ia berdiri dan ikut turun dari pesawat.


Di antara para penjemput telah berdiri suster Dwi di sana, ia menunggu kedatangan Anna karena sebelumnya telah dihubungi oleh Anna untuk menjemputnya di bandara. Ia tersenyum lebar saat melihat sosok yang dinantinya berjalan ke arahnya, ia melambaikan tangannya.


" Dokter... saya di sini " teriak suster Dwi.


Anna tersenyum dan berjalan ke arah suster Dwi. Mereka saling berpelukan.


" Selamat datang kembali dokter, saya sangat merindukan dokter, dokter terlihat berbeda dan semakin cantik, selamat atas kehamilannya ya dok " kata suster dwi

__ADS_1


" Saya juga sangat merindukanmu sus, terima kasih ya sudah datang menjemput saya dan tolong bawa saya ke rumahmu dulu nanti baru saya akan ceritakan semua di sana " pinta Anna.


" Baiklah dok, ayo kita pergi " suster Dwi membawa barang bawaan Anna ke mobil lalu membawa Anna menuju kontrakannya.


****************


Sementara di tempat tugas, sudah hampir 2 bulan Bagas beserta para anggotanya melakukan operasi/patroli di hutan. Tersisa waktu seminggu lagi misi mereka harus selesai. Bagas mengatur kembali kegiatannya, agar waktu seminggu bisa dikurangi menjadi 2 hari, ia mengubah beberapa rencana awalnya dan para anggotanya menyanggupinya dan memberikan dukungan penuh.


Siang itu, Bagas memberikan arahan singkat dan para anggotanya menyimak dengan seksama.


" Semuanya !!! lakukan tugas sesuai perintah, jangan ada yang gegabah, tetap fokus dan selalu waspada, jangan lupa tetap selalu berdoa, ingat !!! ada keluarga yang selalu menanti kita kembali, lakukan yang terbaik dan selalu berhati-hati, semoga kita semua bisa kembali dengan selamat, kalian siap ?? '' tegas bagas.


" Ijin, Siap komandan !!! kami akan laksanakan perintah ". Para pasukan menjawab dengan serempak.


" Sampai di sini, apa ada yang mau mundur ? '' tanya Bagas lagi.


" Ijin.. tidak ada, kami siap laksanakan perintah " jawab mereka lagi dengan suara lantang.


" Luar biasa !!! untuk hari ini sampai di sini dulu, silahkan istirahat, Raider !!! " perintah Bagas.


" Ijin, Siap !!! Raider !!!


Mereka lalu kembali ke pos masing-masing. Bagas terlihat sangat khawatir karena belum bisa memberi kabar pada istrinya.


semoga kamu baik-baik saja sayang, maafkan mas belum bisa menghubungimu, tunggu sebentar lagi ya sayang, setelah semuanya selesai mas pasti akan menelpon dirimu.


Ucap Bagas pelan sambil menatap foto Anna yang ada di ponselnya. Bagas menghela nafas dalam. Ujian Cinta yang dijalaninya membuatnya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia menghapus matanya yang tiba-tiba berkaca-kaca.


" Saya sangat dan sangat merindukannya Imron " jawab Bagas dengan suara berat.


" Sabar danki... saya hanya bisa berdoa semoga waktu cepat berlalu dan Danki bisa berkumpul dengan ibu lagi "


" Aamiin, terima kasih Imron "


" Siap.. sama-sama danki ". Pratu Imron tersenyum. Mereka pun kembali beristirahat.


**********


Semua persiapan telah dilakukan, Bagas membagi pasukan dalam beberapa tim. Ia mengerahkan seluruh tim untuk menyisir medan. Medan yang sedikit lebih curam karena hujan yang turun dengan begitu derasnya membuat komunikasi sedikit terganggu. Sejam telah berlalu, akhirnya operasi berakhir, para musuh telah ditaklukkan dan mereka berhasil menyelesaikan misi dengan sempurna. Bagas memberi perintah agar semua tim kembali ke titik awal kumpul mereka.


" Seluruh tim kembali ke markas " perintah Bagas melalui HT (Handy Talky / Portofon) yang dipegangnya.


" Siap '' Semua bergerak kembali ke markas dan beberapa saat kemudian mereka telah berkumpul.


" Seluruh tim berhitung !!!" Perintah bagas kemudian.


" Tim Alfa berhitung " teriak Sertu Deni, ketua tim Alfa.


" Satu, "


" Dua, "

__ADS_1


" Tiga, "


" Dst....


" Ijin, Tim Alfa Lengkap " Sertu Deni berteriak kembali dan disusul Ketua Tim yang lain.


" Ijin, Tim Beta lengkap "


" Ijin, Tim Charlie lengkap "


" Ijin, Tim Delta kurang 1 Orang Danki " Sersan Agus, Ketua Tim Delta berteriak.


" Kurang siapa ? " tanya Bagas kemudian.


" Ijin, kurang Prada Arif danki "


" Baiklah.. Tim yang lain silahkan pergi ke tempat aman dulu dan berjaga-jaga di sana, saya bersama Tim Delta akan menyusul nanti, saya akan mencari keberadaan Prada Arif " kata Bagas kemudian.


" Ijin, Siap Danki " Tim Alfa, Tim Beta dan Tim Charlie meninggalkan Medan Operasi. Sementara Bagas dan Tim Delta kembali ke sasaran.


Mereka masuk kembali ke dalam hutan, setelah menyisir beberapa lokasi akhirnya mereka menemukan Prada Arif sedang dikepung oleh beberapa orang. Kakinya terkena tembakan saat ia hendak kembali ke Markas. Tim Delta bergerak sigap, terjadi perlawanan dan aksi saling tembak namun lawan berhasil dilumpuhkan. Para anggota tim membantu mengikat luka di kaki Prada Arif dan mereka bersiap kembali ke markas.


Krak... Krak...


Ketika hendak berbalik, terdengar suara ranting yang diinjak seseorang. Bagas menengok ke arah suara dan terlihat seseorang sedang mengarahkan tembakan ke arah Pratu Imron. Bagas melompat ke arah anggotanya itu.


" Awas Imron !!! " teriak Bagas


dan


Dor.....


Tembakan mengenai punggung kanan Bagas. Bagas berbalik dan membalas tembakan itu.


Dor... Dor...Dor..


Sang penembak tersungkur ke tanah dan kemudian Bagas pun ikut terkulai namun masih dalam keadaan sadar. Darah mengucur deras membasahi seragamnya.


" Danki !!! " Semua anggota Tim Delta berteriak. Sersan Agus menghubungi Tim yang lain agar menyiapkan peralatan medis untuk memberikan pertolongan pertama kepada Prada Arif dan Danki Bagas. Mereka lalu meninggalkan lokasi tempur.


Pratu Imron terus menggenggam tangan Bagas yang sudah semakin lemah.


" Danki.. saya mohon bertahanlah " kalimat itu terus keluar dari mulut Pratu Imron.


" Imron... Jika terjadi sesuatu pada saya, tolong jaga istri dan anak saya, saya titip mereka padamu, sampaikan maaf saya pada mereka uhuk...uhuk.... kamu ja.. " Bagas tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia sudah tidak sadarkan diri.


Para Reader....


Terima kasih yang masih setia membaca, silahkan berikan kritik serta saran pada kolom komentar demi perbaikan karya kami.


Mohon dukungan like serta vote nya ya.

__ADS_1


Terima kasih 🙏


__ADS_2