Istri Tomboy Sang Presdir

Istri Tomboy Sang Presdir
Pengenalan Tokoh


__ADS_3

Aarav Zayn


Dia adalah lelaki tampan nan kaya raya yang memimpin perusahaan ayahnya. Gelar Presdir sebagai satu-satunya anak dari pemilik perusahaan bergengsi itu sudah ia kantongi dengan mulus, bahkan dalam kurun waktu dua tahun dirinya mampu membuat posisi perusahaan tersebut maju dengan cepat.


Tapi, semua itu seakan tidak bisa membuatnya puas, masih ada kekosongan di hatinya yang belum terisi sampai saat ini. Ya, sudah lebih dari dua puluh tahun ia hidup di dunia. Tapi sekalipun belum pernah dirinya menemukan wanita yang pas dan cocok untuk mengisi ruang kosong dalam hatinya.


Lelaki itu bahkan lebih banyak menghabiskan kesehariannya dengan urusan bisnis di kantor dengan banyak kolega. Satu-satunya kegiatan yang dijadikannya sebagai jalan pintas kebahagiaan tak lain adalah mendaki gunung dan menghabiskan waktu dengan membaca komik baik online maupun yang sudah dicetak.


Beberapa tahun yang lalu sempat didengarnya dari sang ayah, bahwa sebenarnya ia sudah dijodohkan dengan anak wanita yang menjadi teman baik ibunya.


Saat itu, sepupu sekaligus sekretarisnya yaitu Rania masuk dengan sopan ke ruangan khusus Presdir. Terlihat wanita itu mengenakan setelan jas dongker lengkap dengan celana panjang dan sepatu ber hak rendah, sangat rapi dan elegan. Tampak rambut bergelombangnya yang diurai membuat penampilannya yang lebih cocok disebut sebagai bodyguard.


“Tuan Muda, paman sudah kembali.” Ucapnya sopan.


Aarav yang sedang sibuk menandatangani berkas-berkas di atas meja pun tersentak, tangannya berhenti mengayunkan pena di atas lembaran kertas. Matanya menatap lekat Rania.


“Beliau bilang untuk segera pulang, akan ada hal penting yang dibicarakan.” Mengerti dengan tatapan lekat Aarav yang seolah bertanya ada apa.


“Baiklah, kita berdua akan segera pulang.” Aarav tanpa aba-aba langsung beranjak dari kursinya lalu pergi dengan langkah tegap sambil membenahi posisi jasnya.


Langkah keduanya melaju dengan cepat memasuki mobil dengan Rania yang bertugas sebagai pengemudi. Sampai di Mansion Presdir, keduanya tetap berjalan beriringan dengan posisi Rania yang sedikit berada di belakang Aarav.


Di ruang utama rumah itu, terlihat seorang lelaki paruh baya yang sudah duduk menunggu. Tubuhnya menyambut kedatangan Aarav dengan segera memeluknya.


“Ayah kembali lebih cepat.” Suara Aarav datar.


“Haha, tentu saja aku harus kembali Tuan Presdir.” Kata lelaki paruh baya itu sambil kembali duduk di sofa ruang utama.


“Dengar, aku tahu kau muak dengan gaya hidup orang kaya yang membosankan ini. Rania bahkan melaporkan kebiasaanmu yang menghabiskan waktu akhir pekan dengan mendaki gunung dan membaca komik.”


Mendengarnya, Aarav melirik sekretarisnya yang berdiri selangkah di belakang. Tampak gadis itu menyeringai pelan.


“Haha, Rania apa dia berani mengancammu dengan tatapan pembunuh itu?” lelaki paruh baya itu tergelak melihat tingkah tidak suka anaknya.


“Silahkan katakan dengan jelas Paman.” Pinta Rania dengan senyuman ke arah lelaki paruh baya itu.


“Yaya, anakku masih tetap membosankan seperti dulu rupanya. Huh.” Melengos gusar karena melihat ekspresi wajah anaknya tidak berubah sama sekali. Tetap dingin dan datar seperti mayat hidup. Perlahan tangannya menuntun Aarav untuk duduk di depannya.

__ADS_1


“Bukankah aku sudah pernah memberimu bocoran rahasia, bahwa sebelum wafat ibumu telah menjodohkan kau dengan anak dari sahabat baiknya?”


Pertanyaan itu tak mendapat jawaban.


“Sekarang sudah waktunya kau menjemput gadis itu, dan beristirahat sebentar dari jabatan Presdir yang membosankan ini.”


“Bagaimana bisa Ayah?” sebuah celaan timbul dari lisan Aarav, seolah tak percaya dengan ucapan ayahnya.


“Haha, tentu saja bisa. Karena selama sembilan tahun semenjak perjodohan itu, aku memantau dengan baik semua kegiatan calon istrimu. Kau tahu bahkan sejak SMP dia bersekolah di bawah lembaga yang dinaungi Perusahaan.”


“Apa memang harus aku yang menjemputnya, Ayah?” tidak terima karena harga dirinya yang sangat tinggi.


“Haha, inilah kenapa kau terlihat begitu membosankan Aarav. Kau bahkan sangat kaku walaupun di depan ayahmu sendiri. Tapi ini adalah perintah ayahmu dan kau tidak bisa menolaknya.”


“Baiklah, Ayah.” Lirih suara Aarav disertai anggukan.


“Bagus sekali. Kalau begitu semoga kau bisa beradaptasi dengan penyamaranmu, anakku.”


“Apa! Penyamaran?!”


“Ya, tentu saja kau harus menyamar sebagai mahasiswa di kampus tempat calon istrimu bukan? Kau bilang padaku kau tidak ingin menikah kecuali jatuh cinta pada gadis yang akan kau nikahi. Lalu apakah Ia akan jatuh cinta padamu ketika melihat tampang Presdirmu yang aneh itu?.”


“Apakah aku akan berhenti secara total dari jabatan Presdir selama menjemput gadis itu?” Aarav bertanya dengan tatapan memastikan. Berharap ayahnya tidak meminta banyak permintaan merepotkan lagi mengenai gadis itu.


“Rey, akan menggantikan posisimu untuk sementara. Lagipula keahliannya selama memimpin perusahaan cabang sangat bisa diacungi jempol. Ah, jangan khawatir untuk didekati banyak wanita seperti biasanya, karena Rania akan menemanimu.”


Senyum tipis tergurat di wajah Rania ketika nama kakaknya disebut.


“Secantik apa gadis itu hingga aku yang harus menjemput juga harus menyamar untuknya, Ayah?”


“Kau akan tahu jika kau bertemu dan mengenalnya secara langsung, anakku. Baiklah, kurasa persetujuanmu itu tidak diperlukan untuk perintahku ini.” Memutuskan hasil pembicaraan dengan sepihak.


“Rania, bantu Paman naik ke kamar. Sejujurnya aku agak lelah berada di pesawat berjam-jam dari Amerika.”


Siluet lelaki paruh baya itu menghilang di balik tangga yang menjulang. Masuk ke salah satu kamar yang sudah disediakan di sana dengan tangan yang dituntun pelan oleh Rania.


Sementara di atas sofa ruang utama, Aarav masih termenung dengan perkataan ayahnya. Raut tidak suka tergurat jelas di wajahnya, membuatnya menghela nafas gusar.

__ADS_1


Tunggu saja, akan kubuat kau mencintaiku karena sudah sangat merepotkan aku untuk semua ini.


***


Wina Pratiwi


Gadis ini juga anak satu-satunya yang hadir dalam keluarganya. Menghiasi keluarga itu dengan begitu banyak teriakan karena kenakalannya. Karakter yang ceria ditambah lagi dengan prestasi yang dimilikinya dalam bidang bela diri membuat dirinya menjadi alasan ibu dan ayahnya bahagia.


Ini adalah tahun pertama untuknya memulai pendidikan pada ranah baru, Universitas dan menjadi Mahasiswi di sana.


Dilihat dari segi penampilan gadis ini lebih menjurus kepada gadis tomboy. Dengan terbiasa memakai kemeja panjang dipadu dengan jeans gombrang yang membuat kesan tomboy itu lebih tajam.


Saat itu di ruang tamu rumah, Wina memijat perlahan pundak ibunya yang duduk di kursi.


“Ibu tenang saja, aku akan berusaha keras untuk memperbanyak kegiatan kemahasiswaan ku ketika sudah masuk kuliah.”


Gadis itu menepuk pelan pundak ibunya.


“Kalau sampai kau berkelahi dan menampar orang lain sekali lagi, kau akan dapat ini.” Kata ibu sambil mengepalkan tangannya ke arah Wina.


Gila. Anaknya sendiri mau dihajar.


“Haha, itu tidak mungkin bu. Lagi pula mereka kan yang mencari masalah denganku, mengganggu orang yang lebih lemah aku kan tidak mungkin diam saja.”


“Yang jelas, ibu memasukkan mu ke dalam organisasi bela diri bukan untuk berkelahi seperti orang gila, anak nakal.” Ibu menempuk tangan Wina yang sedang memijat pundaknya. Menandakan itu adalah peringatan untuk puterinya.


Entah terhitung berapa kali Wina mengalami kasus perkelahian, entah dengan siswi perempuan atau lelaki dua-duanya jadi. Perkelahian yang tak pandang bulu itu terjadi sejak Wina SMP. Hingga membuat ibu dan ayahnya terus saja di panggil pihak sekolah ke ruang bimbingan konseling untuk menceritakan kelakuan anaknya.


“Segeralah tidur, anak nakal.” Perintah ibunya kepada Wina sambil mengelus tangan gadis itu pelan.


Perlahan genggaman pijitan di pundaknya pun mengendur, gadis itu menghentikan pijatan.


“Baiklah-baiklah, aku akan tidur karena besok adalah hari pertama perkuliahan di mulai.” Ucap Wina sambil mengecup tangan ibunya lalu berlalu masuk ke kamar untuk tidur.


Berbaring di atas ranjang miliknya sambil menatap langit-langit dengan senyum tipis.


Lirih suaranya menggema, “Semoga ada banyak keindahan yang bisa kulihat besok.”

__ADS_1


Mata itu kemudian mengatup dengan sempurna. Wina sudah tertidur lelap agar siap menyambut hari baru dan drama baru esok di kampus.


Yah, takdir. Kau memang indah dalam mengatur posisi jodoh ya. Setelah bertahun-tahun terpisah keduanya akan bertemu esok dalam rupa masing-masing.


__ADS_2