ISTRI SEORANG PRAJURIT

ISTRI SEORANG PRAJURIT
KEHILANGAN KONTAK


__ADS_3

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.


Gumam hati Bagas sesaat setelah ia sadar, ia tahu kalau sekarang ia sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Musibah yang menimpanya adalah kehendak Allah, semua sudah ditetapkan oleh_Nya. Ia bersyukur, Allah masih memberinya kesempatan untuk hidup kembali. Bulir air mata mengalir di sudut matanya.


Bagas mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan, dilihatnya Pratu Imron sedang duduk di sampingnya dengan kepala ditidurkan di atas ranjangnya. Bagas menepuk lengan Pratu Imron hingga ia terbangun.


" Danki sudah bangun ? tunggu sebentar, kami akan panggilkan dokter " Pratu Imron berlari memanggil dokter.


Sesaat kemudian dia telah kembali bersama dokter dan seorang perawat.


" Syukurlah bapak telah sadar, kondisi bapak sekarang sudah membaik, tekanan darah dan lain-lain sudah normal kembali, bapak hanya perlu istirahat beberapa hari lagi sampai betul-betul pulih, nanti perawat akan memindahkan bapak ke ruang perawatan, semoga lekas sembuh " jelas dokter setelah memeriksa Bagas.


" Terima kasih dokter " ucap Bagas.


" Sama-sama " jawab dokter lalu berlalu meninggalkan ruangan ICU.


Pratu Imron masih terdiam di tempatnya.


" Sampai kapan kau akan berdiri di sana ? mendekat lah kemari !! " perintah Bagas.


" Ijin, siap Danki " Pratu Imron mendekati Bagas dan duduk di kursi sebelah ranjang pasien. Ia menatap lekat wajah Bagas.


" Ijin, terima kasih karena Danki telah bangun kembali, selama Danki tidak sadarkan diri, saya seperti kehabisan nafas. Karena menyelamatkan saya, Danki sampai bertaruh nyawa " ucapnya lagi dengan suara yang terdengar serak.


" Lebay sekali kau Imron, memangnya berapa lama saya tidak sadarkan diri ? "


" Ijin, 4 hari Danki, kami sangat khawatir "


" Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan untuk tetap mengabdi sebagai ABDI NEGARA, kita masih akan berjuang bersama menjaga kedaulatan Negara Republik INDONESIA, Semangatt !!! " teriak Bagas.


" Ijin, semangatt !!! " Pratu Imron membalas dengan teriakan yang lebih keras.


" Oia.. Imron... apa kau memberitahu istri saya tentang keadaan saya ? " tanya Bagas lagi.


" Ijin, kami belum memberitahu karena kami khawatir dengan kehamilan ibu "


Bagas menghembuskan nafas lega.


" Syukur Alhamdulillah, kerja yang bagus Imron, terus ibu dan adik saya, apa mereka sudah tau ? "


" Ijin, sudah Danki, kami sudah menelpon mereka "


"Baiklah, kalo begitu tolong hubungi nomor adik saya lagi, saya ingin bicara pada mereka"


" Siap Danki " Pratu Imron lalu mengambil ponsel milik Bagas kemudian menghubungi nomor adik Bagas. Panggilan tersambung, ia menyerahkan ponsel kepada Bagas.


" Assalamu 'alaikum " terdengar Rista memberi salam.


" Wa'alaikum salam, dek.. ini abang " jawab Bagas.

__ADS_1


" Alhamdulillah, Abang sudah sadar ? kami sangat khawatir bang, gimana kabar abang sekarang ? tunggu bentar ya bang... dedek ke kamar ibu dulu " Rista berlari menuju kamar ibunya. Ia memindahkan ke mode loadspeaker lalu memberikan ponsel kepada ibunya.


" Kabar abang baik dek, Bu... Bagas sudah baikan, ibu tidak usah khawatir lagi, Bagas nya ibu akan segera kembali dengan selamat, ibu juga sehat kan di sana ? "


" Alhamdulillah nak, ibu baru merasa lega, terima kasih sayang, kamu selalu menepati janjimu kepada ibu untuk selalu menjaga diri dengan baik, ibu dan adikmu baik-baik saja di sini nak " jawab ibu Rani.


" Sama-sama bu, semua berkat doa ibu, Bagas yang selalu berterima kasih bu "


" Iya sayang, kembali kasih. Bagaimana dengan nak Anna, apa kamu telah menghubunginya nak ? seminggu lalu dia menelpon katanya dia akan lahiran di Sorong karena akan menunggu kamu pulang tugas nak "


" Bagas belum menghubunginya bu, Bagas sudah memintanya untuk ajukan cuti kembali ke Jakarta, Bagas kira dia sudah di sana bu "


" Belum nak, dia bilang akan menunggu kamu pulang, coba hubungi dia sekarang nak " pinta ibu Rani.


" Baiklah bu, kalau begitu sudah dulu ya nanti Bagas akan telpon kembali, Assalamu 'alaikum " ucap Bagas.


" Iya nak, Wa'alaikum salam " jawab ibu Rani lalu menyerahkan ponsel kembali kepada Rista.


Bagas lalu menghubungi Anna, berkali-kali ia menelpon istrinya namun nomornya tidak aktif. Kali ini ia yang merasa cemas, ia takut istrinya akan marah karena ia telah melanggar janjinya.


*************


Waktu terus berlalu. Dan kondisi Anna masih belum sadar, ia mengalami koma pasca melahirkan karena pendarahan yang dialami sebelum melahirkan mengakibatkan suplai darah ke jantung dan otak terganggu dan beberapa saraf mengalami kerusakan.


" Hubungi keluarga dokter Anna secepatnya sus, mereka harus tau keadaan dokter Anna " kata dokter Rahadian.


" Kita tidak tau sampai kapan dokter Anna akan seperti ini, tapi dukungan dari keluarganya sangat penting, antar bayinya setiap hari untuk bertemu dengannya sus, semoga dokter Anna bisa merespon suara dan sentuhan bayinya dan dia bisa sadar secepatnya " kata dokter Rahadian lagi


" Baiklah dok, saya akan selalu menjaganya di sini, terima kasih "


" Sama-sama sus, saya permisi dulu ''


Suster Dwi mengangguk, lalu dokter berlalu pergi.


" Ya Allah... Hamba memohon kepada_Mu dengan segenap jiwaku, tolong sadarkan lah dokter Anna dari komanya, dia adalah wanita yang baik ya Allah... saya sangat menyayanginya, dia telah banyak mengalami penderitaan, tolong jangan tambah lagi masalah dalam hidupnya, hatiku hancur melihat keadaannya yang seperti ini, kuatkan dia ya Allah... " suster Dwi berdoa di dalam hatinya. Ia sungguh tidak mengerti dengan keadaan di hadapannya, yang bisa dia lakukan hanya berdoa dan membantu seadanya.


Suster Dwi berjalan menuju ruang NICU, ia mendorong incubator menuju ruangan ICU tempat Anna dirawat. Ia mengangkat bayi mungil itu lalu membaringkannya di atas dada Anna.


" Dok, bangunlah... tolong buka mata, anak dokter membutuhkan dokter, rasakan sentuhan tangan lembutnya dok, dia masih sangat kecil, tolong jangan biarkan dia seperti ini " ucap suster Dwi setengah merintih. Beberapa menit ia biarkan bayi itu terbaring di sana namun Anna tidak ada respon sama sekali. Ia mulai menyerah dan membawa kembali bayi Anna ke ruang perawatan.


**************


Hingga waktu bergulir begitu cepat, hari terus berganti hari dan seminggu telah berlalu. Belum juga ada kabar dari Anna, untuk kesekian kali Bagas menghubungi nomor Anna namun hasilnya masih sama, nomornya masih tidak aktif. Bagas betul-betul kehilangan kontak dengan istrinya. Apalagi saat tiba di Sorong, ia mendapat kabar kalau istrinya telah mengajukan cuti dan telah berangkat ke Jakarta, ia merasa semakin sesak dadanya. Ketakutan dan fikiran buruk memenuhi isi kepalanya. Bayangan kesedihan Anna saat terakhir kali mereka komunikasi terus menari-nari dalam benaknya membuatnya semakin gelisah.


Tanpa menunggu lagi, setelah mengajukan cuti, Bagas akhirnya berangkat. Bagas akan mencari Anna ke seluruh tempat dan rumah mertuanya adalah tujuan pertamanya. Ia tidak sendirian, Pratu Imron juga ikut cuti bersamanya.


" Ijin Danki, kita akan cari ibu sama-sama sampai ketemu, Danki jangan khawatir, ibu pasti baik-baik saja " Pratu Imron mencoba menguatkan Bagas.


" Terima kasih Imron, seharusnya kau tak perlu repot melakukan ini, kau tidak perlu ikut denganku melainkan langsung saja pulang ke kampung halamanmu, ibumu pasti telah menunggumu pulang "

__ADS_1


" Tidak repot sama sekali danki, kami akan membantu sebisa kami, orang tua kami telah memberikan izin "


" Baiklah Imron, sekali lagi terima kasih ''


" Sama-sama Danki " jawab Pratu Imron seraya tersenyum.


Setelah tiba di Makasar, Bagas yang sebelumnya telah menghubungi Raihal Adik iparnya untuk menjemput mereka, akhirnya telah sampai di kediaman mertuanya. Ibu Maryam menyambutnya dengan hangat namun sedikit kecewa karena Bagas datang tidak bersama dengan Anna.


" Nak Bagas kok datangnya cuma berdua saja, apa nak Anna tidak ikut atau sudah lebih dulu ke Jakarta ? " tanya ibu Maryam sesaat setelah Bagas tiba.


" Mohon maaf sebelumnya ibu, kami berdua baru saja pulang dari tugas dan langsung berangkat ke sini. Saya fikir Anna ada di sini bu karena saat saya tiba di asrama, dia sudah tidak ada di rumah. Menurut informasi ibu-ibu di asrama, katanya dia sudah cuti hendak kembali ke Jakarta sejak dua minggu yang lalu dan mereka mengantarkan Anna ke bandara waktu itu. Saya sudah menghubungi nomornya berkali-kali tapi tidak aktif bu " jelas Bagas.


" Apa ?? " Ibu Maryam, Bapak Handoko dan Raihal berteriak bersamaan.


" Apa nak Bagas sudah telpon ke Jakarta ? " tanya bapak Handoko kemudian.


" Sudah pak, Ibu bilang Anna pernah menelpon kalau dia tidak akan pulang dan akan tetap menunggu saya kembali dari tugas "


" Nak Anna juga pernah menelpon kami nak, dia juga mengatakan hal yang sama, apa maksudnya semua ini nak ? " bapak Handoko terlihat sangat khawatir.


" Ya Allah... anak kita ada di mana pak ? '' Ibu Maryam histeris.


Suasana seketika berubah menjadi tegang. Raihal tidak mampu lagi menahan emosinya.


" Kemana perginya kakak saya bang ??? kenapa abang bisa menjaga Negara kita namun istri abang tidak bisa abang jaga ?? apa abang lupa bagaimana kakak selama ini berjuang menjalani hidupnya ?? dasar abang suami tidak berguna " teriak Raihal sambil mencengkram kerah baju Bagas. Tatapan matanya penuh nanar, berkali-kali ia mengguncang tubuh Bagas penuh amarah.


Bagas hanya diam, pertanyaan yang dilontarkan Raihal begitu menohok ke dalam hatinya. Seakan menjadi cambuk yang mencabik-cabik dirinya, begitu sakit yang ia rasakan.


" Raihal... hentikan !!! kenapa kamu kurang ajar seperti ini, lepaskan abang kamu nak '' Ibu Maryam menarik Raihal ke dalam pelukannya.


" Ibu... kakak kemana bu ? kemana kita harus mencarinya, saya khawatir sama kakak bu.. hiks..hiks.. " rintih Raihal dalam pelukan ibunya. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Ibu Maryam hanya dia menatap dengan pandangan kosong sambil mengelus punggung putranya.


" Semuanya tetap tenang, jangan ada yang emosi, kita akan mencari nak Anna sama-sama, seperti yang nak Bagas bilang tadi kalau nak Anna diantar ke bandara dengan tujuan ke Jakarta, berarti kita akan cari dia di Jakarta. Kami akan ikut bersama kalian. Tapi sebelumya, kita minta tolong dulu untuk diputarkan rekaman CCTV di bandara Makasar di hari keberangkatan nak Anna, kalau dia tidak terekam di sana barulah kita akan mencarinya di Jakarta " tegas bapak Handoko.


" Betul pak, saya sependapat dengan bapak, kita berdoa sama-sama semoga ibu Danki baik-baik saja " tambah Pratu Imron.


Bagas masih terlihat diam, air matanya terus menetes membasahi pipinya. Ia mengusap wajahnya berkali-kali.


" Maafkan mas sayang, mas tidak bisa menjagamu dengan baik, maafkan Bagas Pak.. Bu... Dek... !!! Bagas gagal menjadi suami yang baik buat Anna " ucapnya lirih sambil mengacak-acak rambutnya.


" Tenanglah nak... Yang terjadi adalah kehendak Allah, kita harus sabar dan ikhlas menjalaninya, kuatkan dirimu, jangan menyerah, kita harus mencari istrimu sampai ketemu '' bapak Handoko memeluk Bagas berusaha menenangkannya.


Suasana menjadi hening.


Semuanya larut dalam kesedihan dan doa-doa terus mereka mohonkan di dalam hati.


Para reader...


Terima kasih telah membaca karya kami, Mohon like dan vote nya ya πŸ™πŸ™β˜ΊοΈ

__ADS_1


__ADS_2