
Angin malam berhembus cukup kencang. Langit malam menampakkan cahaya bintang yang bertaburan, membuat mata takjub melihat keindahannya.
Anna duduk menikmati coklat panas di teras rumah milik suster Dwi, kontrakan suster Dwi berada di lantai dua, cukup luas untuk ditinggali berdua dan juga lingkungannya yang aman membuat orang betah tinggal di sana. Sejak tiba tadi, ia telah menceritakan keadaanya dan rencananya untuk tinggal di rumah suster Dwi sampai lahiran. Hanya suster Dwi tempat pelariannya saat ini.
" Oia... apa sudah ada kabar dari suami dokter ? " tanya suster Dwi kepada Anna.
" Belum ada sus "
" Apa hubungan dokter selama ini baik-baik saja ? "
Anna menoleh.
" Hubungan kami baik sus tapi kami sulit komunikasi, mas Bagas telah mengingkari janjinya untuk memberi kabar dan saya butuh waktu untuk menenangkan hati saya "
" Apa dokter sudah Fikirkan kembali keputusan dokter ini ? tanya suster Dwi kembali.
Anna terdiam, pandangannya kembali diarahkan ke langit luas. Malam semakin larut dan angin semakin berhembus kencang.
" Dok... tolong difikirkan kembali, siapa tau memang kondisi suami dokter sedang tidak baik-baik saja " Saran suster Dwi lagi.
Anna menghela nafas dalam.
" Sudahlah sus.. Tidak usah difikirkan lagi, ayo kita masuk ke dalam " ajak Anna. Suster Dwi mengikuti Anna dari belakang.
" Dok... saya minta maaf ya, saya tidak bermaksud ikut campur urusan dokter, saya akan selalu mendukung dokter, semoga dokter bisa melalui semua ini " Suster Dwi menggenggam tangan Anna. Anna membalasnya dengan pelukan.
" Terima kasih sus, saya akan selalu mengingat bantuan suster ke saya "
" Sama-sama dok, dokter silahkan istirahat " Suster Dwi menunjukkan tempat tidur untuk Anna yaitu di sebelah kasurnya namun masih dalam kamar yang sama, karena kontrakannya hanya memiliki satu kamar tidur.
**********
Tengah malam, Anna tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya mendadak gelisah, bayangan Bagas muncul terus di pelupuk mata. Ia merindukan suaminya, kerinduan yang berbeda dari biasanya. Rasa takut dan khawatir membuncah menyesakkan dadanya. Ia bangun dari kasur menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu di sana.
Anna menggelar sajadah lalu melaksanakan sholat malam. Di sepertiga malam itu, bibirnya memohonkan doa untuk Bagas, berharap tidak terjadi sesuatu pada suaminya.
" Ya Allah yang Maha Pengampun, ampunilah dosa-dosa kami, tunjukkanlah kami jalan yang lurus yang senantiasa penuh dengan rahmat dan ampunan_Mu.
" Ya Allah, berikanlah ketenangan di dalam hati hamba, hilangkan lah kegelisahan serta firasat buruk hamba terhadap suami hamba, kuatkan hamba ya Allah untuk menghadapi setiap ujian yang Engkau berikan.
" Ya Allah yang Maha Melindungi, lindungilah suami hamba dalam bertugas, selamatkan ia dari musibah dan kembalikan ia dengan selamat.
" Ya Allah.. berkahilah hubungan kami, jadikan keluarga kami keluarga yang sakinah mawadah warohmah dan jadikan kami hamba_Mu yang senantiasa menjalankan perintah_Mu dan menjauhi larangan_Mu.
" Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban naar, Aamiin ya Robbal 'Alamin ".
Anna mengusap wajahnya, air matanya terus menetes membasahi wajahnya. Perasaanya sungguh tidak menentu lagi. Jantungnya berdebar, ia merasa seakan terjadi sesuatu kepadanya suaminya.
*************
Tit.. Tit...Tit..
Suara monitor memenuhi ruang ICU, di sana terbaring Bagas yang masih belum sadarkan diri usai menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di tubuhnya. Di sampingnya, duduk dengan tatapan sendu Pratu Imron yang sedari kemarin telah menungguinya. Sementara Prada Arif yang juga mengalami luka tembak telah dipindahkan ke ruang perawatan.
Kedua tangan Pratu Imron masih setia menggenggam tangan milik Bagas. Ia merasa sakit di dalam hatinya melihat dankinya meregang nyawa karena telah menyelamatkan dirinya. Ia hendak menghubungi Anna namun diurungkannya karena mengingat ibu dankinya sekarang tengah mengandung, ia takut musibah yang dialami Bagas akan membuat Anna khawatir.
__ADS_1
" Danki... tolong bangunlah, jangan membuat kami khawatir, ibu sedang menunggu kabar dari Danki, bangunlah.... " lirih Pratu Imron dengan mata yang berkaca-kaca.
" Apa kau sudah menghubungi istri danki ? " tanya Sertu Agus yang sudah ada dalam ruangan ICU.
Pratu Imron mengusap matanya.
" Belum bang, ibu sedang hamil besar sekarang, saya khawatir berita ini akan membuatnya syok, kita tunggu sampai Danki sadarkan diri dulu bang "
Sertu Agus terdiam sebentar.
" Kalau begitu, biar saya yang akan hubungi ibu Danki " katanya kemudian berjalan hendak meraih ponsel milik Bagas yang ada di atas meja. Tapi Pratu Imron dengan cepat mencegahnya.
" Tolong bang, saya mohon abang jangan hubungi ibu dulu, biar nanti saya yang akan menelponnya. Kasihan ibu bang jika mendengar kabar musibah yang menimpa Danki dan bahkan suaminya belum sadarkan diri "
" Baiklah Imron, kalau begitu kita harus beritahu orang tua Danki " kata Sertu Agus lagi.
" Siap bang " Pratu Imron lalu menghubungi adiknya Bagas. Panggilan terhubung.
" Assalamu 'alaikum bang, ponsel abang sudah ada sinyal ? gimana kabar abang ? dedek dan ibu sangat khawatir ? " terdengar suara Rista di seberang sana yang melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
" Wa'alaikum salam, maaf dek, saya Imron bawahan Bagas, Danki sekarang sedang dirawat di rumah sakit, terjadi musibah pada beliau dan tolong untuk tetap tenang, sampaikan berita ini kepada ibu "
" Innalilahi... Allahu Akbar !!! lalu bagaimana keadaan abang saya sekarang ? " pekik Rista.
" Danki masih belum sadarkan diri, beliau mengalami luka tembak dan telah menjalani operasi pengangkatan peluru, tolong jangan beritahukan istri danki dulu karena ibu danki saat ini sedang hamil, doakan semoga danki secepatnya bisa pulih kembali " jawab Pratu Imron.
" Baiklah, saya akan beritahukan ibu saya dulu, tolong jaga abang saya baik-baik, nanti saya akan hubungi kembali, terima kasih bang " kata Rista kemudian menutup kembali telponnya lalu bergegas menemui ibunya.
Setelah memberitahu ibunya, ibu Rani terlihat syok, ia menangis histeris. Rista memeluk ibunya untuk menenangkannya.
" Ya Allah... Engkau yang Maha Kuasa atas segalanya. Apa yang terjadi pada putraku adalah atas kehendak_Mu. Tolong kuatkan anakku, berikan ia kesembuhan, selamatkan dia dan tabahkan hati kami untuk menghadapi semua ini, kami percaya dibalik musibah ini pasti ada hikmah besar yang tersembunyi, ampunilah dosa kami ya Allah " ibu Rani merintih, air matanya terus mengalir deras.
" Bagaimana dengan nak Anna, apa kakak iparmu sudah tahu nak ? " tanya ibu Rani kembali.
" Belum bu, belum ada yang memberitahunya karena semua khawatir dengan kehamilan kak Anna, kita harus merahasiakannya dulu bu, kita tunggu sampai abang sadar dulu " jawab Rista seraya menggenggam tangan ibu Rani. Mereka kembali terdiam saling memandang dengan pandangan yang kosong. Dalam hati mereka berdoa untuk keselamatan Bagas.
***************
Di tempat lain, Anna yang baru bangun karena tertidur usai sholat subuh, membuka matanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Didapati, kasur suster Dwi telah kosong karena orangnya telah berangkat bekerja. Ia mengambil selembaran kertas di sana, sebuah catatan yang ditinggalkan suster Dwi untuknya.
Selamat pagi dok.... saya berangkat kerja ya, saya sudah siapkan sarapan di atas meja, silahkan dokter sarapan ya.
Anna tersenyum, ia lalu bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Ia mandi di sana. Usai mandi, ia mengganti pakaian dan menuju dapur untuk sarapan. Lagi-lagi ia tidak berselera untuk makan, mendadak ia merasa sedih, air mata jatuh lagi membasahi pipinya.
Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Bagas ? bagaimana jika dia berusaha menghubungiku tapi tidak terhubung karena saya telah mengganti nomor HP ?
Pertanyaan terus bermunculan di benak Anna, ia merasa tidak berdaya. Dadanya serasa sesak. Ia meninggalkan meja makan dan menuju ke kamar lalu berbaring lagi di atas kasur. Ia memeluk bantal guling erat karena merasakan mules di perutnya. Ia menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya.
Sejam berlalu, Anna merasa semakin sakit di perutnya dan sakitnya dirasa semakin menjalar ke area sensitifnya. Ia bangkit dari kasur menuju kamar mandi namun tiba-tiba ia tidak bisa melanjutkan langkahnya. Darah segar mengalir di sela paha hingga betisnya dan membasahi celana yang dipakainya.
" Astagfirullah... " Anna mengucap istighfar. Ia meraih ponsel lalu menelpon ke nomor suster Dwi.
" Assalamu 'alaikum dok " suster Dwi menjawab telpon.
" Wa'alaikum salam, sus... Perut saya sakit dan ada darah yang keluar banyak ''
__ADS_1
" Apa ?? baiklah dok, saya segera ke sana '' suster Dwi segera pamit dan berlari meninggalkan ruang kerjanya.
Tiba di rumah, suster Dwi segera membawa Anna ke rumah sakit Jakarta, tempat Anna bekerja sebelumnya.
" Suster tolong jangan hubungi suami saya, orang tua dan mertua saya sampai anak saya lahir dan saya telah sehat kembali, saya tidak mau mereka khawatir, saya mohon berjanjilah sus.. " kata Anna sesaat sebelum masuk ke ruang operasi sambil menggenggam tangan suster Dwi.
" Iya dokter, saya berjanji, dokter tenang ya, semoga semua berjalan dengan lancar '' ucap suster Dwi seraya mengelus tangan Anna.
" Terima kasih sus " ucap Anna lagi.
" Sama-sama dok " Suster Dwi mengangguk. Ia melepas genggaman tangan Anna lalu perawat mendorong brankar masuk ke dalam ruang operasi.
Lampu ruang operasi menyala pertanda operasi caesar Anna sedang berlangsung. Di luar, telah duduk suster Dwi yang terlihat sangat khawatir. Ia bahkan berkali-kali mondar-mandir di depan ruang operasi. Hingga 50 menit berlalu, operasi telah selesai, bayi Anna telah lahir dengan selamat. Namun sesuatu yang buruk terjadi.
" Dok.. tekanan darah pasien naik " ucap salah seorang perawat. Dokter mengangguk dan menangani dengan cepat.
" Sudah stabil dok ''
Tiba-tiba perawat berteriak lagi.
" Dok.. jantungnya berhenti berdetak "
Suasana kembali tegang, semua berusaha untuk tetap tenang.
" Siapkan defibrilator " kata dokter
" 100 Joule, Siap... kejut.. "
Belum ada respon dari tubuh Anna.
" Naikkan 200 Joule, siap.. kejut.. ''
" Alhamdulillah, sudah kembali dok " kata salah satu perawat , dokter mengangguk. Mereka pun bernafas lega.
Suster Dwi bertambah khawatir, sudah daritadi lampu ruang operasi telah dimatikan namun dokter belum juga keluar dari sana. Ia berdiri dari tempat duduk lalu berjalan menuju pintu ruang operasi dan tiba-tiba pintu terbuka. Suster Dwi langsung bertanya pada dokter.
" Dok, gimana keadaan dokter Anna ? "
" Alhamdulillah, bayinya sudah lahir, jenis kelaminnya laki-laki tapi harus dirawat di incubator dulu karena lahirnya prematur sedangkan dokter Anna masih belum sadarkan diri tadi sempat mengalami henti jantung tapi sudah normal kembali, untuk sementara dokter Anna akan dirawat di ruang ICU, kita tunggu sampai dia sadar " jelas dokter Rahadian (salah satu dokter spesialis kandungan di rumah sakit Jakarta).
" Alhamdulillah, terima kasih dok "
" Suster sudah hubungi keluarga dokter Anna ? " tanya dokter Rahadian lagi.
Suster Dwi terdiam sejenak.
" Masih belum bisa dihubungi dok, nanti saya akan telpon mereka lagi " jawabnya kemudian.
" Oia... bisa minta tolong dokter untuk mengadzani bayinya dokter Anna ? suaminya dokter Anna masih di tempat tugas sedangkan di sini tidak ada kerabat laki-lakinya " kata suster Dwi lagi.
" Baiklah " dokter Rahadian mengangguk, mereka lalu menuju tempat bayi Anna dirawat.
" MasyaAllah... tampan sekali " Suster Dwi berdecak kagum melihat bayi Anna. Pandangannya tak lepas dari bayi mungil itu. Ia begitu mengagumi Anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk Anna. Setelah puas melihat bayi Anna, suster Dwi menuju ruang ICU tempat Anna dirawat.
Para reader's.......
__ADS_1
tetap semangat ya untuk membaca, mohon kritik, saran, like dan vote nya, terima kasih 🙏🙏