
" Oek... Oek ..Oek... "
Tangisan bayi memenuhi ruang ICU tempat Anna dirawat. Suaranya begitu nyaring menggema di telinga. Hingga Siapa pun yang ada di dalam sana pasti akan merasa iba melihatnya. Suster Dwi sengaja menelungkupkan bayi mungil itu di atas perut ibunya dan membiarkan bayi itu menangis. Sudah 15 menit lamanya belum juga ada respon dari tubuh Anna, hingga setengah jam berlalu keajaiban pun terjadi. Saat suster Dwi hendak mengambil bayi itu kembali, terlihat Anna mengerjap-ngerjapkan kelopak mata, air mata mengalir dari sudut matanya.
" Subhanallah.... dokter sudah sadar ? " teriak suster Dwi. Ia menekan tombol darurat di dalam sana dan sesaat kemudian dokter Rahadian masuk ke ruang ICU.
" Apa yang terjadi sus ? "
" Dokter Anna sudah sadar dok, tadi dokter Anna membuka matanya dok "
" Permisi sus, biar saya periksa dulu " dokter Rahadian mendekati Anna dan memeriksanya.
" Alhamdulillah, dia telah kembali sus, namun kondisinya sekarang masih sangat lemah, biarkan dia istirahat dulu. Ini sungguh keajaiban, terima kasih atas bantuannya sus " kata dokter Rahadian sambil menatap ke arah suster Dwi.
" Alhamdulillah... sama-sama dok, terima kasih dokter " ucap suster Dwi.
" Iya sus, nanti kita akan pindahkan ke ruang perawatan "
" Baik dok " jawab suster Dwi, ia lalu membereskan semua barang-barang milik dokter Anna.
Sesaat kemudian, Anna telah sadar sepenuhnya. Ia telah dipindahkan dari ruang ICU dan ditempatkan di salah satu kamar VIP rumah sakit. Beberapa kali ucapan syukur keluar dari bibirnya disertai senyuman yang terukir di bibirnya.
" Alhamdulillah ya Allah.... Terima kasih atas nikmat_Mu yang luar biasa ini " Ia menatap bayinya dengan seksama, terus membelai dan menciuminya. Ia juga berniat akan memberikan ASI eksklusif jika itu masih bisa ia berikan dan ternyata Allah mengabulkan harapannya. ASInya bisa keluar dan ia bisa mengASIhi bayinya.
" Terima kasih suster Dwi, saya tidak tau harus membalas dengan apa tapi saya janji akan mengingat semua ini, semoga suatu saat nanti saya bisa membalas semuanya, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat_Nya untukmu " ucap Anna seraya menggenggam erat tangan suster Dwi.
" Sama-sama dokter, Aamiin ya Robbal Aalamiin. Alhamdulillah dokter telah sadar kembali, saya sangat bahagia dok, sebulan lamanya kami menunggu dokter terbangun dan segala cara telah kami lakukan sampai kami hampir kehabisan akal dan berkat bayi dokter akhirnya dokter bangun kembali dari tidur panjang itu "
" Iya suster.. ini sungguh luar biasa, sekali lagi terima kasih banyak suster ''
Suster Dwi mengangguk, mereka lalu berpelukan dan bercengkrama bersama.
***************
Setelah mencari informasi selama dua hari, mulai dari Makasar hingga ke Jakarta, akhirnya membuahkan hasil. Bagas menemukan satu petunjuk. Dari rekaman CCTV bandara Soekarno-Hatta, terlihat Anna berkunjung di sana sebulan yang lalu bertepatan dengan hari di mana ia pamit berangkat dari Sorong. Anna tiba di sana dan dijemput oleh seorang wanita, seingat Bagas wanita itu adalah mantan asisten Anna waktu bekerja di Rumah Sakit Jakarta.
Motor Yamaha Fino melaju meninggalkan halaman Rumah Sakit Jakarta, diikuti mobil merah milik Bagas. Bagas mengikuti motor tersebut hingga 15 menit kemudian motor memasuki sebuah kompleks perumahan dan berhenti di garasi salah satu rumah di sana.
" Ternyata suster itu tinggal di sini, pasti Anna ada di dalam sana '' ucap Bagas.
Bagas melihat ke arah sekeliling, lingkungan kompleknya cukup ramai, banyak anak-anak yang bermain di sana. Ia kemudian turun dari mobil diikuti oleh Pratu Imron.
" Ayo Imron kita turun "
" Ijin, siap Danki "
Mereka menuju rumah yang dimasuki suster Dwi yang berada di lantai dua. Bagas mengetuk pintunya dan tidak lama kemudian Suster Dwi membuka pintu. Ia terkejut melihat Bagas telah berdiri di depan pintu.
" Pak Bagas.. " Suster Dwi tercekat, ia berusaha menelan ludah namun kerongkongannya terasa sudah kering.
" Di mana istri saya sus ? " tanya Bagas.
" Silahkan masuk dan duduk dulu pak " Suster Dwi mengajak tamunya masuk.
" Saya sedang bertanya sus, di mana istri saya ???" suara Bagas semakin meninggi, bibirnya bergetar, nafasnya sudah bergemuruh menahan sesak di dadanya.
Suster Dwi semakin panik, jantungnya seakan mau copot mendengar teriakan Bagas padanya. Ia mundur selangkah lalu berusaha mengatur nafasnya. Bagas lalu melangkah masuk hendak mencari Anna, suster Dwi ingin mencegah namun Pratu Imron menahan tangannya.
__ADS_1
" Biarkan beliau menemui istrinya, tetap lah di sini, jangan ikut campur urusan rumah tangga mereka " tegas Pratu Imron. Suster Dwi tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia terpaku di sana.
Tok, Tok, Tok.....
Bagas mengetuk pintu kamar. Anna yang sedang menyusui bayinya, menghentikan aktivitasnya, ia memasukkan bayinya ke dalam baby box karena telah tertidur, lalu berdiri membuka pintu kamar.
" Mas Bagas !! " Anna begitu kaget melihat Bagas di hadapannya. Seketika wajahnya memucat, ia memejamkan mata dan menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap wajah suaminya yang telah dipenuhi amarah.
Bagas menutup kembali pintu kamar lalu melangkah mendekati Anna. Bagas sudah tidak memperhatikan lagi perut istrinya yang sudah tidak membuncit lagi. Kepalanya sudah dipenuhi dengan beban yang begitu berat.
" Apa seperti ini caranya menyelesaikan masalah ? kenapa harus lari dari kenyataan ? apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan mas, orang tua kita, adik-adik kita saat kamu menghilang ? mas sudah seperti orang gila sayang, mas menghubungimu tapi nomormu tidak pernah aktif, mas ke sana kemari mencari keberadaan dirimu tapi tidak juga menemukanmu, di mana perasaanmu ?? di mana hati nuranimu ?? " Bagas setengah berteriak sambil memegang pundak istrinya. Anna semakin menundukkan kepala, ia menggigit bibir bawahnya, air matanya mengalir dengan deras, ia begitu menyesali perbuatannya.
" Apa cintamu hanya sebesar ini kepada mas ?? Tatap mata suamimu dan katakan sesuatu !! jika mas bersalah, mas mohon maaf tapi tolong jangan membuat mas tidak berdaya seperti ini, mas lebih baik mati saja jika harus kehilanganmu, maafkan mas.. maafkan mas.... " Bagas mengusap wajahnya kasar, ia berusaha menahan amarahnya.
Anna semakin terisak, ia lalu memeluk suaminya dan menangis di sana.
" Maafkan saya mas, saya terlalu berharap pada janji mas hingga saya akhirnya terluka, saya kecewa dan akhirnya amarah menguasai hati saya, saya bersalah karena tidak bisa mengendalikan diri saya, saya terperdaya oleh setan, tolong maafkan saya, hiks..hiks..hiks.. " Anna semakin terisak. Bagas memejamkan matanya yang telah dipenuhi bulir-bulir air mata. Mendengar perkataan serta tangisan istrinya, hatinya mendadak luluh, ia membalas pelukan istrinya. Hingga lama baru ia merasakan ada keanehan.
" Kenapa perutmu terlihat kecil sayang ? " Bagas menyelidiki tubuh istrinya.
Anna menatap suaminya.
" Saya telah melahirkan mas "
" Apa ? " Bagas terkejut dan terlihat ragu dengan ucapan istrinya.
" Iya mas, saya telah melahirkan dan bayi kita sedang tertidur di sana '' kata Anna lagi sambil menunjuk ke arah baby box tempat bayinya tertidur.
" Allahu Akbar, Alhamdulillah ya Allah... terima kasih " Bagas langsung sujud syukur mendengar kabar bahagia dari istrinya.
Bagas lalu mendekat ke arah box bayi.
" MasyaAllah... " Bagas tidak kuasa menahan harunya, tubuhnya bergetar hebat, air matanya mengalir deras, bibirnya terasa keluh tak bisa berkata-kata. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perjuangan istrinya dalam melahirkan bayinya sendirian. Bayi yang sehat dan begitu tampan.
" Sayang... ini sungguh anugrah terindah, terima kasih istriku " Bagas memeluk Anna kembali, berkali-kali ia mengecup kening istrinya.
Anna hanya menganggukkan kepala, air matanya masih saja terus berderai. Begitu pun dengan Bagas, mereka sama-sama merasa sedih tapi bahagia di dalam hati mereka.
Anna kemudian mengangkat bayi mereka lalu membawanya ke pangkuan Bagas dan dengan tangan yang bergetar, Bagas menerima dan menggendongnya. Bagas tidak hentinya mencium putranya. Senyum kebahagiaan terpancar dari bibir mereka. Para malaikat menjadi saksi kebahagiaan yang mereka rasakan.
**************
Cukup lama Suster Dwi dan Pratu Imron menunggu di luar, mereka sama-sama tidak ada yang bersuara. Hanya sesekali Pratu Imron melirik ke arah suster Dwi dan begitu juga sebaliknya. Suasana saat itu, sungguh membuat mereka merasa canggung. Beberapa saat kemudian, Bagas keluar dari kamar diikuti oleh Anna yang juga menggendong bayi mereka.
" Maaf telah membuat kalian menunggu lama, apa kalian baik-baik saja ? " tanya Bagas.
" Ijin, kami baik-baik saja danki " jawab Pratu Imron.
" Iya pak Bagas, kami baik-baik saja " Suster Dwi ikut menjawab.
Pratu Imron menatap ke arah bayi yang digendong Anna.
" Apa ibu sudah melahirkan ? " tanyanya.
" Iya om Imron, saya sudah lahiran, ini bayi kami, jenis kelaminnya laki-laki " Jawab Anna seraya tersenyum.
" Alhamdulillah... Selamat ya bu, selamat Danki, semoga menjadi anak sholeh "
__ADS_1
" Aamiin, terima kasih Imron " ucap Bagas
" Ijin, sama-sama Danki " Jawab Pratu Imron.
Anna lalu memperkenalkan suster Dwi.
" Mas, Om Imron, perkenalkan ini Suster Dwi, rekan kerja saya dulu waktu di Rumah Sakit. Sus.. ini rekan kerja mas Bagas, namanya Imron, kalau saya biasa memanggilnya om Imron "
Pratu Imron berdiri lalu menyodorkan tangan ke arah Suster Dwi.
" Imron " ucapnya.
" Dwi " Jawab suster Dwi.
" Mas.. selama ini, Suster Dwi yang telah membantu saya, saya sebenarnya tidak bermaksud sembunyi mas tapi kehamilan saya bermasalah jadi saya sengaja mempersiapkan semuanya sendiri. Saya tidak mau kalian khawatir. Sebenarnya saya ingin memberitahu kalian tapi saya menunggu setelah bayi kita lahir, namun masalah lain datang, saya mengalami pendarahan hebat dan harus segera dioperasi sebelum waktunya dan setelah operasi saya tidak sadarkan diri. Saya mengalami koma selama sebulan lamanya. Saya baru keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu dan saya menunggu benar-benar pulih dulu baru rencana kembali ke rumah. Saat saya koma, Suster Dwi berusaha menghubungi kalian tapi tidak ada kontak dan dia juga tidak tau alamat rumah kita mas, sekali lagi maaf karena telah membuat kalian sangat cemas ". Cerita Anna kemudian.
" Subhanallah... seperti itukah perjuanganmu selama ini sayang ? " tanya Bagas.
Anna hanya menganggukkan kepala.
" Iya pak Bagas, dokter Anna sudah banyak menderita. Saya yang menyaksikan sendiri perjuangannya. Terbangun dari tidur panjangnya adalah sebuah keajaiban karena dokter Anna bahkan telah mengalami henti jantung sebelum ia koma. Saya mohon.. tolong jaga dokter Anna pak, Allah telah memberikan kesempatan kedua untuk kalian bersama kembali " kata Suster Dwi kemudian.
Bagas tercenung. Ia lalu memeluk istrinya lagi.
Sungguh kau wanita yang hebat sayang. Semoga Allah selalu melindungi dan memberkahi kehidupanmu, semoga kau selalu bahagia. Mas bangga padamu. Mas sangat mencintaimu. Mas mohon maaf sayang, tolong maafkan suamimu ini.
Lirih hati Bagas.
* Visual Bayi Anna dan Bagas 👇
* Visual Pratu Imron 👇
* Visual Suster Dwi 👇
Para reader....
Terima kasih karena masih setia mengikuti cerita " Istri Seorang Prajurit ".
Doakan kami bisa menyelesaikan ceritanya hingga tamat.
Tolong sertakan kritik dan saran di kolom komentar untuk perbaikan karya kami.
Dan kami mohon dukungan like serta vote dari para pembaca budiman sekalian.
Sekali lagi, terima kasih 🙏🙏🙏.
Salam kenal dari kami.
__ADS_1