ISTRI SEORANG PRAJURIT

ISTRI SEORANG PRAJURIT
SINGLE PARENTS


__ADS_3

1 Tahun kemudian.


..


..


Bukan melupakan tapi mencoba untuk tetap bertahan. Sudah setahun Anna berusaha memulihkan diri, kembali bekerja sedikit membuatnya melupakan secercah kesedihannya. Dukungan keluarga juga support dari teman-temannya tidak pernah terhenti. Berkat mereka, ia bisa bangkit kembali memulai hidupnya dengan status single parents bagi putra semata wayangnya.


Hari itu, Anna nampak sibuk sekali. Banyak pasien yang datang berkunjung. Di luar, langit Jakarta telah dinaungi senja, matahari betul-betul telah meninggalkan cakrawala dan Anna baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia bergegas menutup laptop kemudian merapikan meja lalu dengan langkah tergesa-gesa berjalan keluar meninggalkan ruangan kerjanya. Baru saja ia hendak naik ke mobil, sebuah suara memanggil namanya, ia pun menoleh.


" Dokter Anna... saya sedari tadi menunggumu, ada waktu sebentar ? "


" Dokter Rahadian, ada perlu apa dok ? kenapa tidak langsung menemui saya di ruangan tadi ? ''


" Bukan masalah pekerjaan jadi saya sengaja minta bertemu di luar jam kerja, bagaimana kalau kita ke cafe sebelah "


" Baiklah dok, saya tidak bisa lama ya karena anak saya sedang menunggu saya di rumah "


" Iya dok, sebentar saja "


Mereka pun menuju cafe yang ada di dekat rumah sakit.


" Dokter Anna, saya langsung saja ya, saya mengajakmu ke sini karena ingin memberitahu kalau saya menyukaimu, saya ingin menjadi ayah dari anakmu dan ingin dokter Anna menjadi istri saya ". Dokter Rahadian membuka pembicaraan.


Anna menghela nafas lalu menghembuskannya pelan, kemudian tersenyum menatap Dokter Rahadian.


" Terima kasih banyak dok, saya sangat menghargai perasaan dokter ke saya, tapi mohon maaf sekali... saya tidak bisa menerimanya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Bagas di hati saya. Sekali lagi saya mohon maaf, permisi ''. Anna berdiri dari duduknya dan hendak melangkah pergi, tapi dokter Rahadian menghalangi langkahnya.


" Tunggu dok, saya mengerti tapi saya akan tetap menunggu sampai dokter siap menerima saya. Ini untuk dokter tolong diterima, jika tidak mau menerimanya silahkan dibuang saja ". Dokter Rahadian meletakkan sebuah paper bag di atas meja kemudian berlalu pergi meninggalkan Anna.


Anna masih terdiam. Dia bingung dengan paper bag yang ada di atas meja. Apa ia harus meninggalkannya di sana atau membuangnya ?, akhirnya ia memutuskan untuk membawanya pulang.


30 menit kemudian, mobilnya memasuki halaman rumah. Arsya berlari menghampirinya.


" Hore...!! ibu sudah pulang "


" Anak ibu.. sudah mandi ? ". Anna memeluk lalu mengendus mencium aroma tubuh putranya yang sudah sangat wangi.


" sudah mandi bu, aunty yang mandiin "


" Aunty ada di dalam ? "

__ADS_1


" Iya bu, tadi aunty datang sama om juga, bawakan Arsya mainan sama es krim ". Celoteh Arsya yang sudah sangat fasih berbicara. Tidak terasa umurnya sudah 3 tahun. Anna tersenyum menatap wajah Arsya yang berbinar-binar.


" Benarkah ?? kalo gitu yuk kita masuk, ibu mau lihat mainannya ". Anna menggiring Arsya masuk ke dalam rumah.


****************


Semua telah duduk di meja makan. Terlihat Rista begitu lahap menikmati sup iga buatan Anna. Sejak dia hamil dia selalu ingin makan masakan kakak iparnya, sehingga tiap minggu pasti ia datang untuk menginap.


" Uhuk...Uhuk.. Uhuk ". Rista tersedak


" Pelan dong sayang makannya ". Arya menyodorkan segelas air putih.


" Iya kak... maaf.. hehehe "


" Ini masih banyak dek, jadi pelan-pelan ya "


" Iya kak Anna, masakannya enak banget jadi bikin lahap makan, takut dihabiskan sama Arsya ". Rista melirik Arsya.


" Ihh.. Arsya makan dikit aja aunty, lihat nih perutnya Arsya kecil. Aunty yang makannya banyak, lihat itu perutnya aunty besar ". Arsya menunjuk ke arah perut Rista.


" Ha... ha.. ha... ". Semua tertawa mendengar Arsya.


" Iya nek.. Arsya ingin makan banyak supaya bisa cepat besar, kalau Arsya cepat besar nanti ayah akan senang melihat Arsya, benar kan bu ? "


Anna menoleh ke arah putranya. Setitik air jatuh dari sudut matanya.


" Iya sayang ". Ucapnya seraya menganggukkan kepala.


Usai makan malam, Anna pamit kembali ke kamar karena ada pekerjaan yang hendak diselesaikan, sedangkan yang lainnya masih berkumpul di ruang keluarga. Rista masih ingin bermain dengan Arsya. Mereka masih ingin mendengarkan celotehan Arsya.


Malam semakin larut, tidak terdengar lagi suara gelak tawa dari ruang keluarga. Anna melirik jam sudah pukul 10.00 malam, baru saja ia hendak beranjak dari meja kerja untuk melihat Arsya namun Rista sudah datang mengetuk pintu kamar.


" Kak Anna... kami masuk ya ". Rista membuka pintu, terlihat Arsya sudah terlelap dalam gendongan Arya.


" Letakkan di sini saja, terima kasih ya "


Arya mengangguk lalu meletakkan Arsya di atas kasur.


" Baiklah, kami permisi ya ". Ucap Arya lalu menggandeng tangan Rista.


" Tunggu kak ". Langkah Rista terhenti saat melihat paper bag di meja rias Anna. Ia lalu tertarik untuk membukanya. Arya menggelengkan kepala mencoba untuk mencegah Rista namun istri kecilnya itu masih saja membuka barang milik orang lain.

__ADS_1


Anna yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya di laptop, tidak mengira kalau Rista dan Arya masih berada di dalam kamarnya. Rista yang baru saja membaca surat dari dokter Rahadian dan melihat sebuah cincin dalam paper bag, terlihat geram, tangannya yang bergetar meremas kertas surat itu. Ia berjalan ke arah Anna lalu menghempaskan surat serta cincin itu di atas meja.


" Kakak sudah mau menikah ?? apa secepat itu kak Anna melupakan abang Bagas ?? ". Teriak Rista.


" Sayang.. apa yang kamu lakukan ? kakak sudah memperingatkan untuk tidak melihat barang orang lain tanpa ijin, kamu masih saja membukanya, ayo kita kembali ke kamar. Tolong maafkan sikap Rista ya ". Kata Arya lalu menarik tangan Rista untuk keluar namun Rista masih belum mau keluar.


" Ini punya dokter Rahadian, saya bahkan belum melihat isinya. Memang benar dia memberikan ini untuk saya tapi saya tidak berniat untuk menerimanya ". Jelas Anna.


" Terus kenapa kak Anna membawanya pulang ? kenapa tidak mengembalikannya atau membuangnya saja ? kalo kakak membawanya pulang berarti kakak masih memberinya harapan, atau mungkin kakak mau menerimanya karena tidak bisa bertahan jadi single parents buat Arsya ?? "


" Rista...!!! hentikan.. !!! kamu itu sudah keterlaluan, ayo kita kembali ke kamar ". Arya menarik paksa Rista keluar dari kamar Anna.


" Lepasin kak..... tanganku sakit ". Rista terus memberontak namun Arya tidak melepaskannya hingga mereka sudah berada di dalam kamar mereka. Arya lalu mengunci pintunya.


" Kamu itu kenapa sih sayang ?? apa kamu tidak sadar kalau ucapan kamu telah menyakiti hati orang lain ? kamu tidak lihat betapa terlukanya Anna selama setahun terakhir ini, ia bahkan tidak berniat melanjutkan hidupnya lagi. Tolong sayang, kamu jangan menghilangkan lagi semangat hidupnya "


" Apa kak Arya masih menyukai kak Anna ? "


Arya menghela nafasnya lalu membuangnya kasar.


" Astagfirullah... apa maksud kamu ?? "


" Lalu kenapa kak Arya membelanya ? "


" Aku tidak membelanya, aku kasihan sama Anna dek. Coba tempatkan posisimu di posisinya ? Bagaimana jika kamu yang kehilangan suami kamu ? terus kamu dituduh melakukan hal yang tidak kamu lakukan ?. Kamu juga seorang wanita sayang, harusnya kamu lebih paham perasaannya. "


Rista lalu memeluk Arya.


" Jangan berkata seperti itu kak... aku tidak bisa hidup jika kak Arya tidak berada di sampingku, maafkan aku kak... "


Tubuh Rista bergetar. Arya menenangkan istrinya. Ia memaklumi, mungkin karena pengaruh hormon kehamilan Rista hingga ia sering emosional dan lebih sensitif.


" Sudahlah sayang, jangan menangis lagi, besok kamu minta maaf ya sama Anna dan jangan diulangi lagi kejadian ini. Aku sangat mencintaimu sayang, tidak ada yang lain lagi di dalam hatiku. Aku terluka jika kamu mengira aku menyukai orang lain. Ummuacch... ". Arya mengecup kening Rista.


" Iya kak.. aku minta maaf ya, kak Arya jangan marah ya "


" Iya sayang... tidurlah ". Arya membaringkan tubuh Rista lalu menyelimutinya, kemudian ia pun ikut berbaring di sebelah istrinya.


Di kamar, Anna tertunduk lesu. Ia memasukkan paper bag milik dokter Rahadian ke dalam tasnya. Ia menyesal karena telah membawanya pulang ke rumah. Setitik air bening menetes di ujung matanya, mengingat kembali ucapan Rista.


" mas... bagaimana kabarmu di sana ? mengapa kamu tega melakukan ini padaku mas ?? saya begitu merindukanmu mas.. ". Anna berucap lirih.

__ADS_1


__ADS_2