
Malam begitu sepi, hingga tengah malam Anna belum bisa memejamkan matanya. Untuk mengatasi kejenuhannya, ia meraih ponsel lalu membuka beberapa foto Bagas di galeri ponselnya, bibirnya menyunggingkan senyum.
"Masya Allah.. sungguh menawannya dirimu mas, saya sangat merindukanmu " gumam hati Anna.
Kerinduan mendalam membuncah di dalam hati Anna, Ia tak kuasa untuk menahannya lagi. Semakin dalam kerinduan ia rasakan, seperti hujan yang datang tiba - tiba dan bertahan lama bahkan setelah hujan reda, rindu itu masih saja terasa. Ia merasa dirinyalah yang telah mempersulit keadaan, selama ini egonya telah menguasainya dan kini saatnya untuk meredam ego itu dan mengakui bahwa ia sangat membutuhkan Bagas.
" Tidak ada kebahagiaan yang lebih membahagiakan lagi selain berada di sisi orang yang disayangi, tidak ada pilihan yang lebih baik selain memilih ikut suami ke tempat tugas dan keputusan yang tepat adalah berhenti bekerja, tunggulah sebentar lagi, saya akan datang mas " gumam Anna lagi semakin memantapkan niatnya.
Anna bangkit dari pembaringan menuju meja kerja yang ada di dalam kamarnya, ia mengambil sebuah pulpen dan secarik kertas, ia lalu menuliskan surat pengunduran dirinya, keputusannya sudah bulat untuk berhenti bekerja dan pindah mendampingi suaminya bertugas. Anna menarik nafas dalam - dalam lalu dihembuskan pelan, dilipatnya surat yang telah ditulisnya lalu dimasukkan ke dalam amplop. Kemudian ia kembali ke tempat tidur dan merebahkan diri di atas kasur, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, lalu memejamkan matanya.
*****
Alarm ponsel membangunkan tidur Anna, jam 05.00 pagi, ia bangun sholat kemudian memasak seperti biasanya. Setelah semuanya selesai, ia kembali ke kamar, mandi dan bersiap untuk ke rumah sakit. Ia berangkat pagi - pagi sekali sebelum yang lainnya keluar kamar dan tidak seperti biasanya, kali ini ia melewatkan sarapan bersama keluarga.
Dengan mobil merahnya, Anna meluncur dan tiba lebih awal di rumah sakit. Ia masuk ke dalam ruangannya, mengosongkan seluruh isi mejanya, membereskan semua barang - barang lainnya dan memasukkannya ke dalam beberapa box. Setelah semua selesai, ia duduk di kursi kerjanya dan barulah ia sarapan pagi dengan bekal roti bakar dan sebotol susu yang ia bawa dari rumahnya.
"Tring....tring....tring..." Ponsel Anna berdering, panggilan dari Bagas, ia menghabiskan sisa makanan di mulutnya, lalu menjawab panggilan suaminya.
" Assalamu 'alaikum mas..."
" Wa'alaikum salam... apa mas mengganggu sayang ? "
" tidak kok mas, ini belum mulai kerja, mas lagi ngapain ? "
" ini mau bilang kalau mas hari ini akan giat menembak, mungkin sampai sore ya sayang tidak pegang hp "
" baiklah mas, semangat bekerja ya untuk hari ini, I Love U suamiku "
__ADS_1
" Siap sayang, terima kasih, I Love U to Istriku, Assalamu 'alaikum " bagas mengakhiri obrolannya.
" Wa'alaikum salam " jawab Anna, lalu menyimpan ponsel ke dalam tasnya dan kembali menghabiskan sarapannya.
Sesaat kemudian, pintu ruangan dibuka, suster Dwi memasuki ruangan, ia terkejut melihat barang - barang dokter Anna telah dibereskan dan dikemas di dalam box.
" Kenapa barang - barang dokter dibereskan ? apa maksudnya ini dok ? " tanya suster Dwi.
" Saya akan pindah sus, saya mau ikut suami ke tempat tugasnya, hari ini saya akan masukkan surat pengunduran diri " jawab Anna dengan santai namun wajahnya terlihat sedih.
Suster Dwi menoleh kaget. " Ya Allah dok, kenapa harus berhenti sekarang ? nanti Dwi sama siapa ? matanya mulai berkaca - kaca. Anna berdiri memeluknya.
" Jangan sedih sus, tak perlu menangis nanti make upnya luntur, setelah saya pindah nanti, saya akan diganti oleh dokter lain yang lebih baik lagi, kamu harus tetap rajin, tetap semangat dan profesional dalam bekerja ya, nanti kita bisa komunikasi jarak jauh " Anna mengelus punggung suster Dwi yang masih betah dalam pelukannya.
" Ayo semangat lagi, tersenyumlah dan berhentilah menangis nanti matanya bisa keluar, hehehe " kata Anna lagi. Suster Dwi terkekeh, ia melepaskan pelukannya dan mereka sama - sama tertawa. Tidak lama mereka mengobrol, Anna lalu pamit ke ruangan pimpinan untuk membawa surat pengunduran dirinya, sekalian berpamitan kepada rekan kerja yang lainnya. Anna mengetuk pintu ruangan pimpinan dan dari dalam terdengar suara Pak Heru memintanya untuk masuk. Ia membuka pintu, kemudian masuk dan duduk di hadapan pak Heru.
" Selamat pagi pak, maksud kedatangan saya yaitu mau menyerahkan surat pengunduran diri saya dan sekalian pamit ke bapak, saya akan pindah mengikuti suami saya ke tempat tugasnya " kata Anna sambil menyodorkan sebuah map ke hadapan Pak Heru. Pak Heru menarik map itu dan membukanya lalu membaca isinya, wajahnya terlihat sedih dan agak kecewa dengan keputusan Anna karena Anna adalah salah satu dokter terbaik di rumah sakitnya, tapi ia juga tidak bisa memaksa Anna untuk tetap bekerja karna itu sudah menjadi keputusan bawahannya. Ia menutup kembali map itu lalu menatap ke arah Anna.
" Terima kasih pak untuk semua ilmu dan pengalaman yang telah saya dapatkan selama bekerja di sini, itu akan menjadi bekal terbaik saya selanjutnya " Jawab Anna. Ia kemudian berpamitan kepada rekan kerjanya yang lain, menyalami dan berpelukan dengan mereka satu persatu. Hari itu Anna mendapat perlakuan istimewa, sebelum ia betul - betul meninggalkan rumah sakit, pimpinan dan beberapa rekannya mengadakan acara makan siang bersama sebagai acara perpisahan untuknya. Anna merasa bahagia karena mendapatkan teman dan sahabat yang baik, tidak ada bekas teman karena mereka akan tetap menjadi teman meskipun mereka telah berpisah.
Butuh pertimbangan masak - masak sebelum ia memutuskan, meninggalkan rekan yang telah bersama dalam bekerja membuat ia tak tega, ada perasaan sedih di dalam hatinya, tapi ia menyadari bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan namun bukan berarti silaturahmi akan terputus, mereka akan tetap terhubung dengan tetap saling mendoakan. Semoga layar tetap berjalan lancar, suka cita selalu dirasakan meski di tempat yang berbeda dan semoga kita akan selalu sukses. Anna berdoa di dalam hatinya.
*****
Bagas tidak tahu jika Anna telah berhenti bekerja, Anna belum memberitahukannya dan akan memberikan surprise untuk suaminya dengan kedatangannya secara tiba-tiba. Sebenarnya Bagas tidak pernah melarang Anna untuk bekerja, kebahagiaan istrinya adalah yang utama, ia sangat menghargai perasaan istrinya, jika istrinya bahagia bila bekerja maka itu yang akan dilakukannya, ia begitu mencintai istrinya dan tidak ingin mengecewakannya dengan memintanya untuk ikut dengannya. Saat ia begitu merindukan istrinya, ia memilih untuk lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan dan saat sedang tidak bekerja, ia mengisi waktunya untuk mengaji memperdalam ilmu agama dan tentunya hal itu dapat mengendalikan hasrat di dalam dirinya. Harapannya semoga ia bisa berkumpul kembali dengan istrinya tanpa harus memaksa dan saling menyakiti perasaan satu sama lain.
Sore hari, sepulang dari giat, Bagas singgah di supermarket untuk membeli segala keperluannya dan baru tiba di rumah selepas magrib. Ia bergegas membersihkan diri, berwudhu kemudian sholat magrib. Perbedaan waktu Papua dan Jakarta adalah 2 jam lebih cepat, kalau di Papua sudah jam 7 malam berarti di Jakarta baru jam 5 sore. Bagas mengambil ponsel lalu menelpon istrinya, panggilan video dilakukannya, senyumnya terpancar saat melihat wajah cantik istrinya.
" Assalamu 'alaikum mas " Anna menjawab telpon.
__ADS_1
" Wa'alaikum salam sayang, masih kerja ?? "
" sudah selesai mas, ini lagi siap - siap mau pulang, mas sudah di rumah ? " tanya Anna.
" Iya sayang, mas sudah di rumah "
" sudah makan ? "
" belum sayang, sedikit lagi '' jawab Bagas.
" mas makan dulu ya nanti telponnya dilanjut lagi"
"Baiklah sayang, Assalamu 'alaikum"
" Wa'alaikum salam mas " jawab Anna lalu meletakkan kembali ponsel ke dalam tasnya.
Anna mengangkat barang - barangnya masuk ke dalam mobik dibantu oleh suster Dwi, asistennya itu selalu saja memanjakan dirinya. Sekali lagi mereka saling berpelukan lama. Sebelum jalan, Anna memberikan sebuah paper bag berisi sepatu dan beberapa lembar pakaian yang telah dibeli untuk suster Dwi sebagai hadiah untuknya karena selama ini telah menemaninya bekerja dengan baik.
" Ini untukmu sus, terima kasih ya karena telah menjadi teman yang baik selama ini " Anna menyerahkan paper bag yang diambilnya dari dalam mobil.
" Terima kasih dokter, saya akan selalu merindukan dokter, dokter adalah yang terbaik " kata Suster Dwi sambil meraih paper bag tersebut. Anna lalu masuk ke dalam mobil, menurunkan kaca mobil, melambaikan tangan kemudian berlalu meninggalkan rumah sakit dan di sana suster Dwi masih terpaku menatap kepergiannya.
Tidak lama kemudian, Anna telah sampai di rumah. Anna mengucap salam, terdengar ibu Rani menjawab salamnya dari dalam, ia sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton TV, Anna mendekat lalu menyalami tangan ibu Rani kemudian duduk di samping ibu mertuanya.
" Bu.. ada yang Anna ingin sampaikan ke ibu " ucap Anna.
" katakanlah nak.. " ibu Rani menatap wajah menantunya.
" Anna telah mengundurkan diri dari rumah sakit, Anna memutuskan untuk pindah mengikuti mas Bagas ke tempat tugasnya, lusa Anna akan berangkat ke sana bu "
__ADS_1
" Apa kau tidak menyesal nak dengan keputusanmu ini ? kita semua, ingin kau tetap bahagia nak, jangan jadikan hubungan jarak jauh kalian sebagai beban, jika sudah tiba waktunya kalian pasti akan bersama, ibu takut nanti kau kecewa nak saat sudah tidak bekerja lagi dan Bagas sendiri pun tidak pernah keberatan kau tetap bekerja sayang "
" Anna tidak pernah menyesalinya bu, ini murni keputusan Anna, Anna justru sangat bahagia sekarang, beban yang telah menggunung di dalam dada Anna sebentar lagi akan sirna bu, Anna tidak bisa lagi seterusnya menyiksa diri dan mas Bagas dengan kerinduan, Anna ingin berbakti sebagai isteri yang selalu ada untuk suami, Anna sebagai seorang istri Prajurit harus mendukung tugas suami dengan tetap setiap berada di samping mas Bagas bu " Jelas Anna. Ibu Rani manggut-manggut mendengar penjelasan Anna, Ia memeluk menantunya. Malam itu mereka saling mencurahkan kasih sayang layaknya seperti seorang ibu dan anaknya.