ISTRI SEORANG PRAJURIT

ISTRI SEORANG PRAJURIT
MASA LALU


__ADS_3

Apa yang terjadi semalam masih saja berlanjut keesokan harinya, perlakuan Anna masih sama. Ia masih terlihat marah pada Bagas, hanya bicara seperlunya saja. Seharian ia hanya sibuk bermain dengan baby Arsya. Bagas yang bertanya padanya saat hendak pergi bekerja, tapi Anna tetap tidak mengatakan apa-apa. Bagas semakin bingung dibuatnya.


Malam hari, ketika baby Arsya telah tertidur. Bagas mendekati Anna, ia mencium mesra bibir tipis milik istrinya, saat akan melakukan aktivitas yang lebih intim. Lagi-lagi Anna memberikan penolakan.


" Hentikan mas, saya sedang tidak ingin melakukannya, saya capek mas " tolak Anna sambil menepis tangan Bagas. Bagas mendesah panjang, ia menatap lekat manik mata istrinya.


" Kamu kenapa sayang ? kenapa sikapmu berubah seperti ini ? jika mas ada salah tolong disampaikan, jangan seperti ini. Kalo kamu begini, mas jadi bingung sebenarnya apa yang terjadi ? "


Anna tersenyum kecut.


" Kira-kira apa yang terjadi mas ? apa mas tidak berniat untuk menceritakan sesuatu kepada saya ? "


" Apa yang harus mas ceritakan ?? " tanya Bagas.


" Semua rahasia mas yang belum mas ceritakan kepada saya "


Bagas mengernyitkan alisnya.


" Tapi apa sayang ?? mas merasa tidak punya rahasia, semua tentang mas sudah mas ceritakan kepadamu "


Anna menghembuskan nafasnya kasar. Tubuhnya mulai bergetar, setitik air jatuh di sudut matanya.


" Kamu yakin mas ? ". Tanya Anna lagi, ia lalu bangkit dari kasur menuju meja rias. Laci ditariknya, kemudian ia mengambil buku agenda milik Karina di sana, lalu diberikan kepada Bagas.


" Lalu apa maksud dari ini mas ? kenapa mas merahasiakannya ? "


" Apa ini ? " Bagas lalu membuka buku agenda itu, sedikit terkejut ia melihat puisi dan foto milik Karina, masa lalu yang sudah ia lupakan bermunculan kembali dalam ingatannya. Bagas menutup kembali buku Agenda itu lalu beralih menatap istrinya.


" Hanya karena ini kamu sampai berubah seperti ini sayang ? " tanya Bagas.

__ADS_1


Anna hanya terdiam. Bagas lalu melanjutkan kembali ucapannya. Sepertinya ia harus menjelaskan siapa Karina agar istrinya tidak berfikiran negatif dan marah lagi.


" Ini adalah buku agenda milik Karina. Buku ini ia tinggalkan saat kami pelatihan bersama. Karina adalah teman seangkatannya mas. Dulu dia berdinas di sini tapi saat ini Karina sudah pindah ke Bandung. Kami berdua dekat karena kami letting, tapi hubungan kami hanya sebatas rekan kerja saja. Selama ini mas tidak tau kalau dia punya perasaan lebih terhadap mas, mas baru mengetahui setelah membaca puisi yang ditulisnya dalam buku agenda ini. Awalnya mas kira itu mungkin orang lain yang menulis tapi ternyata setelah bertanya langsung padanya, memang betul kalau dia menyukai mas, tapi mas sudah memberitahunya kalau mas sudah menikah denganmu, tidak usah khawatir sayang, mas hanya milikmu seorang ". Jelas Bagas seraya menggenggam tangan istrinya.


" Jika mas belum menikah apa mas akan menerimanya ? ". Tanya Anna lagi. Ia melepaskan genggaman tangan suaminya.


Bagas menghela nafasnya karena Anna masih saja terus merasa cemburu.


" Entahlah sayang, mungkin saja mas akan menerimanya karena Karina adalah gadis yang cantik juga baik hati. Tapi kenyataannya kan mas tidak bersamanya, karena Allah telah menentukan jodoh kita masing-masing. Kamu adalah istri yang tercantik dan terbaik yang telah dikirimkan untuk mas, mas sangat bahagia telah memilikimu. Apalagi kamu telah memberikan seorang putra yang begitu tampan. Karina hanya masa lalu dan kelurga kita adalah masa depan kita. Sudahlah sayang, berhenti memikirkan hal ini lagi. Mas juga telah menyimpan buku agenda ini di dalam peti, bagaimana bisa ada di sini ? "


" Apa mas sengaja menyimpannya ? kenapa tidak membuangnya saja ? "


" Sayang... kenapa kamu bersifat kekanakan seperti ini ? mas menyimpan buku ini bukan karena mas juga mencintai Karina, tapi mas menghargainya sebagai teman karena bagi kami letting itu sama seperti saudara sendiri. Mas tidak ada maksud lain, jika kamu mau membuangnya, terserah kamu saja sayang " jawab Bagas lagi seraya meletakkan buku agenda di tangan istrinya.


" Ayo kita tidur sayang, berhentilah bersikap seperti ini. Mas sudah menjelaskan semuanya. Tolong jangan mengungkitnya lagi karena itu akan membuat kita bertengkar sayang. Percayalah sama mas, mas hanya mencintaimu. Jika masih saja ada kecurigaan di dalam hatimu, beristighfar lah sayang agar Allah memberikan ketenangan dan dijauhkan dari godaan setan ". lanjut Bagas lagi, kemudian ia membaringkan badan di atas kasur dan membiarkan Anna yang masih terdiam dalam duduknya.


" Saya sangat mencintaimu mas, karena itu saya langsung terbakar cemburu begitu melihat puisi serta foto Karina di sana. Saya takut mas akan tergoda apalagi Karina adalah teman kerja mas, pasti kalian selalu bersama. Sekarang saya sudah lega karena mendengar penjelasan mas. Tolong maafkan saya mas ".


Bagas tersenyum. Ia lalu membawa tubuh Anna ke dalam pelukannya.


" Sudahlah sayang, terima kasih ya. Kamu harus percaya kalau mas sangat mencintaimu, sekarang tidurlah ". kata Bagas sambil mengelus lembut rambut istrinya.


*******************


Sesaat Bagas teringat kembali dengan sosok Karina. Karina adalah gadis yang cantik, baik, energik, tomboi, asik dan peduli pada semua orang. Bukan hanya Bagas namun seangkatan pria yang lainnya juga banyak yang jatuh hati padanya. Bagas sangat mengaguminya tapi hanya sebatas kagum saja, tidak lebih dari pada itu. Bagas menganggap Karina seperti adiknya sendiri. Jujur saja, Bagas juga ikut terluka saat Karina menangis di hadapannya ketika Bagas memberitahunya bahwa ia telah menikah.



" Maafkan saya rin... saya sungguh menghargai perasaanmu padaku, tapi saat ini saya sudah menjadi suami orang lain. Saya sangat menyayangimu tapi rasa sayang saya seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya, dan selamanya akan seperti itu. Sekali lagi saya mohon maaf, saya yakin kamu bisa menemukan pria yang lebih baik lagi. Setelah hari ini tolong jangan pernah berubah "

__ADS_1


Mendengar ucapan Bagas, Karina membulatkan mata. Bagai petir di siang bolong, ia merasa sangat terkejut. Air mata tak kuasa ia bendung dan jatuh membasahi pipinya.


" Apa ? kamu sudah menikah ? kenapa tidak ada yang memberitahuku ? ". Pekik Karina dan ia terlihat sangat kecewa.


" Karena kamu sedang tidak ada di tempat, bukankah kamu baru saja tiba ? "


Karina tidak bergeming, ia terus saja menangis. Hatinya begitu terluka. Harapannya untuk bersanding dengan Bagas hancur seketika.


" Berhentilah menangis pot, saya tidak sanggup melihatmu terluka seperti ini. Percayalah... suatu saat nanti, kamu pasti akan menemukan pria yang akan menjadi jodohmu. Tolong maafkan saya ". Suara Bagas terdengar serak. Ia mengusap matanya yang juga berkaca-kaca.


Karina hanya menundukkan kepala. Suara tangisnya sesekali terdengar memecah keheningan dan membuat Bagas semakin merasa semakin iba. Mereka hanya duduk diam tanpa saling bicara dan larut dalam fikiran masing-masing.


< Flashback off >


Bagas menatap Anna yang sudah tertidur, ia lalu melepaskan pelukannya dan menyelimuti tubuh istrinya. Kemudian ia mengambil buku agenda Karina dimasukkannya ke dalam tempat sampah.


" Maafkan saya Karina, seharusnya sudah lama saya membuang buku agenda ini agar tidak ada kesalahpahaman di antara kami. Saya begitu mencintai istri saya. Semoga kamu juga segera menemukan tambatan hatimu " ucap Bagas.


catatan : pot adalah panggilan untuk letting


Terima kasih yang masih setia mengikuti cerita "Istri Seorang Prajurit''.


Mohon kritik dan saran di kolom komentar untuk perbaikan karya kami.


Jangan lupa like serta vote nya.


Terus dukung author untuk melanjutkan ceritanya hingga selesai.


Salam manis selalu 🙏🙏😘 😘 😘

__ADS_1


__ADS_2