ISTRI SEORANG PRAJURIT

ISTRI SEORANG PRAJURIT
TEMAN RASA SAUDARA


__ADS_3

Para pembaca yang budiman,


Terima kasih karena terus mengikuti cerita "Istri Seorang Prajurit".


Semua tokoh, pangkat, jabatan dan segala hal yang terjadi dalam cerita ini adalah sifatnya Fiksi, jika ada kesamaan nama, peristiwa dan adegan berarti itu hanya kebetulan saja.


Mohon sertakan kritik dan saran pada kolom komentar.


Dan jangan lupa beri dukungan like dan vote untuk author ya.


Terima kasih semuanya 🙏🙏🙏😍😍😍😍


kita lanjut lagi ya ceritanya.....


.


.


.


.


.


.


.


.


Sudah sebulan lamanya setelah Pratu Imron dan Suster Dwi melangsungkan pernikahan. Kini mereka telah kembali ke Papua lagi. Pratu Imron telah kembali bekerja dan Suster Dwi yang sudah berstatus sebagai PNS telah mengajukan pindah ikut suami dan telah bekerja di salah satu rumah sakit yang ada di Sorong Papua Barat. Meski bekerja, ia tetap menyesuaikan diri dengan kegiatan Persit.


Hari itu, dalam kegiatan pertemuan gabungan, Suster Dwi memperkenalkan diri di hadapan Ibu ketua, Ibu Danki dan Ibu-Ibu yang lain.


Dalam Organisasi Persit, setiap ibu yang baru menikah, harus memperkenalkan diri di hadapan Ibu Ketua, Ibu Danki dan Ibu-Ibu yang lain. Saat perkenalan, ibu baru bukan hanya memperkenalkan diri tapi juga harus menyebutkan nama, nrp, pangkat dan jabatan suami dengan lengkap.


" Assalamu 'alaikum, Selamat siang !! Mohon ijin ibu. Perkenalkan nama kecil kami Dwi Anggraeni, umur 27 tahun, asal dari Bandung, kami istri dari Muhammad Imron, pangkat Prajurit Satu, nrp 311215540589, jabatan tabakpan 1 regu 3 ton morse Kompi Bantuan, hobi kami memasak dan olah raga. Ijin, sekian dari kami ". Suster Dwi memperkenalkan diri dengan baik dan lancar.


" Ibu Imron silahkan pilih mau nyanyi atau menari atau puisi atau kemampuan yang lain, silahkan lakukan salah satunya " Perintah Ibu Ketua.


" Ijin siap ibu.. kami mau menyanyi saja ". Jawab Suster Dwi, ia sudah menduga pasti dia akan diminta melakukan sesuatu saat perkenalan.


" Baiklah.. silahkan bu, yang bagus ya " kata Ibu Ketua lagi.


" Ijin siap ibu, kami akan menyanyikan lagu yang berjudul Cinta Terbaik dari Cassandra, selamat mendengarkan "


Suster Dwi kemudian mulai bernyanyi.


Jujur saja 'ku 'tak mampu


Hilangkan wajahmu di hatiku


Meski malam mengganggu


Hilangkan senyummu di mataku


'Ku sadari aku cinta padamu

__ADS_1


Meski 'ku bukan yang pertama di hatimu


Tapi cintaku terbaik untukmu


Meski 'ku bukan bintang di langit


Tapi cintaku yang terbaik


Jujur saja 'ku 'tak mampu


'Tuk pergi menjauh darimu


Meski hatiku ragu (uh...)


Kau 'tak di sampingku setiap waktu


'Ku sadari aku cinta padamu


Meski 'ku bukan yang pertama di hatimu


Tapi cintaku terbaik untukmu


Meski 'ku bukan bintang di langit


Tapi cintaku yang terbaik


Oh, meski 'ku bukan yang pertama di hatimu


Tapi cintaku terbaik untukmu


Meski 'ku bukan bintang di langit


Ibu Ketua berdiri memberikan tepuk tangan yang diikuti oleh Ibu-Ibu yang lain. Suara Suster Dwi begitu indah dan sangat merdu.


" Suara Ibu Imron indah sekali, nanti kalau ada acara bisa ikut memeriahkan ya atau bisa diikutkan lomba mewakili satuan kita ". Ucap Ibu Ketua.


" Ijin siap ibu, terima kasih ". Jawab Suster Dwi, lalu kembali duduk di kursinya. Ia melihat Anna tersenyum puas ke arahnya dan membalas dengan senyuman juga.


Usai pertemuan, Suster Dwi mendekati Anna sambil berbisik.


" Ijin, terima kasih dokter karena kami sudah diajar dengan baik "


" Sama-sama sus, santai saja " kata Anna sambil merangkul lengan Suster Dwi.


Anna dan Suster Dwi masih merasa nyaman dengan sapaan mereka sebelumnya. Anna selalu melarang Suster Dwi bersikap terlalu sopan padanya dan Suster Dwi akhirnya bersikap lebih santai namun tetap sopan. Mereka selalu menjaga keakraban mereka. Begitu juga hubungan Bagas dan Pratu Imron. Kedekatan mereka bukan hanya seperti seorang atasan dan bawahan tapi lebih kepada teman, tepatnya teman rasa saudara.


*****************


Malam hari di rumah Bagas, di bawah sinar bulan purnama Pratu Imron ditemani Bagas sedang sibuk membuat api untuk acara barbaque (bakar-bakar). Sementara Anna dan Suster Dwi sedang menyiapkan nasi, sayur, sambel dan makanan pelengkap lainnya.


Api telah siap, Pratu Imron meletakkan ikan, ayam, cumi dan juga sosis di atas pembakaran.


" Jangan lupa dibalik Imron " ucap Bagas sambil terus mengipasi api agar tetap menyala.


" Ijin siap danki " jawab Pratu Imron.


30 menit kemudian mereka telah selesai membakar semua lauk dan membawanya ke teras tempat Anna dan suster Dwi sedang duduk menunggu.

__ADS_1


" Sudah matang, ayo kita makan " kata Bagas.


" Wow... yuk kita makan, selamat menikmati " ucap Anna dengan mata yang berbinar-binar.


Mereka lalu menikmati makan malam mereka ditemani alunan musik dari speaker dan sesekali kehebohan terjadi akibat ulah baby Arsya yang tidak mau diam dan mengacaukan makan malam mereka.


" duduk tenang di sini dulu ya baby Arsya sayang " ucap Anna sambil meletakkan baby Arsya di atas stroller.


" ba...ba.. " Celoteh baby Arsya.


" Jagoan ayah sudah pintar jawab ya " Bagas terlihat senang mendengar celotehan putranya.


" Ijin, baby Arsya sudah bisa punya adik lagi itu Danki " sahut Pratu Imron.


" Ha ha ha... Gampang itu Imron, nanti bisa diatur, tapi kalian dulu lah " Bagas membalas candaan Pratu Imron.


" Ijin siap, Insya Allah... kami masih berjuang Danki "


" Bagaimana kalo kita bertarung kira-kira siapa yang lebih dulu dapat, boleh kan sayang ? " Bagas menatap ke arah Anna sambil mengedipkan mata.


" Ijin.. kode keras itu dokter " tambah suster Dwi.


" Stop ya... No... No...No... boleh kalau mas yang hamil, bukan saya ". Ketus Anna.


" Ha... Ha.... Ha.... Aduh.. Belum dapat lampu hijau Imron, kalian saja kalo gitu "


" Ijin, siap danki, sebentar kita bertempur lagi ya dek ". Pratu Imron melirik ke arah Suster Dwi.


" Ihhh... apaan sih abang ini ". Suster Dwi mencubit pinggang suaminya.


" Hahaha.... " Semua tertawa.


Malam semakin larut, mereka masih duduk bercengkrama satu sama lain. Sesekali terdengar gelak tawa dari mereka.


Anna merasa sangat bahagia. Semenjak Suster Dwi bergabung jadi Ibu Persit, ia bersyukur karena merasa tidak sendirian lagi. Di rantauan yang jauh dari orang tua dan sanak keluarga apalagi di Papua, Indonesia bagian timur yang terdengar begitu jauh dan masih dikenal daerah pedalaman, ternyata tidak seburuk yang dibayangkan.


Suster Dwi menjadi teman dalam suka maupun duka, bahkan Anna menganggapnya seperti saudara sendiri.


" Terima kasih ya sus " ucap Anna sesaat setelah Duster Dwi membantunya beres-beres.


" Sama-sama dokter, terima kasih juga karena kami sudah diundang makan malam ". Jawab Suster Dwi.


" Ijin, Kalo gitu kami pamit pulang danki, terima kasih " sahut Pratu Imron.


" Sama-sama Imron "


" Ijin, dokter.. kami pulang ya, dah... baby Arsya " tambah Suster Dwi seraya mencium pipi baby Arsya.


" Assalamu 'alaikum ". Pratu Imron dan Suster Dwi mengucap salam bersamaan.


" Wa'alaikum salam ". Jawab Anna dan Bagas serempak.


Mereka kembali masuk ke rumah. Bagas lalu memeluk Anna dari belakang.


" Apa malam ini kita bisa bertempur juga sayang ? ". Bisik Bagas di telinga Anna.


" Mas ini seperti pengantin baru saja, sudah ah... ayo kita tidur, saya capek sekali mas ". Jawab Anna lalu meninggalkan Bagas dan berbaring di atas kasur.

__ADS_1


Bagas menghela nafas sambil memanyunkan bibirnya. Kemudian dengan langkah berat, ia mengikuti Anna ke kasur dan berbaring di sebelah istrinya, sambil memeluknya dari belakang.


__ADS_2