
Bagas menyimpulkan senyum saat melihat wajah Anna yang sudah berseri-seri. Bahagia itu sederhana saja, dengan melihat senyuman manis istrinya, hatinya juga akan bahagia, damai dan tentram. Bagas sungguh mencintai istrinya tidak ada yang berarti dalam hidupnya kecuali istri dan anaknya.
Semilir angin subuh jadi saksi betapa mesranya ia mencumbu Anna, kenikmatan yang hakiki adalah ketika bercinta dengan istri yang baru saja reda dari amarahnya. Bagas masih terus membelai tubuh istrinya.
" Aahh.. Sudah dong mas, kita sudah melakukannya berkali-kali " Tolak Anna namun bibirnya masih saja mendesah.
" Tapi kamu menikmatinya kan sayang ? "
" Apaan sih mas ini " Anna tersenyum malu, ia lalu mencubit pinggang suaminya.
" Aauww... sakit sayang " Bagas meringis kesakitan.
Bagas menyerang Anna bertubi-tubi, tapi bukan serangan yang menyakitkan ya, melainkan serangan kenikmatan. Anna hanya bisa pasrah. Suara desahan mereka memenuhi ruangan kamar. Mereka melakukan penyatuan berkali-kali, sampai tenaga mereka betul-betul terkuras habis.
*************
Dert.... Dert...
Suara ponsel bergetar, Bagas meraih ponselnya dari atas nakas. Ia menjawab telpon dari Rista adiknya.
" Assalamu 'alaikum '' ucap Bagas.
" Wa'alaikum salam, bang.. baby Arsya mana, boleh video call tidak ? " tanya Rista.
" Baby Arsya lagi di rumah, abang lagi di kantor ini, telpon ke nomor ibunya Arsya aja dek " jawab Bagas.
" Sudah bang tapi tidak aktif "
" Ya udah.. nanti kalo abang di rumah baru abang telpon balik ya "
" Baiklah kalo gitu bang, Assalamu 'alaikum "
" Wa'alaikum salam " jawab Bagas.
Rista terlihat sedikit kecewa karena dia begitu merindukan ponakannya namun nomor Anna tidak aktif dan Bagas sedang tidak di rumah. Ia merasa sangat bosan jika berada di apartemen Arya. Aulia juga telah dihubunginya tapi tidak tersambung.
" apa aku main ke kantor kak Arya saja ya ". Gumamnya lalu bersiap dan menuju kantor Arya.
Taksi yang ditumpangi Rista telah tiba di halaman kantor suaminya. Ia masuk ke dalam gedung kantor yang begitu besar. Terlihat banyak orang yang lalu lalang di sana. Setelah bertanya pada resepsionis, ia lalu menuju ruangan Arya. Di depan ruangan Arya telah duduk manis Gita sekretaris Arya yang tersenyum menatap ke arahnya.
" Bu Arya... selamat datang " Sapa Gita dengan sedikit membungkuk.
" Panggil Rista saja mbak dan tidak usah terlalu sopan begitu "
__ADS_1
" Baik bu, silahkan duduk dulu, saya akan beritahu pak Arya dulu "
Rista hanya mengangguk dan beberapa saat kemudian Gita telah kembali lagi.
" Silahkan masuk bu "
" Terima kasih mbak, panggil Rista saja ya "
" Sama-sama bu, eh... maaf Rista " kata Gita lagi.
" Ok mbak " Rista tersenyum lalu melangkah masuk ke ruangan Arya.
Di dalam ruangan, terlihat Arya yang sedang sibuk memeriksa berkas. Ia menghentikan pekerjaannya saat mendengar pintu di buka dan sosok istrinya melangkah masuk ke arahnya. Arya tersenyum lebar.
" Istriku sayang, kamu kesini, apa kamu perlu sesuatu sayang ? "
" Iya kak.. aku bosan di rumah, aku tak butuh apa-apa, aku hanya ingin bersamamu, apa aku mengganggu pekerjaanmu ? " Rista mengerucutkan bibirnya.
" Mari duduk sini " Arya menepuk pahanya.
Rista lalu duduk di atas pangkuan suaminya, Arya memeluk tubuh istrinya dari belakang.
" Tentu saja kamu sangat mengganggu sayang, aku tidak bisa bekerja jika kamu berada di sini " bisik Arya di telinga istrinya.
" Maksudku, aku tidak tahan bekerja sebelum menikmati tubuh indah ini " ucap Arya sambil menatap mesra ke arah Rista, ia lalu membawa istrinya ke ruang istirahat yang ada di sebelah meja kerjanya, terdapat sebuah ranjang di sana.
" Tolong jangan biarkan orang masuk ke dalam ruangan saya, saya perlu waktu dengan istri saya dulu " kata Arya yang sedang menelpon Gita.
" Baik pak " terdengar suara Gita dari balik telpon. Arya lalu menutup panggilan kemudian meletakkan ponsel di atas meja. Ia lalu menghampiri Rista yang sudah duduk di bibir ranjang.
" Sayang... " Arya menyambar bibir tipis Rista dan menindihnya. Satu persatu pakaian istrinya dilucuti begitu juga dengan pakaiannya hingga mereka sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.
Bagi Arya, Rista bagaikan candu yang selalu memabukkannya. Ia belum puas jika tidak memainkan tiap titik sensitif Rista, tiap erangan Rista bagaikan sebuah alunan lagu yang merelaksasi pendengarannya.
" Kak Arya... aku tidak tahan lagi kak, pengen pipis " desah Rista saat Arya mengobrak abrik organ intimnya.
" Lepaskan saja, ini bukan pipis tapi pelepasan sayang " ucap Arya dengan lidah yang terus dijulurkan masuk ke lembah milik istrinya.
Tubuh Rista menggelinjang. Bersamaan dengan lenguhan panjangnya, cairan bening kental dan terasa hangat keluar dari lembah miliknya. Arya menelan semua cairan yang terasa manis itu. Kini giliran Arya yang tidur telentang, ia meraih tangan Rista untuk memainkan juniornya yang sudah menegang.
" Sekarang giliran kamu sayang, bermainlah " pinta Bagas.
Rista terlihat begitu malu.
__ADS_1
" Bagaimana caranya kak ? " tanyanya dengan begitu polos. Arya lalu meraih laptop di atas meja dan memperlihatkan sebuah video di sana. Rista menelan ludah saat melihat adegan video yang memperlihatkan seorang wanita sedang memasukkan organ intim pasangannya ke dalam mulutnya.
" Aku harus seperti itu kak ? " Rista menatap Arya.
Arya tersenyum.
" Kurang lebih seperti itu sayang, sama seperti yang aku lakukan tadi padamu "
Rista lalu melakukan adegan yang dilihatnya dalam video itu. Meski tidak terlalu mahir, namun caranya bermain mampu membuat Arya melayang-layang.
" Ah.... Terus sayang, lebih cepat lagi " teriak Arya.
Rista menghisap junior Arya dan terus memacu gerakan kepalanya.
" Ahhh... terus sayang, Ah... aku mau keluar sayang, Aaaaaaaaahhhhhhhhh " Arya menumpahkan cairan ****** ke dalam mulut Rista hingga muncrat kemana-mana.
Rista terkulai di sisi Arya. Arya membersihkan wajah Rista dengan tissue.
" Terima kasih sayang, permainanmu cukup hebat, tapi aku mau lagi ya "
Arya lalu membenamkan wajahnya pada bukit kembar Rista, ia menghisap ****** istrinya satu persatu. Kini Rista yang terus mengerang.
" Kak Arya.... terus kak... aku sangat menyukainya, jangan berhenti "
Mendengar teriakan polos istrinya, Arya semakin gila. Ia terus mengulum dan sesekali menggigit benda kenyal itu hingga telah berubah warna menjadi kemerahan. Namun Rista tidak merasakan sakit melainkan ia merasakan kenikmatan yang tiada tara.
" Aaaahhhh.... terus kak... rasanya nikmat sekali " Rista terus saja mendesah. Mendengar desahan istrinya membuat Arya semakin bernafsu, ia lalu membuka lebar paha Rista lalu membenamkan juniornya yang sudah berdiri tegak.
1 menit...
2 menit...
3 menit....
Hingga bermenit-menit lamanya Arya terus menggoyangkan pinggulnya dan hingga akhirnya mereka telah mencapai puncaknya. Mereka saling berpelukan erat. Bulir-bulir keringat membasahi tubuh mereka.
" Terima kasih sayang, istirahatlah dulu, aku akan lanjutkan pekerjaan " Arya mengecup kening istrinya. Ia lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat keluar dari kamar mandi, Arya tersenyum menatap istri kecilnya yang telah terlelap. Usai berganti pakaian ia mendekati Rista lagi.
" Tidurlah sayang, pasti kamu sangat lelah, terima kasih istri kecilku " ucap Arya kemudian beranjak dari ruang istirahat menuju meja kerjanya. Ia merasa sangat bersyukur mendapatkan seorang istri seperti Rista. Rista adalah wanita yang sangat sederhana, tidak pernah menuntut banyak hal darinya. Arya begitu mencintai Rista.
Bahagia itu sederhana, tidak perlu melakukan banyak hal tapi cukup lakukan satu hal saja yaitu mencintainya dengan tulus
__ADS_1