
Seperti biasa, kini Bagas telah disibukkan kembali dengan kegiatannya. Sementara Anna masih dalam masa cutinya, ia menunggu baby Arsya berumur 3 bulan dulu baru ia akan menyesuaikan diri dengan kegiatan. Pagi itu, Anna masih menggelayut manja dalam pelukan Bagas, ia melarang suaminya untuk bangun dari kasur.
" Lepas dulu sayang, mas mau bangun untuk mandi " ucap Bagas seraya berusaha melepaskan pelukan Anna.
Anna semakin mengeratkan pelukannya dan malah bermain-main dengan area sensitif Bagas. Sontak saja membuat benda di bawah sana meronta2 ingin ikut bermain. Tanpa menunggu lagi Bagas langsung menyerang istrinya. Di bawah selimut mereka saling menyalurkan hasrat lagi, mereka melakukan pergulatan hebat. Desahan dan erangan terus saja lolos dari bibir mereka meski mereka berusaha untuk tidak bersuara.
" Ah.... terus Bagas sayang, lebih cepat " suara Anna terdengar begitu mesra.
Bagas semakin mempercepat gerakannya dan membungkam mulut Anna dengan bibirnya agar tak bersuara. Hingga beberapa saat kemudian tubuh mereka sama-sama bergetar, mereka telah mencapai klimaks. Olahraga yang satu ini, mereka tak pernah bosan untuk terus melakukannya apalagi mereka jarang bersama, tentu saja saat bertemu kembali mereka selalu ingin bermesraan dan lengket terus seperti prangko. Ini seninya jika menikah dengan TNI, tiap suami baru pulang tugas, rasanya seperti pengantin baru lagi.
" Terima kasih sayang, kamu mandi duluan ya biar mas jaga baby Arsya " ucap Bagas sambil mengecup kening istrinya.
" Sama-sama mas, baiklah mas saya mandi duluan ya " Anna lalu bangkit dari kasur menuju kamar mandi.
Bagas menatap baby Arsya yang tertidur pulas. Ia lalu mencium seluruh tubuh putranya yang beraroma khas.
" Selamat pagi jagoan ayah, ayo bangun sayang " Bagas terus mencium baby Arsya hingga ia terbangun.
" Selamat pagi jagoan " ucap Bagas lagi, baby Arsya tersenyum menatap ke arah Bagas sambil sesekali menendang-nendangkan kakinya. Bagas semakin gemas melihat tingkah putranya.
Tak berapa lama, Anna telah selesai mandi dan berganti pakaian.
" Jagoan sudah bangun k ? pasti ayah yang kasi bangun ya, mari sini sama ibu nak, mas buruan mandi sana, tolong sekalian masak air buat baby Arsya ya "
" Siap sayang... ayah mandi dulu ya jagoan " Bagas berdiri namun tidak lupa ia mencium baby Arsya lagi dengan begitu gemasnya.
*******************
Rumah sudah tidak terasa sepi lagi, saat Bagas sedang bekerja, ada baby Arsya yang menemani Anna. Anna tetap mengerjakan pekerjaan rumah ditemani baby Arsya yang tergolek di kasur kecil di ruang tamu. Sepertinya baby Arsya juga ikut menyaksikan serial kartun yang disiarkan di televisi.
" Sayang... kamu seneng ya bisa ikutan nonton ? pinter sekali kamu nak " ucap Anna disela-sela giat menyetrikanya.
Saat Anna telah selesai menyetrika, Bagas juga telah kembali. Ia membuka pintu setelah mengucapkan salam.
" Tumben cepat pulang sayang, apa ada yang kelupaan ? " tanya Anna setelah menjawab salam dari suaminya.
" Mas pulang karena Pratu Imron dengan calonnya mau datang menghadap nikah sayang, mas suruh datang ke rumah saja karena harus ketemu Ibu Danki juga " jawab Bagas.
" Oh... Om Imron sudah mau nikah, calonnya orang mana mas ? " tanya Anna lagi.
__ADS_1
" Entahlah sayang orang mana karena mas belum tanya dia, tapi setahu mas dia itu tidak punya pacar, katanya mau langsung nikah saja jika sudah ketemu yang cocok. Mungkin dia sudah ketemu orang yang pas dan langsung diajak nikah " jelas Bagas.
" Oh... baiklah, kalo gitu saya ganti baju dulu ya mas " Anna lalu masuk ke kamar mengganti baju dasternya dengan baju yang lebih sopan.
Beberapa saat kemudian, Pratu Imron datang bersama calonnya. Subhanallah.... Maha suci Allah yang menyatukan manusia dengan ceritanya masing-masing. Jodoh memang adalah rahasia Allah, kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan bersanding namun percayalah bahwa pasangan yang diberikan Allah adalah yang terbaik buat kita. Anna dan Bagas membulatkan mata melihat siapa yang datang dan itu adalah sesuatu yang mengejutkan bagi mereka.
" Assalamu 'alaikum " Pratu Imron mengucap salam.
" Wa'alaikum salam " Bagas dan Anna menjawab salam bersamaan.
" Suster Dwi !!! ini betulan suster Dwi kan ? ". Pekik Anna.
" Iya dokter, ini beneran Dwi Anggraeni ". Jawab Suster Dwi disertai anggukan kepala.
" Subhanallah.. mari silahkan duduk dulu, kalian ini membuat kami terkejut " ucap Bagas.
" Ijin, siap Danki... " Pratu Imron lalu duduk di sofa bersebelahan dengan suster Dwi.
" Kalian kenapa bisa tiba-tiba mau menikah ? " tanya Bagas lagi.
" Ijin, karena kami sudah merasa cocok jadi kami memutuskan untuk menikah saja, kami tidak mau pacaran Danki. Kami juga takut jika tidak segera melamar Dwi, dia bisa dihalalkan oleh orang lain ". Jawab Pratu Imron dengan tegas membuat Suster Dwi tersipu malu.
" Wah... kalian memang luar biasa ya, diam-diam tapi pasti, hehehe " kata Anna sedikit terkekeh.
" Lihatlah mas, Suster Dwi juga sudah sangat pintar berbicara. Om Imron pasti sudah mengajarinya dengan baik. Tapi tidak usah terlalu sopan begitu sus, kecuali jika suster nanti menghadap dengan Ibu Perwira yang lain, kalau sama saya santai saja. Saya bangga padamu sus, akhirnya kamu memutuskan menjadi istri seorang prajurit. Selamat ya akhirnya kamu telah menemukan jodohmu " kata Anna lagi disertai senyum di bibirnya. Anna kemudian meminta Suster Dwi menyanyikan lagu mars dan hymne Persit. Ia juga menjelaskan tentang Organisasi Persit, bagaimana di dalamnya dan apa saja kegiatannya.
< Flashback Pratu Imron dan Suster Dwi >
Malam saat Pratu Imron telah mengantarkan Suster Dwi. Saat ia telah melajukan mobilnya meninggalkan halaman kontrakan Suster Dwi, ia merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya, hatinya mengatakan bahwa dia harus mengenal suster Dwi lebih jauh. Dalam kekalutan fikirannya, ia memutar balik kemudi mobil lalu kembali ke kontrakan Suster Dwi. Dengan penuh keberanian ia mengetuk pintu rumah Suster Dwi.
" Bang Imron, kenapa kembali lagi ? apa ada sesuatu yang tertinggal ? ". Tanya Suster Dwi saat melihat Pratu Imron datang lagi.
" Ada sesuatu yang saya lupakan, saya lupa meninggalkan hati saya untukmu, saya lupa meminta cintamu untuk saya bawa, saya menyukaimu dan saya ingin melamar kamu menjadi Istriku, apa kamu bersedia menerimaku ? ". Kata Pratu Imron sambil menatap ke arah Suster Dwi.
Suster Dwi terdiam lama. Ia begitu kaget dengan apa yang ada di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang. Meski berkali-kali sebelumnya seseorang menyatakan cinta padanya namun ia melihat yang terjadi sekarang begitu lain dari pada yang lain. Ia begitu mengagumi keberanian Pratu Imron.
" Langit dan bumi menjadi saksinya, saya menyukaimu dan lebih tepatnya saya telah mencintaimu pada pandangan pertama, saya tidak ingin berpacaran namun saya ingin menghalalkan dirimu untuk jadi istriku, apa kamu bersedia ? ". Tanya Pratu Imron lagi dengan tatapan yang penuh harap.
" Apa maksud semua ini ? Bang Imron baru saja bertemu dengan saya, apa secepat itu abang menyukai saya ? "
__ADS_1
" Tidak perlu waktu yang lama, jika kamu bersedia, saya akan mengajakmu menikah, Allah telah menggerakkan hatiku untuk memilihmu dan saya yakin kamu adalah pilihan yang terbaik, maukah kamu menikah denganku ? ". Tanya Pratu Imron lagi untuk yang ketiga kalinya.
Suster Dwi semakin gugup, seluruh tubuhnya bergetar. Ia menatap lekat manik mata Pratu Imron, ia melihat ada ketulusan di sana.
Bismillah... Semoga pilihan ini adalah yang terbaik dan betul-betul dia yang ENGKAU kirim untukku ya Allah.
Suster Dwi berdoa di dalam hati, ia menghela nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
" Bismillah, dengan menyebut nama Allah, saya merima bang Imron, tapi pulanglah dan mantapkan kembali hatimu. Ini nomor ponsel saya, jika ada keraguan atau pun tidak segera berkabar, saya akan menunggunya ". Jawab Suster Dwi sambil menyerahkan secarik kertas yang telah ditulisi nomor ponselnya dan langsung diterima oleh Pratu Imron.
" Baiklah, terima kasih, saya sama sekali tidak ragu dengan keputusan saya, saya permisi pulang, Assalamu 'alaikum " ucap Pratu Imron lalu beranjak pergi meninggalkan rumah kontrakan Suster Dwi. Dalam perjalanan pulang ke rumah Bagas, ia terus saja tersenyum sambil bersiul dan sesekali bersenandung ria.
Saat Pratu Imron ke Malang, ia mengajak orang tuanya untuk melamar Suster Dwi langsung ke rumah orang tua Suster Dwi di Bandung. Orang tua Suster Dwi menerima lamaran Pratu Imron. Beberapa hari kemudian, Pratu Imron berangkat dari Malang dan bertemu dengan Suster Dwi di bandara Soekarno Hatta, mereka sama-sama ke Papua untuk mengurus nikah dinas.
< Flashback Off >
* Pratu Imron dan Suster Dwi 👇
* Bagas dan Anna 👇
* Arya dan Rista 👇
Para pembaca yang budiman,
Tetap ikuti cerita "Istri Seorang Prajurit" ya.
Jangan lupa kritik dan saran di kolom komentar.
__ADS_1
Mohon untuk like serta vote ya.
Terima kasih 🙏🙏🙏🙏