ISTRI SEORANG PRAJURIT

ISTRI SEORANG PRAJURIT
DINYATAKAN MENINGGAL


__ADS_3

Para reader sekalian.....


Semoga semuanya sehat selalu ya.


Saya ucapkan terima kasih untuk yang masih tetap setia mengikuti alur cerita "Istri Seorang Prajurit".


Tetap semangat membaca ya, semoga author bisa cepat menyelesaikan ceritanya.


Jangan lupa dukung terus author ya, komentar, like dan vote para pembaca sekalian sangat berarti.


Terima kasih 🙏🙏😘😘😘


.


.


.


Lanjut lagi ya ceritanya.


.


Suster Dwi hanya bisa terdiam, mendengar Pratu Imron menceritakan kronologis kejadian penyerangan yang menyebabkan hilangnya Bagas. Sambil sesekali ia mengusap wajahnya yang telah dibasahi air mata. Entah apa yang akan terjadi dengan Anna, jika Bagas tak kunjung ditemukan. Mendengar berita ini saja Anna telah jatuh pingsan dan belum sadarkan diri. Bagaimana jika Danki Bagas betul-betul telah tiada, apa yang akan terjadi pada Anna. Fikiran Suster Dwi terus melanglang buana ke arah yang negatif. Ia terlihat sangat gelisah, sementara Asya masih saja terus menangis.


" Hiks...Hiks....Bu... ibu.... bangun ". Suara tangis Arsya memenuhi ruangan, sedari tadi ia menangis meminta ibunya untuk bangun. Suster Dwi dan Pratu Imron sudah berusaha mendiamkannya tapi ia tetap tidak mau diam.


" Sudah sayang, jangan nangis lagi ya, ibu lagi bobo dulu, ayo ikut om beli es cream yuk ". Bujuk Pratu Imron, namun tidak dihiraukan oleh Arsya.


" Ibu... bangun... ibu.... ". Arsya terus menangis sambil menarik-narik tangan ibunya.


Merasakan tangannya ditarik, Anna perlahan membuka mata. Ia melihat sekarang ia sedang berada di KSA (Kamar Sakit Anggota). Masih belum berbicara apa-apa. Ia berusaha tidak mengingat kejadian sebelumnya dan menganggap yang telah didengarnya hanyalah mimpi buruk.


" Sayang... Kakak kenapa nangis ?? Ayo sini sayang ". Anna menarik Arsya ke dalam pelukannya.


" Ijin, Dokter sudah bangun ? ". Suster Dwi duduk di ranjang Anna sambil menggenggam tangan ibu dankinya.


Pratu Imron ikut duduk di kursi sebelah ranjang tempat Anna berbaring. Ia menatap ke arah Anna dengan tatapan sendu yang sulit untuk diartikan.


" Bu.. maafkan saya karena tidak pulang bersama dengan Danki, saya sungguh orang yang tidak tau terima kasih. Danki pernah menyelamatkan nyawa saya tapi saya tidak bisa membalas kebaikan beliau. Maafkan saya bu, saya berdoa semoga beliau secepatnya bisa ditemukan dan kembali dengan selamat ". Lirih Pratu Imron.


Anna hanya terdiam, air matanya terus mengalir. Ia berusaha untuk tetap tenang. Meski hatinya sudah bergejolak panas. Ia ingin berteriak dan memberontak tapi melihat Arsya yang masih sangat kecil, ia memilih diam.


Lama ia terdiam, hingga ia memutuskan untuk sendiri menenangkan fikiran.


" Kalian pulang lah, biarkan saya sendiri ". Ucap Anna.


" Ijin, tapi bu...biarkan kami.....


" Pulanglah.. saya mohon tinggalkan saya sebentar ''.


Belum sempat Suster Dwi menyelesaikan ucapannya, Anna lalu memotongnya. Ia lalu membalikkan badan membelakangi sepasang suami istri itu.


Melihat suasana hati Anna yang kurang bagus, Suster Dwi dan Pratu Imron pun memilih untuk kembali pulang ke rumah.


Sejak tiba, Pratu Imron bahkan belum makan, belum ganti baju apalagi istirahat. Saat ia tiba di rumah, ia pun segera mandi untuk menyegarkan badan.

__ADS_1


" Abang mandi dulu ya dek ". Ucapnya pada istrinya.


" Iya bang, biar saya siapkan makanan dulu "


" Iya dek ". Pratu Imron lalu beranjak ke kamar mandi.


Usai mandi dan berganti pakaian, ia lalu menghampiri istrinya yang sedang menata makanan di atas meja makan.


" Abang sangat merindukanmu ". Pelukan hangat mendarat di tubuh suster Dwi. Ia berbalik menghadap suaminya dengan senyuman manis.


" Saya juga rindu bang ". Ucapnya.


Pratu Imron lalu mendaratkan ciuman dibibir tipisnya, terus ******* dan menghisapnya. Hingga beberapa menit, mereka melepaskan ciuman.


" makan dulu ya bang ". Kata Suster Dwi.


" Abang mau memakan kamu dulu dek, abang sudah tidak tahan ". Pratu Imron lalu mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar, meletakkan pelan di atas kasur.


Ia terus menciumi bibir istrinya, turun ke leher dan ke seluruh tubuh suster Dwi. Mereka terus bergulat, saling memuaskan dan menyalurkan hasrat yang terpendam begitu lama.


" Aahhhh..... "


" Terus sayang, Aaahhhh "


" Aahhhhh "


Desahan dan erangan kenikmatan terus keluar memenuhi ruang kamar. Tubuh mereka bergetar hebat. Bulir-bulir keringat mengalir, berkali-kali mereka mencapai puncak kenikmatan.


**********************


" Ijin Bapak Komandan, Ibu Ketua, mari silahkan duduk "


" Terima kasih bu Danki "


" Tujuan kami ke sini, ingin memberitahukan bahwa Kami telah berusaha berkali-kali melakukan pencarian bersama dengan tim terbaik, menyisir seluruh lokasi tanpa ada yang terlewat sedikit pun, tapi Bagas tidak juga ditemukan. Tim hanya menemukan barang-barang yang diduga milik Bagas. Untuk itu dengan sangat berat hati kami sampaikan bahwa Lettu Infanteri Bagas Saputra dinyatakan telah meninggal. Beliau dinyatakan gugur dalam bertugas ". Ucapan Bapak Komandan begitu menusuk hati Anna. Ia pun histeris.


" Tidak mungkin suami saya meninggal pak, jika belum ditemukan mayatnya berarti suami saya masih hidup, saya yang akan pergi mencarinya sendiri. Tidak mungkin dia meninggalkan kami, dia sudah berjanji akan kembali dengan selamat. Kembalikan suami saya pak... Bu... Tolong kembalikan suami saya ". Tangis Anna pecah.


" Tenang bu, ibu harus tenang, tenangkan diri ibu, kasian anak ibu ketakutan ". Ibu Ketua berusaha menenangkan Anna.


" Tidak mungkin bu, Ini tidak mungkin...!!! mas Bagas, mas Bagas !!! kenapa mas melakukan ini ? kenapa mas melanggar janji mas ? apa yang harus saya katakan pada anak kita mas ?, ya Allah... ujian macam apa yang Engkau berikan ini ??? hiks... hiks... ". Anna terus saja menangis.


" Bu.... ibu..... Arsya takut bu ". Suara tangis Arsya juga ikut pecah. Membuat semua orang ikut menangis.


" Kembalikan suami saya pakkk !!!! kembalikan suami saya.... suami saya belum meninggal, dia pasti masih hidup. Allahu Akbar... ya Allah... saya tidak sanggup menghadapi semua ini, jika suamiku telah tiada, saya tidak bisa melanjutkan hidup ". Anna terus meraung dalam pelukan Ibu Ketua.


Suster Dwi yang baru tiba, mendengar suara Anna yang begitu memilukan, ia juga langsung ikut memeluk Anna.


" Ijin ibu, istighfar, jangan bicara seperti itu ". Ucap Suster Dwi.


" Iya bu.. Istighfar bu, sebut nama Allah. Kita semua hanyalah manusia biasa. Kita tidak bisa melawan kehendak Allah. Ini sudah takdir Allah. Ibu harus bersabar, kasihan Anak ibu jika ibu begini ". Tambah Ibu Ketua.


" Hiks...Hiks... Hiks... mas Bagas... mas Bagas... Mas Baa....". Suara Anna terdengar melemah dan perlahan hilang. Ia pun tidak sadarkan diri lagi.


Pratu Imron dibantu suster Dwi membawa Anna ke dalam kamar. Sementara Bapak Komandan beserta Ibu Ketua mengurus segala sesuatunya agar Anna bisa berangkat ke Jakarta untuk melakukan upacara pemakaman Bagas yang sebelumnya dilakukan doa bersama di rumah dinas Bagas.

__ADS_1


Hingga kabar duka telah sampai kepada Ibu Rani dan Rista juga semua keluarga Anna. Semua keluarga telah berkumpul di kediaman Ibu Rani. Mereka menanti kedatangan Anna dan Arsya dari Papua.


*****************


Pukul 09.00 pagi WIB.


Anna dan Arsya, Pratu Imron dan Suster Dwi telah tiba di Jakarta.


Sejumlah pejabat hadiri jajar penghormatan saat kedatangan Peti jenazah Mayor Anumerta Bagas Saputra yang sebelumnya menjabat sebagai Komandan Kompi Bantuan Yonif RK 762 Sorong Papua Barat, yang dilaksanakan di Bandara Soekarno Hatta.


Hingga mereka telah tiba di rumah orang tua Bagas.


Tangisan pecah seketika.


Semua berteriak.


Semua menangis.


Semua orang meraung.


Peti jenazah kosong yang hanya berisi barang-barang Bagas, terbungkus kain bendera Indonesia dan sebuah Foto Bagas di atasnya seolah menjadi saksi kepedihan yang mereka alami.


Suasana semakin mencekam. Suara tangis yang memilukan, raungan dan teriakan memenuhi isi rumah. Entah sudah berapa kali Anna, Ibu Rani juga Rista jatuh bangun tak sadarkan diri.


" Bagas Anakku !!!! ". Teriak Ibu Rani.


" Mas Bagas !!! hiks... hiks... ". Anna histeris.


" Abang !!! Jangan tinggalkan Rista bang... ''. Rista menangis.


" Hiks....Hiks..... Hiks "


" Ibu... Arsya takut bu.... ". Arsya ikut memekik.


Semua orang terus saja menangis.


Air mata dan hanya air mata yang terus berderai. Semuanya larut dalam kesedihan yang tiada akhir.


Semua mengenang sosok almarhum Mayor Anumerta Bagas Saputra merupakan sosok pemimpin sejati yang berkali-kali menorehkan prestasi bersama Tim Satgas TNI. Almarhum diberikan penghargaan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) dari Lettu ke Kapten.


Pukul 16.00 WIT, upacara pemakaman dilaksanakan.


Upacara pemakaman almarhum Bagas dipimpin langsung Komandan Satuan Yonif RK 762 tempat Bagas berdinas yang bertindak selaku komandan upacara.


Kegiatan diawali penyerahan jenazah dari pihak keluarga kepada Inspektur upacara kemudian dilakukan solat jenazah di Masjid setempat dan dilanjutkan upacara pemakaman jenazah secara militer.


" Innalillaahi wa inna illaihi rojiuun, Saat ini kita melepas kepergian salah satu pemimpin terbaik. Almarhum selama hidup telah banyak bertugas dengan baik, sehingga begitu besar pengabdiannya kepada negara dan bangsa di tempat almarhum bertugas. Almarhum juga telah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang TNI Angkatan Darat. Untuk itu, mari kita berdoa semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Beliau meninggalkan seorang istri dan 1 orang putra, semoga keluarga yang ditinggalkan selalu diberi kesabaran ". ujar Bapak Komandan sembari berdoa.


Usai upacara, Anna begitu juga yang lainnya enggan meninggalkan tempat pemakaman. Seakan semua terjadi begitu cepat. Kebersamaan yang singkat. Kepergian yang mendadak. Merasakan kehilangan. Entah sampai kapan kepedihan ini terus bertahta di dalam hati.


..


..


Kematian adalah hal yang paling jauh dari pikiran kita, walaupun sebenarnya ia lebih dekat dari segala yang dekat dengan kita.

__ADS_1


(Ali Mustafa Tanthowi)


__ADS_2