ISTRI SEORANG PRAJURIT

ISTRI SEORANG PRAJURIT
PERANG DINGIN


__ADS_3

Ketika seorang wanita menikmati perannya sebagai seorang ibu tidak jarang mereka lupa bahwa ada sosok suami yang juga butuh perhatian. Bagas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak heran saat meminta sesuatu pada istrinya namun tidak dihiraukannya. Bukan tidak dihiraukan, tapi Anna lupa jika Bagas tadi memintanya untuk menyiapkan pakaian yang akan dipakainya pergi ke acara.


" Maaf mas saya lupa setrika bajunya mas soalnya tadi saya lagi mandikan baby Arsya, harusnya tadi saya siapkan setelah anak kita mandi tapi saya malah mengajaknya main, maaf ya mas.. " Kata Anna.


" Tidak apa-apa sayang " Bagas tetap terlihat tenang, walau hati sedikit sedih. Sifatnya sungguh kekanakan jika harus cemburu sama jagoannya. Kali ini, ia sangat mengerti posisi istrinya yang harus membagi waktu untuk mengurus semuanya. Ia lalu mengambil baju di dalam lemari hendak menyetrikanya.


" Mari biar saya yang kerjakan mas ". Pinta Anna.


" Biar mas saja sayang, tetap lah bersama baby Arsya " Bagas menolak bantuan Anna.


" Mas tidak marah ? tolong maafkan saya ya mas " Anna masih berdiri menatap Bagas dengan raut wajah yang merasa bersalah. Bagas mendekatinya dan mengelus kepala istrinya pelan.


" Tidak apa-apa sayang " Ucap Bagas.


" Baiklah mas, terima kasih " jawab Anna.


Bagas hanya mengangguk, ia lalu menyetrika pakaiannya dan bersiap untuk menghadiri sebuah acara. Usai bersiap, ia kemudian pamit kepada istrinya.


" Mas pergi dulu ya sayang, mas hanya sebentar saja, apa ada yang mau dititip ? " tanya Bagas.


" Titip martabak telor dan terang bulan ya mas, pasti enak kalo ngemil malam-malam " jawab Anna.


" Oke sayang, mas jalan ya, ayah pergi dulu ya jagoan, Assalamu 'alaikum. " Bagas menyodorkan tangannya lalu Anna meraih dan mencium punggung tangan suaminya.


" Wa'alaikum salam, hati-hati ya mas ".


" Siap sayang "


Bagas berlalu pergi, Anna lalu menutup pintu kembali dan bergegas ke kamar untuk menidurkan baby Arsya yang terlihat sudah mengantuk sekali. Usai menidurkan putranya, Anna kemudian merapikan semua barang-barang Bagas yang berserakan di atas meja yang tadi lupa dimasukkanya. Anna menyimpan kembali ke dalam peti penyimpanan atribut Bagas. Tanpa sengaja matanya tertuju pada sebuah buku agenda yang ada di dalam sana, Anna meraihnya lalu membukanya. Lembar demi lembar dibacanya, beberapa agenda kegiatan dan catatan, simbol, serta sandi-sandi kemiliteran di sana. Anna terus membuka dan ia tiba-tiba tersentak saat matanya menemukan sebuah puisi yang ditujukan untuk suaminya. Ia pun membaca puisi tersebut.


Dear Aa' Bagas,


Aku tak tahu sampai kapan rasa ini,


terus mulai tumbuh di dalam dada.


Rasa yang begitu bergemuruh.


Rasa yang begitu indah,


yang membuatku selalu tersenyum sendiri,


memeluk sepi setiap malam.


Bayangmu....


Selalu hadir saat hari beranjak gelap,


bersama dengan rindu.


Yang datang menyergap,


bagai hawa dingin kala subuh.

__ADS_1


Kepadamu dambaan hati.


Cinta ini adalah cinta yang sepi.


Cinta yang bisu, yang tak sanggup kusampaikan kepadamu.


Entah sampai kapan ???


Kau adalah harapan, kau adalah impian


yang tak sanggup kukatakan.


Kasih....


Seandainya kau tahu,


apa yang kurasakan setiap malam.


Seandainya kau tahu bagaimana perasaanku,


saat kau lewat di depanku.


Namun sayang,


terlalu rapat kupendam perasaan ini.


Kau tak akan mungkin tahu.


Aku takut mengucap satu kata,


Aku hanya mampu berpuisi,


mengadu pada rembulan di kejauhan.


Juga pada bantal,


tempat kusandarkan kepalaku.


Juga pada buku,


tempat kutorehkan tinta penaku.


Kau terlalu istimewa bagiku,


hingga perasaanku berkata


kau tak mungkin kugapai.


Hanya doa disertai lelehan air mata,


berharap Tuhan menolong hamba.


Dari derita cinta yang tak bisa,

__ADS_1


diungkapkan dengan kata-kata.


Kapankah kau bisa jadi pangeran di hatiku ?


Aku sungguh mendambamu.


Sampai kapan pun,


aku akan selalu mencintaimu.


Dari yang selalu memujamu


Karina.


Anna tertegun sejenak, hatinya bergetar, ia merasakan sesak di dadanya usai membaca bait demi bait puisi tersebut. Ia kemudian membuka lembaran berikutnya dan dua lembar foto wanita terselip di sana. Dan salah satu fotonya sedang mengenakan pakai seragam TNI, dia adalah seorang KOWAD (Korps Wanita Angkatan Darat). Dia adalah letting atau seangkatan Bagas.


" Cantik, mungkin dia yang bernama Karina '' gumam Anna.


Berkali-kali Anna mendesah kesal. Entah mengapa hatinya bertambah panas setelah melihat foto-foto itu. Ia merasa resah dan wajahnya tampak mengeras menahan amarah dan cemburu di dalam dadanya. Ia marah pada Bagas yang tidak pernah cerita padanya dan ia cemburu pada Karina yang begitu mengharapkan suaminya.


****************


Sejam kemudian, Bagas telah kembali. Usai mengucap salam, ia membuka pintu perlahan. Karena tak didapati Anna di ruang tamu, ia lalu menuju kamar setelah sebelumnya menaruh makanan pesanan istrinya di atas meja. Ia tersenyum mendapati istrinya sedang berbaring di atas kasur bersama putranya. Ia lalu ikut membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memeluk istrinya dari belakang.


" Sayang... apa kamu sudah tidur ? " bisik Bagas di telinga istrinya namun Anna tidak menghiraukannya. Ia berpura-pura memejamkan matanya. Bagas masih terus menggesekkan hidungnya di telinga, pipi dan leher istinya, namun Anna masih tidak bergeming.


" Sayang.... bangun dulu, itu pesanannya mas taruh di atas meja " bisik Bagas lagi sambil membalikkan badan istrinya. Bagas menatap lekat wajah Anna yang terlihat sembab.


" Kamu abis nangis sayang ??? ada apa sayang ? apa kamu sakit ??? " tanya Bagas lagi.


" Tidak apa-apa mas, saya mau istirahat, tolong jangan ganggu saya " jawab Anna seraya membalikkan badan membelakangi Bagas lagi.


" Sayang apa yang terjadi ? tolong bicara dulu, jangan seperti ini " Bagas mencoba membalikkan badan Anna lagi namun tangannya ditepis.


" Tolong jangan ganggu saya mas, apa mas tidak ngerti kalo saya mau istirahat " ucap Anna dengan nada suara sedikit membentak.


Bagas tercenung sejenak, baru kali ini ia mendapatkan penolakan dan mendengar suara Anna yang sedikit kasar. Ia berusaha menebak apa yang terjadi dengan istrinya, namun tidak ia temukan jawabannya.


" Baiklah sayang, istirahatlah '' ucap Bagas kemudian. Ia menarik selimut lalu menyelimuti tubuh Anna, kemudian mendaratkan kecupan di kening istrinya.


Bagas lalu mengganti pakaiannya, tidak lupa ia melaksanakan sholat isya dulu kemudian ikut membaringkan badan di sebelah istrinya. Dalam hatinya ia masih bertanya-tanya apa sebenarnya kesalahannya ?, apa sebenarnya yang telah terjadi ?.


Astagfirullah.... apa karena tadi saya menolak bantuannya untuk menyetrika pakaian saya, sampai ia marah seperti ini ? atau mungkin saya memiliki kesalahan yang lain, tapi apa kesalahan saya sebenarnya ?? Haruskah saya mendiamkan perang dingin ini dan membiarkan istri saya tidur dalam keadaan marah ?? Astagfirullah ya Allah... Ampunilah dosa hamba.


Gumam hati Bagas. Ia memejamkan matanya berusaha untuk tidur dan berharap esok semua akan kembali baik-baik saja.


* Visual Karina (Letnan Satu Karina)πŸ‘‡




Terima kasih yang masih setia mengikuti cerita "Istri Seorang Prajurit".

__ADS_1


Jangan lupa sertakan komentar dan mohon like serta vote nya ya.


Terima kasih πŸ™πŸ™πŸ™β˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈ


__ADS_2