ISTRI SEORANG PRAJURIT

ISTRI SEORANG PRAJURIT
BAGAS KEMBALI


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Anna berangkat bekerja. Dengan mobil merahnya ia melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Setelah tiba di rumah sakit, ia langsung menuju ruang kerja dokter Rahadian. 10 menit menunggu, akhirnya dokter Rahadian datang.


" Dokter Anna, ayo masuk ". Dokter Rahadian membuka pintu ruangan.


" Baik dok, terima kasih "


" Silahkan duduk dok ". Dokter Rahadian meminta Anna untuk duduk.


" Saya di sini saja dok, saya mau kembalikan ini ". Kata Anna sambil menyodorkan paper bag milik dokter Rahadian.


" Tapi dokter.. saya bilang tidak usah dikembalikan, kalo dokter tidak mau terima, dokter bisa membuangnya "


" Maaf dok, bukankah mengembalikan lebih baik daripada membuangnya ???, tolong diambil kembali dan saya mohon, dokter jangan ganggu kehidupan saya lagi ". Anna meletakkan paper bag di atas meja kemudian berlalu pergi.


" Dokter Anna.... Dokter Anna... tunggu... tunggu sebentar dok ". Dokter Rahadian masih mengejar langkah Anna yang setengah berlari.


Hingga beberapa saat kemudian, ia sudah berada di hadapan Anna. Anna menghentikan langkah sejenak lalu menatap ke arah dokter Rahadian. Dokter Rahadian tiba-tiba menggenggam kedua tangan Anna, Anna berusaha melepaskan namun tangannya dicengkeram kuat.


" Tunggu sebentar dok, sebentar saja dengarkan saya. Saya minta maaf dok, tapi saya tidak akan berhenti untuk mencintaimu, terserah dokter mau menerima saya atau tidak. Selamanya... saya akan selalu mencintaimu dengan tulus ".


Dokter Rahadian lalu melangkah pergi. Sementara Anna masih terdiam di tempat, ia mengatur nafas sebentar lalu menatap sekeliling rumah sakit yang sudah mulai terlihat ramai, kemudian dengan langkah pelan ia menuju ke ruangannya. Di tempat lain, di sudut rumah sakit, sepasang mata sedari tadi memperhatikan dokter Anna.


Sementara di ruangannya, dokter Rahadian terlihat menatap lekat foto-foto Anna serta baby Arsya yang ia abadikan saat ia merawat Anna dan bayinya.


" Saya ingin sekali berada di sisi kalian, saya ingin sekali menggantikan posisi suamimu yang telah tiada. Saya tidak memintamu untuk melupakannya tapi saya siap hidup di bawah bayang-bayang cintamu terhadap suamimu, saya sungguh mencintaimu dokter Anna, semoga kamu bisa membuka hatimu untukku ". Ucapnya lirih.


Dokter Rahadian mencium sekilas layar ponselnya lalu membenamkan ke dalam dadanya. Ia memejamkan mata sejenak lalu seulas senyum terukir indah di bibirnya.


****************


Kembali ke sudut rumah sakit, di mana seseorang yang mengamati Anna kini sudah berada dalam sebuah mobil. Wajahnya terlihat putus asa, apa yang dilihatnya tadi membuat dadanya terasa panas, karena terbakar cemburu dan emosi ia lalu menghantam jendela mobil dengan kepalan tangannya hingga terluka.


" Sialan... " umpatnya.


" Ada apa bro ? kamu kenapa ??"


" Tidak apa-apa, hanya sedikit kesal "


" Kesal ?? why ?? bukankah harusnya kamu senang karena telah bertemu dengan istrimu ?? "


" Harusnya seperti itu, tapi kenyataannya tidak sesuai dengan harapan saya. Sepertinya dia sudah bahagia karena telah menemukan pengganti saya".


" Apa ??? apa kamu sudah memastikannya ? terkadang apa yang kita lihat itu belum tentu benar, jadi sebelum menyimpulkan alangkah baiknya dicari kebenarannya dulu "

__ADS_1


" Tapi saya melihatnya dengan jelas, dia bersama dengan orang lain saling berpegangan tangan ".


" Tenang dulu bro, obati dulu luka di tanganmu itu ".


Salman melemparkan kotak P3K ke arah Bagas. Bagas Kembali lagi, belum sempat ia menemui Anna namun ia sudah harus menyaksikan pemandangan yang membuatnya kecewa.


" Terima kasih bro, sekarang ayo kita ke rumah ibuku. Saya sangat merindukan beliau, ibu pasti akan senang sekali melihatku kembali, kita akan menunggu istri saya di rumah "


" Ok bro, let's go... "


Mobil mereka pun berlalu meninggalkan pelataran rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, Bagas dan Salman telah berdiri di depan pintu. Perasaan haru mendadak menyelimuti hati Bagas, tubuhnya bergetar hebat, air matanya berderai mengalahkan derasnya air hujan. Dengan tangan gemetar, ia menekan bel rumah dan sesekali mengetuk pintu.


Ceklek...


Suara pintu terbuka.


" Maaf dengan siapa ya ? ". Terdengar suara lembut Ibu Rani bertanya, dengan mata yang menatap ke arah dua pemuda yang berdiri membelakangi pintu.


Bagas lalu menoleh tersenyum.


" Allahu Akbar.... !! Bagas putraku...!! Kamu... Ka... ". Ibu Rani terkulai lemas.


Bagas dan Salman mengangkat tubuh wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di atas sofa.


" Beliau tidak apa-apa, hanya sedikit syok ". Kata Salman usai memeriksa Ibu Rani.


" Bik Minah... Pak Hasan..... ". Teriak Bagas, namun tidak ada jawaban.


Rista dan Arya yang mendengar suara ribut-ribut, segera keluar dari kamar lalu menuju arah sumber suara.


" Ada apa ini ? apa yang terjadi ". Tanya Arya seraya menatap ke arah Salman, ia lalu meraih pundak Bagas memintanya menjauh dari ibu mertuanya.


" Permisi... tolong minggir, mari biar kami yang periksa "


Bagas berbalik dan alangkah terkejutnya Arya dan Rista melihat siapa yang ada di hadapan mereka.


" Bagas.. !!! Abang !!! ". Arya dan Rista memekik bersamaan.


" Iya dek, ini abang ".


" Abang masih hidup ? Abang telah kembali, terima kasih ya Allah... Hiks...Hiks... Hiks... dedek rindu bang... dedek rindu ". Rista memeluk erat Bagas. Tangisnya pecah seketika membuat Ibu Rani tersadar dari pingsannya. Ia membuka mata pelan, menatap ke arah sekeliling.

__ADS_1


" Bagas putraku... apa betul itu dirimu nak ?? ". Ucapnya dengan suara pelan.


" Iya bu, ini Bagas bu, Bagas masih hidup ". Bagas menggenggam dan mencium kedua tangan ibunya berkali-kali.


" Ya Allah... terima kasih karena Engkau telah memberikan putraku kesempatan untuk hidup kembali, semua berkat kuasa_Mu ya Allah. Terima kasih putraku sayang... karena kamu mampu bertahan melewati semua ini, kami telah menganggap kamu telah tiada nak dan bahkan kami telah menggelar doa serta upacara pemakaman untukmu. Seakan tidak percaya dengan semua ini tapi kamu betul-betul telah kembali nak. Terima kasih putraku.... ". Ibu Rani memeluk Bagas dengan penuh kesedihan. Air matanya seakan tak pernah kering meski tiap hari menangisi putranya yang telah dianggapnya mati.


" Huh...Huh.... Bagas putraku sayang. Ibu sangat merindukanmu nak, terima kasih sayang karena kamu tetap bertahan ". Ibu Rani semakin mengeratkan pelukannya.


" Nenek... Kenapa nenek nangis ?? ". Arsya yang sedari tadi melihat situasi yang belum dia pahami, berlari ke arah Ibu Rani.


" Om siapa ?? kenapa membuat nenek menangis ?? ". Tanya Arsya lagi.


Bagas menatap lekat mata putranya. Ia semakin tak kuasa menahan tangisnya, dipeluknya erat tubuh mungil Arsya.


" Arsya jagoan ayah...!! ini ayah nak, ini ayah sayang "


" Ayah ?? "


" Iya sayang, ini ayah ".


Bagas mengangguk sambil terus memeluk Arsya yang dibalas juga dengan pelukan erat.


" Arsya merindukan ayah, ibu selalu bilang kalau ayah pasti akan kembali, terima kasih karena ayah telah menepati janji, ibu tiap hari menangis menatap foto ayah, ibu sangat sedih karena ayah perginya lama sekali ". Celoteh Arsya, membuat hati Bagas semakin teriris sakit karena sudah berprasangka buruk terhadap istrinya.


" Ayah janji tidak akan pergi lagi sayang, ayah akan selalu di sini bersama kalian "


" Benarkah ayah ? "


" Iya sayang "


" Terima kasih ayah, ibu pasti akan merasa senang, ayo aunty segera telpon ibu agar ibu segera pulang ke rumah ". Pinta Arsya pada Rista.


" Baiklah, aunty telpon ibu di atas ya ". Rista melangkah menuju kamarnya.


Semua seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Bik Minah juga Pak Hasan begitu terkejut melihat majikannya ternyata masih hidup.


" Semoga den Bagas selalu diberi umur yang panjang sama Allah, bibi ikut terharu melihat den Bagas telah kembali, bibi senang sekali den Bagas ternyata masih hidup ". Ucap bik Minah sesaat setelah membawakan minuman dan camilan untuk majikannya.


" Aamiin, terima kasih bik "


" Sama-sama den, silahkan diminum "


" Iya bik.. terima kasih "

__ADS_1


" Sama-sama den ". Bik Minah lalu kembali ke dapur.


Bahagia, terlihat wajah mereka dihiasi senyuman. Suasana menjadi hangat kembali. Gelak tawa sesekali terdengar memenuhi ruang tamu. Semua telah hanyut dalam suasana yang penuh suka cita.


__ADS_2