
Entah sudah berapa lama Ibu Rani, Ibu Maryam dan Rista menangis. Mereka masih saja terus menangis terisak sambil terus mencium baby Arsya, seakan mereka tidak tega jika baby Arsya, Anna dan Bagas berangkat ke Papua. Anna dan Bagas juga sangat merasa sedih, namun apa daya ? tugas serta tanggung jawab telah memanggil. Mereka harus memenuhi panggilan bumi pertiwi.
" Bu... Pak... Rista... Arya.... kami berangkat dulu ya " pamit Bagas kepada Ibu Rani, Ibu Maryam, Bapak Handoko, Rista dan Arya, sesaat sebelum masuk ke ruang tunggu bandara.
" Sayang... hati-hati ya, jaga istri dan anakmu baik-baik, segera berkabar jika sudah sampai, kami pasti akan merindukan kalian, terutama baby Arsya cucu nenek " jawab Ibu Rani.
" Iya bu, kami pasti akan selalu memberi kabar, kalian semua sehat dan baik-baik selalu ya " tambah Anna.
" Arya... saya titip ibu dan Rista ya, sering-sering lah menginap di rumah ibu, meskipun kalian telah punya rumah sendiri" kata Bagas kepada Arya.
" Siap bro.. saya akan laksanakan perintah dengan baik, kalian hati-hati ya, selamat sampai tujuan " jawab Arya.
" Baiklah.. kami masuk dulu ya " ucap Bagas lagi setelah menyalami orang tua serta adiknya. Bagas dan Anna pun berlalu pergi usai mengucapkan salam. Air mata hanya bisa meleleh, seakan menjadi saksi bahwa kita akan berpisah lagi dengan keluarga tersayang. Nasib seorang TNI yang harus selalu siap ditugaskan di mana saja dan rela jauh dari keluarga. Di sini lah jiwa kesatria dan kesabaran prajurit selalu ditempa.
Ibu Rani, Ibu Maryam, Bapak Handoko dan juga Rista masih menatap ke arah Anna dan Bagas sampai mereka betul-betul telah hilang dari pandangan.
" Ayo bu, pak, dek.. kita pulang sekarang " Ajak Arya.
Mereka lalu melangkah pergi meninggalkan bandara dengan langkah yang begitu berat.
**********
Sorong, Papua Barat.
" Inilah tempatku, Papua.... kami datang lagi " teriak Anna saat mereka telah turun dari pesawat. Bagas tersenyum menatap istrinya.
" Apa kamu senang sekali sayang ? " tanya Bagas.
" Senang mau pun tidak mas, asal bersamamu semuanya akan terasa indah. Tidak senangnya karena kita harus jauh dari keluarga kita, bayang-bayang mereka masih menari-nari di pelupuk mata, namun di sisi lain, saya bahagia bisa terus mendampingi mas, ditambah kehadiran baby Arsya di tengah-tengah kita, hidup kita akan lebih berwarna " jawab Anna.
Bagas memeluk istrinya.
" Terima kasih sayang, mas sangat mencintaimu. "
" Sama-sama mas, saya juga mencintaimu mas ". Anna semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
" Yuk kita jalan, Pratu Imron telah menunggu kita di luar " kata Bagas kemudian.
" Ayo sayang "
Mereka lalu berjalan keluar. Pratu Imron telah berdiri di sana.
" Ijin... Selamat datang kembali Danki, mohon maaf karena kami berangkat lebih dulu kembali ke Sorong '' sambut Pratu Imron.
" Tidak apa-apa Imron, terima kasih telah datang menjemput kami ".
" Ijin, siap.. sama-sama, mari silahkan naik " Pratu Imron membukakan pintu mobil, Bagas dan Anna lalu masuk ke dalam mobil. Mobil melaju meninggalkan bandara menuju Asrama Batalyon.
30 menit kemudian, mereka telah tiba di Asrama. Wangi kehidupan disiplin mulai tercium saat mobil melewati gapura batalyon. Suasana ini yang sangat dirindukan oleh Anna. Suasana keakraban, rasa persaudaraan, rasa persatuan, rasa senasib sepenanggungan dan seperjuangan sesama ibu persit, kerja sama dan gotong royong begitu terjaga di dalam sana. Banyak keragaman bahasa, suku dan budaya namun semua tetap satu tujuan yaitu sama-sama mendukung tugas suami. Sikap saling menghormati, saling menghargai dan saling mendukung satu sama lain selalu dijunjung tinggi.
" Saya bangga menjadi "Seorang Istri Prajurit", saya bangga bergabung dalam Organisasi Persit." Gumam hati Anna.
Mobil masih melaju hingga beberapa menit kemudian telah berhenti di halaman rumah dinas milik Bagas. Bagas menurunkan semua barang bawaan dibantu oleh Pratu Imron.
" Terima kasih Imron, ayo masuk dulu " ajak Bagas.
" Ijin Danki, kami akan lanjut karena masih ada kegiatan lagi " tolak Pratu Imron.
" Ijin, siap Danki, kami permisi dulu, Assalamu 'alaikum " Pratu Imron berlalu pergi.
" Wa'alaikum salam " Bagas dan Anna menjawab salam bersamaan. Mereka lalu membuka pintu rumah dengan pelan sambil mengucapkan salam. Bagas membawa semua barang-barang masuk ke dalam rumah.
" Mas.. tolong bersihkan kamar kita dulu, biar baby Arsya bisa bobo di sana " pinta Anna. Bagas lalu masuk ke dalam kamar, mengganti seprei, membersihkan kasur, menyapu lantai lalu menyalakan AC.
" Sudah sayang, ayo masuk " ajak Bagas.
" Terima kasih sayang " kata Anna, lalu mereka pun masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
" Tolong hubungi ibu mas, sampaikan kalau kita sudah sampai "
'' Baiklah sayang ". Bagas lalu keluar kamar menelpon Rista.
__ADS_1
Sementara Anna yang masih mengASIhi baby Arsya. Ia tak kuasa menahan kantuknya dan akhirnya ikut tertidur. Bagas yang masuk kembali ke kamar, tersenyum melihat Anna sudah terlelap jauh ke alam mimpinya. Bagas lalu melepas jilbab yang masih dikenakan istrinya.
" Pasti kamu sangat lelah sayang, semoga lelahmu jadi LILLAH, Aamiin " ucap Bagas sambil mengelus lembut rambut Anna.
Bagas lalu keluar kamar, ia membersihkan seluruh rumah dan tidak lupa ia juga memesan makanan untuk istrinya. Usai mengerjakan semua pekerjaan rumah, ia lalu mandi dan berganti pakaian. Kemudian ia juga memandikan baby Arsya yang sudah bangun dan terakhir ia membangunkan istrinya.
" Sayang... Bangun makan dulu yuk, ini anak kita sudah bangun lho " ucap Bagas sambil menggoyang-goyangkan tubuh Anna.
" Iya mas.. " Anna membuka mata. Ia tersenyum melihat kedua pangerannya sudah terlihat tampan. Ia pun bangkit dari kasur menuju kamar mandi. Ia mandi di sana.
**************
Di meja makan, Anna makan dengan sangat lahap. Ia begitu lapar apalagi setelah menyusui anaknya, perutnya terasa keroncongan.
" Uhuk.. Uhuk... " Anna tersedak.
" Pelan dong sayang, makan sampai tersedak gitu " tegur Bagas sambil menyodorkan segelas air minum. Anna meneguknya hingga habis.
" Terima kasih mas, maaf mas.. saya begitu lapar " Anna hanya tersenyum, lalu melanjutkan kembali makannya.
Bagas hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. Dalam hatinya bersyukur, Anna selalu menjaga asupan gizinya karena fokus akan memberikan ASI eksklusif untuk anak mereka. Istrinya tidak perduli jika badannya sedikit lebih berisi karena selalu merasa lapar dan ujung-ujungnya selau makan dan makan.
" Kenapa mas senyum-senyum begitu ? " tegur Anna saat melihat Bagas cengar cengir.
" Tidak ada apa-apa sayang " jawab Bagas.
" Pasti mas sedang senyum-senyum karena melihat saya ini banyak makan, sekarang sudah gemuk, saya sudah tidak cantik lagi ya mas " tebak Anna.
" Siapa yang bilang begitu ? tidak mungkin mas mengatakan itu, kamu itu adalah yang tercantik sayang " Bagas tersenyum menatap istrinya.
" Ah yang benerrr.... masa sih ?? awas ya kalo bohong, nanti hidungnya panjang, ha-ha-ha "
" Sumpah sayang, kamu yang paling cantik dan yang paling the best, mas Love U more and more " ucap Bagas lagi.
" Ok mas, saya percaya, terima kasih sayang, sebentar saya akan kasi jatah lebih ya, pokoknya pelayanan yang ekstra " kata Anna sambil mengedipkan matanya mencoba untuk menggoda suaminya.
__ADS_1
" Siap sayang... makanlah cepat karena mas sudah tidak sabar untuk melakukannya " kata Bagas lagi.
Mereka menghabiskan makanan mereka sambil sesekali saling menatap dan tersenyum satu sama lain.